[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 235

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 10

0750

وَعَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَلَقُّوا الرُّكْبَانَ، وَلَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ» قُلْت لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا قَوْلُهُ «وَلَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ؟ قَالَ: لَا يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

750. Dari Thawus dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah kamu menghadang rombongan (pedagang) di tengah perjalanan (untuk membeli barang dagangan mereka sebelum sampai pasar) dan janganlah orang kota menjualkan barang dagangan orang kampung’.” Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apa maksud sabda beliau, “dan janganlah orang kota menjualkan barang dagangan orang kampung?” Ibnu Abbas menjawab, “Janganlah dia menjadi makelar untuknya.” (Muttafaq Alaih, dan lafazhnya adalah lafazhAl-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2158), dan Muslim (1521)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas mencakup dua bentuk transaksi jual beli yang di larang:

Pertama; larangan talaqqi rukbaan (menghadang rombongan) yakni rombongan pedagang atau orang yang membawa bahan makanan ke suatu negeri untuk dijual, baik berkendaraan ataupun berjalan kaki, baik beramai-ramai atau sendirian. Dalam hadits disebutkan yang umum, karena umumnya pedagang itu berombongan. Transaksi dianggap talaqqi rukbaan jika terjadi luar pasar.

Dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu disebutkan, “Dahulu kami pernah menghadang rombongan (pedagang), kami beli makanan dari mereka, lalu Rasulullah melarang kami untuk menjualnya hingga pedagang itu tiba di pasar makanan.”

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa menghadang pedagang tidak berlaku di pasar.

Ibnu Umar berkata, “Dahulu mereka membeli makanan di pasar, kemudian mereka menjualnya di tempat yang sama. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun melarang mereka untuk menjualnya di tempat yang sama hingga mereka memindahkannya.” (HR. Al-Bukhari) [shahih, Al-Bukhari (2167)]

Hadits ini menunjukkan bahwa pergi ke pasar tidak termasuk kategori talaqqi rukbaan dan batasan kategori talaqqi rukbaan adalah apabila menghadangnya di luar pasar. Al-Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah mengatakan, tidak dikategorikan talaqqi rukbaan kecuali bila dia menghadangnya di luar kota. Seakan mereka mencari makna yang cocok dengan alasan dari Larangan transaksi tersebut, yakni penipuan terhadap rombongan pedagang tersebut. Karena apabila mereka telah masuk ke kota., mereka bisa mengetahui harga pasaran dari barang yang dibawanya hingga dia bisa menyesuaikan. Jika itu tidak dilakukan maka itu adalah keteledorannya sendiri. Al-Malikiyah, Imam Ahmad dan Ishaq mengkategorikan talaqqi rukbaan jika terjadi di luar pasar secara mutlak berdasarkan zhahir hadits.

Larangan di atas jelas menunjukkan perbuatan itu haram, karena orang yang melakukannya memang sengaja bermaksud menghadang rombongan dagang dan tahu kalau hal itu dilarang. Abu Hanifah dan Al-Auza’i membolehkan melakukan hal itu selagi tidak merugikan masyarakat, bila merugikan, maka hal tersebut makruh. Dan apabila dilakukan juga, maka menurut Al-Hadawiyah dan As-Syafi’iyah transaksi itu tetap sah.

Dan Imam Asy-Syafi’i memberikan hak pilih bagi si penjual, berdasarkan hadits yang dikeluarkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, yaitu hadits Abu Hurairah dengan lafazh,

«لَا تَلَقُّوا الْجَلَبَ فَإِنْ تَلَقَّاهُ إنْسَانٌ فَاشْتَرَاهُ فَصَاحِبُهُ بِالْخِيَارِ إذَا أَتَى السُّوقَ»

“Jangan kalian menghadang rombongan pedagang, apabila seseorang menghadangnya kemudian membeli sesuatu darinya, maka pedagang mempunyai hak pilih (khiyar) bila tiba di pasar” [Shahih: Abi Dawud (3437)]

Zhahir hadits menunjukkan bahwa illat (alasan) dilarangnya hal tersebut adalah untuk kemaslahatan penjual dan menghindarinya dari kerugian. Ada yang mengatakan, alasannya adalah untuk kemaslahatan komunitas pasar berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Janganlah kalian menghadang barang dagangan hingga kalian tiba di pasar dengannya”. Ulama berbeda pendapat dalam hal apakah transaksi jual beli yang terjadi dengan cara tersebut sah atau tidak? Bagi ulama yang telah kita sebutkan sebelumnya, transaksi tersebut sah, karena larangan tidak kembali pada akad itu sendiri dan tidak pula kembali kepada sifat yang melekat pada hal itu, sehingga larangan tadi tidak bermakna bahwa jual beli tersebut rusak, tidak sah. Sebagian ulama berpendapat bahwa transaksi tersebut rusak, tidak sah. Karena larangan secara mutlak menunjukkan tidak sahnya transaksi tersebut. Inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran.

Sebagian ulama menjadikan talaqai rukbaan haram dengan beberapa syarat, di antaranya ada yang mengatakan ia haram jika orang yang menghadang berbohong mengenai harga yang berlaku di kota hingga dia membeli dari rombongan penjual dengan harga yang jauh lebih murah dari harga semestinya. Ada juga yang menyatakan ia haram jika si pembeli mengabari rombongan itu bahwa untuk bisa masuk pasar diperlukan biaya sangat besar. Ada lagi yang mengatakan haram apabila si pembeli menipu mereka dengan mengatakan bahwa dagangan mereka tidak akan laku. Semua syarat yang disebutkan tidak dilandasi satu dalil pun, justru hadits tersebut berbicara secara mutlak dan hukum aslinya adalah haram.

Kedua; larangan untuk melakukan transaksi seperti yang disabdakan Rasulullah, “dan janganlah orang kota menjualkan barang dagangan orang kampung”, Ibnu Abbas menafsirkan dengan perkataannya, “Janganlah dia menjadi makelar untuknya’ Kata makelar (Simsar) asal maknanya adalah orang menilai suatu urusan dan mengawasinya, kemudian dikenal dengan istilah perantara jual beli bagi orang lain dengan upah sebagai imbalan. Demikianlah Al-Bukhari mengaitkannya. Dia menjadikan hadits Ibnu Abbas sebagai ketentuan tambahan dari hadits-hadits yang berbicara secara mutlak. Adapun melakukan hal itu dengan tanpa imbalan, maka ia termasuk nasihat dan tolong menolong, maka dia membolehkannya. Tetapi zhahir pendapat para ulama mengisyaratkan bahwa larangan tadi mencakup semuanya, baik yang dengan imbalan maupun tidak. Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dirnaksud dengan “orang kota menjualkan barang dagangan orang kampung” adalah transaksi di mana seorang asing datang ke suatu daerah dengan membawa barang dagangan yang hendak dijual dengan harga pasaran pada saat itu juga. Kemudian datang orang kota kepadanya dan berkata, “Tinggalkan daganganmu pada saya, saya jualkan untukmu secara berangsur dengan harga lebih mahal dari harga sekarang.”

Kemudian ada juga ulama yang mengkhususkan hukum ini berlaku pada orang desa dan mereka menjadikannya ketentuan yang mengikat. Ada juga yang memberlakukannya pula untuk orang kota, jika keduanya sama dalam hal tidak tahu harga. Dan mereka mengatakan bahwa penyebutan orang desa dalam hadits tersebut hanya karena tradisi umum yang berlaku. Adapun orang desa yang tahu harga, maka tidak masuk dalam kriteria ini. Kemudian di antara mereka ada pula yang meletakkan syarat, yakni bahwa si pembeli tahu bahwa transaksi itu dilarang dan bahwa barang dagangan yang dibawa orang desa tadi adalah termasuk barang yang banyak dibutuhkan orang. Dan bahwa yang menawarkan lebih dulu adalah orang kota kepada orang desa. Dan jika orang desa yang justru menawarkannya ke orang kota, maka tidak dilarang. Semua ketentuan-ketentuan tersebut tidak didukung oleh hadits, mereka hanya menyimpulkan dari sekian banyak illat (alasan hukum) yang terdapat dalam hadits yang digunakan sebagai hukum.

Kemudian telah sama-sama dipahami bahwa larangan asalnya adalah haram, inilah pendapat yang diyakini oleh sekelompok ulama. Ulama yang lain mengatakan, bahwa hadits tersebut sudah dihapus (mansukh) dan bahwa transaksi seperti itu dibolehkan secara mutlak seperti halnya perwakilan dan terhapus pula oleh hadits nasehat.

Adapun anggapan bahwa hadits tersebut sudah dihapus, tidak dapat dibenarkan karena hal itu perlu memahami histori dari hadits tersebut agar dapat diketahui mana hadits yang terakhir. Sedangkan hadits nasehat, mempunyai syarat, bila salah seorang dari kalian dimintai nasehat oleh saudaranya, maka nasehatilah dia dan bila dia pasti akan menasehatinya dengan perkataan, bukan dengan menjualkan barangnya karena ini masuk dalam hukum orang kota menjualkan barang orang desa dan begitu pula halnya hukum membelikan barang untuk orang kampung, tidak orang kota membelikan barang ntuk orang kampung. Imam Al-Bukhari mengatakan, “Bab tidak boleh orang kota membelikan barang untuk orang desa dengan bertindak sebagai calonya”. Ibnu Hubaib Al-Maliki berkata, bahwa membelikan barang untuk orang desa sama dengan menjualkan barang dagangannya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidaklah seorang dari kalian menjualkan barang jualan sebagian yang lain.”

Termasuk makna hadits tersebut adalah membeli. Dan dalam kitab shahihnya Abu Uwanah mengeluarkan hadits dari Ibnu Sirin yang mana dia berkata, “Saya pernah bertemu Anas bin Malik, kemudian saya berkata, ‘Apakah orang kota (di zamanmu menjualkan barang dagangan orang kampung? apakah kalian dilarang untuk menjual atau membeli untuk mereka?’ dia berkata, ‘Ya’.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Sirin dari Anas bin Malik. Dahulu dikatakan, “Janganlah orang kota menjualkan barang dagangan orang desa.” Ini adalah kalimat umum yang mencakup makna janganlah menjual untuk mereka dan jangan pula membeli untuk mereka. Bila dikatakan, dari hasil pengamatan diketahui bahwa pertimbangan larangan menghadang orang desa (transaksi talaaai rukbaan) adalah agar mereka tidak tertipu, sedangkan pertimbangan larangan bagi orang kota untuk menjualkan barang dagangan orang desa (sebagai calo) adalah bentuk keberpihakan terhadap penduduk kota (agar calo tidak menjual barang dengan harga mahal -edt.) di sini ada dua pertimbangan agar orang kampung tidak tertipu dan agar orang kota juga tidak tertipu, kalau diperhatikan di sini terdapat kontradiksi.

Jawabannya adalah bahwa syariat memperhatikan kepentingan orang banyak dan mengedepankan kepentingan publik daripada kepentingan individu, bukan justru sebaliknya, mengedepankan kepentingan individu daripada kepentingan publik. Dikarenakan apabila orang desa menjual barang dagangannya sendiri, maka semua pelaku pasar akan mendapatkan manfaat, mereka bisa membeli barang dengan harga relatif murah dan semua penduduk pun akan mendapatkan manfaat. Di sini syariat mengedepankan kepentingan penduduk daripada kepentingan orang kampung.

Dan dikarenakan pada transaksi talaqqi rukbaan (menghadang rombongan pedangan dari kampung) terdapat maslahat individu, ditambahkan lagi alasan kedua berupa adanya kemudharatan bagi pelaku pasar disebabkan orang yang menghadap rombongan pedagang dari kampung itu dapat menjual barang dengan harga lebih murah dari yang lainnya, sehingga dapat memutus sumber pencarian pedagang lain yang jumlahnya lebih banyak, maka syariat lebih mengedepankan pelaku pasar daripada pihak si penghadang tersebut. Dan dengan demikian tidak ada kontradiksi pada kedua masalah ini. Justeru keduanya tepat dalam segi hikmah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *