[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 231

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 06

0737

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ عَسْبِ الْفَحْلِ»

737. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang makan upah mengawinkan pejantan.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2284)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dan hadits yang sebelumnya merupakan dalil diharamkannya menyewa pejantan untuk dikawinkan. Dan hasil upah dari hal itu haram hukumnya. Sekelompok ulama salaf berpendapat bahwa hal itu boleh, hanya saja menyewanya dengan tempo waktu dan jumlah perkawinan yang diketahui. Mereka beralasan dengan faktor kebutuhan menuntut hal itu. Ia merupakan manfaat yang dibutuhkan. Sedangkan hadits yang melarang tersebut mereka anggap hanya sebatas anjuran. Namun, ini menyalahi asal hukumnya.

0738

وَعَنْهُ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ، وَكَانَ بَيْعًا يَبْتَاعُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ: كَانَ الرَّجُلُ يَبْتَاعُ الْجَزُورَ إلَى أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ ثُمَّ تُنْتَجُ الَّتِي فِي بَطْنِهَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.

738. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang memperjualbelikan anak hewan yang dikandung oleh hewan yang masih dalam kandungan. Ini adalah jual beli yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah, yaitu seseorang membeli unta sampai melahirkan, kemudian anak yang masih berada dalam perut itu juga melahirkan.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya adalah lafazh Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2143) dan Muslim (1514)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yakni Ibnu Umar), Radiyallahu Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang memperjualbelikan anak hewan yang akan dikandung oleh hewan yang masih dalam kandungan. Ini adalah jual beli yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah, (ditafsirkan dengan sabda beliau) yaitu seseorang membeli unta sampai melahirkan, kemudian anak yang masih berada dalam perut itu juga melahirkan.” (penafsiran ini adalah sisipan dari perkataan An-Nafi’ atau ada yang mengatakan perkataannya Ibnu Umar.) (Muttafaq Alaih dan lafazhnya adalah lafazh Al-Bukhari). Dan dalam suatu riwayat disebutkan “Anak dari hewan yang dikandungan unta”, tanpa syarat kelahiran. Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Unta melahirkan anak yang dikandung dalam perutnya”, tanpa menyebutkan anak yang dilahirkannya itu telah mengandung dan melahirkan.

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan haramnya transaksi jual beli seperti ini. Ulama berbeda pendapat tentang objek dari larangan itu karena perbedaan riwayat yang ada. Apakah dikarenakan pembayaran harga unta yang ditangguhkan sampai harga tersebut dapat diperoleh atau dikarenakan penjualan anak yang dihasilkannya?

Imam Malik, Asy-Syafi’i dan Jama’ah berpendapat dengan pendapat pertama. Mereka mengatakan, bahwa alasan pelarangan disebabkan waktu pembayaran yang tidak pasti. Sedangkan Imam Ahmad, Ishaq dan jama’ah ulama ahli bahasa berpegang pada pendapat kedua. At-Tirmidzi juga secara tegas berpegang pada pendapat ini. Mereka mengatakan bahwa alasan pelarangan karena keberadaan transaksi jual beli itu fiktif, tidak jelas waktunya dan tidak mampu diserahterimakan sehingga ia termasuk dalam kategori jual beli gharar (tidak jelas, tipuan). Itulah yang diisyaratkan oleh Al-Bukhari dengan menamakan bab ini dengan bab jual beli gharar. Dia juga mengisyaratkan keberpihakan pada penafsiran pertama dan dia juga menguatkannya pada bab salam karena keberadaannya sesuai dengan hadits, walaupun dari tinjauan bahasa lebih sesuai dengan pendapat kedua.

Perselisihan di atas dapat disimpulkan menjadi empat pendapat. Karena hal itu bisa diklasifikasikan berdasarkan, apakah maksud dari transaksi di atas jual beli sampai waktu tertentu atau jual beli janin? Berdasarkan pernyataan pertama, timbul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan waktu di dalam hadits adalah waktu kelahiran sang induk atau anaknya? Sedangkan berdasarkan pendapat kedua, timbul pertanyaan apakah yang dimaksud dalam hadits penjualan janin yang pertama atau janin yang kedua? Sehingga semuanya menjadi empat pendapat.

Dikisahkan dari Ibnu Kaisan dan dari Al-Mubarid bahwa yang dimaksud dengan al-habalah dalam hadits adalah al-karamah dan bahwa maksudnya adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah anggur sebelum layak dikonsumsi, tetapi ini tidak benar karena ejaan dari kalimat tersebut tidak mendukung pendapat ini.

0739

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ، وَعَنْ هِبَتِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

739. Dan darinya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual belikan wala (hak waris mewarisi dari budak yang dimerdekakan) dan juga menghibahkannya kepada orang lain. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2535), Muslim (1506).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yakni Ibnu Umar), bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual belikan wala (hak perwalian) dan juga menghibahkannya kepada orang lain. (Muttafaq Alaih). Yang dimaksud dengan wala adalah wala karena memerdekakan budak. Yakni apabila budak yang merdeka meninggal dunia maka orang yang memerdekakannya mewarisi. Dahulu orang Arab menghibahkan dan memperjualbelikan hak mewarisi ini lalu akhirnya hal itu dilarang. Karena wala itu sama seperti nasab tidak dapat serta merta dihilangkan. Sebagaimana disebutkan dalam kitab An-Nihayah.

0740

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

740. Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli dengan cara melempar batu dan jual beli gharar (spekulasi).” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1513)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas mencakup dua dari beberapa bentuk transaksi jual beli yang dilarang, yaitu:

Pertama; Jual beli dengan cara melempar batu. Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna Jual beli dengan cara melempar batu. Ada yang mengatakan, bahwa bentuknya adalah si penjual berkata, “Lemparlah batu ini, di manapun batu ini jatuh mengenai baju, maka ia menjadi milikmu dengan harga satu dirham.” Ada juga yang mengatakan, “Si penjual menjual tanah sejauh lemparan batu si pembeli. Atau ada yang mengatakan, “Ia dengan cara menggenggam batu lalu berkata, “Saya akan mendapati barang yang dijual sesuai jumlah batu yang keluar dari genggaman saya.” Atau seseorang menjual barang dagangan dengan cara menggenggam batu di tangannya seraya mengatakan bahwa saya akan dapat harga sesuai jumlah batu yang keluar dari genggaman tangan saya yang setiap batu dihargai satu dirham. Pendapat lain, yakni dengan cara salah satu dari penjual ataupun pembeli menggenggam batu di tangannya kemudian mengatakan bahwa kapanpun batu itu jatuh dari genggamannya maka wajib transaksi jual beli dilakukan. Pendapat lain, yakni dengan menghadang sejumlah kambing lalu mengambil batu sambil mengatakan, kambing mana saja yang terkena lemparan batu akan menjadi milikmu dengan harga sekian dirham. Semua bentuk transaksi jual beli tersebut mengandung spekulasi kecurangan karena harga atau jenis barangnya fiktif tidak jelas. Kata gharar mencakup itu semua, ia disebutkan dalam bentuk tunggal karena keberadaannya sebagai transaksi yang biasa dilakukan orang-orang jahiliyah yang akhirnya dilarang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan mengaitkan jual beli dengan batu karena memang mereka menggunakannya dalam transaksi jual beli.

Kedua; Jual beli gharar, yaitu spekulasi yang berkonsekuensi adanya ketidakrelaan setelah transaksi jual beli benar-benar terjadi. Pada akhirnya hal ini masuk kriteria memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Dan terealisasi dalam bentuk:

· Ketidakmampuan untuk menyerahkan barang kepada si pembeli seperti menjual budak yang kabur dan kuda yang lari.

· Keberadaan barang yang fiktif dan tidak jelas.

· Si penjual tidak secara penuh memiliki barang yang dijualnya seperti ikan di dalam air yang banyak atau bentuk transaksi jual beli lain yang serupa.

Terkadang bisa jadi transaksi jual beli mengandung unsur gharar, tetapi tetap sah karena faktor kebutuhan, seperti ketidaktahuan mengenai pondasi rumah yang hendak dibeli (kuat atau tidak), menjual jubah yang terbuat dari katun walaupun dia tidak melihatnya tetapi karena hal tersebut telah disepakati kebolehannya, maka hukumnya sah. Begitu juga boleh menyewa rumah dan kendaraan selama satu bulan walaupun satu bulan kadang tiga puluh hari dan kadang dua puluh sembilan hari. Begitu pula halnya dengan kamar mandi umum dikenakan bayaran, dia sah walaupun masing-masing orang berbeda dalam menggunakan air dan lama waktu penggunaan toilet tersebut. Dan juga membeli minum dan langsung meminumnya dari wadah seperti tuak, hal ini sah walaupun berbeda kadarnya (antara satu orang dan yang lainnya berbeda-beda -edt). Namun, ulama sepakat akan tidak diperbolehkannya menjual janin di perut dan burung di udara. Dan mereka juga berbeda pendapat pada banyak bentuk transaksi jual beli yang dibahas dalam buku-buku fikih.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *