[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 306

08. KITAB NIKAH 09

0915

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَتْ: أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ، فَخَيَّرَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَهْ، وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ.

915.Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa ada seorang gadis datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bercerita bahwa ayahnya telah menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah dan ada yang menilainya hadits mursal)

[shahih, Sunan Abi Dawud (2096), Sunan Ibni Majah (1875)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa ada seorang gadis datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bercerita bahwa ayahnya telah menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah dan ada yang menilainya hadits mursal. (Hal itu dijawab, bahwa hadits ini diriwayatkan dari Ayyub Ibnu Suwaid dari Ats-Tsauri dari Ayyub secara maushul, demikian juga diriwayatkan Ma’mar Ibnu Sulaiman Ar-Raqi dari Zaid bin Hibban dari Ayyub secara maushul, bila ada perbedaan apakah hadits ini mursal atau maushul; maka dihukumi dengan maushul)

Penulis kitab ini berkata, “Mempermasalahkan keshahihan hadits ini tidak ada gunanya; karena banyak riwayat lain yang menerangkan masalah ini sehingga dapat menguatkan hadits ini, dan derajatnya menjadi kuat.”

Dan sudah dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, “Tidak dinikahkan gadis kecuali setelah dimintai izinnya.”

Hadits ini maksudnya sejalan dengan hadits Abu Hurairah tersebut, yakni menunjukkan pemaksaan seorang ayah untuk menikahkan anak gadisnya hukumnya haram, terlebih bagi wali-wali lainnya. Al-Hadawiyyah dan Hanafiyyah berpendapat bahwa tidak boleh bagi seorang ayah menikahkan anak gadisnya berdasarkan hadits tersebut di atas, dan juga hadits riwayat Muslim, “Gadis dimintai izinnya oleh bapaknya.”

Al-Baihaqi berpendapat, “Tambahan lafazh ‘al-ab [bapak]’ pada hadits tersebut dipertanyakan. Ini sudah dibantah penulis, bahwa itu adalah tambahan dari rawi adil maka harus diamalkan. Ahmad, Ishaq dan Asy-Syafi’i berpendapat, boleh bagi seorang bapak untuk memaksa puterinya menikah berdasarkan mafhum hadits, “Janda lebih berhak menentukan pilihan dirinya”, sebagaimana yang telah lalu, itu menunjukkan kalau seorang gadis berbeda hukumnya dengan janda, bahwa seorang wali lebih berhak menentukan pilihan atas dirinya. Pendapat ini juga dibantah, bahwa dalil mafhum (tersirat) tidak bisa menandingi dalil mantuq (tersurat) secara jelas, dan juga bila diambil pemahamannya secara umum, maka wali lainnya selain bapaknya juga mempunyai hak dan juga tidak dikhususkan bagi bapak untuk memaksakan menikah bagi anak gadisnya.

Al-Baihaqi berkomentar menguatkan pendapat Asy-Syafi’, “Mungkin saja hadits Ibnu Abbas ini karena bapaknya menikahkannya dengan laki-laki yang tidak sepadan.”

Penulis berpendapat, “Jawaban Al-Baihaqi ini bisa dijadikan pegangan [mu’tamad]; karena terjadi kepada seseorang, tapi hukumnya tidak bisa berlaku secara umum. Saya katakan, “Pendapat dua Imam tersebut hanyalah pembelaan terhadap pendapat Imam Asy-Syafi’i dan madzhab mereka, karena penafsiran Al-Baihaqi tidak ada dalilnya sama sekali; sebab bila benar apa yang ditafsirkannya tentu si wanita akan menyebutkannya, akan tetapi yang dia sebutkan, bahwa bapaknya telah menikahkannya dengan laki-laki yang tidak ia sukai.

Maka alasannya adalah rasa tidak suka dari wanita tersebut, sehingga dia diberi hak untuk memilih; karena itu yang disebutkan. Seakan-akan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kamu terpaksa; maka sekarang kamu memilih.” Dan penulis buku ini berkata, “Kasus ini memang terjadi pada seseorang, tapi hukumnya berlaku umum kepada semua karena keumuman alasannya, maka jika ada paksaan; ditetapkan hukum sebagaimana makna hadits tersebut.”

An-Nasa’i meriwayatkan hadits dari Aisyah,

«عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَتَاةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَقَالَتْ: إنَّ أَبِي زَوَّجَنِي مِنْ ابْنِ أَخِيهِ يَرْفَعُ بِي خَسِيسَتَهُ، وَأَنَا كَارِهَةٌ قَالَتْ: اجْلِسِي حَتَّى يَأْتِيَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأَخْبَرَتْهُ فَأَرْسَلَ إلَى أَبِيهَا فَدَعَاهُ فَجَعَلَ الْأَمْرَ إلَيْهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ: قَدْ أَجَزْت مَا صَنَعَ أَبِي، وَلَكِنْ أَرَدْت أَنْ أُعْلِمَ النِّسَاءَ أَنْ لَيْسَ لِلْآبَاءِ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ»

bahwa ada seorang perempuan menemuinya, lalu berkata, “Sesungguhnya bapakku menikahkanku dengan anak saudaranya (anak paman) sehingga terangkatlah martabatnya, tapi saya tidak suka.” Aisyah berkata, “Duduklah, tunggu sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang, ketika Rasulullah datang, maka dia menceritakan apa yang dialaminya. Rasulullah memanggil bapaknya dan menyerahkan urusan itu kepadanya untuk memilih. Wanita itu berkata, “Aku telah rela dengan apa yang dilakukan bapakku atas diriku, namun saya hanya ingin memberitahukan kepada para wanita, bahwa tidak ada hak bagi para bapak untuk memaksa anaknya menikah dengan seseorang.” [Dha’if: An-Nasa’i (3269)]

Secara zhahir, bahwa wanita yang disebutkan dalam hadits itu adalah seorang gadis. Gadis yang disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas itu, dinikahkan oleh bapaknya dengan anak saudaranya (anak paman) yang sekufu [sepadan], sekiranya wanita itu adalah seorang janda pasti disebutkan. Dijelaskan, bahwa maksud dari penolakannya tidak lain untuk memberitahukan kepada para wanita bahwa seorang bapak tidak berhak memaksa anaknya untuk menikah dengan seseorang. Dan lafazh ‘Nisaa’ [para wanita]’ mencakup makna gadis maupun janda. Gadis ini menyampaikan langsung kepada Nabi masalah yang menimpanya dan Nabi pun menetapkan hukum atasnya. Maksud dari peniadaan hak itu dari bapak adalah hanya penghapusan hak memaksakan puterinya menikah dengan orang yang tidak ia sukai. Karena matan hadits hanya menunjukkan pada hal tersebut. Dan tidak boleh dikatakan, bahwa lafazh peniadaan hak itu umum berlaku pada segala perkara.

0916

وَعَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ زَوَّجَهَا وَلِيَّانِ فَهِيَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ.

916.Dari Hasan, dari Samurah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang perempuan yang dinikahkan oleh dua orang wali, ia milik wali pertama.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits hasan menurut At-Tirmidzi)

[Dha’if: Abu Dawud (2088)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hasan adalah Abu Sa’id Al-Hasan bin Abi Al-Hasan budak Zaid bin Tsabit. Lahir di Madinah pada dua tahun terakhir dari kekhilafahan Umar. Datang ke Bashrah setelah peristiwa terbunuhnya Utsman. Ada juga yang berpendapat: bahwa dia bertemu dengan Ali Radhiyallahu Anhu di Madinah, dan tidak benar yang mengatakan dia bertemu dengan Ali di Bashrah. Di zamannya, dia adalah orang yang paling berilmu, zuhud dan wara’. Wafat di bulan Rajab tahun 110 H.

Penjelasan Kalimat

“Dari Hasan, dari Samurah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang perempuan yang dinikahkan oleh dua orang wali, ia milik wali pertama.” HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits hasan menurut At~Tirmidzi (Sudah dijelaskan pada pembahasan terdahulu, tentang perbedaan pendapat sima’ (mendengarkan) hadits Al-Hasan dari Samurah.

Hadits ini diriwayatkan Ahmad, Asy-Syafi’i dan An-Nasa’i dari jalan Qatadah dari Al-Hasan dari Uqbah dari Amir. At-Tirmidzi berkata, “Riwayat hadits Al-Hasan dari Samurah pada masalah ini adalah yang paling benar.” Ibnu Al-Madini berkata, “Al-Hasan tidak pernah mendengar dari Uqbah.”

Tafsir hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa seorang wanita bila dinikahkan oleh dua orang wali kepada dua laki-laki secara bergantian; maka dia milik dari laki-laki pertama, baik sudah dicampuri oleh laki-laki atau pun belum. Apabila laki-laki kedua mencampuri sedangkan dia mengetahui bahwa wanita tersebut sudah menjadi milik laki-laki yang pertama, maka berdasarkan ijma’ ulama dia berzina, dan dia tetap milik laki-laki yang pertama. Begitu halnya jika laki-laki kedua mencampurinya karena ia tidak tahu, dia tetap milik laki-laki yang pertama, hanya saja tidak ada hukuman bagi yang tidak mengetahui. Apabila dua orang wali menikahkannya secara bersamaan, maka kedua pernikahan itu tidak sah.

Demikian juga jika diketahui dilangsungkan dua akad lalu mereka bingung; maka kedua pernikahan itu tetap tidak sah, kecuali jika si wanita mengakui salah satu suaminya atau telah dicampuri oleh salah satunya dengan keridhaannya, maka diakui sahnya akad nikahnya, karena dia bisa menetapkan kebenaran perkaranya, maka pengakuannya dibenarkan, demikian juga pengakuannya telah dicampuri dengan ridha. Hal itu harus ditetapkan demi menjaga keselamatan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *