[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 303

08. KITAB NIKAH 06

0908

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَعْلِنُوا النِّكَاحَ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

908.Dari Amir bin Abdillah bin Zubair dari ayahnya Radhiyallahu Anhum, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Umumkanlah [sebarkanlah berita] pernikahan.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

[hasan, Shahih Al-Jami’ (1072)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam bab ini, ada riwayat lain dari Aisyah Radhiyallahu Anha,

«أَعْلِنُوا النِّكَاحَ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالْغِرْبَالِ»

“Umumkanlah [sebarkanlah berita] pernikahan dan ramaikanlah dengan memukul rebana.” [Dha’if At-Tirmirdzi (1089). Al-Albani Rahimahullah berkata, “[Hadits ini] dha’if kecuali i’laan -perintah menyebarkan berita-.”]

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan salah satu perawinya ada Isa bin Maimun. Ia dikenal sebagai perawi yang lemah [dha’if] sebagaimana yang dikatakan At-Tirmidzi. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi. Di antara perawinya ada Khalid bin Ilyas yang dikenal dengan munkarul hadits, seperti yang diutarakan Ahmad.

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits ini dari Aisyah yang dianggap sebagai hadits hasan gharib,

«أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ وَلْيُولِمْ أَحَدُكُمْ وَلَوْ بِشَاةٍ فَإِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً، وَقَدْ خَضَّبَ بِالسَّوَادِ فَلْيُعْلِمْهَا لَا يَغُرَّهَا»

“Umumkanlah [sebarkanlah berita] pernikahan ini, langsungkanlah akad nikah di masjid-masjid, ramaikanlah dengan memukul rebana, dan buatlah hidangan makanan walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing. Jika di antara kalian sudah meminang wanita dan sudah dipakaikan baju berwarna hitam, hendaklah dia mengumumkannya dan jangan disembunyikan”.

Hadits-hadits di atas menunjukkan adanya perintah untuk mengumumkan pernikahan, tidak melaksanakan dengan diam-diam. Dan juga perintah untuk meramaikan acara pernikahan dengan memukul rebana. Meskipun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meramaikan pernikahan dengan tabuhan rebana masih diperselisihkan, namun antara yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan yang menunjukkan disyaria’atkannya memukul rebana. Karena cara itu lebih cepat untuk menyebarkan berita pernikahan dari pada tidak, dan zhahir perintah dalam hadits menunjukkan hukum wajib.

Namun, semoga tidak ada yang mengatakan demikian, sehingga hukumnya tetap sunnah. Hal ini, bilamana tidak disertai dengan hal-hal yang diharamkan seperti nyanyian dengan suara yang mengundang syahwat dari wanita asing yang berisi syair-syair pujian tentang kecantikan fisik. Tapi lihatlah, bagaimana syair-syair yang digunakan pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang harus diikuti. Sedangkan apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang beliau tidak boleh diikuti. Karena pada masa sekarang ini, meramaikan pernikahan dengan rebana selalu disertai dengan hal-hal yang diharamkan. Maka, meramaikan dengan tabuhan rebana diharamkan karena adanya hal-hal tersebut, tapi bukan karena tabuhan rebananya.

0909

وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا نِكَاحَ إلَّا بِوَلِيٍّ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْمَدِينِيِّ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ. وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ – وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ مَرْفُوعًا «لَا نِكَاحَ إلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْمَدِينِيِّ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ وَأَعَلَّهُ بِإِرْسَالِهِ

909. Dari Abu Burdah Ibnu Abu Musa, dari ayahnya Radhiyallahu Anhum bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut Al-Madini, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Sebagian menilainya hadits mursal)

[Shahih: At-Tirmidzi (1101)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini sudah diriwayatkan oleh Abu Dawud, At- Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya dari hadits Isra’il, Abi Awanah, Syuraik Al-Qadhi, Qais bin Ar-Rabi’, Yunus bin Abi Ishaq dan Zuhair bin Mu’awiyah, kesemuanya berasal dari Abi Ishaq, demikian juga yang dikatakan At-Tirmidzi. Diriwayatkan Syu’bah dan Ats-Tsauri dari Abi Ishaq secara mursal. Ia berkata, “Menurut saya, penjelasan pertama (Ibnu Katsir) yang lebih benar, demikianlah yang dishahihkan Abdurrahman bin Mahdi, seperti yang disampaikan Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Al-Mutsanna.

Ali bin Al-Madini berkata, “Hadits Isra’il tentang nikah adalah shahih.” Demikian juga yang dishahihkan Al-Baihaqi dan lainnya. Lalu ia berkata, “Diriwayatkan Abu Ya’la Al-Mushili dalam Musnadnya dari Jabir secara marfu’. Al-Hafizh Adh-Dhiya’ berkata, “Semua perawi dalam sanadnya tsiqah.” Lalu saya katakan, dan ada hadits Abu Hurairah, “Tidak boleh bagi wanita menikahkan wanita [menjadi wali] lainnya, dan juga tidak boleh baginya menikahkan dirinya sendiri.” Dan hadits dari Aisyah, “Menikah tanpa wali hukumnya batil.” Al-Hakim berkata, “Semua riwayat yang menerangkan tentang hal itu dari para istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yakni Aisyah, Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsy adalah shahih. Hadits bab ini diperkuat Ali, Ibnu Abbas dan tiga puluh shahabat.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan, bahwa pernikahan tidak sah tanpa adanya wali. Karena peniadaan [penafian] dalam hadits tersebut adalah peniadaan ketidaksahan suatu perbuatan, bukan berarti peniadaan kesempurnaan. Wali adalah orang terdekat dengan si wanita dari golongan kerabat ashabahnya, bukan dari kerabat dzawil arham. Para ulama berbeda pendapat tentang adanya wali dalam pernikahan. Menurut jumhur ulama, keberadaan wali disyaratkan dan harus ada dalam pernikahan, karena si wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Ibnu Al-Mundzir menukil, bahwa tidak diketahui adanya seorang shahabat yang berbeda pendapat tentang hal itu, dan juga hadits-hadits Nabi menunjukkan pada hal tersebut.

Imam Malik berkata, “Wali disyaratkan pada wanita syarifah (terhormat) bukan pada wanita biasa, karena dia bisa menikahkan dirinya sendiri.” Pengikut madzhab Hanafi berpendapat: wali tidak disyaratkan sama sekali dalam pernikahan, berdasarkan pada qiyas jual-beli; karena dia bisa menjual barang dagangannya sendiri, akan tetapi dasar hukum qiyas ini dibantah oleh jumhur ulama dengan mengatakan bahwa itu qiyas yang digunakan adalah qiyas [analogi] yang salah, karena menggunakan qiyas dengan adanya hadits yang menerangkan tentang yang terkait dengannya hukumnya. Hal ini akan dijelaskan pada pembahasan hadits Nabi dari Abu Hurairah, “Tidak boleh wanita menikahkan wanita lainnya..” (Al-Hadits)

Azh-Zhahiriyah berpendapat, “Wali disyaratkan bagi para gadis berdasarkan hadits Nabi, “Seorang janda lebih berhak menentukan pilihan dirinya.” Pembahasan ini akan dijelaskan pada bagian yang akan datang. Maksud dari hadits ini, bahwa keridhaan seorang janda menjadi penentu dilanjutkan atau tidak proses menuju pernikahan, sebagai bentuk kompromi [jam’] antara hadits tersebut dengan hadits-hadits yang mensyaratkan adanya wali. Abu Tsaur berkata, “Wanita boleh menikahkan dirinya sendiri dengan izin dari walinya, berdasarkan pemahaman dari hadits berikut ini,

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *