[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 236

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 01

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَلَقُّوا الْجَلَبَ. فَمَنْ تُلُقِّيَ فَاشْتُرِيَ مِنْهُ، فَإِذَا أَتَى سَيِّدُهُ السُّوقَ فَهُوَ بِالْخِيَارِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

751. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah kalian menghadang pedagang (dari kampung). Barangsiapa yang menghadangnya lalu membeli sesuatu darinya, maka jika pemilik barang itu datang ke pasar, dia boleh memilih (membiarkan transaksi tersebut atau membatalkannya).”(HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1519)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini telah dibahas pada hadits sebelumnya. Hadits ini merupakan dalil adanya hak pilih bagi penjual walaupun si penghadang (rombongan dari kampung) membelinya dengan harga pasaran, namun hak memilih tetap ada.

0752

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا يَبِيعُ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ، وَلَا يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، وَلَا تَسْأَلُ الْمَرْأَةُ طَلَاقَ أُخْتِهَا لِتَكْفَأَ مَا فِي إنَائِهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ «لَا يَسُمْ الْمُسْلِمُ عَلَى سَوْمِ الْمُسْلِمِ»

752. Dan darinya (Abu Hurairah) Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang orang kota menjualkan barang dagangan orang kampung, dan janganlah kalian melakukan transaksi jual beli dengan najasy (memuji barang dagangan secara berlebihan), janganlah seseorang menjual sesuatu yang sedang dijual oleh saudaranya, janganlah seseorang melamar orang yang sedang dilamar saudaranya, dan janganlah seorang perempuan meminta talak saudarinya agar ia menduduki posisinya”. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2140), dan Muslim (1413)]

Menurut riwayat Muslim: “Janganlah seorang muslim menawar atas tawaran saudaranya”.

[shahih, Muslim (1414)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas mengandung beberapa hal yang dilarang, yaitu:

Pertama; larangan bagi orang kota untuk menjualkan barang dagangan orang desa sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelumnya.

Kedua, apa yang disiratkan dalam sabda beliau, “dan janganlah kalian melakukan transaksi jual beli dengan najasy (memuji barang dagangan secara berlebihan)”, hal tersebut disambungkan dengan kata, “melarang”. Karena maknanya janganlah orang kota menjualkan barang dagangan orang desa dan janganlah melakukan transaksi jual beli dengan najasy. Masalah ini telah dibahas sebelumnya dalam hadits Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang najasy.

Ketiga, sabda beliau, “janganlah seseorang menjual sesuatu yang sedang dijual oleh saudaranya”, diriwayatkan dengan dua versi dalam bentuk nafi dan nahi (peniadaan dan pelarangan). Keberadaan huruf “ya” (pada lafazh yabi’u) memperkuat versi pertama.

Bentuk transaksi menjual sesuatu yang sedang dijual oleh saudaranya (sesama muslim) adalah apabila telah terjadi jual beli, namun masih dalam tenggang waktu khiyar (hak untuk memilih) kemudian seseorang datang dan berkata kepada si pembeli, “Batalkan jual beli itu dan saya akan menjual kepadamu barang yang sama dengan harga yang lebih murah darinya atau dengan barang yang lebih bagus darinya.” Begitu juga halnya dengan membeli, contoh seseorang berkata kepada si penjual dalam masa khiyar, “Batalkanlah jual beli itu dan saya akan membelinya dengan harga yang lebih tinggi.”

Adapun bentuk menawar atas tawaran orang lain adalah ketika kedua belah pihak si penjual dan peminatnya, telah sepakat untuk melakukan jual beli, tetapi transaksi belum terjadi. Kemudian seseorang berkata kepada penjual, “Saya siap membelinya darimu dengan harga lebih tinggi” padahal si penjual telah sepakat mengenai harganya dengan peminat pertama. Ulama sepakat bahwa semua bentuk transaksi tersebut adalah haram dan pelakunya telah berarti telah bermaksiat.

Adapun jual beli muzayadah (lelang), yaitu menjual barang kepada orang yang siap membayar dengan harga tertinggi, adalah bukan termasuk transaksi yang dilarang. Al-Bukhari menamakan Bab dalam kitabnya dengan nama, Bab Jual Beli Muzayadah (Lelang). Terdapat dalil yang jelas dalam hal ini yaitu sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Ashabus Sunan, lafazhnya dari At-Tirmidzi, dia mengatakan bahwa hadits tersebut hasan.

Diriwayatkan dari Anas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَاعَ حِلْسًا وَقَدَحًا وَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْحِلْسَ وَالْقَدَحَ فَقَالَ رَجُلٌ: آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ فَقَالَ مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ فَأَعْطَاهُ رَجُلٌ دِرْهَمَيْنِ فَبَاعَهُمَا مِنْهُ»

bahwa beliau (Rasulullah) Shallallahu Alaihi wa Sallam menjual Hilsan dan Qadah kemudian bersabda: ‘Siapakah yang hendak membeli Hilsan dan Qadah ini?’ seseorang berkata, “Saya beli keduanya dengan harga satu dirham”, lalu beliau bersabda, “Siapa yang berani lebih dari satu dirham?” Ada seseorang berani membelinya dengan harga dua dirham, maka beliau pun menjual kedua benda tersebut kepadanya. [Dhaif: At-Tirmidzi (1218)]

Ibnu Abdil Bar berkata, “Telah disepakati bahwa tidak haram hukumnya menjual barang kepada orang yang berani membayar dengan harga yang lebih tinggi.” Ada pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut makruh dengan dalil sabda beliau dalam hadits yang diriwayatkan dari Sufyan bin Wahab, dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli dengan cara lelang (muzayadah), tapi hadits tersebut diriwayatkan dari Ibnu Luhai’ah sedang dia adalah perawi yang dha’if (lemah).

Keempat, sabda Beliau, “janganlah seseorang melamar orang yang sedang dilamar saudaranya”‘, Imam Muslim menambahkan ‘kecuali jika saudaranya tersebut mengizinkannya” dan dalam suatu riwayat disebutkan “hingga dia mengizinkan”. Larangan di sini menunjukkan bahwa hal tersebut haram hukumnya. Ulama sepakat mengenai haramnya hal tersebut bila si wanita telah menjawab lamaran secara jelas dan si pelamar tidak memberikan izin juga tidak meninggalkannya. Bila dia menikahi si wanita dalam kondisi seperti ini, maka dia telah berbuat maksiat menurut kesepakatan ulama dan jumhur ulama mengatakan bahwa nikahnya tetap sah. Sedangkan Dawud mengatakan, “Nikahnya batal (fasakh)”, demikianlah yang diriwayatkan dari Imam Malik.

Adapun disyaratkan lamarannya telah dijawab secara tegas dan jelas walaupun sebenarnya larangan tersebut bersifat mutlak, adalah karena hadits Fathimah binti Qais, dia berkata, “Saya pernah dilamar oleh Abu Jahm dan Mu’awiyah.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengingkari lamaran sebagian mereka atas sebagian yang lain, bahkan beliau juga turut melamarnya untuk Usamah. Pendapat yang mengatakan bahwa hal itu bisa jadi karena mereka sama-sama tidak mengetahui perihal lamaran kawannya. Sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya sebatas mengisyaratkan untuk Usamah bukan melamar, adalah bertentangan dengan zhahir hadits.

Sabda beliau ‘saudaranya’ yakni saudara seagama. Dipahami dari kata tersebut bahwa kalau bukan saudara seagama, seperti seorang yang kafir, maka tidak haram. Sebagai contoh bila perempuannya adalah seorang Ahli Kitab. Demikianlah pendapat Imam Al-Auzai. Sedangkan ulama lain mengatakan haram pula melamar atas lamaran orang kafir. Adapun hadits di atas berdasarkan konteks secara umum, hingga pengertian seperti tersebut di atas tidak dapat dianggap.

Kelima, Sabda Beliau: “dan janganlah seorang perempuan meminta” maksudnya perempuan yang bukan mahram, yakni jangan meminta kepada seorang lelaki untuk menceraikan istrinya, agar bisa menikah dengannya sehingga nafkah dan hubungan baik suami itu yang sedianya untuk istri beralih kepadanya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *