[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 232

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 07

0741

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ اشْتَرَى طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَكْتَالَهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

741. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membeli suatu makanan maka janganlah ia menjualnya sebelum menerima sukatannya (ukuran, timbangan).” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1528)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yakni Abu Hurairah) Radiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membeli suatu makanan maka janganlah ia menjualnya sebelum menerima sukatannya (ukuran, timbangan).” (HR. Muslim). Terdapat riwayat dalam hal makanan yang mengatakan bahwa tidak boleh si pembeli menjualnya hingga telah sempurna memilikinya, yakni hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok sahabat. Terdapat pula riwayat yang lebih umum dari hanya sekadar makanan, yaitu hadits Hakim bin Hizam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dia (Hakim bin Hizam) berkata, “Saya berkata, “Wahai Rasulullah, Saya membeli beberapa barang, mana yang halal dari barang itu dan apa yang haram?” Beliau bersabda,

«إذَا اشْتَرَيْت شَيْئًا فَلَا تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ»

“Jika kamu membeli sesuatu, maka jangan kamu jual sampai kamu menerimanya.” [Al-Musnad (3/402-403)]

Ad-Daraquthni dan Abu Dawud meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلْعَةُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إلَى رِحَالِهِمْ»

“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual barang dagangan di tempat barang itu dibeli sampai para pedagang mengambilnya ke tempat mereka”. [hasan, Ad-Daraquthni (3/13), dan Abi Dawud (3499)]

Sedangkan ketujuh Imam hadits selain At-Tirmidzi mengeluarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ»

“Barangsiapa yang membeli makanan maka jangan menjualnya sampai dia sempurna memilikinya.” [Al-Bukhari (2132) dan Muslim (1525)]

Ibnu Abbas berkata, “Saya tidak memahami masalah ini kecuali seperti itu.” Hadits-hadits tersebut menunjukkan tidak bolehnya menjual barang dagangan apapun yang dibeli kecuali setelah diterima secara utuh oleh pembeli dan telah memilikinya secara sempurna.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum tersebut khusus untuk makanan, tidak pada barang dagangan lainnya.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hal tersebut khusus untuk barang yang bisa dipindahkan, tidak untuk yang lainnya berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit, karena ini termasuk barang dagangan. Pendapat ini bisa dijawab bahwa penyebutan hukum yang khusus tidak dapat mengkhususkan hal yang bersifat umum. Sedangkan hadits Hakim bersifat umum sehingga wajib diamalkan apa adanya, demikianlah pendapat jumhur ulama bahwa tidak boleh menjual barang yang dibeli sebelum diterima pembeli secara mutlak. Begitu pula yang diisyaratkan oleh hadits Hakim. Dan Ibnu Abbas mengambil kesimpulan hukum seperti itu.

Tafsir Hadits

Ad-Daraquthni mengeluarkan hadits Jabir,

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ الطَّعَامِ حَتَّى يَجْرِيَ فِيهِ الصَّاعَانِ صَاعُ الْبَائِعِ وَصَاعُ الْمُشْتَرِي»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual makanan hingga berlaku dua sha’; sha’ penjual dan sha’ pembeli”. [Ad-Daraquthni (3/38)]

Hal semisal juga diriwayatkan oleh Al-Bazar dari Abu Hurairah dengan sanad Hasan. [Kasyful Astar (1265)]

Hadits tersebut menunjukkan bahwa apabila seseorang membeli barang yang bisa ditimbang dan telah menerimanya kemudian dia bermaksud menjualnya, maka tidak boleh menyerahkannya berdasarkan timbangan pertama sampai menimbangnya kembali untuk pembeli berikutnya. Demikianlah pendapat Jumhur ulama. Atha’ berkata, “Boleh menjualnya dengan timbangan pertama.” Mungkin Atha’ belum mendengar hadits tadi. Bisa jadi alasan perintah untuk menimbang kembali agar memastikan tidak adanya pengurangan timbangan hingga terhindar dari unsur penipuan. Sedangkan hadits dua sha’ adalah merupakan dalil atas larangan menjual dengan taksiran (tanpa takaran yang jelas -edt). Hanya saja terdapat dalam hadits Ibnu Umar bahwa para sahabat dahulu membeli makanan dengan cara menaksir! Lafazhnya adalah,

«كُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنْ الرُّكْبَانِ جُزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ»

“Kami dahulu membeli makanan dari kafilah pembawa makanan dengan secara menaksir lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kami untuk menjualnya sampai kami memindahkannya.” Dikeluarkan oleh Jamaah kecuali At-Tirmidzi. [Al-Bukhari (2137) dan Muslim (1526)]

Ibnu Qudamah berkata, “Dibolehkan menjual makanan dengan cara menaksir menurut sepengetahuan kami adalah hal yang tidak diperselisihkan. Dan apabila menjual dengan cara menaksir benar-benar boleh adanya, maka hadits tentang dua sha’ dapat dipahami bahwa maksudnya adalah apabila seseorang membeli makanan dengan cara ditakar lalu dia ingin menjualnya, maka dia harus mengulangi takarannya untuk pembeli berikutnya.

0742

وَعَنْهُ قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِأَبِي دَاوُد «مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوْ الرِّبَا»

742. Dan darinya, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dua jual beli dalam satu transaksi.” (HR. Ahmad dan Nasai. Hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

[shahih, At-Tirmidzi (1231)]

Menurut riwayat Abu Dawud, “Barangsiapa melakukan dua jual beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang termurah atau riba.”

[hasan, Abi Dawud (3461)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yakni Abu Hurairah), dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dua jual beli dalam satu transaksi.” (HR. Ahmad dan Nasai. Hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban) Menurut riwayat Abu Dawud (yakni dari hadits Abu Hurairah), “Barangsiapa melakukan dua jual beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang termurah atau riba.”

Imam Syafi’i mengatakan, bahwa hadits tersebut mempunyai dua penafsiran:

Pertama; yakni dengan mengatakan, saya menjual barang ini kepadamu dengan harga dua ribu bila secara hutang dan dengan harga seribu bila secara kontan. Mana saja yang kau suka, silahkan ambil. Transaksi seperti ini rusak karena tidak jelas dan bersyarat.

Kedua; dengan mengatakan, saya jual budak saya kepadamu dengan syarat kamu harus menjual kudamu kepada saya.

Alasan dilarangnya transaksi pada kasus pertama adalah tidak adanya ketetapan harga dan adanya unsur riba. Ini menurut pendapat ulama yang melarang menjual sesuatu dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang berlaku pada hari transaksi dilakukan hanya karena pembayaran dilakukan kemudian (kredit). Dan pada kasus kedua karena faktor yang dikaitkan transaksi dengan syarat mendatang yang mungkin terjadi dan mungkin juga tidak, sehingga kepemilikannya jadi tidak pasti.

Sabda beliau, “Maka baginya harga yang termurah atau riba”, maksudnya, apabila dia melakukan hal tersebut berarti dia telah melakukan satu dari dua perkara, berupa pengambilan harga yang termurah atau riba yang menjadi penguat penafsiran pendapat pertama.

0743

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ، وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ، وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يَضْمَنْ، وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَك» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ.

743. Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu Anhum, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak halal menghutangkan sekaligus menjual, tidak halal adanya dua syarat dalam satu transaksi jual beli dan tidak halal mengambil keuntungan dari barang yang tidak dapat dijamin juga tidak halal menjual sesuatu yang bukan milik kamu.” (HR. Al-Khamsah, hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)

[hasan shahih, Abi Dawud (3504)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini merupakan hadits Abu Hanifah yang dikeluarkan dari kitab Ulum Al-Hadits yang dia diriwayatkan dari Amr Ibnu Syu’aib di atas dengan lafazh, “Beliau melarang jual beli dengan syarat.”

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dari jalur ini dalam kitab Al-Ausath dan termasuk hadits gharib (di antara silsilah sanadnya ada perawinya yang cuma sendiri -edt).

Tafsir Hadits

Hadits ini mencakup empat bentuk transaksi jual beli yang dilarang:

Pertama; Menghutangkan sekaligus menjual, konkretnya adalah seperti orang yang ingin membeli suatu barang dengan harga lebih mahal dari harga yang semestinya. Hal itu karena pembayarannya ditangguhkan sampai waktu yang disepakati. Sementara dia memahami bahwa transaksi itu tidak boleh dilakukan, maka dia pun mensiasatinya dengan cara meminjam uang sejumlah harga barang tersebut lalu uang tersebut digunakan untuk membeli barang tadi secara kontan.

Kedua; Adanya dua syarat dalam satu transaksi jual beli. Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan maksud dari hal itu. Ada yang mengatakannya, ia adalah transaksi jual beli di mana si penjual mengatakan kepada si pembeli, “Saya jual barang ini kepadamu dengan harga sekian jika tunai dan dengan harga sekian jika tempo (dibayar kemudian).” Ada yang mengatakan, ia adalah manakala si penjual menjual barangnya lalu mensyaratkan kepada pembeli agar tidak menjual barang tersebut dan tidak menghibahkannya. Ada juga yang mengatakan, ia adalah transaksi jual beli di mana si penjual mengatakan, “Saya jual barang saya dengan harga sekian dengan syarat kamu harus menjual barangmu yang itu kepada saya dengan harga sekian.” Demikianlah yang disebutkan dalam kitab Asy-Syarah yang dinukil dari kitab Al-Ghaits. Sedangkan dalam kitab An-Nihayah disebutkan maksud dari sabda beliau “Tidak halal menghutangkan sekaligus menjual”, adalah transaksi jual beli dimana si penjual mengatakan, “Saya jual budak saya ini kepadamu seharga seribu dengan syarat kamu meminjamkan saya uang sebesar seribu untuk barang tersebut. Dikarenakan hal tersebut merupakan pemberian pinjaman hutang yang bertujuan memanipulasi harga, maka ia termasuk kategori spekulasi. Juga dikarenakan setiap hutang yang mengambil manfaat adalah riba. Ditambah lagi dalam transasksi tersebut terdapat syarat, maka hukumnya tidak sah.

Adapun sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak halal adanya dua syarat dalam satu transaksi jual beli” ditafsirkan dalam kitab An-Nihayah bahwa transaksi tersebut seperti kamu mengatakan, “Saya jual baju ini kepada kamu dengan harga satu dinar jika tunai dan jika hutang harganya dua dinar.” Ia seperti dua bentuk jual beli dalam satu transaksi.

Ketiga; Sabda beliau, “Tidak halal mengambil keuntungan dari barang yang tidak dapat dijamin”, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah sesuatu (barang) yang belum dimiliki (si penjual). Seperti barang ghasab (barang orang yang diambil secara paksa -edt.) ia adalah bukan milik orang yang mengambilnya secara paksa itu dan bila dia menjualnya lalu mendapatkan keuntungan darinya, maka keuntungan tersebut tidak halal. Ada juga yang mengatakan bahwa maksudnya adalah selama barang yang mau dijualnya itu belum ada di tangannya. Hal ini karena barang sebelum diterima adalah di luar tanggung jawab pembeli, sehingga bila barang tersebut rusak atau hilang, maka resiko ditanggung si penjual.

Keempat; Sabda beliau, “tidak halal menjual sesuatu yang bukan milik kamu”, ditafsirkan oleh hadits Hakim bin Hizam yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i bahwa dia (Hakim bin Hizam berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada seseorang mendatangi saya untuk membeli sesuatu yang tidak saya miliki, lalu saya pun membelinya di pasar’, beliau bersabda,

«لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَك»

‘Jangan kamu menjual sesuatu yang tidak kamu miliki’.”

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh menjual sesuatu sebelum memilikinya secara utuh.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *