[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 225

06. KITAB HAJI – 06.06. BAB LUPUT DAN TERHALANG 11

0721

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «قَدْ أُحْصِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَحَلَقَ رَأْسَهُ، وَجَامَعَ نِسَاءَهُ، وَنَحَرَ هَدْيَهُ، حَتَّى اعْتَمَرَ عَامًا قَابِلًا» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

721. Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah terhalang, lalu beliau mencukur rambut kepalanya, bercampur dengan istrinya, dan menyembelih kurbannya hingga berumrah tahun depan,” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1809).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dapat dikategorikan sebagai ihshar (halangan)? Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ihshar (halangan) adalah segala sesuatu yang menghalangi orang yang melakukan haji, baik berupa musuh ataupun sakit dan sebagainya. Sehingga Ibnu Abbas berfatwa bahwa seseorang yang disengat hewan masuk dalam kategori terhalang. Pendapat ini sejalan dengan pendapat beberapa ulama seperti Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah, mereka berkata, “Bahwa halangan itu dapat berupa sakit, patah tulang ataupun ketakutan, dan inilah yang tersurat dalam nash. Lalu, hal ini dikiaskan kepada semua udzur (halangan) yang menghalangi, sebagaimana keumuman firman Allah Ta’ala, “Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), (QS. Al-Baqarah: 196) jika sebab turunnya ayat ini karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhalang oleh musuh, maka sesuatu yang umum tidak terhalang karena sebab ini. Dalam hal ini ada tiga pendapat:

1) Bahwa hal ini hanya khusus untuk Nabi, dan tidak ada halangan sesudahnya.

2) Bahwa hai ini khusus dengan apa yang disepakati Nabi, maka tidak boleh dikategorikan di dalamnya, kecuali orang yang terhalang oleh musuh kafir.

3) Bahwa tidaklah dikatakan terhalang, kecuali oleh musuh yang kafir atau zhalim. Pendapat ini adalah pendapat yang terkuat, dan tidak ada pendapat yang lain, kecuali atsar dan fatwa para shahabat.

Telah dibahas pada bab terdahulu hadits Al-Bukhari yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkurban sebelum mencukur rambut, hal ini terjadi pada kisah Al-Hudaibiyah. Mereka mengatakan, hadits Ibnu Abbas tidak menunjukkan perintah tartib (urut) sebagaimana yang kamu pahami. Ibnu Abbas tidak punya maksud lain kacuali hanya menjelaskan apa yang terjadi tanpa melihat dari sisi keurutannya. Dan sabda Rasulullah, “Dan menyembelih kurbannya”, ini menunjukkan bahwa ada bersama Nabi kurban dan sembelihan, dan ucapannya tidak menunjukkan adanya perintah wajib.

Para ulama berbeda pendapat tentang wajibnya berkurban bagi orang yang terhalang. Sebagian besar ulama berpendapat wajib, tetapi imam Malik tidak sependapat dengan mereka, menurutnya hukumnya tidak wajib, dan ia memang benar, karena tidak setiap orang yang terhalang mempunyai sembelihan (kurban). Dan kurban yang ada pada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ia bawa dari Madinah adalah kurban sunnah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{وَالْهَدْيَ مَعْكُوفًا أَنْ يَبْلُغَ مَحِلَّهُ}

“dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya.” (QS. Al-Fath: 25)

Dan ayat tidak menunjukkan kepada perintah wajib, yakni firman Allah Ta’ala,

{فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ}

“Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Dan sabda beliau, “Hingga berumrah pada tahun depan.” Dikatakan, hal ini menunjukkan wajibnya qadha bagi orang yang terhalang, dan yang dimaksud adalah orang yang terhalang dari pekerjaan sunnah. Adapun bagi orang yang terhalang dari perbuatan wajib dari haji dan umrah, maka tidak ada pembicaraan tentangnya, bahwa ia wajib melakukan yang wajib jika terhalang melakukannya. Dan yang benar adalah tidak merupakan dalil di dalam perkataan Ibnu Abbas atas wajibnya qadha, karena tujuan dari perkataannya adalah mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan umrah pada tahun mendatang. Tidak ada ucapan bahwa beliau melakukan umrah pada tahun pengganti (qadhiyah). Akan tetapi, melakukan umrah yang lain tidak merupakan umrah qadha dari umrah Hudaibiyah.

Malik mengeluarkan riwayat,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَلَّ هُوَ وَأَصْحَابُهُ الْحُدَيْبِيَةَ فَنَحَرُوا الْهَدْيَ وَحَلَقُوا رُءُوسَهُمْ وَحَلُّوا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ قَبْلَ أَنْ يَطُوفُوا بِالْبَيْتِ وَقَبْلَ أَنْ يَصِلَ إلَيْهِ الْهَدْيُ»

bahwa Rasulullah berada di luar tanah haram, beliau dan shahabatnya berada di Hudaibiyah, maka mereka menyembelih kurban, dan mencukur rambut mereka, dan menghalalkan dari segala sesuatu sebelum mereka berthawaf di Baitullah dan sebelum sampai hewan itu padanya. [Al-Muwaththa (hlm. 436).]

Lalu tidak diketahui apakah Rasulullah memerintahkan kepada seseorang dari shahabatnya dan juga orang yang bersama beliau mengqadha sesuatu dan juga tidak memerintahkan untuk mengulangi sesuatu.

Asy-Syafi’i berkata, “Jika sekiranya terhalang, maka hendaklah menyembelih kurban dan bertahallul dan tidak wajib baginya qadha’, karena Allah tidak memerintahkan untuk qadha. Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya kita mengetahui, bahwa pada waktu tahun Hudaibiyah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama dengan orang-orang yang sudah dikenal, kemudian mereka melakukan umrah, umrah qadhaiyyah, kemudian sebagian mereka tinggal di Madinah. Sekiranya diwajibkan untuk qadha, tentu Rasulullah akan memerintahkan mereka agar tidak meninggalkannya, dan ia berkata, “Dinamakan umratul qadha untuk menunjukkan pengadilan [perkara] antara Nabi dengan orang quraisy, tidak untuk menunjukkan wajib qadhanya umrah tersebut.”

Dan ucapan Ibnu Abbas, “Dan menyembelih kurbannya” dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah beliau menyembelih kurban pada hari Hudaibiyah di tanah halal atau haram. Dan zhahir firman Allah Ta’ala, “Menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya.” (QS. Al-Fath: 25) bahwa mereka menyembelih kurban di tanah halal. Dan tempat menyembelih hewan kurban bagi orang yang terhalang ada beberapa pendapat:

1) Menurut jumhur, ia menyembelihnya ketika telah halal [tahallul], baik di tanah halal maupun tanah haram.

2) Menurut Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah, bahwa ia tidak menyembelihnya, kecuali di tanah haram.

3) Menurut Ibnu Majah dan ulama lain, jika mampu untuk membawanya ke tanah haram wajib melakukan kurban di sana, dan tidak halal hingga menyembelih di tempatnya, dan jika tidak dapat membawanya di tanah haram, maka ia menyembelihnya di tempat ia terhalang. Dan dikatakan menyembelihnya di dekat Hudaibiyah, yang masih di tanah haram. Dan pendapat pertama yang lebih kuat.

0722

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «دَخَلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى ضُبَاعَةَ بِنْتِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي أُرِيدُ الْحَجَّ، وَأَنَا شَاكِيَةٌ. فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: حُجِّي وَاشْتَرِطِي أَنَّ مَحَلِّي حَيْثُ حَبَسْتنِي» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

722. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke rumah Dhuba’ah binti Az-Zubair bin Abdul Muththalib, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesunggguhnya aku ingin menunaikan haji, namun aku sakit. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berhajilah dan tetapkanlah syarat bahwa tempat tahallulku ialah di mana aku terhalang.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5089), Muslim (1207).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang muhrim jika menetapkan syarat di dalam ihramnya, lalu ia terhalang oleh sakit, maka hendaknya ia melakukan tahallul, inilah pendapat yang dianut oleh sebagian shahabat dan tabi’in, dan juga sebagian imam madzhab seperti Ahmad dan Ishaq. Dan pendapat yang shahih dari madzhab Asy-Syafi’i dan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya sakit itu masuk dalam kategori udzur karena terhalang, ia mengatakan, “Orang yang sakit masuk dalam kategori orang yang terhalang dan mengikuti hukum yang berlaku baginya.”

Dan secara zahir hadits, bahwa ia tidak termasuk dalam kategori terhalang, tetapi bertahallul dimana ia terhalangi oleh sakit dan ia tidak mesti harus melakukan apa yang harus dilakukan oleh orang yang terhalang, seperti berkurban dan juga yang lainnya.

Sebagian ulama fikih mengatakan, “Sesungguhnya baginya tidak sah menetapkan syarat dan tidak ada hukum baginya. Mereka mengatakan bahwa hadits Dhuba’ah adalah kisah sesuatu yang mauquf atau mansukh dan haditsnya lemah, maka semua itu tertolak karena yang sebenarnya tidak ada pengkhususan dan juga tidak ada mansukh.” Hadits ini terdapat dalam Ash-Shahihain, dan juga dalam Sunan Abi Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan semua kitab-kitab hadits mu’tamad yang berasal dari jalur yang mu’tamad dengan sanad yang banyak dari kelompok shahabat.

Hadits di atas dapat dipahami bahwa, barang siapa yang tidak menetapkan syarat di dalam ihramnya maka ia tidak harus bertahallul, dan ia masuk dalam kategori terhalang dan mengikuti hukumnya, dan yang tepat bahwa terhalang itu tidak dengan adanya musuh.

0723

وَعَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ عَمْرٍو الْأَنْصَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ كُسِرَ، أَوْ عَرِجَ، فَقَدْ حَلَّ وَعَلَيْهِ الْحَجُّ مِنْ قَابِلٍ قَالَ عِكْرِمَةُ: فَسَأَلْت ابْنَ عَبَّاسٍ، وَأَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ ذَلِكَ. فَقَالَا: صَدَقَ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ

723. Dari Ikrimah, dari Al-Hajjaj bin Amr Al-Anshari Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasululullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa patah kakinya atau pincang, maka ia boleh tahallul dan ia wajib haji tahun mendatang.” Ikrimah berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang hadits tersebut. Mereka menjawab, “Benar.” (HR. Al-Khamsah, dan dihasankan oleh At-Tirmidzi)

[Shahih: Abi Dawud (1862, 1863).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ikrimah nama lengkapnya adalah Abu Abdillah. Pembantu Abdullah bin Abbas. Ia berasal dari Barbar. Melakukan sima’ (hadits) dari Ibnu Abbas, Aisyah, Abu Hurairah, dan Abu Said dan juga yang lain. Penulis mengupas tentang biografi Ikrimah dalam Muqaddimah Al-Fath, dan juga Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Mizan.

Penjelasan Kalimat

“Dari Ikrimah, dari Al-Hajjaj bin Amr (bin Abi Ghaziyah) Al-Anshari (Al-Mazani adalah nisbat kepada kakeknya Mazin bin An-Najjar. Al-Bukhari berkata: ia pernah bermulazamah, dan meriwayatkan dua hadits, hadits ini merupakan salah satu dari kedua hadits tersebut) Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasululullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa patah kakinya atau pincang (ketika sedang ihram), maka ia boleh tahallul dan ia wajib haji tahun mendatang.”(dan jika tidak terjadi, maka datang sebagai fardhu) Ikrimah berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang hadits tersebut. Mereka menjawab, “Benar.” (dalam pengabarannya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan, bahwa barang siapa yang melakukan ihram lalu ia terhalang, seperti sakit ataupun yang lainnya, maka hanya dengan sekadar adanya halangan itu boleh bertahallul, dan jika ia tidak mensyaratkan, maka tidak masuk dalam kategori terhalang.

Maksud dari sabda, “Maka ia boleh bertahallul”, yakni dibolehkan hal itu baginya dan menjadi halal. Dari ketiga hadits di atas menun­jukkan bahwa seorang yang melakukan ihram keluar dari ihramnya dengan sebab tiga hal: dengan adanya halangan apapun, atau dengan menetapkan syarat, atau patah kaki atau pincang sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini berlaku bagi orang yang terhalang dan luput dari manasik haji.

Adapun jika orang yang luput dari wajib haji bukan karena terhalang, maka para ulama berbeda pendapat. Menurut Al-Hadi dan juga yang lainnya, bahwa ia bertahallul untuk ihramnya dengan ihram untuk haji dan umrah. Dan dari Al-Aswad, ia berkata, “Saya tanyakan kepada Umar tentang orang yang luput dalam hajinya dan ia sudah ihram.” Maka ia menjawab, “Hendaknya ia bertalbiyah untuk umrah dan hendaknya ia melakukan haji pada musim depan.” Kemudian saya bertemu dengan Zaid bin Tsabit, maka aku tanyakan kepadanya maka ia pun mengatakan jawaban yang sama. Dikeluarkan oleh oleh Al-Baihaqi, dan dikatakan, bertalbiyah untuk umrah dan memulai dengannya ihram yang baru. Al-Hadawiyah berkata, “Wajib baginya membayar dam karena luputnya haji.” Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanafiyah berkata, “Tidak wajib baginya, .kecuali jika disyariatkan untuknya dan ia telah bertahallul untuk umrah.”

Dan yang jelas, bahwa apa yang mereka katakan itu menunjukkan tidak adanya kewajiban membayar dam. Wallahu A’lam.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *