[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 221

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 07

0706

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «اللَّهُمَّ ارْحَمْ الْمُحَلِّقِينَ قَالُوا: وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: وَالْمُقَصِّرِينَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

706. Darinya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berdoa, “Ya Allah ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah. Beliau berdoa yang ketiga, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1727), Muslim (1301).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (Ibnu Umar) bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berdoa, “Ya Allah ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya (yakni orang-orang yang mencukur rambut mereka pada waktu haji dan umrah di saat bertahallul untuk keduanya).” Mereka (yakni, orang-orang yang mendengarkan dari kalangan shahabat) berkata, “Dan orang yang memendekkan rambutnya (ini merupakan athaf talqin, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Dan kepada orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 126) dengan dua sudut pandang [sisi] di dalam ayat, seperti dikatakan “dan ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya.”) wahai Rasulullah. Beliau berdoa yang ketiga, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya.”(secara zhahir hadits, beliau mendoakan untuk orang-orang yang mencukur rambutnya dua kali, lalu diikuti dengan doa untuk orang-orang yang memendekkan rambutnya pada urutan yang ketiga. Di dalam beberapa riwayat menyebutkan, bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakan untuk orang-orang yang mencukur rambutnya sebanyak tiga kali lalu baru diikuti dengan doa untuk orang-orang yang memendekkan rambutnya. Dan mereka berbeda pendapat tentang kapan doa ini diucapkan oleh Rasulullah. Ada yang mengatakan, pada waktu umrah Hudaibiyah dan diwajibkan oleh imam Al-Haramain. Ada yang mengatakan pada waktu haji wada’, pendapat ini didukung oleh imam An-Nawawi. Ia berkata, “Hadits ini shahih masyhur. Qadhi Al-Iyadh berkata, “Doa ini diucapkan pada dua tempat. Imam An-Nawawi berkata, “Tidak jauh dari itu, seperti juga yang ucapkan oleh Ibnu Daqiq Al-Id. Penulis berkata, “Semua ini karena banyaknya riwayat tentang masalah ini.”)

Tafsir hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya mencukur rambut dan memendekkannya, akan tetapi mencukurnya adalah lebih utama. Dan wajib dalam mencukur rambut dengan mencukurnya secara keseluruhan, ia adalah pendapat Al-Hadawiyah, Malik dan Ahmad. Dan dikatakan, itu yang paling utama, dan mencukur sedikitpun hukumnya sah. Dikatakan seperempatnya. Dikatakan setengahnya, dan juga dikatakan, batasan paling sedikit yang wajib dicukur adalah tiga helai rambut. Ada yang mengatakan sehelai rambut. Dan perselisihan pendapat di sini adalah masalah batasan dan ukuran keutamaan dan mencukur.

Adapun ukurannya sebesar semut. Dikatakan, jika mencukur kurang dari sebesar semut, tetap sah juga, semua ini merupakan kewajiban bagi kaum laki-laki. Lalu keutamaan mencukur dan memendekkan bagi orang yang sedang melakukan haji dan umrah. Adapun yang yang melakukan haji tamattu’, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pilihan antara mencukur dan memendekkan, sebagaimana tersebut dalam riwayat Al-Bukhari dengan lafazh, “Lalu mereka mencukur atau memendekkan (rambut mereka).” Zhahir hadits ini menunjukkan adanya kesamaan antara kewajiban orang yang melakukan haji tamattu’. Dan penulis membahas lebih rinci tentang masalah ini dalam kitab Al-Fath, ia berkata, “Jika rambutnya kelihatan, maka lebih utama mencukurnya, dan jika tidak maka memotongnya sehinga mencukurnya pada waktu haji,” semua ini diterangkan di dalam kitab tersebut.

Adapun bagi kaum wanita, menurut ijma’ ulama, mereka diwajibkan untuk memendekkan rambut mereka. Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma,

«لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ حَلْقٌ وَإِنَّمَا عَلَى النِّسَاءِ التَّقْصِيرُ»

“Bagi kaum wanita tidak mencukur rambut mereka, akan tetap memendekkanya.” [Shahih: Abi Dawud (1984).]

Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Ali Alaihissalam,

نَهَى أَنْ تَحْلِقَ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا

“Beliau melarang wanita mencukur kepalanya.” [Dhaif: At-Tirmidzi (914).]

Lalu, bolehkah jika rambut wanita dicukur? Sebagian penganut Madzab Asy-Syafi’i mengatakan boleh, tapi hukumnya makruh.

0707

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَفَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَجَعَلُوا يَسْأَلُونَهُ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَمْ أَشْعُرْ، فَحَلَقْت قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ. قَالَ: اذْبَحْ وَلَا حَرَجَ وَجَاءَ آخَرُ، فَقَالَ: لَمْ أَشْعُرْ، فَنَحَرْت قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ، قَالَ: ارْمِ وَلَا حَرَجَ فَمَا سُئِلَ يَوْمَئِذٍ عَنْ شَيْءٍ قُدِّمَ وَلَا أُخِّرَ إلَّا قَالَ: افْعَلْ وَلَا حَرَجَ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

707. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti pada haji wada’ dan orang-orang saling bertanya kepada beliau. Seorang laki-laki bertanya kepada beliau, “Aku tidak sadar, aku telah mencukur sebelum menyembelih kurban. Beliau bersabda, “Sembelihlah kurban, tidak apa-apa.” Seorang lain datang dan bertanya, “Aku tidak sadar, aku telah menyembelih kurban sebelum melempar jumrah.” Beliau menjawab, “Melemparlah, tidak apa-apa.” Pada hari itu beliau tidak ditanya dengan sesuatu yang didahulukan dan diakhirkan kecuali beliau menjawab, “Kerjakanlali, tidak apa-apa.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (83), Muslim (1306).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti pada haji wada’ (yakni pada hari raya kurban, setelah matahari tergelincir naik, beliau berada di atas tunggangannya dengan menyampaikan khutbah) dan orang-orang saling bertanya kepada beliau. Seorang laki-laki bertanya kepada beliau (penulis berkata, “Saya tidak menemukan namanya setelah melakukan penelitian yang cukup lama), “Aku tidak sadar (aku tidak mengerti dan tidak tahu), aku telah mencukur sebelum menyembelih kurban. Beliau bersabda, “Sembelihlah kurban, tidak apa-apa (tidak berdosa).” Seorang lain datang dan bertanya, “Aku tidak sadar, aku tidak sadar, aku telah menyembelih kurban sebelum melempar jumrah (jumrah Aqabah).” Beliau menjawab, “Melemparlah, tidak apa-apa.” Pada hari itu beliau tidak ditanya dengan sesuatu yang didahulukan dan diakhirkan kecuali beliau menjawab, “Kerjakanlah, tidak apa-apa.”

Tafsir Hadits

Sesungguhnya kewajiban bagi orang yang melakukan ibadah haji pada hari raya kurban ada empat hal:

1) Melempar jumrah aqabah.

2) Menyembelih kurban.

3) Mencukur atau memendekkan rambut.

4) Thawaf ifadhah.

Inilah urutan yang disyariatkan dan dilakukan oleh Rasulullah di dalam ibadah haji beliau. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَى مِنًى فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى فَنَحَرَ وَقَالَ لِلْحَالِقِ: خُذْ»

bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang ke Mina lalu ia membawa jamrah dam melemparkannya, lalu ia datang ke tempatnya di Mina untuk melakukan kurban, dan mengatakan kepada tukang cukur, “Ambillah.” [shahih, Muslim meriwayatkannya seorang diri (1305).]

Tidak ada perselisihan pendapat bagi orang yang melakukan haji secara mutlak, tetapi ada sebagian ulama yang memperselisihkan tentang orang melakukan haji qiran, beliau berkata, “Tidak mencukur hingga melakukan thawaf.”

Hadits ini menunjukan bahwa boleh mendahulukan sebagian amalan-amalan berikut dan mendahulukannya dan tidak larangan maupun dosa bagi orang yang mendahulukan atau mengakhirkannya. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Menurut imam Asy-Syafi’i, jumhur salaf dan fuqaha hadits boleh melakuan hal itu dengan tidak membayar dam bagi yang melakukannya, berdasarkan sabda Rasulullah kepada si penanya, “Tidak apa-apa [tidak berdosa].” Hadits ini menunjukkan tidak adanya dosa dan fidyah sekaligus. Ath-Thabari berkata, “Tidaklah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggugurkan suatu dosa, kecuali sebagai bentuk pembolehan suatu perbuatan, sekiranya hal itu tidak dibolehkan tentu beliau menyuruh untuk mengulanginya. Karena bodoh [tidak tahu] dan lupa tidak akan menghilangkan hukum bagi mukallaf yang wajib dilaksanakan dalam ibadah haji. Seperti misalnya ia meninggalkan melempar jumrah dan sebagainya, maka ia tidak akan berdosa dengan meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu. Akan tetapi, wajib baginya untuk mengu-langinya, adapun yang benar fidyah gugur bagi orang yang lupa dan orang yang bodoh, dan tidak gugur bagi orang yang tahu [alim].

Ibnu Daqiq Al-Id berkata, “Pendapat yang mengatakan gugurnya dam bagi orang yang tidak tahu dan lupa tanpa adanya unsur kesengajaan merupakan pendapat yang kuat, jika dilihat dari sisi adanya dalil yang menunjukkan bahwa wajib hukumnya mengikuti amalan [manasik] haji yang dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana dalam sabdanya, “Ambillah dariku [sebagai contoh] manasik haji kalian.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *