[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 302

08. KITAB NIKAH 05

0907

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «جَاءَتْ امْرَأَةٌ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْت أَهَبُ لَك نَفْسِي، فَنَظَرَ إلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَصَعَّدَ النَّظَرَ فِيهَا وَصَوَّبَهُ، ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأْسَهُ، فَلَمَّا رَأَتْ الْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنْ لَمْ تَكُنْ لَك بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا. قَالَ: فَهَلْ عِنْدَك مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ: لَا، وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: اذْهَبْ إلَى أَهْلِك، فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا؟ فَذَهَبَ، ثُمَّ رَجَعَ، فَقَالَ: لَا وَاَللَّهِ مَا وَجَدْت شَيْئًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: اُنْظُرْ، وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَذَهَبَ، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، وَلَكِنْ هَذَا إزَارِي – قَالَ سَهْلٌ: مَا لَهُ رِدَاءٌ – فَلَهَا نِصْفُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِك؟ إنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْك مِنْهُ شَيْءٌ فَجَلَسَ الرَّجُلُ، حَتَّى إذَا طَالَ مَجْلِسُهُ قَامَ، فَرَآهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُوَلِّيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ بِهِ، فَلَمَّا جَاءَ قَالَ: مَاذَا مَعَك مِنْ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا، وَسُورَةُ كَذَا، عَدَّدَهَا فَقَالَ: تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِك؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: اذْهَبْ، فَقَدْ مَلَّكْتُكهَا بِمَا مَعَك مِنْ الْقُرْآنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ. وَفِي رِوَايَةٍ: قَالَ لَهُ: «انْطَلِقْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا، فَعَلِّمْهَا مِنْ الْقُرْآنِ» وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ «أَمْكَنَّاكَهَا بِمَا مَعَك مِنْ الْقُرْآنِ» -، وَلِأَبِي دَاوُد عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «مَا تَحْفَظُ؟ قَالَ: سُورَةَ الْبَقَرَةِ، وَاَلَّتِي تَلِيهَا. قَالَ: قُمْ فَعَلِّمْهَا عِشْرِينَ آيَةً»

907. Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi Radhiyallahu Anhu berkata, ada seorang waniia menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah aku datang menghibahkan diriku padamu.” Lalu Rasulullah memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata, “Waliai Rasulullah, jika engkau tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya.” Beliau bersabda, “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab, “Demi Allah, tidak wahai Rasulullah,” Beliau bersabda, “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu?” Lalu ia pergi, kemudian kembali dan berkata, “Demi Allah, aku tidak mempunyai sesuatu.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Carilah walaupun hanya cincin dari besi.” Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata, “Demi Allah, tidak ada apa-apa wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku – Sahl berkata, “Ia mempunyai selendang- yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apa yang akan engkau lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, dia tidak mendapatkan bagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya engkau tidak mendapatkan bagian apa-apa”. Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah melihatnya berpaling, beliau memerintahkan untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya, “Apakah engkau mempunyai hafalan Al-Qur’an? Ia menjawab, “Aku hafal surat ini dan itu.” Beliau bertanya, “Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Pergilah, aku telah berikan wanita itu kepadamu dengan hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki.” (Muttafaq Alaihi dan lafazhnya menurut Muslim).

[shahih, Al-Bukhari (5087), Muslim (1425)]

Dalam suatu riwayat Muslim, beliau bersabda, “Pergilah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia Al-Qur’an.”

[shahih, Muslim (1425)]

Menurut riwayat Al-Bukhari, “Aku serahkan ia kepadamu dengan maskawin Al-Qur’an yang telah engkau hafal.”

[shahih, Al-Bukhari (5121)]

Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah beliau bersabda, “Surat apa yang telah engkau hafal?” Ia menjawab, “Surat Al-Baqarah dan sesudahnya.” Beliau bersabda, “Berdirilah dan ajarkanlah ia duapuluh ayat.”

[Dha’if: Abi Dawud (2112)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’di Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seorang wanita (pengarang kitab “Al Fath” tidak mengetahui nama si wanita itu) menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah aku datang menghibahkan diriku padamu (yaitu urusanku; karena laki-laki merdeka tidak bisa memutuskan perkaranya) Lalu Rasulullah memandangnya dengan penuh perhatian (dalam kitab An-Nihayah diterangkan, bahwa Nabi memperhatikan dari atas dan ke bawah, hal ini menunjukkan dalil yang membolehkan bagi orang asing melihat wanita yang ingin dinikahi)

Pengarang kitab ini berpendapat: hal ini merupakan pengecualian bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dibolehkan untuk melihat muslimah lainnya, dan ini tidak berlaku bagi yang lain.

“Kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat (pengarang kitab tidak mengetahui siapa nama shahabat itu) dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya.” Beliau bersabda, “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab, “Demi Allah tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu ?” Lalu ia pergi, kemudian kembali dan berkata, “Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Carilah walaupun hanya cincin dari besi (tidak ada cincin) Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata, “Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku- Sahal berkata (perawi hadits ini) ia mempunyai selendang- yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apa yang akan engkau lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, dia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya engkau tidak kebagian apa-apa (jawaban Nabi untuk menerangkan bahwa pembagian selendang menjadi dua karena sebagian dijadikan mahar tidak bermanfaat bagi keduanya) Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah melihatnya berpaling, beliau memerintahkan untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya, “Apakah engkau mempunyai hafalan Al-Qur’an? Ia menjawab, “Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya, “Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Pergilah, aku telah berikan wanita itu kepadamu dengan hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki.” Muttafaq Alaihi dan lafazhnya menurut Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim, beliau bersabda, “Pergilah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia Al-Qur’an.” Menurut riwayat Al-Bukhari: “Aku serahkan ia kepadamu dengan maskawin Al-Qur’an yang telah engkau hafal.” Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah beliau bersabda, “Surat apa yang telah engkau hafal? Ia menjawab “Surat Al-Baqarah dan sesudahnya.” Beliau bersabda, “Berdirilah dan ajarkanlah ia dua puluh ayat.”

Tafsir hadits

Hadits ini menerangkan berbagai masalah. Ibnu At-Tin telah meneliti hadits ini dan ia mengatakan bahwa hadits ini mencangkup duapuluh satu faedah yang dijadikan Al Bukhari judul-judul dalam buku haditsnya.

Akan kami terangkan beberapa faedah yang berkaitan dengan kandungan hadits ini sebagai berikut:

Pertama: dibolehkan bagi seorang wanita untuk menawarkan [menghibahkan] dirinya kepada orang saleh. Boleh bagi laki-laki untuk melihatnya walaupun dia bukan pelamarnya namun dengan tujuan untuk dinikahi, demikian juga dibolehkan bagi si wanita untuk melihat laki-laki yang melamarnya, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika melihat wanita tersebut merupakan bukti bahwa beliau berkeinginan menikahinya setelah menghibahkan dirinya kepada Rasulullah, akan tetapi Nabi tidak berkenan.

Kedua: pemimpin adalah wali bagi seorang wanita yang tidak mempunyai kerabat kalau dia berkenan, hanya saja dalam hadits ini dia menyerahkan urusannya kepada Rasulullah dan inilah yang dinamakan dengan wakalah (mewakilkan wali) dan dia berhak menikahkan si wanita tanpa harus bertanya keberadaan walinya, apakah ada atau tidak, hadir atau tidak, dan tidak juga apakah dia ikut dengan seseorang atau tidak.

Al-Khaththabi berkata, “Sebagian ulama sependapat dengan hal tersebut berdasarkan keadaan zhahir hadits.” Sedangkan menurut Al-Hadawiyah bahwa si wanita harus bersumpah terlebih dahulu sebagai langkah antisipasi.”

Ketiga: hibah tidak bisa ditetapkan, kecuali dengan perkataan.

Keempat: bahwa dalam nikah harus ada mahar, dan kadar mahar itu dianggap sah walaupun hanya dengan sesuatu yang sederhana, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Walaupun cincin dari besi.” Hadits ini menunjukkan bahwa boleh menjadikan apa saja sebagai mahar yang disetujui kedua belah pihak atau siapa yang menjadi wali bagi si wanita, artinya setiap sesuatu yang mempunyai harga boleh dijadikan sebagai mahar.

Al-Qadhi Iyadh menukilkan ijma’ yang menyebutkan bahwa tidak sah menikah dengan mahar yang tidak berharga. Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, “Boleh menikah dengan mahar apa saja, walaupun hanya dengan satu biji gandum.” Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apakah engkau mempunyai sesuatu”, namun pendapat ini dibantah dengan sabda Nabi juga, “walaupun dengan cincin dari besi”, memang sedikit nilainya tapi cukup berharga. Dan juga sabda Nabi, “Siapa di antara kalian yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga, dan bagi yang tidak bisa…” menunjukkan maharnya tidak bisa dipenuhi dengan mudah oleh semua orang, sedangkan sebiji gandum semua orang mampu mewujudkannya. Begitu juga dengan firman Allah Ta’ala, “Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya.” (QS. An-Nisaa’: 25) dan juga firman Allah, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu.” (QS. An-Nisaa’: 24) kedua ayat itu menunjukkan, bahwa haruslah mahar itu sesuatu yang berharga, sehingga sebagian mereka ada yang berkata: paling sedikit lima puluh dirham, ada yang mengatakan empat puluh dirham, dan ada juga yang mengatakan lima dirham. Namun standar ukuran ini tidak mempunyai dalil yang mengharuskan dengan ukuran seperti itu. Yang paling benar adalah mahar itu boleh dengan apa saja yang berharga walaupun sederhana.

Hadits-hadits dan ayat-ayat ini mungkin menunjukkan kebiasaan yang berlaku pada umumnya, bahwa seorang wanita tidak ridha kecuali jika maharnya barang [harta] berharga yang tidak semua orang bisa memperolehnya.

Kelima: hendaknya disebutkan jumlah maskawin ketika melangsungkan akad; untuk menghindari perselisihan dan lebih bermanfaat bagi si wanita. Jika akad nikah dilangsungkan tanpa menyebutkan maskawinnya, maka nikahnya tetap sah, tapi diwajibkan bagi laki-laki yang telah mencampuri istrinya untuk membayar maskawin, yang disunnahkan untuk secepatnya membayar maskawin.

Keenam: dibolehkan bagi seorang bersumpah dengan tidak berniat bersumpah dan juga boleh bersumpah berdasarkan perkiraannya; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya setelah dia bersumpah, “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu” menunjukkan bahwa sumpahnya berdasarkan perkiraannya, jika tidak, tentu tidak ada faedahnya Nabi menyuruh dia pergi ke keluarga setelah dia bersumpah.

Ketujuh: tidak boleh bagi seseorang mengeluarkan [menyedekahkan] sesuatu yang merupakan kebutuhan primernya, seperti baju (satu-satunya) untuk menutup aurat atau makanan dan minuman (hanya itu yang ada) bagi keluarga; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang pembagian pakaiannya dengan alasan, “jika dia memakainya engkau tidak kebagian apa-apa.”

Kedelapan: pengujian terlebih dahulu bagi orang yang mengaku-ngaku hidupnya susah, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak langsung mempercayainya di awal pengakuannya sampai dia benar-benar menunjukkan tanda-tanda kesusahannya.

Kesembilan: melangsungkan akad nikah tidak wajib harus diawali dengan proses khitbah [meminang]; karena dalam hadits tersebut tidak dijelaskan. Namun dalam pembahasan terdahulu Azh-Zhahiriyyah mewajibkan khitbah sebelum akad nikah, dan hadits ini membantah pendapat mereka. Mahar itu boleh berbentuk hal-hal yang bermanfaat seperti pengajaran dan diqiyaskan pada hal-hal lainnya, berdasarkan pada kisah Nabi Musa Alaihissalam dengan Nabi Syu’aib Alaihissalam dan Al-Hadawiyyah juga berpendapat bahwa mahar boleh dengan hal-hal yang bermanfaat, sementara pengikut Madzhab Hanafi berbeda pendapat dan menafsirkan hadits dengan penafsiran bahwa pernikahan tanpa mahar adalah salah satu kekhususan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan pendapat ini sangat bertentangan dengan dasar hukum Islam.

Kesepuluh: sabda Nabi, “dengan hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki” mempunyai dua kemungkinan, sebagaimana yang disampaikan Al-Qadhi ‘Iyadh dan yang yang paling jelas dari makna haditsnya: mengajarkan Al-Qur’an yang telah dihafalkan kepadanya atau bagian tertentu saja, dan itulah sebagai maharnya. Hal ini diperkuat dengan riwayat shahih lainnya yang menyatakan, “Maka ajarkanlah dia Al-Qur’an” dalam riwayat lainnya ditentukan dengan dua puiuh ayat saja.

Kemungkinan yang kedua, bahwa huruf ‘ba’ berarti kepemilikan; maksudnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahkannya tanpa mahar sebagai penghormatan, karena dia penghafal Al-Qur’an atau hafal sebagiannya saja. Kemungkinan yang kedua ini diperkuat dengan kisah pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Sulaim berikut: “Abu Sulaim meminang Ummu Sulaim, maka dia berkata, “Demi Allah, tidak akan ada seorang wanita yang menolak lamaran dari orang seperti Anda, hanya saja Anda kafir dan saya muslimah dan saya tidak boleh menikah dengan Anda, jika kamu masuk Islam; cukuplah itu sebagai maharnya, maka Abu Sulaim masuk Islam dan keislamannya itulah yang dijadikan sebagai maharnya.” (HR. An-Nasa’i dan shahih menurutnya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, An-Nasa’i menjadikannya sebagai judul bab dalam haditsnya dengan nama bab ‘menikah atas dasar Islam’, sedangkan untuk hadits riwayat Sahl ini dengan nama: ‘bab menikah dengan surat Al-Baqarah’, dan inilah penguat pendapatnya untuk kemungkinan yang kedua. Kemungkinan yang pertama lebih jelas dan tepat sebagaimana yang dikatakan Al-Qadhi ‘Iyadh berdasarkan riwayat, “Ajarilah dia Al-Qur’an.”

Kesebelas: bahwa menikah boleh dengan lafazh kepemilikan, inilah pendapat madzhab Al-Hadawiyah dan Hanafiyah, tidak dipungkiri bahwa lafazhnya berbeda-beda dalam hadits, kadang diriwayatkan dengan kepemilikan, menikahkan dan diserahkan. Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata: sebetulnya lafazhnya satu dalam kisah yang sama, namun terjadinya perbedaan dalam satu makna yang sama, secara zhahir Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan satu lafazh, maka solusinya adalah meneliti mana yang paling kuat.

Dinukilkan dari Ad-Daraquthni, bahwa yang paling benar adalah riwayat yang menyatakan, “Saya nikahkan kamu dengannya” karena riwayatnya lebih banyak dan tepat. Pengarang kitab Rahimahullah menjelaskan panjang lebar dalam kitab Al-Fath tentang tiga lafazh (kepemilikan, menikahkan dan diserahkan) lalu berkata: riwayat dengan lafazh menikahkan dan dinikahkan lebih kuat.

Sedangkan pendapat Ibnu At-Tin yang menyatakan bahwa yang benar berdasarkan ijma’ ahli hadits adalah riwayat dengan lafazh, “Saya nikahkan kamu dengannya” dan riwayat, “telah aku berikan wanita itu padamu” perkiraan saja. Pengarang kitab membantah, bahwa dia (Ibnu At-Tin) terlalu berlebih-lebihan. Al-Baghawi berkata, “Menurut saya bahwa Nabi menggunakan lafazh ‘menikahkan’ berdasarkan perkataan pelamar yang berkata kepada Nabi, “Nikahkan saya dengannya.” Karena itulah lafazh yang umum dipakai yang bisa menghindari perbedaan lafazh yang diucapkan antara kedua belah pihak yang sedang melakukan akad.

Al-Hadawiyyah dan pengkuti Imam Hanafi -dan yang masyhur dari pengikut Imam Malik- membolehkan lafazh nikah dengan lafazh apa saja yang mengandung arti sama jika disertai dengan lafazh mahar atau niat menikah seperti lafazh penyerahan atau pemilikan dan lain sebagainya, dan tidak sah dengan lafazh pinjam, sewa dan wasiat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *