[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 223

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 09

0713

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ النَّحْرِ» . الْحَدِيثَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

713. Dari Abu Bakrah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi khutbah kepada kami pada hari raya kurban.” Al-Hadits (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1741), Muslim (1679).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannnya khutbah pada hari raya kurban, bukan khutbah id. Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak shalat id pada hajinya dan juga tidak melakukan khutbah.

Ketahuilah, khutbah yang disyariatkan di dalam haji itu ada tiga macam menurut Al-Malikiyah dan Al-Hanafiyah, yakni:

1) Khutbah pada tanggal 7 Dzulhijjah

2) Khutbah pada hari Arafah

3) Khutbah pada hari raya kedua di hari raya kurban (11 Dzulhijjah)

Sedangkan imam Asy-Syafi’i menambahkan satu khutbah lagi selain dari khutbah tersebut, yaitu pada hari raya kurban. Dan menurutnya khutbah yang disyariatkan itu pada hari raya kurban yang ketiga bukan yang kedua. Ia mengatakan, karena pada hari itu adalah awal hari nafar. Al-Malikiyah dan Al-Hanifiyah mengatakan bahwa khutbah pada hari raya itu bukanlah dianggap sebagai khutbah, akan tetapi hanya sebagai wasiat umum, bukan termasuk perkara yang disyariatkan dalam ibadah haji.

Dan bantahan dilontarkan kepada mereka bahwa shahabat menamakannya khutbah, bahwa hal itu mencakup maksud-maksud dari khutbah sebagaimana yang ditunjukkan oleh lafazhnya, yakni ucapan beliau, “Tahukah kalian hari apakah ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau diam, hingga kami kira bahwa beliau akan memberikan nama yang lain. Maka beliau berkata, “Tidakkah hari ini hari raya kurban?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Bulan apakah ini?” Kami jawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau diam hingga kami kira beliau akan memberikan nama yang lain. Maka beliau berkata, “Tidakkah bulan ini bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Negara apa ini?” Kami jawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau diam hingga kami mengira bahwa beliau akan memberikan nama yang lain. Beliau berkata, “Tidakkah ini [negara] tanah haram?” Kami jawab, “Ya.” Beliau berkata, “Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, pada bulan ini, dan ada negara kalian ini sampai pada hari kalian bertemu dengan Rabb kalian. Tidakkah aku termasuk orang yang telah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Ya Allah, persaksikanlah. Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Terkadang orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar, maka janganlah kalian kembali kepada kekafiran setelahku nanti, dan kalian saling mengintai [seteru] di antara kalian.”

0714

وَعَنْ سَرَّاءَ بِنْتِ نَبْهَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الرُّءُوسِ فَقَالَ: أَلَيْسَ هَذَا أَوْسَطَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ؟» الْحَدِيثَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ.

714. Dari Sarra’ binti Nabhan, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ru’us (hari ke-2 dari hari raya kurban), beliau bersabda, “Bukankah ini pertengahan hari-hari tasyrik?” Al-Hadits. (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)

[Dhaif: Abi Dawud (1953).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sarra’ binti Nabhan berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ru’us (hari ke-2 dari hari raya kurban), beliau bersabda, “Bukankah ini pertengahan hari-hari tasyrik?” (ini adalah khutbah keempat. Dan yaum ru’us adalah hari kedua di hari raya kurban menurut kesepakatan ulama. Dan sabda beliau, “pertengahan hari-hari tasyrik” mengandung arti yang terbaik atau tengah-tengahnya, dan dalam hadits ini menunjukkan bahwa hari raya kurban termasuk darinya.”

Dan lafazh hadits As-Sarra’, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tahukah kalian, hari apakah ini?” Yakni, hari yang mereka sebut dengan yaum ru’us. Mereka mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Ini adalah pertengahan hari-hari tasyrik.” Beliau bersabda, “Tahukah kalian, negara apakah ini?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Ini Al-Masy’ar Al-Haram.” Beliau bersabda, “Aku tidak tahu apakah aku masih akan bertemu dengan kalian setelah tahun ini. Ketahuilah, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan jiwa kalian haram atas kalian, seperti haramnya negara kalian ini, dan pada tahun ini hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian, maka kalian akan ditanya tentang amal perbuatan kalian, hendaklah kalian yang mendengar menyampaikan kepada yang tidak mendengar, tidakkah aku termasuk orang yang telah menyampaikan?” Maka tatkala kami tiba di Madinah, tidak lama kemudian beliau wafat.

0715

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «طَوَافُك بِالْبَيْتِ وَسَعْيُك بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ يَكْفِيك لِحَجِّك وَعُمْرَتِك» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

715. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Thawafmu di Baitullah dan saimu antara Shafa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1211).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan haji qiran, cukup baginya thawaf sekali dan sa’i sekali untuk haji, inilah pendapat sekelompok shahabat, Asy-Syafi’i dan juga yang lainnya. Dan menurut Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah melakukan thawaf dua kali dan sai dua kali. Banyak sekali hadits yang sejalan dengan hadits Aisyah dari Ibnu Umar, Jabir, dan yang lainnya.

Dan bagi yang mengatakan dengan dua thawaf berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan semprnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196) ayat ini tidak menunjukkan dalil atas pendapat mereka. Karena kesempurnaan (haji) itu dapat terwujud meskipun hanya dengan satu thawaf. Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam mencukupkan dengan satu kali thawaf dan satu kali sai, saat beliau melakukan haji qiran. Mereka juga beristidhlal dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ziyad bin Malik, ia berkata dalam Al-Mizan: Ziyad bin Malik dari Ibnu Mas’ud tidaklah merupakan hujjah. Al-Bukhari berkata, “Tidak diketahui ia melakukan sima’ dari Abdullah, dan darinya diriwayatkan hadits, “Orang yang melakukan haji qiran thawaf dua kali dan sai dua kali.”

Ketahuilah, bahwa Aisyah telah berihram untuk umrah akan tetapi ia dalam keadaan haidh, maka Rasulullah Shalllallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Tinggalkanlah umrahmu.” Imam An-Nawawi berkata, “Makna meninggalkan di sini adalah meninggalkan amalan di dalamnya, dan menyempurnakan amalan-amalannya yakni thawaf, sai, mencukur rambut lalu Nabi memerintahkannya meninggalkan semua amalan umrah, dan berihram untuk haji, sehingga ia melakukan haji qiran dan berhenti (wukuf) di Arafah, dan melaksanakan semua manasik haji, kecuali thawaf, maka ia mengakhirkannya hingga ia suci.

Dan dalil lain yang menunjukkan bahwa Aisyah melaksanakan haji qiran adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Thawafmu di Baitullah”, menunjukkkan bahwa ia (Aisyah) melakukan haji dan umrah, dan adanya takwil sabda Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tinggalkan umrahmu.” sebagaimana yang disebut oleh An-Nawawi, maka makna meninggalkan umrah di sini tidak berarti keluar dari umrah dan meninggalkannya secara keseluruhan. Sesungguhnya haji dan umrah tidak boleh keluar darinya setelah ihram dengan keduanya dengan niat keluar, tetapi tidak boleh tahallul (keluar) dari keduanya setelah kedua selesai.

0716

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمْ يَرْمُلْ فِي السَّبْعِ الَّذِي أَفَاضَ فِيهِ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

716. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak berlari-lari kecil dalam tujuh putaran pada thawaf ifadhah. (HR. Al-Khamsah kecuali At-Tirmidzi)

[Shahih: Abi Dawud (2001).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak disyariatkan berlari-lari kecil dalam thawaf ziyadah (tambahan) seperti yang telah diperintahkan dalam dalam tahwaf qudum, inilah pendapat jumhur.

0717

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ، ثُمَّ رَقَدَ رَقْدَةً بِالْمُحَصَّبِ، ثُمَّ رَكِبَ إلَى الْبَيْتِ فَطَافَ بِهِ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

717. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’, kemudian tidur sejenak di desa Muhshab, lalu naik kendaraan menuju Baitullah dan thawaf. (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1756).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’, kemudian tidur sejenak di desa Muhshab (nama sebuah desa di bani Kananah), lalu naik kendaraan menuju Baitullah dan thawaf (thawaf wada’. Dan itu pada hari raya yang lain, yakni pada hari ketiga di hari tasyrik. Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melempar jumrah pada hari raya kurban setelah Zhuhur, dan mengakhirkan shalat Zhuhur hingga sampai ke Muhshab kemudian melakukan shalat-shalat lima waktu di sana sebagaimana telah disebutkan)

Para ulama salaf dan khalaf berbeda pendapat apakah singgah di Muhshab itu hukumnya sunnah ataukah tidak? Ada yang mengatakan, hukumnya sunnah, ada juga yang mengatakan hukumnya tidak sunnah, karena itu hanyalah tempat yang disinggahi oleh Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam, dan amalan ini telah diikuti oleh para khalifah sesudahnya sebagai bentuk ittiba’ kepada beliau. Ibnu Abbas berpendapat bahwa hal itu bukanlah merupakan manasik haji yang disunnahkan, begitu juga dengan Aisyah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits berikut:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *