[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 229

07. KITAB JUAL BELI – 07.01 BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 04

0732

وَعَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ: «سَأَلْت جَابِرًا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ ثَمَنِ السِّنَّوْرِ وَالْكَلْبِ فَقَالَ: زَجَرَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ ذَلِكَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَزَادَ: إلَّا كَلْبَ صَيْدٍ

732. Dan dari Abu Az-Zubair, dia berkata, “Saya bertanya kepada Jabir Radhiyallahu Anhu mengenai uang hasil penjualan kucing dan anjing”, dia menjawab, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang hal itu.” (HR. Muslim dan An-Nasa’i dan dia menambahkan, “Kecuali anjing pemburu.”)

[shahih, Muslim (1569), As-Sunan (7/191, 309)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Az-Zubair nama lengkapnya Abu Az-Zubair Muhammad bin Muslim Al-Makki seorang tabi’in, dia banyak meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah.

Penjelasan Kalimat

Muslim mengeluarkan hadits ini dari Jabir dan Rafi’ bin Khudaij, Dan An-Nasa’i menambahkan dalam riwayatnya pengecualian anjing pemburu. Kemudian dia berkata, “Ini mungkar.” Ibnu Hajar berkata dalam kitab at-Talkhish, “Terdapat pengecualian dari hadits Jabir dan perawinya tsiqat (terpercaya). Sedangkan riwayat Jabir yang ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i pada hadits tersebut terdapat pengecualian anjing yang terlatih. Hanya saja Al-Munawi berkata dalam kitab Syarh Jami’ Ash-Shaghir mengomentari perkataan Ibnu Hajar, “Sesungguhnya para perawinya tsiqat (terpercaya).” Bahwa Ibnul Jauzi berkata, “Dalam perawi hadits tersebut terdapat Al-Husain bin Abi Hafshah, yang dinyatakan oleh Yahya bin Ma’in bahwa dia bukanlah siapa-siapa dan Imam Ahmad melemahkan riwayatnya. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits dengan lafazh seperti ini adalah batil, tidak ada asal usulnya.

Yang benar adalah boleh memelihara anjing pemburu tanpa mengurangi pahala amal orang yang memeliharanya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا إلَّا كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ»

“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing pemburu niscaya pahala amalnya berkurang setiap hari dua qirath.” [shahih, Al-Bukhari (2322) dan Muslim (1574)]

Ada yang mengatakan, “Satu Qirath dari amal yang dilakukan di malam hari dan satu Qirath dari amal yang dilakukan di siang hari.” Ada juga yang mengatakan, “Dari perbuatan yang wajib dan sunnah.” Sedangkan larangan memakan uang hasil penjualan anjing telah disepakati berdasarkan hadits Ibnu Masud. Muslim mengeluarkan secara terpisah hadits larangan memakan uang hasil penjualan kucing. Dan asal larangan adalah menunjukkan pengharaman. Jumhur ulama berpendapat atas haramnya jual beli anjing secara mutlak. Namun mereka berbeda pendapat tentang kucing. Abu Hurairah, Thawus dan Mujahid berpendapat haram memperjualbelikan kucing. Sedangkan Jumhur membolehkan jual beli kucing bila terdapat manfaat dan larangan hanya dianggap sebagai anjuran untuk meninggalkan saja. Tetapi hal itu menyalahi hadits ini. Adapun pendapat yang mengatakan hadits ini lemah, tertolak dengan dikeluarkannya hadits itu oleh Imam Muslim dan lainnya. Begitu pula pendapat yang mengatakan hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Az-Zubair selain Hammad bin Salamah pun tertolak dengan keberadaannya dikeluarkan oleh Muslim dari Ma’qil bin Abdullah dari Abu Az-Zubair yang keduanya adalah perawi tsiqat (terpercaya) dan keduanya meriwayatkan dari Abu Az-Zubair yang juga tsiqah.

0733

«وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: جَاءَتْنِي بَرِيرَةُ. فَقَالَتْ: إنِّي كَاتَبْت أَهْلِي عَلَى تِسْعِ أَوَاقٍ، فِي كُلِّ عَامٍ أُوقِيَّةٌ، فَأَعِينِينِي. فَقُلْت: إنْ أَحَبَّ أَهْلُكِ أَنْ أَعُدَّهَا لَهُمْ وَيَكُونُ وَلَاؤُكِ لِي فَعَلْتُ، فَذَهَبَتْ بَرِيرَةُ إلَى أَهْلِهَا، فَقَالَتْ لَهُمْ: فَأَبَوْا عَلَيْهَا، فَجَاءَتْ مِنْ عِنْدِهِمْ، وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَالِسٌ. فَقَالَتْ: إنِّي قَدْ عَرَضْتُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَأَبَوْا إلَّا أَنْ يَكُونَ الْوَلَاءُ لَهُمْ، فَسَمِعَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَأَخْبَرَتْ عَائِشَةُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. فَقَالَ: خُذِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمْ الْوَلَاءَ، فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ فَفَعَلَتْ عَائِشَةُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي النَّاسِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ. ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَمَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى؟ مَا كَانَ مِنْ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ، قَضَاءُ اللَّهِ أَحَقُّ، وَشَرْطُ اللَّهِ أَوْثَقُ، وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ – وَعِنْدَ مُسْلِمٍ قَالَ: «اشْتَرِيهَا وَأَعْتِقِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمْ الْوَلَاءَ»

733. Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, “Barirah datang kepada saya lantas berkata, ‘Saya telah melakukan mukatabah dengan keluarga tuan saya sebesar sembilan uqiyyah, setiap tahun satu uqiyyah, maka tolonglah saya.’ Saya berkata, “Jika keluarga tuanmu bersedia saya akan memberikan mereka bayaran tetapi wala kamu untuk saya, maka saya akan menolongmu. Kemudian Barirah menghadap keluarga tuannya dan mengungkapkan hal itu, namun mereka menolak dan mereka mau walanya tetap untuk mereka. Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka dan datang sewaktu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk. Dia berkata (kepada saya), “Saya telah menyampaikan hal itu kepada mereka, namun mereka menolak mereka mau walanya tetap untuk mereka”, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar lalu Aisyah pun memberitahukan hal itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda, “Ambillah dia (budak itu) dan mintalah persyaratan wala itu dari mereka, karena wala itu hanya untuk orang yang memerdekakan.” Lalu Aisyah Radhiyallahu Anha pun melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di hadapan orang-orang lalu beliau memuji dan menyanjung Allah, setelah itu beliau bersabda, “Amma ba’du, mengapa ada orang-orang yang memberikan persyaratan yang tidak ada dalam kitabullah? Setiap syarat yang tidak ada dalam kitabulah adalah batil, walaupun seratus syarat. Ketetapan Allah itu lebih hak dan syarat (yang ditetapkan) itulah yang lebih kuat. Dan wala itu hanya untuk orang yang memerdekakan.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya dari Al-Bukhari). Menurut riwayat Muslim Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Belilah dan merdekakanlah serta berilah persyaratan wala kepada mereka.”

[shahih, Al-Bukhari (2168) dan Muslim (1504).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dan dari Aisyah Radiyallahu Anha, dia berkata, “Barirah datang kepada saya (Barirah adalah budak Aisyah) lantas berkata, ‘Saya telah melakukan mukatabah (yakni perjanjian antara budak dengan tuannya) dengan keluarga tuan saya (mereka adalah orang-orang dari kaum Anshar seperti diriwayatkan oleh An-Nasa’i) sebesar sembilan uqiyyah, setiap tahun satu uqiyyah, maka tolonglah saya.’ (dengan menggunakan kata perintah untuk perempuan) Saya berkata, “Jika keluarga tuanmu bersedia saya akan memberikan mereka bayaran tetapi wala’ kamu untuk saya, maka saya akan menolongmu. Kemudian Barirah menghadap keluarga tuannya dan mengungkapkan hal itu, namun mereka menolak, mereka mau walanya tetap untuk mereka. Lalu diapun pergi meninggalkan mereka dan datang sewaktu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk. Dia berkata (kepada saya), “Saya telah menyampaikan hal itu kepada mereka, namun mereka menolak mereka mau walanya tetap untuk mereka”, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar lalu Aisyah pun memberitahukan hal itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda, “Ambillah dia (budak itu) dan mintalah persyaratan wala itu dari mereka, (Asy-Syafi’i dan Al-Muzani berkata, maksudnya, “Berilah persyaratan wala atas mereka.”) karena wala itu hanya untuk orang yang memerdekakan.” Lalu Aisyah Radiyallahu Anha pun melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam– berdiri di hadapan orang-orang lalu beliau memuji dan menyanjung Allah, setelah itu beliau bersabda, “Amma ba’du, mengapa ada orang-orang yang memberikan persyaratan yang tidak ada dalam kitabullah? Setiap syarat yang tidak ada dalam kitabullah (yakni dalam syariat-Nya yang telah Dia tulis dalam kitab atas hamba-hamba-Nya. Sedang hukumnya lebih umum dari hanya sekedar ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah) adalah batil, walaupun seratus syarat. Ketetapan Allah itu lebih berhak (untuk diikuti dibandingkan syarat-syarat yang bertentangan dengan hukum Allah) dan syarat (yang ditetapkan) itulah yang lebih kuat. Dan wala itu hanya untuk orang yang memerdekakan.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya lafazh Al-Bukhari). Menurut riwayat Muslim Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Belilah dan merdekakanlah serta berilah persyaratan wala kepada mereka.”

Tafsir Hadits

Hadits di atas adalah dalil disyariatkannya mukatabah, yakni akad antara tuan dan budaknya agar dibebaskan dari statusnya sebagai budak. Kata Mukatabah berasal dari Al-Katbu yang berarti kewajiban, sebagaimana firman Allah Ta’ala: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ} “Telah diwajibkan atas kalian puasa.”

Hukum mukatabah adalah sunnah. Sedangkan Atha’ dan Dawud berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib apabila si budak telah memintanya dengan harga yang sesuai dengan nilai dirinya, berdasarkan perintah Dalam ayat, {فَكَاتِبُوهُمْ} “Maka berilah mukatabah pada mereka,” dan ini merupakan maksud dari suatu perintah (yakni wajib).

Saya katakan, “Hanya saja Allah Ta’ala kaitkan kewajiban itu dengan firman, {إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا} “Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka,” yakni setelah diketahui adanya kebaikan pada diri mereka, maka barulah mukatabah itu wajib. Dalam menafsirkan kata “Kebaikan” dalam ayat ada empat pendapat:

Pertama: Menurut ulama salaf dan hadits yang marfu’ dan mursal menurut Abu Dawud, bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ حِرْفَةً وَلَا تُرْسِلُوهُمْ كَلًّا عَلَى النَّاسِ»

“Jika kalian ketahui bahwa mereka mempunyai ketrampilan dan jangan kalian lepaskan mereka sebagai beban atas orang-orang.” [Al-Marasil (185)]

Kedua: Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud kebaikan adalah harta.

Ketiga: Masih menurut Ibnu Abbas, termasuk kebaikan adalah sifat amanah dan tepat janji.

Keempat: Masih menurut Ibnu Abbas yakni bila kamu tahu bahwa budak yang melakukan perjanjian mukatabah akan melaksanakan kewajibannya terhadap kamu.

Perkataan Aisyah Radiyallahu Anha: “Setiap tahun satu uqiyyah” dan Rasulullah menyetujui hal itu berarti merupakan dalil dibolehkannya pembayaran dilakukan secara berangsur, bukan wajib ataupun syarat seperti yang dipahami Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Hadi dan selain mereka. Mereka berkata, “Membayar secara berangsur dalam mukatabah adalah syarat dan angsuran paling sedikit adalah dua kali bayar. Mereka berargumentasi dengan beberapa riwayat dari ulama salaf yang tidak dapat dijadikan dalil.

Sedangkan Jumhur ulama seperti Imam Ahmad dan Imam Malik berpendapat bolehnya melakukan mukatabah dengan sekali bayar berdasarkan firman Allah, “Hendaklah kamu buat perjanjian (mukatabah) dengan mereka” tanpa diperinci dan itulah yang bisa dipahami secara zhahir. Perkataan yang menyatakan bahwa kemutlakannya dikecualikan oleh atsar yang diriwayatkan dari para salaf adalah tidak benar karena hal itu bukan Ijma’ ulama. Di sisi lain membatasi pengertian ayat dengan pendapat para ulama adalah batil.

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Ambilah dia” menunjukkan pengertian dibolehkannya memperjualbelikan budak yang masih dalam proses perjanjian mukatabah tatkala dia kesulitan untuk melunasinya. Ulama mempunyai tiga pendapat mengenai hukum memperjualbelikan budak yang masih dalam proses perjanjian mukatabah:

Pertama: Boleh, ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik, alasan mereka adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«الْمُكَاتَبُ رِقٌّ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ دِرْهَمٌ»

“Al-Mukatab (hamba yang masih dalam proses perjanjian mukatabah) masih berstatus budak selama masih tersisa satu dirham.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya. [hasan, Shahih Abi Dawud (3926)]

Kedua: Boleh menjualnya atas kerelaannya (budak dan tuannya) kepada orang yang akan memerdekakannya. Ini berdasarkan apa yang bisa dipahami secara zhahir dari hadits Barirah.

Ketiga: Tidak boleh menjualnya secara mutlak. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Jama’ah. Mereka berpendapat, karena budak tersebut telah keluar dari kewenangan tuannya dan mereka mentakwilkan hadits tersebut.

Pendapat pertama lebih jelas karena mengaitkan kejadian yang ada dalam kisah Barirah dengan sifat tertentu tidak bisa dijadikan dalil bahwa hal itu adalah suatu syarat. Dan sesungguhnya itulah yang sebenarnya terjadi lantas dari mana mereka bisa mengatakan bahwa itu adalah syarat? Adapun pendapat yang mengatakan bahwa menjualnya berkonsekuensi menjadikan hak Allah Ta’ala hilang, dapat dijawab bahwa hak Allah ada pada sesuatu yang telah tetap dan hal itu tidak akan tetap kecuali setelah ditunaikan. Katakanlah bahwa si budak tersebut tidak lagi mampu melunasi kewajibannya.

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dan mintalah persyaratan wala itu dari mereka”, Jika penggunaan huruf Lam (maksudnya kata ‘lahum’ dalam hadits) lantas dimaksudkan ‘Ala (hingga menjadi ‘alaihim’) berarti ini seperti yang ada pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: {وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا} “Dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”, dan firman Allah Ta’ala: {وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ} “Mereka menyungkur atas muka”, sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syafi’i.

Tidak ada masalah hanya saja argumentasi ini dianggap lemah, karena kalau demikian adanya, maka tidak perlu dipungkiri persyaratan wala yang mereka minta. Namun hal ini bisa dijawab, bahwa yang dipungkiri adalah persyaratan wala yang mereka minta pada awal penawaran. Ada yang mengatakan bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan itu (perintah beliau kepada Aisyah untuk meminta persyaratan wala dari tuannya si Barirah -Edt.) bermaksud untuk mengingkari dan mencela sikap mereka. Karena beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada mereka mengenai hukum wala dan bahwa persyaratan yang mereka minta tidak dihalalkan. Maka tatkala terlihat adanya pelanggaran dari mereka, beliau bersabda kepada Aisyah hal itu. Maksud beliau adalah, “Jangan kamu pedulikan karena persyaratan yang mereka minta bertentangan dengan kebenaran.” Perintah tersebut bukan dimaksudkan bahwa Rasulullah membolehkan permintaan syarat tersebut, tetapi justru sebagai celaan dan perintah untuk tidak memperdulikan persyaratan yang mereka minta tersebut karena ada atau tidak sama saja.

Setelah memahami hal-hal ini dan memahami tafsiran dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka hilanglah permasalahan mengenai bagaimana mungkin beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan Aisyah untuk meminta persyaratan (dalam transaksi jual beli ini -Edt.) dari mereka yang hal itu sekilas nampak seperti tipu muslihat dan pengelabuan terhadap si penjual karena dia menduga kalau dia masih mempunyai hal untuk memanfaatkan barang yang dijualnya, padahal kenyataannya berbeda. Tapi setelah diteliti lebih dalam penafsiran dari sabda beliau, maka hilanglah permasalahan tersebut.

Dan dalam sabda beliau, “Adapun wala adalah untuk orang yang memerdekakannya”, terdapat dalil pembatasan hak wala hanya milik orang yang memerdekakan budak dan tidak beralih kepada orang lain.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *