[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 220

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 06

0701

وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «إنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا لَا يُفِيضُونَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. وَيَقُولُونَ: أَشْرِقْ ثَبِيرُ، وَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَالَفَهُمْ، فَأَفَاضَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

701. Dari Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Sesungguhnya orang-orang musyrik tidak turun ke Mekah hingga matahari terbit, dan mereka berkata, “Masuklah gunung Tsabir (gunung tertinggi di Mekah) dan bahwasanya Nabi menyelisihi mereka.” Maka beliau turun ke Mekah sebelum matahari terbit. (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1684).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Sesungguhnya orang-orang musyrik tidak turun ke Mekah (dari Muzdalifah) hingga matahari terbit, dan mereka berkata, “Masuklah (dari sebelah timur) gunung Tsabir (gunung tertinggi di Mekah) dan bahwasanya Nabi menyelisihi mereka.” Maka beliau turun ke Mekah sebelum matahari terbit. HR. Al-Bukhari (dalam sebuah riwayat lain ada tambahan:

كَيْمَا نُغَيِّرُ

‘bagaimana kami memeranginya’ [Shahih: Ibni Majah (3078).]

yang dikeluarkan oleh Al-Ismaili dan Ibnu Majah. Hadits ini menunjukkan perintah untuk menyerang, ini adalah tambahan sebelum terbitnya matahari dan telah berlalu hadits Jabir, “hingga terlihat kuning sekali.”)

0702

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – قَالَا: «لَمْ يَزَلْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُلَبِّي حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

702. Dari Ibnu Abbas dan Usamah bin Zaid, keduanya berkata, “Rasulullah senantiasa membaca talbiyah hingga beliau melempar jumrah aqabah.” (HR. Al-Bukhari) [shahih, Al-Bukhari (1686, 1687).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca talbiyah secara terus-menerus sampai pada hari kurban, tepatnya sampai melempar jumrah. Para ulama berbeda pendapat apakah talbiyah ini berhenti ketika melempar jumrah pada lemparan (kerikil) pertama, ataukah berakhir dengan berakhirnya jumrah?

Menurut jumhur ulama, waktu berhentinya talbiyah adalah di awal lemparan kerikil dalam jumrah, sedangkan menurut imam Ahmad talbiyah berhenti dengan berakhirnya jumrah, berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i,

«فَلَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حَتَّى رَمَى الْجَمْرَةَ فَلَمَّا رَجَعَ قَطَعَ التَّلْبِيَةَ»

“Rasulullah senantiasa membaca talbiyah hingga melempar jumrah, dan ketika pulang beliau berhenti mengucapkan talbiyah.” [Shahih: An-Nasai (3079, 3080).]

Juga riwayat dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata, “Hadits shahih dari Ibnu Abbas dari Al-Fadhl, bahwa ia berkata,

أَفَضْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ عَرَفَاتٍ فَلَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ وَيُكَبِّرْ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ ثُمَّ قَطَعَ التَّلْبِيَةَ مَعَ آخِرِ حَصَاةٍ

“Sesungguhnya aku turun bersama Rasulullah dari Arafah, beliau senantiasa membaca talbiyah hingga melempar jumrah aqabah, yakni menyempurnakan lemparan (jumrah)nya. [Shahih Ibnu Khuzaimah (4/282).]

Sedangkan para ulama berbeda pendapat tentang kapan berhenti membaca talbiyah. Hadits-hadits ini menjelaskan di saat Rasulullah meninggalkannya.

0703

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: أَنَّهُ جَعَلَ الْبَيْتَ عَنْ يَسَارِهِ، وَمِنًى عَنْ يَمِينِهِ، وَرَمَى الْجَمْرَةَ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَقَالَ: هَذَا مَقَامُ الَّذِي أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

703. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, bahwa ia menjadikan Baitullah sebelah kirinya dan Mina sebelah kanannya dan melempar jumrah dengan tujuh batu. Ia berkata, “Di sinilah tempat diturunkannya surat Al-Baqarah kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1749), Muslim (1296).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdullah, bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, bahwa ia menjadikan Baitullah sebelah kirinya (ketika melempar jumrah Aqabah) dan Mina sebelah kanannya dan melempar jumrah dengan tujuh batu. Ia berakta, “Di sinilah tempat diturunkannya surat Al-Baqarah kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Tafsir Hadits

Menurut ijma’ ulama, bahwa tatacara melempar jumrah sebagaimana yang tersebut di dalam hadits tidaklah menunjukkan perintah wajib, tetapi hanyalah sunnah. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud sebagai bantahan atas orang yang melempar jumrah dari atasnya. Dan mereka sepakat bahwa semua jumrah dilempar dari atasnya. Dan penyebutan tentang surat Al-Baqarah di sini, karena hampir semua amalan manasik haji disebutkan dalam surat tersebut, atau karena sebagian besar kandungan isi surat Al-Baqarah membicarakan tentang masalah-masalah duniawi dan muamalah. Maka dalam hal ini boleh dikatakan, “Surat Al-Baqarah.” Berbeda dengan orang yang mengatakan, “dimakruhkan.” Pendapat ini tidak berdalil.

0704

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «رَمَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى، وَأَمَّا بَعْدَ ذَلِكَ فَإِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

704. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melempar jumrah pada hari raya kurban saat waktu dhuha. Namun setelah itu (beliau melemparnya) bila matahari tergelincir.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1299).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melempar jumrah pada hari raya kurban saat waktu dhuha. Namun setelah itu (beliau melemparnya) bila matahari tergelincir. HR. Muslim (telah dijelaskan tentang waktu melempar jumrah Al-Aqabah. Hadits ini menjelaskan bahwa waktu melempar ketiga jumrah tersebut setelah tergelincirnya matahari, dan inilah pendapat jumhur ulama)

0705

«وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الْجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عَلَى أَثَرِ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ ثُمَّ يُسْهِلُ، فَيَقُومُ فَيَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ يَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُومُ طَوِيلًا، ثُمَّ يَرْمِي الْوُسْطَى، ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشِّمَالِ فَيُسْهِلُ، وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، ثُمَّ يَدْعُو فَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُومُ طَوِيلًا، ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ الْعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الْوَادِي وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُولُ: هَكَذَا رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَفْعَلُهُ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

705. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwa ia melempar jumrah ‘dunya’ dengan tujuh batu kerikil, ia mengiringi dengan takbir pada setiap lemparan, kemudian maju dan mencari tanah yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian mengangkat tangannya dan berdiri lama. Lalu melempar jumrah wustha, kemudian mengambil arah kiri untuk mencari tempat yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri lama. Kemudian melempar jumrah aqabah dari tengah lembah. Ia tidak berdiri di situ dan langsung kembali. Ia mengatakan, “Beginilah aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1751).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwa ia melempar jumrah ‘dunya’ (yakni dekat dengan masjid Al-Khaif. Ini adalah jumrah pertama yang dilempar pada hari kedua di hari raya kurban) dengan tujuh batu kerikil, ia mengiringi dengan takbir pada setiap lemparan, kemudian maju dan mencari tanah yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian mengangkat tangannya dan berdiri lama. Lalu melempar jumrah wustaha, kemudian mengambil arah kiri (lari ke arah kiri untuk berdiri sambil berdoa di maqam dan tidak terkena lemparan) untuk mencari tempat yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri lama. Kemudian melempar jumrah aqabah dari tengah lembah. Ia tidak berdiri di situ dan langsung kembali. Ia mengatakan, “Beginilah aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan beberapa dalil hukum sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits-hadits sebelumnya, yakni tatacara melempar jumrah dengan tujuh batu (kerikil) dalam setiap lemparan, dengan disertai membaca takbir setiap kali melempar batu tersebut. Dalam hadits ini ditambahkan, dengan menghadap ke kiblat setelah melempar dua jumrah dan berdiri dalam berdoa kepada Allah. Tentang lamanya waktu berdiri ditafsirkan oleh hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang shahih,

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُومُ عِنْدَ الْجَمْرَتَيْنِ بِمِقْدَارِ مَا يَقْرَأُ سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَأَنَّهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ الدُّعَاءِ

“Sesungguhnya Ibnu Umar, ia berdiri ketika melempar dua jumrah selama kurang lebih lamanya waktu membaca surat Al-Baqarah, ia tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa.” [Mushannaf Ibni Abi Syaibah (3/284).]

Dan hadits Ibnu Umar ini menunjukkan perbedaan dengan apa yang dikatakan oleh Imam Malik.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *