[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 301

08. KITAB NIKAH 04

0905

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إلَى مَا يَدْعُوهُ إلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ – وَلَهُ شَاهِدٌ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ الْمُغِيرَةِ – وَعِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ وَابْنِ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ – وَلِمُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً: أَنَظَرْتَ إلَيْهَا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: اذْهَبْ فَانْظُرْ إلَيْهَا»

905. Dari Jabir ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, maka jika ia bisa memandangnya [pada bagian tubuh yang diperbolehkan] yang dapat mendorongnya untuk menikahi wanita tersebut, hendaklah dia lakukan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Al-Hakim. Hadits ini mempunyai syahid (hadits pendukung) dari hadits riwayat At-Tirmidzi, An-Nasa’i dari Al-Mughirah, begitu pula riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari hadits Muhammad Ibnu Maslamah.

[Shahih: Abi Dawud (2082, At-Tirmidzi (1087), Ibni Majah (1891)]

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita, “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Pergi dan lihatlah dia.”

[shahih, Muslim (1424)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir ia berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, maka jika ia bisa memandangnya [pada bagian tubuh yang diperbolehkan] yang dapat mendorongnya untuk menikahi wanita tersebut, hendaklah dia lakukan (kelanjutan hadits: Jabir berkata, “Maka saya melamar seorang perempuan, lalu saya bersembunyi supaya dapat melihat sesuatu dari [bagian tubuh]nya yang mendorongku untuk menikahinya, kemudian saya menikahinya) HR. Ahmad, Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya.

Hadits shahih menurut Al-Hakim. Hadits ini mempunyai syahid [hadits pendukung] dari hadits riwayat At-Tirmidzi, An-Nasa’i dari Al-Mughirah (dan lafazhnya: Dikatakan kepadanya ketika dia melamar seorang perempuan, “Lihatlah dia; karena dengan melihatnya dapat lebih melanggengkan [rumah tangga] di antara kalian berdua.”) “Begitu pula riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari hadits Muhammad Ibnu Maslamah. Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita, (yaitu benar-benar ingin menikah) “Apakah engkau telah melihatnya? Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Pergi dan lihatlah dia.”

Tafsir Hadits

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan disunnahkan bagi seorang laki-laki untuk melihat terlebih dahulu wanita yang akan dinikahinya, dan inilah pendapat jumhur ulama.

Adapun yang boleh dilihat dari wanita yang akan dinikahi adalah muka dan kedua belah telapak tangan; karena muka menggambarkan kecantikan atau sebaliknya, dan kedua belah telapak tangan menggambarkan kesuburan atau tidak.

Al-Auza’i berpendapat, “Melihat tempat-tempat tumbuhnya daging.” Dan Dawud berkata, “Melihat ke seluruh badannya, karena perintah dalam hadits itu bersifat mutlak, maka boleh lihat sampai keinginannya tercapai.” Hal ini sejalan dengan pemahaman shahabat tentang hadits tersebut, seperti yang diriwayatkan Abdurrazzak dan Sa’id Ibnu Manshur bahwa Umar bin Khaththab menyingkap betis Ummi Kultsum binti Ali Radhiyallahu Anhu ketika dikirimkan kepada Umar untuk dilihat. Dan tidak disyaratkan kerelaan si wanita untuk dilihat, bahkan bagi seorang laki-laki yang ingin melamar dia berhak untuk melihat wanita tersebut sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuannya seperti yang dilakukan Jabir.

Bagi para pengikut madzhab Asy-Syafi’i, mereka berpendapat: hendaknya melihat wanita tersebut sebelum melamarnya, sebab jika dia tidak suka dia bisa mengundurkan diri tanpa menyakiti perasaan si wanita. Lain halnya jika sudah dilamar [pinang] terlebih dahulu, tentu akan menyakiti si wanita. Namun apabila tidak memungkinkan untuk melihat langsung, maka sebaiknya dia mengutus seorang wanita yang dipercaya untuk melihat dan memberitahukan sifat-sifat wanita tersebut. Sebagaimana hadits riwayat Anas, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika mengutus Ummu Sulaim melihat wanita yang akan dilamar, beliau bersabda,

اُنْظُرِي إلَى عُرْقُوبِهَا، وَشُمِّي مَعَاطِفَهَا

“Lihatlah tumit dan ciumlah kedua sisi bagian lehernya.”

HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dan hadits ini masih diperdebatkan keshahihannya, dalam riwayat lainnya diterangkan,

شُمِّي عَوَارِضَهَا

“Ciumlah bau gigi bagian depannya,”

yaitu gigi antara gigi gusi dan geraham. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bau mulutnya, apakah mulutnya berbau busuk atau tidak.

Hukum ini juga berlaku bagi wanita. Ia bisa melihat orang yang melamarnya, apakah si pelamar itu mampu memikat hatinya atau tidak, sebagaimana pria tertarik setelah melihat si wanita. Beginilah salah satu pendapat ulama. Namun tidak ada hadits yang menerangkan tentang hal itu, sebab berdasarkan hukum syari’at tidak boleh bagi seorang wanita melihat kepada laki-laki yang bukan mahram, sebagaimana laki-laki tidak boleh melihat wanita yang bukan mahram, kecuali ada dalil yang membolehkan, seperti laki-laki melihat wanita yang akan dilamarnya.

 0906

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَخْطُبْ أَحَدُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ، أَوْ يَأْذَنَ لَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

906. Dari Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian melamar wanita yang sedang berada dalam pinangan saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.” (Muttafaq Alaihi dan lafazhnya menurut Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5142), Muslim (1412)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam kaidah ushul, bahwa ‘larangan’ itu menunjukkan keharaman, kecuali jika ada dalil yang menjelaskan bahwa larangan itu bukan untuk menunjukkan keharaman. Menurut Imam An-Nawawi, bahwa menurut ijma’ ulama wanita yang dipinang itu milik si peminang (selama proses khitbah).

Al-Khaththabi berkata, “Larangan itu sebagai bentuk adab [etika] bukan untuk mengharamkan, dan secara zhahir larangan itu berlaku baik si pelamar sudah diberi jawaban atau belum. Pembahasan ini sudah kami jelaskan dalam kitab jual beli, bahwa tidak diharamkan kecuali sudah tercapai kesepakatan di antara keduanya. Hal ini berdasarkan kepada hadits Fatimah binti Qais yang telah lalu. Dan ijma’ mengharamkan melamar wanita yang sudah memberikan kesepakatan dari pinangan orang lain. Dan jawaban [kesepakatan] itu berasal dari wanita yang sudah baligh dan bisa memilih perkara yang baik walaupun walinya masih kecil. Jika wanita belum bisa memutuskan perkata dengan baik; maka harus dengan izin dari walinya berdasarkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa si wali mempunyai kewenangan untuk nuelarang, hal ini hanya berlaku pada jawaban yang jelas [terang-terangan]. Sedangkan jika tidak terang-terangan, maka hukum untuk melamarnya tidak diharamkan. Demikian juga jika belum ada jawaban, baik diterima atau ditolak, Imam Asy-Syafi’i menegaskan bahwa diamnya seorang gadis menunjukkan ia menerima lamaran dari si pelamar; dan cukuplah itu sebagai jawaban.

Apabila seseorang melangsungkan akad nikah padahal saat itu diharamkan baginya untuk khitbah (meminang), maka menurut jumhur nikahnya sah. Dawud berkata, nikahnya difasakh [dibatalkan], baik sebelum maupun sesudah melakukan hubungan suami-istri.

Sabda Nabi, “atau mengizinkannya” menunjukkan dibolehkan melamar setelah diizinkan, hal itu bisa dilakukan dengan berterus terang mengizinkan bagi yang lain untuk melamar atau dengan cara lain yang dipahami sebagai bentuk izin, karena izinnya menunjukkan pengunduran dirinya, maka dibolehkan bagi siapa saja yang mau menikah dengannya.

Pembahasan tentang, “saudaranya” sudah dijelaskan pada bagian terdahulu, bahwa itu menunjukkan haram hukumnya melamar wanita yang sudah dilamar muslim lainnya, tapi tidak atas wanita yang dilamar oleh orang kafir. Perbedaan pendapat di antara ulama dalam pembahasan itu sudah dijelaskan. Namun, jika si pelamar orang fasik, apakah boleh bagi orang yang saleh untuk melamar wanita yang sedang dilamar olehnya? Al-Amir Al-Husain menerangkan dalam kitab Asy-Syifa, “Boleh melamar wanita yang sedang dilamar orang fasik, dinukilkan dari Ibnul Qasim pengikut madzhab Imam Malik dan diperkuat Ibnu Al-Arabi, yang pernyataannya agak mirip dengan pendapat Al-Amir Al-Husain, yakni apabila si wanita yang sedang dilamar itu orang yang baik-baik [salehah], maka orang fasik tersebut tidak sepadan dengannya, dengan begitu khitbah yang dilakukannya tidak dianggap khitbah. Namun, jumhur tidak mempersoalkan hal itu jika wanita tersebut menerima lamaran orang fasik tersebut.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *