[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 228

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 03

0729

وَعَنْهُ قَالَ: «أَعْتَقَ رَجُلٌ مِنَّا عَبْدًا لَهُ عَنْ دُبُرٍ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ. فَدَعَا بِهِ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَبَاعَهُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

729. Darinya Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Salah seorang dari kami berwasiat agar budak miliknya dimerdekakan setelah ia meninggal dunia, padahal dia tidak memiliki harta selain budak tersebut. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil budak itu dan menjualnya.” (MuttafaqAlaih)

[shahih, Al-Bukhari (2141) dan Muslim (997)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (yakni dari Jabir bin Abdillah) Radiyallahu Anhu, dia berkata, “Salah seorang dari kami (yakni dari kaum Anshar), memerdekakan seorang budak miliknya setelah ia meninggal dunia, padahal ia tidak memiliki harta selain budak tersebut lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil budak itu dan menjualnya.” (Muttafaq Alaih)

Dikeluarkan pula oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i juga dari Jabir dan keduanya dalam hadits ini menyebutkan nama-nama si budak dan si lelaki (yang berwasiat itu). Lafazh haditsnya adalah;

«أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ أَبُو مَذْكُورٍ أَعْتَقَ غُلَامًا لَهُ يُقَالُ لَهُ أَبُو يَعْقُوبَ عَنْ دُبُرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَدَعَا بِهِ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِيه فَاشْتَرَاهُ نُعَيْمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ النُّحَامِ بِثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ فَدَفَعَهَا إلَيْهِ»

Dari Jabir bahwa salah seorang dari kaum Anshar yang bernama Abu Madzkur berwasiat agar budaknya yang bernama Abu Ya’kub dibebaskan setelah dia meninggal dunia, padahal ia tidak memiliki harta selain budak tersebut lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil budak itu dan berkata, “Siapa yang mau membelinya?”kemudian Nu’aim bin Abdullah bin An-Naham membelinya dengan harga delapan ratus dirham, kemudian uangnya diserahkan kepada Abu Madzkur.” [Shahih: Abi Dawud (4957)]

Al-Ismaili menambahkan, “Dan dia mempunyai hutang.”

Al-Bukhari memaparkan biografi orang ini dalam Bab Al-Istiqradh (hutang). Dia berkata, “Barangsiapa menjual harta orang yang bangkrut maka bagikan kepada para pemilik hutang atau berikan kepada pemiliknya (jika masih ada sisa -ed.) agar bisa dibelanjakan untuk dirinya sendiri.” Beliau memberi isyarat bahwa alasan menjualnya adalah kebutuhan akan uang hasil penjualannya itu. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk melarang orang yang bangkrut bertindak semaunya terhadap harta miliknya dan bahwa Imam (pemimpin) berhak menjualkan hartanya. Pembahasan lainnya akan dijelaskan pada babnya, Insya Allah.

0730

وَعَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَنَّ فَأْرَةً وَقَعَتْ فِي سَمْنٍ، فَمَاتَتْ فِيهِ، فَسُئِلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْهَا. فَقَالَ: أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوهُ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَزَادَ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ: فِي سَمْنٍ جَامِدٍ –

730. Dan dari Maimunah istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa ada seekor tikus jatuh ke dalam minyak samin, lalu mati di dalamnya. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya (akan hal itu) dan beliau menjawab, “Buanglah tikus itu dan minyak samin yang ada di sekitar (bangkai)nya, dan (selebihnya) makanlah”. (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (235)]

Imam Ahmad dan An-Nasa’i menambahkan, “Dalam minyak samin yang beku, ”

[Ahmad (6/330) dan An-Nasa’i (7/178)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk membuang minyak samin yang di sekitar bangkai, yakni tersentuh olehnya menunjukkan bahwa bangkai itu najis. Karena maksud dari kata beliau “Dan minyak samin yang ada di sekitar (bangkai) nya”, adalah bagian yang tersentuh (bangkai itu). Penulis (Ibnu Hajar) dalam kitab Fath Al-Bari’ mengatakan, “Tidak ada dalam hadits yang diriwayatkan secara sah tentang pembatasan kadar yang harus dibuang.” Akan tetapi Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits dari Atha’ secara mursal (terputus) mengatakan bahwa batasannya adalah segenggaman tangan. Sanad hadits baik kalau bukan karena mursal.

Logika terbalik dari sabda Rasulullah, “Yang beku” adalah bahwa kalau minyaknya cair, maka semuanya akan menjadi najis karena tidak dapat dibedakan mana yang tersentuh dan mana yang tidak. Hadits ini juga merupakan dalil atas tidak bolehnya memanfaatkan minyak yang bernajis hanya saja telah dijelaskan sebelumnya mengenai hal ini bahwa ia boleh dimanfaatkan kecuali untuk makanan dan meminyaki badan. Oleh karena itu, sabda Rasulullah pada hadits ini dan hadits yang akan datang, “Jangan kalian mendekatinya” dipahami sebagai larangan untuk memakannya dan meminyaki badan dengannya sebagai usaha mengkompromikan substansi dari beberapa dalil.

Demikianlah! Adapun menyentuh najis secara langsung (dengan tangan tanpa alat), walaupun sebenarnya tidak boleh, kecuali sekadar untuk menghilangkannya dari tempat yang wajib atau disunnahkan untuk bersih dari najis, akan tetapi pada prakteknya dalam hal ini tidak ada satupun yang menentang bahwa hal itu boleh dilakukan demi untuk menghindari mafsadah (keburukan). Tinggal pembicaraar mengenai menyentuhnya (sesuatu yang bernajis) untuk keperluan menyalakan perapian dan menyuburkan tanah dengannya. Ada yanj mengatakan bahwa ini adalah untuk mengambil manfaat darinya silahkan saja diqiyaskan hal itu dengan upaya menghilangkan mafsadah (keburukan). Dan yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa menghilangkan mafsadah (keburukan) masuk ke dalam upaya mencari kemaslahatan. Menyalakan perapian bisa mencakup dua hal tersebut pertama untuk menghilangkan dampak negatifnya dari keberadaan barang itu sekaligus juga bisa mendatangkan manfaat, yaitu untuk perapian. Sehingga kebolehan menyentuh najis secara langsung tidak perlu dimasalahkan lagi.

0731

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا وَقَعَتْ الْفَأْرَةُ فِي السَّمْنِ، فَإِنْ كَانَ جَامِدًا فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا، وَإِنْ كَانَ مَائِعًا فَلَا تَقْرَبُوهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَقَدْ حَكَمَ عَلَيْهِ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو حَاتِمٍ بِالْوَهْمِ.

731. Dan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila tikus jatuh ke dalam minyak samin, maka buanglah tikus dan minyak samin yang di sekitarnya jika minyak samin itu beku dan janganlah mendekatinya bila minyak samin itu cair”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, Al-Bukhari dan Abu Hatim menganggap hadits ini keliru).

[dhaif, Dhaif Al-Jami’ (725)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Apabila tikus jatuh ke dalam minyal samin, maka buanglah tikus dan minyak samin yang di sekitarnya jika minyak samin itu beku dan janganlah mendekatinya bila minyak samin itu cair.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, Al-Bukhari dan Abu Hatim menganggap hadits ini keliru). (Hal tersebut karena At-Tirmidzi berkata, “Saya pernah mendengar Al-Bukhari berkata, “Ia salah, yang benar adalah Az-Zuhri dari Abdillah dari Ibnu Abbas dari Maimunah.” Al-Bukhari memandang bahwa hadits itu datang dari Maimunah, maka dari itu dia menganggap keliru hadits tersebut jika disandarkan kepada Abu Hurairah. Sedangkan Ibnu Hiban dan yang lainnya menegaskan dalam kitab shahihnya bahwa hadits tersebut ada diriwayatkan dari dua jalan).

Ketahuilah bahwa perbedaan ini hanya sebatas meluruskan lafazh yang ada pada hadits, sedangkan hukum yang dipahami dari hadits tersebut adalah tetap ada. Dan bahwa membuang bangkai tikus dan minyak yang ada disekitarnya lalu memanfaatkan selebihnya tidak bisa dilakukan kecuali jika minyaknya beku. Hal ini juga ditetapkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dengan lafazh,

«خُذُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوا سَمْنَكُمْ»

“Ambillah (bangkai itu) dan minyak yang ada di sekitarnya kemudian makanlah minyak samin kalian.” [shahih, Al-Bukhari (235)]

Dapat dipahami dari nash itu, bahwa minyak yang cair dibuang semuanya karena llat (alasan) tersentuh langsung dengan bangkai. Dan tidak ada pengecualian pada minyak yang cair bila tersentuh langsung dengan najis dan juga tidak bisa dibedakan antara yang tersentuh dengan yang tidak. Secara lahiriah hadits tersebut menjelaskan bahwa minyak samin tidak boleh dipakai walaupun banyak sekali. Telah dijelaskan jalan untuk mengkompromikan antara hadits ini dengan hadits Ath-Thahawi.

Tafsir Hadits

Seorang mukallaf (muslim yang berakal dan dewasa) boleh memberi makan anjing ataupun kucing dengan bangkai atau hal serupa. Ini adalah pendapat Al-Imam Yahya dan diperkuat oleh Al-Mahdi. Dia berkata, “Karena tidak didengar dari kaum salaf mengenai pelarangan akan hal itu.”

Saya katakan, bahkan (memberinya bangkai) wajib apabila dia tidak memberi makanan lain. Seperti yang ditunjukkan dalam hadits, “Sesungguhnya seorang perempuan masuk neraka dikarenakan seekor kucing” dan beliau mengemukakan alasannya,

لَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَتْرُكْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Dia tidak memberinya makan dan tidak juga melepaskannya agar dapat memakan serangga yang ada di tanah”. [shahih, Al-Bukhari (2365) dan Muslim (904)]

Memakan serangga yang ada di tanah itu haram bagi seorang mukallaf dan lainnya. Hadits ini menunjukkan bahwa satu dari dua perkara itu hukumnya wajib, memberi makan kucing itu atau melepaskannya agar dapat memakan serangga yang ada di tanah. Dan dikarenakan wanita tersebut meninggalkan (tidak mau melakukan) satu dari kedua perkara itu, maka dia diazab.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *