[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 304

08. KITAB NIKAH 07

0910

وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ أَبُو عَوَانَةَ،، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ.

910. Dari Aisyah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya, dan jika mereka berselisih; maka penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” (HR. Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Awanah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

[Shahih: At-Tirmidzi (1102)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini shahih menurut Yahya Ibnu Ma’in dan penghafal hadits lainnya.” Abu Tsaur berkata, sabda Nabi, “tanpa izin walinya” dapat dipahami, bahwa kalau seizin walinya, maka boleh bagi wanita menikahkan dirinya sendiri. Tapi pendapat ini dibantah bahwa hanya sekedar pemahaman saja, tidak bisa mengesampingkan teks hadits yang mensyaratkan adanya wali.

Pengikut madzhab Hanafi tidak menerima hadits ini, karena diriwayatkan dari Sulaiman Ibnu Musa dari Az-Zuhri, dan ketika Az-Zuhri ditanya tentang riwayat ini, dia tidak mengetahui. Yang meriwayatkan aib [qadh] dalam riwayat hadits ini adalah Ismail Ibnu ‘Ilyah Al-Qadhi dari Ibnu Juraij yang meriwayatkan dari Sulaiman bahwa dia bertanya kepada Az-Zuhri tentang hadits ini, tapi dia tidak mengetahui. Pendapat ini dibantah, bahwa kelupaan Az-Zuhri tentang hadits ini bukan berarti Sulaiman mengada-adakan hadits ini, apalagi Az-Zuhri sendiri memuji kemampuan hafalan Sulaiman.

Para ulama telah menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini, dan dirangkum Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubra, dan diperkuat dengan hadits-hadits yang mensyaratkan wali yang akan dijelaskan dalam pembahasan hadits dari Abu Hurairah.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang mengharuskan pernikahan dengan izin wali, dengan langsung menjadi wali pada pernikahan putrinya atau mewakilkannya. Secara makna, hadits ini menjelaskan bahwa wanita berhak mendapat maharnya bila sudah dicampuri walaupun pernikahannya dianggap batil berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Jika sang laki-laki sudah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya.”

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bila salah satu rukun nikah tidak ada; maka pernikahan itu batil baik diketahui atau tidak. Hukum nikah hanya ada dua, yakni sah atau batil dan tidak di antara kedua. Ada juga yang menetapkan hukum nikah antara sah dan batil (tengah-tengah) yaitu Al-Hadawiyah, ia menggunakan istilah akad fasid [rusak]. Maksudnya, akad yang menyalahi madzhab kedua pasangan atau salah satu di antara mereka tidak mengetahuinya, sedangkan dalam ketentuan hukum Islam tidak boleh ada perselisihan [perbedaan] dalam perkara yang sudah disepakati kebenarannya. Dan perbedaan-perbedaan pendapat seperti ini akan melahirkan hukum-hukum yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

Kata ganti dalam sabda Nabi, “dan jika mereka berselisih” diperuntukkan para wali berdasarkan pemahaman dari kalimat dalam hadits dan penyebutan wali. Maksud dari penggalan hadits itu, bahwa para wali tidak mau melaksanakan akad nikah putrinya, dan ini disebut dengan istilah ‘Adhal, dan jika wali-wali dekat tetap tidak mau; maka berpindahlah hak perwaliannya kepada penguasa.

Ada juga yang berpendapat, hak perwalian diberikan kepada kerabat jauh, berpindahnya hak perwaliannya kepada penguasa apabila kerabat dekat dan jauh tidak mau menjadi wali, namun ini hanya kemungkinan saja. Penguasa mutlak menjadi wali bagi wanita yang tidak ada wali atau tidak mau menjadi wali, atau karena walinya berada di tempat jauh.

Hadits dalam bab ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Abbas secara marfu’,

«لَا نِكَاحَ إلَّا بِوَلِيٍّ، وَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ»

“Tidak sah nikah tanpa adanya wali, dan penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” [Al-Mu’jam Al-Kabir (11/142)]

Walaupun ada perawi bernama Al-Hajjaj Ibnu Arthah, tapi hadits ini dimasukkan Sufyan dalam kitab Jami’nya, dan dari riwayat Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas dengan lafazh,

«لَا نِكَاحَ إلَّا بِوَلِيٍّ مُرْشِدٍ أَوْ سُلْطَانٍ»

“Tidak sah menikah kecuali dengan wali atau penguasa.” [Al-Mu’jam Al-Ausath (1/167)]

Yang dimaksud dengan penguasa di sini, adalah orang yang memegang jabatan kepemimpinan, baik dia seorang penguasa adil ataupun zhalim; berdasarkan keumuman hadits yang menyuruh untuk menaati penguasa, baik dia berlaku adil ataupun zhalim. Ada juga yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan penguasa di sini adalah penguasa adil yang menjaga kemashlahatan rakyatnya, bukan penguasa yang zhalim, karena mereka tidak berhak menjadi wali.

0911

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ إذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُت» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

911. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diajak bermusyawarah dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah minta izinnya”, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda, “Ia diam.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5136), Muslim (1419)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan (janda adalah orang pernah menikah lalu bercerai atau suaminya wafat) kecuali setelah diajak bermusyawarah (diminta pendapat tentang masalahnya) dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah minta izinnya”, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda, “Ia diam.”

Tafsir Hadits

Keharusan seorang wali untuk meminta pendapat atau bermusyawarah dengan janda tentang perkara yang menyangkut dirinya bila ingin dinikahkan, maksudnya ditanya keridhaannya, karena dia lebih berhak menentukan pilihan dirinya daripada walinya sebagaimana pengertiannya dalam hadits.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dan gadis” maksudnya gadis yang sudah baligh, dalam hadits ini diungkapkan dengan meminta izin, sedangkan yang janda diungkapkan dengan meminta pendapat [musyawarah], menunjukkan perbedaan status keduanya. Hal itu menguatkan pentingnya bermusyawarah dengan janda, karena seorang wali membutuhkan jawaban kesediannya yang diungkapkan dengan terang-terangan ketika akan dinikahkan, namun lain halnya dengan gadis; karena jawaban kesediaannya kadang diungkapkan, kadang hanya dengan diam saja. Akan tetapi seorang gadis, jawaban kesediannya cukup dengan diamnya saja; karena sifat malu seorang gadis menghalanginya untuk berterus terang.

Dalam riwayat lain disebutkan,

«أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ الْبِكْرَ تَسْتَحِي قَالَ رِضَاهَا صُمَاتُهَا»

bahwa Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, biasanya seorang gadis sangat malu untuk menjawab.” Nabi menjawab, “Keridhaannya dengan diam.” (HR. Muttafaq Alaihi) [shahih, Al-Bukhari (6971), Muslim (1421)]

Akan tetapi Ibnu Al-Mundzir menambahkan, “Hendaknya diketahui bahwa diamnya itu benar-benar menunjukkan keridhaannya.”

Sufyan berkata.”Ditanyakan kepadanya [gadits] sebanyak 3 kali, “Jika kamu ridha, diamlah, tapi jika tidak suka, jawablah.”

Namun, jika si gadis tidak menjawab saat ditanya, tetapi justru menangis saat itu, dalam hal ini ada beberapa pendapat. Ada yang berpendapat, diamnya sambil menangis tidak menunjukkan kesediaannya. Ada yang berpendapat: tangisannya tidak berpengaruh apa-apa kecuali jika diiringi dengan teriakan atau lainnya. Ada juga yang berpendapat: yang menjadi tanda keridhaannya adalah dari tetes air matanya, jika tetesan air matanya hangat menunjukkan ketidaksediaannya, namun jika air matanya dingin menunjukkan kesediaannya. Yang paling tepat adalah semua itu dikembalikan pada hal-hal yang berkaitan dengan dirinya yang langsung bisa dipahami.

Hadits ini berlaku bagi semua wali, baik dari bapaknya atau lainnya, untuk meminta izin gadis yang baligh. Inilah yang menjadi pendapat madzhab Al-Hadawiyah, Al-Hanafiyah dan lainnya berdasarkan keumuman hadits ini, lebih khusus lagi berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim,

«، وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوهَا»

“Dan bagi gadis, yang memintakan izinnya adalah bapaknya.” [shahih, Muslim (1421)]

Dan akan dijelaskan perbedaan ulama dalam hal itu, yang akan dijelaskan dalam pembahasan hadits ke 17. (maksudnya no 915. Ebook editor)

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *