[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 233

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 08

0744

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ» رَوَاهُ مَالِكٌ، قَالَ: بَلَغَنِي عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ بِهِ.

744. Darinya Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli dengan persekot.” (HR. Malik, ia berkata: Aku menerimanya dari Amar Ibnu Syu’aib)

[Dhaif: Abi Dawud (3502)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (yakni Amr bin Syu’aib) Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli dengan persekot (disebut pula dengan ‘Arbun).” (HR. Malik, ia berkata, “Saya menerimanya dari Amru bin Syu’aib). Dikeluarkan juga oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, di dalam riwayat ini terdapat rawi yang tidak disebut namanya dan di dalam riwayat lainnya disebutkan nama perawi tersebut ternyata perawi yang dhaif, Ia mempunyai jalur-jalur riwayat yang luput dari komentar.

Tafsir Hadits

Jual beli dengan persekot ini ditafsirkan oleh Imam Malik bahwa bentuknya adalah seseorang membeli atau menyewa budak laki-laki atau perempuan kemudian berkata si pembeli atau si penyewa, “Saya berikan kamu satu dinar atau dirham, dengan catatan bahwa jika saya jadi membeli barang tersebut, maka uang itu terhitung sebagai pembayaran dan jika tidak, maka uang itu menjadi milikmu.” Ulama ahli fikih berbeda pendapat boleh atau tidaknya transaksi jual beli seperti ini. Karena adanya larangan ini Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i berpendapat transaksi jual beli seperti itu batil, di samping karena pada transaksi tersebut ada syarat yang tidak dibenarkan, penipuan dan juga termasuk kategori memakan harta dengan cara yang batil. Sedangkan Umar, anaknya, juga Imam Ahmad membolehkan.

0745

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: ابْتَعْت زَيْتًا فِي السُّوقِ، فَلَمَّا اسْتَوْجَبْتُهُ لَقِيَنِي رَجُلٌ فَأَعْطَانِي بِهِ رِبْحًا حَسَنًا. فَأَرَدْتُ أَنْ أَضْرِبَ عَلَى يَدِ الرَّجُلِ. فَأَخَذَ رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي بِذِرَاعِي، فَالْتَفَتُّ، فَإِذَا هُوَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، فَقَالَ: لَا تَبِعْهُ حَيْثُ ابْتَعْته حَتَّى تَحُوزَهُ إلَى رَحْلِك، «فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ، حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إلَى رِحَالِهِمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.

745. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya pernah membeli minyak di pasar dan ketika minyak itu telah menjadi hak milik saya, seseorang menemui saya lalu dia menawar (minyak saya itu) dengan keuntungan yang lumayan. Ketika saya mau mengiyakan tawaran orang tersebut, tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang memegang lengan saya. Maka saya pun menoleh, ternyata dia adalah Zaid bin Tsabit. Lalu dia berkata, “Jangan menjualnya di tempat kamu membeli, sampai kamu membawanya ke tempatmu, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual barang di tempat barang itu dibeli sampai para pedagang membawanya ke tempat mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dan lafazh hadits ini darinya. Ibnu Hibban dan Hakim menshahihkan hadits ini.)

[hasan dengan beberapa hadits pendukungnya, Abu Dawud (3499)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil atas tidak bolehnya si pembeli menjual barang yang telah dibeli sebelum membawa barang itu ke tempatnya. Maksud hadits ini adalah telah sempurnanya serah terima, akan tetapi diungkapkan dalam hadits seperti itu karena umumnya pembeli dinyatakan telah menerima barang apabila telah membawanya ke tempatnya. Sedangkan memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat lain adalah sesuatu yang tidak mesti. Oleh karena itu, menurut Jumhur ulama bahwa maksud hadits tersebut adalah serah terima.

Sedangkan Imam Asy-Syafi’i memperinci; bila barang tersebut memungkinkan dipindahtangankan seperti dirham dan pakaian maka serah terimanya adalah berarti pemindahan. Adapun sesuatu yang bisa dipindahkan seperti kayu, biji-bijian dan hewan maka serah-terimanya dengan cara dipindahkan ke tempat lain. Sedangkan barang yang tidak dapat dipindahkan seperti bangunan dan buah-buahan yang masih di pohon, maka serah-terimanya dengan cara mengosongkannya.

Dan perkataannya, “Dan ketika minyak itu telah menjadi hak milik saya”, dalam riwayat Abu Dawud, “Saya telah melunasinya,” Secara eksplisit lafazh-lafazh tersebut bahwa dia (Ibnu Umar) telah menerimanya dan belum membawa barang itu ke tempatnya. Dikuatkan lagi dengan perkataan Zaid bin Tsabit, “Rasulullah Shallallahu Alathi wa Sallam melarang menjual barang di tempat barang itu dibeli sampai para pedagang membawanya ke tempat mereka.”

0746

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ بِالدَّنَانِيرِ، آخُذُ هَذَا مِنْ هَذَا مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَهَا بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

746. Dan darinya (Ibnu Umar) Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya menjual unta di Baqi’. Saya membeli dengan dinar tapi saya menjualnya dengan dirham. Dan kadang saya membeli dengan dirham dan menjualnya dengan dinar. Dan saya mengambil ini dari ini tapi aku memberi itu dari itu’. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Tidak apa-apa kamu mengambilnya dengan harga yang berlaku hari itu selagi kalian berdua belum berpisah sementara kalian masih punya urusan’.” (HR. Al-Khamsah, hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Dhaif: Abi Dawud (3354, 3355)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil atas bolehnya membayar hutang emas dengan perak dan membayar perak dengan emas (nilainya disesuaikan), karena Ibnu Umar pernah menjual barang dengan dinar, maka seharusnya pembeli membayarnya dengan dinar pula. Tetapi kemudian (karena suatu alasan) dia membayarnya dengan dirham dengan jumlah senilai dinar dan begitu pula sebaliknya. Abu Dawud menamai bab ini dengan nama, “Bab Membayar Perak dengan Emas”. Adapun lafazhnya, “Saya pernah menjual unta di Baqi’. Saya membeli dengan dinar tapi saya menjualnya dengan dirham. Dan kadang saya membeli dengan dirham dan menjualnya dengan dinar. Dan saya mengambil ini dari ini tapi aku memberi itu dari itu.” Dan kemudian dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau pun bersabda, “Tidak apa-apa kamu mengambilnya dengan harga yang berlaku hari itu selagi kalian berdua belum berpisah sementara kalian masih punya urusan.”

Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa kedua alat tukar (emas dan perak) keduanya tidak ada di tempat transaksi, yang ada hanya salah satunya saja, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun menjelaskan hukumnya, bahwa apabila kedua pihak (penjual dan pembeli) melakukan hal itu, maka keduanya tidak boleh berpisah kecuali setelah menerima haknya masing-masing. Dan tidak boleh salah satu pihak menerima haknya sementara yang lainnya tidak, dan pembayarannya ditunda. Karena hal ini masuk ke dalam Bab Tukar Menukar Mata Uang (Sharf). Dan di antara syarat sahnya transaksi tersebut adalah bahwa penjual dan pembeli tidak boleh berpisah selagi masih berurusan. Adapun sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam riwayat Abu Dawud: (“dengan harga pada hari itu”). Secara zhahir, hal itu bukanlah syarat, namun demikian itulah yang umumnya terjadi pada realita. Ada sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan hal tersebut,

«فَإِذَا اخْتَلَفَتْ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ»

“Apabila jenis-jenis ini berbeda maka juallah sekehendak kalian bila dilakukan dengan cara kontan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *