[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 230

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 05

0735

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كُنَّا نَبِيعُ سَرَارِينَا أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ، وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَيٌّ، لَا يَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا»

735. Dan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Kami dahulu menjual budak-budak wanita kami, ummahatul awlaad (jamak dari ummul walad) sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup, namun beliau tidak mempermasalahkan hal itu.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ad-Daraquthni. Hadits ini disahkan oleh Ibnu Hibban)

[shahih, As-Silsilah Ash-Shahihah (2417)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi’i, Al-Baihaqi, Abu Dawud dan Al-Hakim. Dan dia (Al-Hakim) menambahkan, “Ini di zaman Abu Bakar dan tatkala Umar melarang kami, maka kami berhenti melakukannya.”

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari hadits Abu Said dan sanadnya lemah. Al-Baihaqi mengatakan bahwa tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui dan melegitimasi hal itu. Namun, hal ini dibantah dengan adanya riwayat An-Nasa’i yang di dalamnya ada perkataan, “Sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup namun beliau tidak mempermasalahkan hal itu.”

Ulama yang berpendapat bolehnya menjual ummul walad juga berargumentasi dengan hadits shahih dari Ali Radiyallahu Anhu, bahwa dia sedianya memandang haram berubah menjadi berpendapat boleh.

Abdur Razaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Ayub dari Ibnu Sirin dari Ubaidah Al-Salmani Al-Muradi, dia berkata, “Saya mendengar Ali Radiyallahu Anhu berkata, ‘Pendapat saya dan pendapat Umar mengenai tidak bolehnya ummul walad dijual adalah sama. Kemudian saya berpendapat boleh untuk menjualnya berdasarkan hadits di atas yang terbilang paling sah sanadnya. Dalam syarah (penjelasan)nya dalil-dalil tersebut dijawab bahwa bisa jadi hadits Jabir terdahulu, sedangkan hadits yang kita sebutkan (yakni hadits Umar) sebagai nasikh (penghapusnya). Juga hadits Jabir adalah taqrir (legitimasi dengan mendiamkan permasalahan -Edt.), sedangkan hadits Umar berupa qaul (komentar langsung dari Umar). Dan saat terjadi perselisihan, maka yang terkuat yang dalil yang berbentuk qaul (perkataan).

Saya katakan di sini bahwa tidak tersembunyi lemahnya jawaban ini. Karena ini adalah nasakh (penghapusan) yang hanya berdasarkan dugaan saja. Ulama yang berpendapat bolehnya menjual ummul walad pun bisa membalik argumentasi dengan mengatakan, bahwa bisa jadi hadits Umar terdahulu kemudian dinasakh (dihapus hukumnya) dengan hadits Jabir.

Kemudian argumentasi mereka: hadits Jabir adalah taqrir (legitimasi dengan mendiamkan permasalahan -Edt.), sedangkan hadits Umar berupa qaul (komentar langsung dari Umar). Dan saat terjadi perselisihan, maka yang terkuat yang dalil yang berbentuk qaul (perkataan), bisa dijawab dengan mengatakan bahwa yang jadi masalah adalah bahwa dalil qaul (perkataan) dalam hadits Umar tidak marfu’, bahkan secara tegas penulis (Ibnu Hajar) dan yang lainnya mengatakan bahwa yang menganggap hadit tersebut marfu’ adalah keliru. Larangan menjual ummul walad hanya pendapat Umar dan beberapa sahabat yang dia ajak musyawarah saja, bukan ijma’.

Dan ini bukan pula hujjah untuk berasumsi bahwa bila dalam masalah ini terdapat nash, niscaya Umar dan para sahabat lainnya tidak perlu mengeluarkan pendapat.

Adapun mengenai hadits Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa saat Maria melahirkan anak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bernama Ibrahim, Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Anaknya telah memerdekakannya.” [dhaif, Al-Irwa’ (1772)]

Ibnu Abdil Bar mengatakan dalam kitab Al-Istidzkar bahwa hadits ini diriwayatkan dalam beberapa versi tapi tidak kuat dan para ahli hadits tidak mengesahkannya.

Dan katanya pula, begitu juga dengan hadits Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu5 bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Budak perempuan manapun yang melahirkan anak dari tuannya, maka dia akan merdeka bila tuannya meninggal dunia” [dhaif, Al-Irwa’ (1771)]

Hadits inftidak sah karena Al-Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas meriwayatkannya sendirian. Dan dia sendiri seorang perawi yang dhaif (lemah) dan matruk (ditinggalkan). Adapun Abu Muhammad bin Hazm mengesahkan pendapat pertama (yakni tidak boleh menjual ummul walad) dan dia mengomentari apa yang kami paparkan di sini dalam kitab Hawasyi Dhau’ An-Nahar.

0736

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ: وَعَنْ بَيْعِ ضِرَابِ الْجَمَلِ.

736. Dan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual kelebihan air.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat ia menambahkan, “Dan mengkomersilkan perkawinan unta jantan.”)

[shahih, Muslim (1565)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual kelebihan air.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat ia menambahkan, “Dan mengkomersilkan perkawinan unta jantan.”) Dikeluarkan oleh Ashabus Sunan dari hadits lyas bin Abdu, disahkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Al-Fath Al-Qusyairi mengatakan bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim.

Tafsir Hadits

Hadits di atas adalah dalil tidak dibolehkannya menjual kelebihan air dari kebutuhan pemiliknya. Ulama mengatakan, “Gambarannya adalah di suatu tanah terdapat sumber air, kemudian pemilik tanah menggunakan air tersebut lalu masih banyak kelebihan. Maka dia tidak boleh melarang orang lain untuk mengambil air dari tempatnya itu. Begitu pula apabila seseorang menggali tanah miliknya yang mengandung air. Atau menggali sumur untuk digunakan minum dan mengairi sawahnya, maka dia tidak berhak melarang orang lain mengambil kelebihan airnya itu. Secara lahiriah, hadits ini menunjukkan bahwa wajib atasnya untuk memberikan kelebihan air yang dimilikinya untuk diminum, mandi atau untuk mengairi sawah orang lain. Baik di tanah milik umum atau milik pribadi.

Pengertian umum seperti inilah yang dipahami oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Hadyu, beliau mengatakan bahwa boleh memasuki tanah milik orang untuk sekedar mengambil air dan rumput karena dia juga mempunyai hak akan hal itu. Dan ia tidak juga dilarang untuk menggunakan barang milik orang lain dalam hal ini. Dia juga mengatakan bahwa Imam Ahmad menerangkan secara tertulis mengenai bolehnya seorang penggembala untuk mengembalakan binatang di tanah yang terlarang atasnya. Pendapat seperti ini juga dipahami oleh Al-Manshur Billah dan Imam Yahya dalam hal mengambil kayu bakar dan rumput. Kemudian dia berkata, tidak ada manfaatnya meminta izin dari pemilik tanah. Karena dia tidak berhak melarang orang untuk masuk, bahkan wajib atasnya untuk memberinya kesempatan dan haram atasnya melarang orang tersebut. Karena masuk untuk keperluan ini tidak memerlukan izin. Izin hanya diperlukan jika memasuki suatu tempat yang digunakan untuk tinggal, karena demikianlah perintahnya. Adapun tempat yang tidak digunakan untuk tinggal, Allah berfirman,

{لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ}

“Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS. An-Nur: 29)

Siapapun orang yang menggali sumur atau sungai, maka dia paling berhak terhadap air tersebut, tetapi tidak boleh melarang orang lain mengambil kelebihannya. Sama saja seperti yang kita katakan mengenai masalah ini, sebagaimana komentar beberapa ulama, “Bahwa air adalah hak untuk yang menggalinya tetapi bukan miliknya.” atau “Benar air itu miliknya tetapi wajib atasnya untuk memberikan kelebihannya untuk orang lain.”

Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

«أَنَّهُ قَالَ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا الشَّيْءُ الَّذِي لَا يَحِلُّ مَنْعُهُ قَالَ الْمَاءُ قَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا الشَّيْءُ الَّذِي لَا يَحِلُّ مَنْعُهُ قَالَ الْمِلْحُ»

bahwa pernah seseorang bertanya, “Wahai Nabi Allah, apa sesuatu yang tidak boleh dilarang?” Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Air” dia bertanya lagi, “Wahai Nabi Allah, apa sesuatu yang tidak boleh dilarang?” beliau menjawab, “Garam.” [Dhaif: Abi Dawud (3476)]

Hadits ini menunjukkan bahwa hukum air berlaku pada garam dan hal lain yang serupa seperti rumput, sehingga siapapun yang lebih dahulu membawa gembalaannya ke tanah milik umum yang ada rumputnya, maka dia yang lebih berhak mengembala di sana selagi gembalaannya masih ada di sana dan apabila telah keluar dari tempat itu dia tidak berhak untuk menjual rumput itu.

Adapun sesuatu yang sudah diambilnya, baik di dalam bejana atau wadah lainnya, maka ia adalah sesuatu yang bisa dikecualikan dengan mengiyaskannya dengan masalah kayu bakar yang terdapat dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلًا فَيَأْخُذَ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ فَيَبِيعَ ذَلِكَ فَيَكْفِ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أُعْطِيَ أَوْ مُنِعَ»

“Sungguh seseorang dari kalian yang mengambil seutas tali lalu dia mengambil seikat kayu bakar kemudian menjualnya demi menjaga kehormatan dirinya, hal itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang-orang, bisa jadi diberi atau ditolak.” [shahih, Al-Bukhari (2373)]

Dalam hal ini, ia boleh menjualnya dan tidak wajib untuk memberikannya kecuali kepada orang yang sangat membutuhkan. Begitu juga halnya menjual sumur dan mata air, hukumnya boleh. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ يُوَسِّعُ بِهَا عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَلَهُ الْجَنَّةُ فَاشْتَرَاهَا عُثْمَانُ»

“Barangsiapa yang membeli sumur Raumah yang digunakan untuk kebutuhan kaum muslimin, maka baginya surga.”Sumur tersebut pun dibeli oleh Utsman. [hasan, At-Tirmidzi (3703)]

Kisah ini sudah masyhur dan akan disebutkan berikut. Dan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dan mengomersilkan perkawinan unta jantan.” Maksudnya, beliau melarang memakan upah hasil mengawinkan unta jantan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *