[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 224

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 10

0718

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ تَفْعَلُ ذَلِكَ – أَيْ النُّزُولَ بِالْأَبْطَحِ – وَتَقُولُ: إنَّمَا نَزَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -؛ لِأَنَّهُ كَانَ مَنْزِلًا أَسْمَحَ لِخُرُوجِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

718. Dari Aisyah bahwa ia tidak berbuat demikian, -yakni singgah di desa Abthah-, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam singgah di tempat tersebut hanyalah karena tempat itu paling mudah bagi beliau untuk keluar (dari Mekah menuju Madinah).” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1311) dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1765).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah bahwa ia tidak berbuat demikian, -yakni singgah di desa Abthah-, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam singgah di tempat tersebut hanyalah karena tempat itu paling mudah bagi beliau untuk keluar [dari Mekah menuju Madinah].” HR. Muslim (yakni lebih mudah keluarnya dari Mekah untuk kembali ke Madinah. Ada juga yang mengatakan, bahwa hikmah singgah di Abthah adalah untuk menunjukkan nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada beliau, dan juga untuk menunjukkan kalimat-Nya dan menampakkan agamanya secara keseluruhan. Sesungguhnya tempat ini adalah tempat yang dibagi oleh orang Quraisy kepada bani Hasyim. Jika memang ini hikmahnya, maka ini merupakan nikmat atas semua umat manusia, maka sepatutnya disinggahi oleh umat Islam yang melakukan ibadah haji hingga hari kiamat.)

0719

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ، إلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنْ الْحَائِضِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

7l9. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Orang-orang diperintahkan agar akhir dari ibadah haji mereka adalah thawaf di Baitullah, tetapi diberikan kelonggaran bagi perempuan yang haidh.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1755), Muslim (1328).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Orang-orang diperintahkan agar akhir dari ibadah haji mereka adalah thawaf di Baitullah, tetapi diberikan kelonggaran bagi perempuan haid.” (Yang memerintahkan kepada umat manusia adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, begitu juga yang memberikan keringanan kepada orang yang haidh, dan perawi merubah susunan atau bentuk kalimatnya [siyagh] untuk tujuan ilmu. Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Ibnu Abbas dengan lafazh,

«كَانَ النَّاسُ يَنْصَرِفُونَ مِنْ كُلِّ وُجْهَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَا يَنْصَرِفُ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ»

“Orang-orang pergi dari semua arah, maka Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Janganlah seorang pun pergi hingga akhir ibadahnya di Baitullah”). [shahih, Muslim (1327).]

Tafsir Hadits

Hadis ini menunjukan wajibnya thawaf wada’ [perpisahan], inilah pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf. Akan tetapi, An-Nashir dan Malik tidak sependapat, mereka mengatakan, “Sekiranya haji wada’ hukumnya wajib tentu Nabi tidak akan memberikan keringanan bagi orang yang haidh. Pendapat ini dijawab, “Sesungguhnya keringanan ini justru menunjukkan adanya kewajiban, sekiranya tidak wajib, maka tidak dikatakan dengan kata keringanan, dan adanya keringanan ini menunjukkan bahwa thawaf ini tidak wajib baginya, maka ia tidak usah menunggu suci, dan tidak wajib membayar dam karena meninggalkannya, karena ia telah gugur dari kewajiban ini.

Adapun waktu thawaf wada’ adalah pada hari ketiga di hari raya kurban, dan inilah pendapat jumhur ulama. Lalu ada pertanyaan, bolehkah jika dilakukan sebelumnya? Pendapat yang kuat mengatakan, tidak boleh, karena itu merupakan akhir dari manasik. Dan mereka berbeda pendapat jika dilakukan setelahnya apakah perlu diulang atau tidak. Ada yang mengatakan, jika ada setelahnya untuk membeli bekal atau shalat jamaah maka tidak mengulanginya. Ada juga yang mengatakan, mengulanginya jika dilaksanakan karena sakit dan sebagainya. Abu Hanifah berkata, “Tidak mengulanginya jika melakukannya dua bulan. Lalu, apakah disyariatkan kewajiban bagi orang yang umrah? Ada yang mengatakan, tidak wajib, karena thawaf wada’ tidak ada selain pada ibadah haji. Dan Ats-Tsaur mengatakan, “Wajib hukumnya juga bagi orang yang umrah, jika meninggalkannya maka wajib membayar dam.”

 0720

وَعَنْ ابْنِ الزُّبَيْرِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي هَذَا بِمِائَةِ صَلَاةٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

720. Dari Ibnu Az-Zubair berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekali shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali shalat di Masjidil haram lebih utama dari pada shalat seratus kali shalat di masjidku ini.” (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (3841).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Az-Zubair (yakni Abdullah bin Zubair) berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekali shalat di masjidku ini (isyarat ini menunjukkan bahwa ia ada saat dikatakan, maka tidak masuk hukum ini sesuatu yang tidak disebut) lebih utama (dan sebuah riwayat dikatakan: lebih baik, dan dalam riwayat lain: sebanding dengan seribu shalat) dari seribu kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali shalat di Masjidil haram lebih utama dari pada shalat seratus kali shalat di masjidku ini (dan dalam lafazh Ibnu Majah, Ibnu Zanjawiyah dan Ibnu Asakir dari hadits Anas:

«صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي بِخَمْسِينَ أَلْفِ صَلَاةٍ»

“Shalat di masjidku dengan lima puluh ribu shalat.” [dhaif, Dhaif Al-Jami’ (3509).]

Dan Lafazh dari Jabir:

فْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Lebih utama dari seribu shalat di tempat yang lain.” [shahih, Shahih Al-Jami (3839).]

Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya….) HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (Ath-Thabari meriwayatkan dari Abu Darda’, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam [bersabda],

«الصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ وَالصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِي بِأَلْفِ صَلَاةٍ، وَالصَّلَاةُ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِخَمْسِمِائَةِ صَلَاةٍ»

“Shalat di Masjidil Haram [lebih utama] dengan seratus ribu shalat, dan shalat di masjidku dengan seribu shalat, dan shalat di Baitul Maqdis dengan lima ratus shalat.” (HR. Ibnu Abdil Bar dari jalur Al-Bazzar. Al-Bazzar berkata, “Hadits ini sanadnya hasan).”

Saya katakan, “Atas dasar ini, kemungkinan makna hadits Ibnu Zubair, “Dengan seratus shalat”, yakni dari shalat-shalat di masjidku, sehingga dengan seratus ribu shalat, maka sejalanlah kedua hadits ini.” Abu Muhammad bin Hazm Rahimahullah berkata, “Ibnu Zubair meriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab dengan sanad seperti matahari di dalam keshahihannya, dan tidak ada yang menyelisihnya dari para shahabat, sehingga seakan-akan menjadi ijma. Dan diriwayatkan dengan lafazh yang banyak dari jamaah shahabat dan jumlah mereka sesuai yang saya ketahui ada lima belas shahabat.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan keutamaan dua masjid atas masjid-masjid yang lain yang ada di muka bumi, dan juga keutamaan masing-msing dari keduanya. Dan telah terjadi perbedaan hitungan lipat ganda sebagaimana yang kamu ketahui, hal ini menunjukkan tidak adanya anggapan atas pemahaman yang sedikit dan hukum untuk yang banyak, karena hal itu sudah jelas dan sudah ada syarat yang menunjukan bahwa keutamaan pada masjid Rasulullah khusus ada pada masanya. Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Di masjidku” dan penyandaaran [kata ‘masjidku] untuk menunjukkan masa (waktu).

Saya katakan: sabda, “ini”, dan yang seperti apa yang dikatakan oleh An-Nawawi dari sebuah kekhususan dinukil oleh pengarang dari Ibnu Uqail Al-Hanbali. Dan yang lain mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada pengkhususan bagi yang ada pada waktu pembicaraan Rasulullah, akan tetapi apa yang lebih masuk di dalam keutamaan ini. Mereka mengatakan: dan faedah penyandaran [idhafah] yang menunjukkan kekhususannya tidak untuk masjid yang lain d Madinah.

Saya katakan: bahkan faedah dari penyandaran [idhafah] dua hal sekaligus. Ia mengatakan bagi yang menganggap umum dari fadhilah yang ada padanya, “Sesungguhnya ia menyaksikan ini atas apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ad-Dailami dari dalam Musnad Al-Firdaus dari hadits Abu Hurairah secara marfu,

«لَوْ مُدَّ هَذَا الْمَسْجِدَ إلَى صَنْعَاءَ لَكَانَ مَسْجِدِي»

“Sekiranya masjid ini diperluas hingga ke Shan’a maka masih termasuk juga dalam masjidku.”

Dan juga Ad-Dailami secara marfu’,

«هَذَا مَسْجِدِي وَمَا زِيدَ فَهُوَ مِنْهُ»

“Masjid ini dan juga yang lebih darinya termasuk darinya.”

Dan di dalam sanadnya ada Abdullah bin Said Al-Maqbari, ia adalah orang yang lemah [wahin], Dan Ad-Dailami juga meriwayatkan hadits lain yang semakna kecuali hadits ini hadits muadhdhal. Dan dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar berkata, “Umar menambah bangunan masjid, lalu berkata, “Sekiranya kita menambahkannya hingga sampai gurun Sahara, tentu…. termasuk masjid Rasulullah Shaliallahu Alaihi wa Sallam,” dan di dalam hadits ini ada Abdul Aziz bin Imran Al-Madani yang matruk, dan tidak menutup kemungkinan tidak memuncaknya atsar-atsar ini karena marfu’ muadhdhal, dan selainnya ucapan shahabat.

Kemudian, apakah keumuman ini mencakup kepada fardhu, sunnah ataukah hanya khusus yang pertama? Imam An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya mencakup keduanya.” Ath-Thahawi dan Al-Malikiyah tidak sepakat dengan pendapat ini, mereka berhujjah dengan hadits, “Sebaik-baiknya shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat maktubah [fardhu].” Pengarang berkata: kemungkinan tetapnya hadits “sebaik-baik shalat seseorang” atas keumumannya, maka shalat nafilah [sunnah] di rumahnya yang berada di Mekah atau di Madinah lebih utama dari shalat seseorang di rumah selain di Mekah dan Madinah. Begitu juga di masjid, jika di rumah-rumah lebih utama secara mutlak.

Saya katakan, “Tidak menutup kemungkinan bahwa perkataan tentang lipat ganda -pahala- shalat di masjid tidak di rumah-rumah di Madinah dan Mekah, jika tidak ada penggandaan kecuali di kedua masjid tersebut. Az-Zarkasi berkata, “Sesungguhnya shalat sunnah dilipatgandakan pahalanya jika dikerjakan di masjid Madinah dan Mekah, tetapi jika dilakukan di rumah lebih utama.”

Saya katakan: yang menunjukan keutamaan shalat sunnah di rumah-rumah secara mutlak adalah mulazamah [konsistensi] yang dilakukan oleh Nabi Shaliallahu Alaihi wa Sallam atas shalat sunnah di rumah beliau, beliau tidaklah keluar ke masjid kecuali untuk melaksanakan shalat-shalat fardhu, padahal posisi masjid sangat dekat dengan rumah beliau. Kemudian penggandaan (lipat ganda) ini tidak hanya khusus untuk shalat-shalat, akan tetapi Al-Ghazali berkata, “Semua amal perbuatan yang dilakukan di Madinah dilipatgandakan seribu kali.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir secara marfu’,

«الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَالْجُمُعَةُ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ جُمُعَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَشَهْرُ رَمَضَانَ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيمَا سِوَاهُ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ»

“Shalat di masjidku lebih utama dari seribu shalat di masjid yang lain kecuali di Masjidil Haram, dan [shalat] jumat di masjidku lebih utama dari seribu jumat di masjid yang lain kecuali Masjdil Haram, dan bulan ramadhan di masjdku ini lebih utama dari seribu bulan Ramadhan di tempat lainnya kecuali di Masjidil Haram.” [Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3/487).]

Dan dari Ibnu Umar dan sebagainya, dan hadits yang hampir semakna diriwayatkan Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir dari Bilal bin Harits.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *