[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 227

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 02

0726

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إذَا اخْتَلَفَ الْمُتَبَايِعَانِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا بَيِّنَةٌ، فَالْقَوْلُ مَا يَقُولُ رَبُّ السِّلْعَةِ أَوْ يَتَتَارَكَانِ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

726. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila dua orang yang berjual beli berselisih, sedang di antara mereka tidak ada bukti yang akurat, maka perkataan yang diterima adalah apa yang dikatakan oleh pemilik barang atau mereka membatalkan transaksi’.” (HR. Al-Khamsah dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (3511, 3512)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu Anhu, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila dua orang yang berjual beli berselisih, sedang di antara mereka tidak ada bukti yang akurat, maka perkataan yang diterima adalah apa yang dikatakan oleh pemilik barang atau mereka membatalkan transaksi’.” (Ibnu Majah menambahkan dalam riwayatnya, “Dan barang yang dijual masih ada di depan mata.” Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad “Dan barang dagangan masih tetap seperti semula.” Adapun riwayat yang mengatakan, “Sedangkan barang dagangan sudah terpakai” merupakan riwayat yang dianggap dha’if).

Ulama banyak mengomentari tentang keshahihan hadits ini. Ibnu Abdil Bar dalam kitab Al-Istidzkar mengatakan, “Ia adalah hadits munqathi’ (terputus sanadnya). Walaupun para fuqaha mengamalkannya. Masing-masing bersikap sesuai dengan madzhab yang diikutinya bagaimana menilai hadits ini.” Kemudian dia (Ibnu Abdil Bar) menyebutkan jalur-jalur perawi hadits tersebut dengan menerangkan keterputusan sanadnya.

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa bila terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli dalam masalah harga, barang yang dijual ataupun masalah syarat pada keduanya, maka perkataan yang diterima adalah perkataan penjual yang disertai sumpah. Ini berdasarkan kaidah-kaidah syariat yang menyatakan bahwa barang siapa yang perkataannya diterima, maka harus menyatakan sumpah.

Mengenai hukum dari perkara yang ditunjukkan oleh hadits ini, ulama mempunyai tiga pendapat:

· Pertama; pendapat Al-Hadi, bahwa yang diterima adalah perkataan penjual secara mutlak sesuai hadits di atas.

· Kedua; pendapat fuqaha, bahwa keduanya saling bersumpah dan saling mengembalikan barang masing-masing.

· Ketiga; harus diperinci dan harus dibedakan antara perselisihan dalam hal bentuk, jenis, sifat dengan perselisihan dalam masalah lainnya.

Dan ini adalah perincian tanpa dalil yang dijelaskan lebih rinci dalam kitab furu’ dan dimikil juga dalam kitab Syarahnya.

Makna saling bersumpah, yakni penjual bersumpah bahwa saya tidak menjual barang itu kepadamu seperti itu. Sedangkan pembeli bersumpah bahwa aku tidak membeli darimu seperti itu. Ada yang mengatakan bukan seperti itu. Adapun alasan mengapa keduanya harus bersumpah adalah karena masing-masing dari keduanya adalah tertuduh. Maka dari itu, setiap pihak wajib bersumpah untuk membersihkan tuduhan terhadapnya. Hal tersebut dipahami dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُنْكِرِ»

“Bukti, wajib atas penuntut, sedangkan sumpah bagi orang yang mengingkari.” [Al-Baihaqi dalam kitab Al-Kubra (10/252)]

WalhasiL hadits ini bersifat mutlak, terikat dengan kriteria tertentu pada dalil-dalil yang terdapat dalam “Bab Tuntutan-Tuntutan” dan dijelaskan berikut.

0727

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ، وَمَهْرِ الْبَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

727. Dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang (memakan) uang hasil penjualan anjing, uang pelacuran, dan upah perdukunan. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2237) dan Muslim (1567)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Larangan pada dasarnya menunjukkan pengharaman. Dan sahabat menyampaikan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang yakni beliau menyebutkan kata yang mengisyaratkan pelarangan walaupun beliau tidak menyebutkannya. Hadits ini menunjukkan haramnya tiga hal, yaitu:

Pertama; uang hasil penjualan anjing sesuai konteks hadits dan konsekuensi dari hadits ini juga menunjukkan haram memperjualbelikannya. Hal tersebut bersifat umum mencakup semua jenis anjing, baik anjing terlatih atau yang bukan terlatih dan anjing yang boleh dipelihara ataupun yang tidak boleh dipelihara. Dari ‘Atha dan An-Nakha’i mereka berpendapat boleh memperjualbelikan anjing untuk berburu berdasarkan hadits Jabir:

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ إلَّا كَلْبَ صَيْدٍ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang (memakan) uang hasil penjualan anjing kecuali anjing untuk berburu.” (Dikeluarkan oleh An-Nasa’i) [An Nasa’i (7/309), beliau mengatakan, “Hadits ini mungkar.’]

diriwayatkan dengan perawi yang tsiqah (terpercaya) hanya saja beliau meragukan kesahihannya. Jika shahih, maka hadits ini merupakan pengecualian dari keumuman larangan tersebut.

Kedua; uang hasil melacur, ia adalah uang yang diambil oleh pelacur sebagai upah melacurkan dirinya. Uang itu di dalam disebut mahar sebagai kiasan. Uang itu adalah uang haram. Para fuqaha (ahli fikih) mempunyai penjelasan terinci mengenai hukum yang menjelaskan bagaimana kaifiyat (cara) mengambilnya. Ibnul Qayim memilih pendapat, bahwa bagaimanapun caranya yang pasti harta itu wajib disedekahkan dan tidak boleh dikembalikan kepada pemiliknya. Karena dia memberikannya (kepada si pelacur) atas keinginannya sendiri sebagai upah dari suatu layanan (dalam hal ini hubungan seks) yang mana tidak mungkin bagi si pelacur meminta dikembalikan atau dibatalkan (karena sudah dilakukan). Ia adalah penghasilan yang tercela yang wajib disedekahkan. Dan pelaku maksiat itu sendiri tidak boleh dibantu untuk dapat melakukan kemaksiatan mendapatkan kembali hartanya.

Ketiga; upah perdukunan. Ulama sepakat mengharamkan upah perdukunan. Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara gaib dan memberitahukan orang tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi di alam ini. Ini mencakup ahli nujum ataupun tukang ramal dan yang serupa. Semuanya masuk dalam pengertian dukun dalam hadits ini. Tidak halal baginya untuk mengambil apa yang diberikan orang kepadanya dan tidak halal pula bagi orang yang membenarkan apa yang dilakukannya.

0728

وَعَنْ «جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ كَانَ عَلَى جَمَلٍ لَهُ قَدْ أَعْيَا. فَأَرَادَ أَنْ يُسَيِّبَهُ قَالَ: فَلَحِقَنِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَدَعَا لِي، وَضَرَبَهُ. فَسَارَ سَيْرًا لَمْ يَسِرْ مِثْلَهُ، فَقَالَ: بِعْنِيهِ بِأُوقِيَّةٍ قُلْت: لَا. ثُمَّ قَالَ: بِعْنِيهِ فَبِعْته بِأُوقِيَّةٍ، وَاشْتَرَطْت حُمْلَانَهُ إلَى أَهْلِي، فَلَمَّا بَلَغْت أَتَيْته بِالْجَمَلِ، فَنَقَدَنِي ثَمَنَهُ، ثُمَّ رَجَعْت فَأَرْسَلَ فِي أَثَرِي. فَقَالَ: أَتَرَانِي مَاكَسْتُكَ لِآخُذَ جَمَلَك؟ خُذْ جَمَلَك وَدَرَاهِمَك. فَهُوَ لَك» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا السِّيَاقُ لِمُسْلِمٍ.

728. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, bahwa ia pernah menunggangi untanya yang sudah lemah dan ia ingin melapaskanya (pergi bebas). Dia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyusul saya lalu beliau mendoakan unta Saya dan memukulnya. Seketika itu juga unta itu berjalan dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. Lalu beliau bersabda, “Juallah ia padaku dengan beberapa dirham”, saya berkata, “Tidak.” Beliau bersabda lagi, “juallah ia padaku,” lalu saya pun menjualnya dengan beberapa dirham. Dan saya memberi syarat agar ia membawa pulang saya dulu kepada keluarga saya. Setelah saya sampai baru saya bawa unta itu pada beliau, maka beliaupun membayar harganya kepada saya. Kemudian saya pulang, tak lama kemudian beliau mengirim seseorang membuntuti saya. Lalu beliau bersabda, “Apakah kamu kira kalau saya rela membeli dengan harga murah agar dapat memiliki untamu? Tidak, ambillah untamu dan uangmu, ia hadiah untukmu”. (Muttafaq Alaih. Susunan lafazh hadits seperti ini adalah menurut riwayat Muslim).

[shahih, Al-Bukhari (2718) dan Muslim (715)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini terdapat petunjuk dibolehkannya meminta seseorang untuk menjual barang miliknya dan menawarnya dengan harga murah. Dan dibolehkan pula menjual hewan ternak dengan meminta dispensasi untuk mengendarainya (walaupun sudah dijual). Akan tetapi, hal ini bertentangan dengan hadits yang melarang jual beli tsunayya (dengan pengecualian) yang akan dijelaskan berikut, dan juga hadits yang melarang jual beli bersyarat. Dan dikarenakan bertentangan, maka ulama pun berbeda pendapat hingga beberapa pendapat:

· Pertama; Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu sah, sedangkan hadits larangan jual beli tsunayya (dengan pengecualian)., di dalamnya terdapat kata, “Kecuali jika hal (pengecualian) tersebut diketahui” dan kasus dalam hadits di atas masuk dalam kriteria ini. Yakni pengecualiannya diketahui, maka otomatis jual belinya sah. Dan hadits yang melarang jual beli bersyarat terdapat kritikan, walaupun bisa jadi yang dimaksud dengan syarat di sini adalah syarat yang majhul (tidak diketahui).

· Kedua; Imam Malik berpendapat hal ini sah bila jaraknya dekat. Dan batasnya selama tiga hari. Hadits Jabir dimasukkan dalam kriteria ini.

· Ketiga; Tidak dibolehkan secara mutlak. Hadits Jabir adalah kisah nyata yang merupakan sanggahan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang diduga-duga. Mereka berargumentasi bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin memberinya uang dan tidak serius bermaksud untuk membeli. Dan bisa jadi bahwa syarat yang terjadi bukan pada akad jual belinya dan bisa jadi akadnya tersebut sudah terjadi lebih dahulu dan ini tidak berpengaruh, kemudian beliau memberinya dispensasi untuk mengendarai untanya tersebut.

Pendapat pertama nampak lebih kuat, bahwa penjualan dengan syarat yang seperti ini adalah sah. Dan setiap syarat boleh dilakukan secara terpisah dalam suatu akad, seperti mengantarkan barang yang dijual ke rumah pembeli, menjahit pakaian yang dibeli (mungkin pakaiannya rusak atau masih berbentuk bahan -ed.) dan menempati rumah (yang sudah dijual, karena menanti proses pencarian rumah baru -ed.) Diriwayatkan dari Utsman bahwa dia pernah menjual rumah dan minta dispensasi untuk menempatinya selama satu bulan. Hal ini disebutkan dalam kitab Asy-Syifa’.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *