[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 300

08. KITAB NIKAH 03

0903

وَعَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا رَفَّأَ إنْسَانًا إذَا تَزَوَّجَ قَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَك، وَبَارَكَ عَلَيْك، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ حِبَّانَ

903. Darinya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bila mendo’akan seseorang yang menikah, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (4829)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (yakni Abu Hurairah) bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bila mendo’akan yang menikah, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban (Ar-raff – yakni penyesuaian dan hubungan baik. Ada juga yang mengartikan: mene-nangkan seseorang bila kamu menghilangkan rasa ketakutan darinya. Maksudnya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jika mendoakan seseorang yang baru menikah agar bisa tercipta kerukunan antara kedua belah pihak keluarga; maka Nabi mendoakan dengan hal tersebut).

Baqi bin Mukhallad meriwayatkan hadits yang berasal:

«عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ قَالَ كُنَّا نَقُولُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ فَعَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ قُولُوا. ..»

dari seorang bani Tamim, ia berkata, “Pada masa jahiliyyah, kami biasa mengucapkan, “Penyesuaian dan berlaku baik kepada anak-anak, ketika kami masuk Islam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan kami untuk mengucapkan doa seperti pada hadits tersebut.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Jabir Radhiyallahu Anhu,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لَهُ تَزَوَّجْت قَالَ نَعَمْ قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَك»

bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah menikah? Aku menjawab, “Ya.” Lalu Nabi bersabda, “Baarakallahu Laka (Semoga Allah memberkahimu).” [shahih, Muslim (715)]

Dan Ad-Darimi menambahkan,

«، وَبَارَكَ عَلَيْك»

“Wa Baaraka Alaika (semoga Allah menetapkan keherkahan atasmu).

Tasir Hadits

Hadits ini menerangkan, bahwa mendoakan orang yang baru menikah hukumnya sunnah, sedangkan bagi yang baru menikah hendaklah dia berdoa seperti yang diterangkan dalam hadits riwayat Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

«إذَا أَفَادَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوْ خَادِمًا أَوْ دَابَّةً فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ»

“Apabila di antara kalian menikah atau mendapatkan pembantu, atau membeli hewan ternak, hendaklah dia pegang ubun-ubunnya dan berdoa, “Ya Allah, aku mengharapkan kebaikan darinya dan kebaikan dari apa-apa yang dihasilkannya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan dari kejahatan apa-apa yang dihasilkannya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah) [hasan, Shahih Al-Jami’ (360)]

0904

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – التَّشَهُّدَ فِي الْحَاجَةِ إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا. مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَيَقْرَأُ ثَلَاثَ آيَاتٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَالْحَاكِمُ

904. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajari kami tasyahhud pada khutbah hajah, “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa mendapat hidayah dari Allah, maka tak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahiva tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan membaca 3 ayat.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits ini hasan menurut At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

[Shahih: At-Tirmidzi (1105)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajari kami tasyahhud pada khutbah hajah (Ibnu Katsir menambahkan dalam kitab Al-Irsyad yang berkenaan dengan nikah dan lainnya), “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa mendapat hidayah dari Allah, maka tak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan membaca 3 ayat (yakni, surat An-Nisaa’ ayat (1), Ali Imran ayat (102), dan Al-Ahzab ayat (70-71) sebagaimana tersebut di bawah ini).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapai kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Dalam kitab Al-Irsyad karya Ibnu Katsir menyebutkan ayat-ayat yang sama sebagaimana tersebut dalam hadits, hanya ayat yang pertama menyebutkan, sedang yang kedua dan ketiga sama.

Sabdanya “pada khutbah hajah” bersifat umum dan berlaku bagi semua bentuk hajat, seperti pernikahan misalnya, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang telah kami disebutkan. Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Syu’bah berkata, “Saya bertanya kepada Abu Ishaq, “Apakah tiga ayat ini dibaca ketika khutbah nikah dan juga lainnya? Dia menjawab, “Dalam setiap hajat.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan sunnahnya membacakan tiga ayat tersebut, baik ketika resepsi pernikahan ataupun lainnya, dan orang yang akan melangsungkan pernikahan ketika akan akad nikah, memulainya dengan khutbah itu untuk dirinya sendiri, hal ini termasuk sunnah Nabi yang ditinggalkan.

Azh-Zhahiriyah berpendapat, bahwa khutbah nikah hukumnya wajib. Pendapat ini diikuti oleh sebagian pengikut Imam Asy-Syafi’i dan Abu Awanah. Al-Bukhari membuat bab dalam kitab Shahihnya dengan judul khutbah nikah hukumnya wajib. Dan dijelaskan pada penjelasan hadits kesembilan yang menunjukkan bahwa khutbah nikah hukumnya tidak wajib.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *