[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 234

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 09

0747

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ النَّجْشِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

747. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang berjualan dengan Najasy (memuji barang dagangan secara berlebihan). (Muttafaq Alaih).

[shahih, Al-Bukhari (2142) dan Muslim (1516)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yakni dari Ibnu Umar) Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang berjualan dengan Najasy (memuji barang dagangan secara berlebihan).

Dalam tinjauan etimologi (bahasa) Najasy berarti, mengusir hewan buruan dari tempatnya agar mudah ditangkap. Sedangkan menurut istilah (syariat) ia berarti menawar harga barang dengan harga tinggi karena bukan ingin membelinya, tapi untuk memperdaya orang lain. Praktek seperti ini disebut Najasy, karena bisa membangkitkan hasrat orang untuk membeli barang tersebut sekaligus meningkatkan harga jual. Ibnu Al-Batthal berkomentar, ulama sepakat bahwa pelaku Najasy telah berbuat maksiat karena perbuatannya itu. Tapi mereka berbeda pendapat mengenai transaksi jual beli yang terjadi dalam bentuk seperti itu. Sebagian ulama ahli hadits mengatakan, bahwa transaksi itu rusak (batal). Demikian pula dikatakan oleh Ahlu Azh-Zhahir. Begitu pula yang masyhur di kalangan madzhab Hanbali dan dalam riwayat Imam Malik. Akan tetapi kalangan Hanbali berpendapat transaksi tersebut batal bila ada kesepakatan dengan penjual. Adapun pengikut Imam Malik mengatakan, dia mempunyai hak pilih (khiyar). Ini juga pendapat Al-Hadawiyah sebagai bentuk qiyas dari Al-Musharah. Sedang transaksi tetap sah menurut mereka. Kalangan Al-Hanafiyah mengatakan, dikarenakan larangan tersebut kembali kepada sesuatu di luar transasksi untuk menipu, maka tidak serta merta menjadikan transaksi tersebut batal.

Adapun yang dinukil dari Ibnu Abdi Al-Bar, Ibnu Al-Arabi dan Ibnu Al-Hazm bahwa, haram hukumnya apabila selisih harganya melebihi harga yang semestinya. Seandainya ada orang menjual barang di bawah harga yang semestinya. Lalu dia menaikkannya agar mencapai harga yang wajar, maka orang tersebut tidak disebut pelaku najasy yang telah melakukan maksiat. Justru bisa jadi berpahala sesuai niatnya. Mereka mengatakan, bahwa hal tersebut termasuk nasihat. Pendapat tersebut tertolak, karena nasihat bisa dilakukan tanpa harus pura-pura membeli. Ini adalah merupakan tipuan dan gharar yang diharamkan, Al-Bukhari mengeluarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Aufa, mengenai sebab turunnya firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit” (QS. Ali Imran: 77) Beliau mengatakan, ada orang memuji barang dagangan yang dimilikinya dengan bersumpah atas nama Allah dan mengatakan bahwa dia telah dikaruniai sesuatu yang tidak dikarunia kepada orang lain, maka turunlah ayat tersebut.

Ibnu Abi Aufa mengatakan, bahwa pelaku Najasy adalah pemakan riba dan juga pengkhianat. Ibnu Abi Aufa menganggap orang yang menyebutkan harga barangnya lebih tinggi dari harga sebenarnya adalah termasuk pelaku najasy. Dan dikarenakan pelaku najasy bukan si penjual, maka jika dia diberi upah oleh si penjual berarti dia termasuk pemakan riba.

0748

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ، وَالْمُزَابَنَةِ، وَالْمُخَابَرَةِ، وَعَنْ الثُّنْيَا، إلَّا أَنْ تُعْلَمَ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا ابْنَ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ.

748. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwasannya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli dengan cara muhaqalah, muzabanah, mukhabarah, dan tsunaya, kecuali jika diketahui. (HR. Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

[shahih, Muslim (1536)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini mencakup empat hal yang dilarang syariat, yaitu:

Pertama; Al-Muhaqalah. Perawi hadits ini (Jabir) menafsirkannya dengan transaksi dimana seorang lelaki menjual sawahnya kepada orang lain dengan harga seratus firq gandum. Abu Ubaid menafsirkannya dengan transaksi menjual makanan yang masih berada di tangkainya. Imam Malik menafsirkannya dengan transaksi sewa tanah yang dibayar dengan hasil yang tumbuhan yang ditanam di atas tanah tersebut. Inilah yang disebut Al-Mukhabarah. Penyebutan transaksi Al-Mukhabarah bergandengan dengan Al-Muhaqalah dalam hadits ini membuat tafsiran ini tidak benar. Dan bahwa sahabat lebih paham dengan penafsiran dari hadits yang dia riwayatkan sendiri. Dia menafsirkannya sebagaimana kamu ketahui sesuai dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Asy-Syafi’i.

Kedua; Al-Muzabanah secara etimologi berarti mendorong dengan keras, seakan tiap pelaku jual beli mendorong yang lainnya untuk mendapatkan haknya. Ibnu Umar menafsirkannya seperti yang diriwayatkan oleh Malik yaitu jual beli ruthab (kurma yang masih basah) dengan tamr (kurma kering) dengan ditimbang dan menjual anggur dengan zabib (kismis) dengan ditimbang. Riwayat ini juga dikeluarkan Asy-Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm, dia mengatakan bahwa penafsiran Al-Muhaqalah dan Al-Muzabanah dalam hadits bisa jadi langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam secara tertulis, namun bisa juga merupakan penafsiran dari perawi. Adapun Illat (alasan) dilarangnya hal tersebut adalah riba karena ketidaktahuan mengenai kadar di antara keduanya.

Ketiga; Al-Mukhabarah, yakni transaksi penggunaan lahan pertanian yang dibayar dengan hasil pertanian yang akan dihasilkan dari lahan tersebut. Pembahasan lebih lanjut akan dibahas dalam bab pertanian.

Keempat; Ats-Tsunayya, transaksi ini adalah merupakan hal yang dilarang kecuali jika diketahui. Bentuknya adalah seseorang menjual sesuatu lalu mengecualikan sebagiannya. Apabila yang dikecualikannya dapat diketahui, maka hukumnya sah. Seperti seseorang menjual pohon atau anggur lalu mengecualikan satu dari pohon atau anggur tersebut, yang seperti ini disepakati sah hukumnya. Berbeda halnya apabila si penjual mengatakan, kecuali sebagiannya, ini tidak sah. Karena pengecualiannya tidak diketahui. Secara eksplisit dari hadits dapat dipahami bahwa bila kadar yang dikecualikan itu diketahui maka transaksi sah secara mutlak. Ada yang mengatakan, tidak boleh mengecualikan lebih dari sepertiga. Demikianlah sebab dilarang transaksi jual beli ats-tsunayya adalah ketidakjelasan. Adapun jika diketahui maka illat (alasan) pelarangannya berarti hilang, maka ia pun keluar dari kriteria transaksi yang dilarang. Hadits di atas menegaskan mengenai Illat (alasan) pelarangannya, yaitu dalam sabda beliau, “kecuali jika diketahui.”

 0749

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْمُحَاقَلَةِ، وَالْمُخَاضَرَةِ، وَالْمُلَامَسَةِ، وَالْمُنَابَذَةِ، وَالْمُزَابَنَةِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

749. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang transaksi jual beli dengan cara muhaqalah, mukhadharah, mulamasah, munabadzah, dan muzabanah.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2207)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas mencakup lima macam transaksi jual beli yang dilarang, yaitu:

Pertama; al-Muhaqalah, telah diterangkan pada hadits sebelumnya.

Kedua; al-Mukhadharah, ia adalah transaksi jual beli buah-buahan atau biji-bijian sebelum layak panen. Ulama berbeda pendapat mengenai buah-buahan dan hasil pertanian yang boleh dijualbelikan. Sebagian mengatakan, apabila ia sudah bisa dimanfaatkan, walaupun buah belum berwarna dan biji belum mengeras, maka boleh diperjual belikan dengan syarat langsung dipetik. Adapun apabila si pembeli mensyaratkan agar buah atau biji-bijian itu dibiarkan di pohon, maka ulama sepakat hal itu tidak boleh, karena menyibukkan si penjual, lagipula ia merupakan dua bentuk transaksi dalam satu jual beli, karena jika demikian ia adalah pinjaman atau sewa (maksudnya seakan-akan si pembeli meminjam atau menyewa tempat penjual untuk menitipkan barang yang sudah dibelinya itu -edt.) sekaligus jual beli. Adapun apabila sudah bisa dimanfaatkan, biji sudah mengeras atau buah telah berwarna, maka sah untuk dijual belikan, kecuali jika pembeli mensyaratkan agar buah atau biji-bijian itu dibiarkan di pohon. Ada yang mengatakan hal itu tidak sah tetapi ada juga yang mengatakan sah. Ada pula yang mengatakan jika rentang waktunya pasti dan sudah ditentukan, maka transaksi itu sah dan jika tidak, maka tidak sah. Dan apabila sebagian dari buah-buahan atau biji-bijian itu ada yang sudah bisa dimanfaatkan sedang sebagian lainnya tidak, maka transaksi ini pun tidak sah. Sedangkan pengikut Imam Abu Hanifah mempunyai pendapat secara detail, namun tidak berdasarkan dalU.

Ketiga, Al-Mulamasah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Az-Zuhri menjelaskan bahwa maksud dari hal itu adalah transaksi di mana seseorang menyentuh baju dengan tangannya di malam atau siang hari dan hadits yang dikeluarkan oleh An-Nasa’i dari Abu Hurairah juga menjelaskan, ia adalah transaksi di mana seseorang mengatakan kepada orang lain, saya jual (tukar) baju saya dengan bajumu, keduanya sama-sama tidak melihat baju kawannya, akan tetapi mereka hanya menyentuhnya saja.

Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abdurrazaq dari Ma’mar, bahwa al-Mulamasah adalah si pembeli memegang baju dengan tangan tanpa dibuka dan dibolak-balikkan, apabila telah tersentuh maka wajib dibeli.

Dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, ia adalah transaksi di mana setiap pihak menyentuh pakaian pihak lain tanpa memperhatikannya.

Keempat, al-Munabadzah ditafsirkan oleh hadits riwayat Ibnu Majah dari jalan Sufyan dari Az-Zuhri bahwa al-Munabadzah adalah transaksi di mana seseorang mengatakan, lemparlah ke saya barang yang ada pada kamu dan saya akan melempar ke kamu barang yang saya ada pada saya.

Dan An-Nasa’i dari hadits Abu Hurairah juga menafsirkan, ia adalah transaksi di mana seseorang mengatakan saya akan melemparkan barang yang ada pada saya dan kamu lemparlah barang yang ada pada kamu, lalu mereka pun saling melakukan jual beli dan masing-masing tidak tahu barang apa yang dibeli dari pihak lain.

Imam Ahmad dari Abdurrazaq dari Ma’mar meriwayatkan bahwa ia adalah transaksi di mana seseorang mengatakan, apabila saya telah melempar baju ini maka wajib dibeli.

Sedangkan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa munabadzah adalah transaksi di mana setiap orang dari penjual dan pembeli melempar pakaiannya masing-masing kepada yang lain tanpa melihat baju keduanya.

Dari kalimat “wajib dibeli” pembaca paham bahwa pada transaksi jual beli dengan cara menyentuh (al mulamasah) dan melempar (al muanabadzah) yang menjadi patokan terjadinya transaksi adalah sentuhan dan lemparan itu sendiri bukan sighah, serah terima yang biasa. Dan secara eksplisit, larangan di atas menunjukkan haram. Para fuqaha membahas masalah ini secara rinci yang tidak tepat untuk dipaparkan dalam buku yang ringkasan ini.

Tafsir Hadits

Dari ungkapan, “tidak melihatnya” dipahami bahwa tidak sah jual beli sesuatu yang tidak ada di tempat transaksi. Ada tiga pendapat ulama mengenai hal ini:

Pertama; tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i.

Kedua; sah tetapi dia mempunyai hak khiyar (memilih untuk jadi beli atau batal -ed.) setelah melihatnya. Ini adalah pendapat Al-Hadawiyah dan Al Hanafiyah.

Ketiga; sah apabila disebutkan sifat dan kriterianya dan bila tidak, maka tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan yang lainnya.

Hal di atas juga merupakan dalil tidak sahnya jual beli yang dilakukan oleh orang yang buta. Dalam hal ini juga ada tiga pendapat ulama:

Pertama; tidak sah. Ini adalah pendapat mayoritas Asy-Syafi’iyah, bahkan sebagian yang berpendapat bolehnya jual beli barang yang tidak ada di tempat pun turut berpendapat tidak sah karena dia (si orang buta itu) tidak pernah akan melihat barang tersebut.

Kedua; sah bila disebutkan sifat-sifatnya.

Ketiga; sah secara mutlak, ini adalah pendapat Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *