[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 219

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 05

0697

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «اسْتَأْذَنَتْ سَوْدَةُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيْلَةَ الْمُزْدَلِفَةِ: أَنْ تَدْفَعَ قَبْلَهُ، وَكَانَتْ ثَبْطَةً – تَعْنِي ثَقِيلَةً – فَأَذِنَ لَهَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

697. Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Saudah pernah minta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam Muzdalifah untuk berangkat lebih dahulu karena dia lemah -yakni berat berjalan- dan beliau mengizinkannya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1680), Muslim (1290).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bolehnya beranjak dari Muzdalifah sebelum fajar, tetapi dikarenakan adanya udzur, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits, “karena dia lemah.” Dan menurut jumhur ulama, menginap di Muzdalifah hukumnya wajib. Bagi yang meninggalkannya wajib untuk membayar dam (denda). Dan sebagian yang lain berpendapat, bahwa menginap di Muzdalifah hukumnya sunnah. Bagi yang meninggalkannya akan kehilangan nilai fadhilahnya, tetapi ia tidak berdosa dan tidak membayar dam, dan menginap.

0698

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَرْمُوا الْجَمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَفِيهِ انْقِطَاعٌ

698. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian melempar jumrah hingga matahari terbit.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai, hadits ini munqathi’)

[Shahih: At-Tirmidzi (893); An Nasa’i meriwayatkan pula dalam As Sunan 5/270. 272]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian melempar jumrah hingga matahari terbit.” HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai, hadits ini munqathi (hal ini karena dalam hadits ini ada Al-Hasan Al-Urani)

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu untuk melemparkan jumrah Aqabah adalah setelah matahari terbit. Hal ini jika pelempar jumrah adalah orang yang dibolehkan baginya datang ke Mina dan diizinkan tidak menginap di Muzdalifah. Dalam hal ini ada empat pendapat:

1) Dibolehkan untuk melempar jumrah setelah melewati tengah malam baik bagi orang yang dapat melakukannya maupun orang yang lemah, ini adalah pendapat Ahmad dan Asy-Syafi’i.

2) Tidak dibolehkan untuk melempar jumrah, kecuali setelah fajar secara mutlak, ini adalah pendapat Abu Hanifah.

3) Bagi yang mampu melakukannya tidak boleh melempar jumrah, kecuali setelah terbit fajar, dan bagi orang yang berhalangan boleh baginya melempar jumrah setelah tengah malam lewat, ini adalah pendapat Al-Hadawiyah.

4) Menurut Ats-Tsauri dan An-Nakha’i, melempar jumrah setelah matahari terbit bagi orang yang mampu melakukan, dan inilah pendapat yang paling kuat dalilnya.

0699

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «أَرْسَلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِأُمِّ سَلَمَةَ لَيْلَةَ النَّحْرِ، فَرَمَتْ الْجَمْرَةَ قَبْلَ الْفَجْرِ، ثُمَّ مَضَتْ فَأَفَاضَتْ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ.

699. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Ummu Salamah pada malam hari raya kurban, lalu ia melempar jumrah sebelum fajar, kemudian pergi dan turun (ke Mekah).” (HR. Abu Dawud dan sanadnya menurut Muslim)

[Dhaif: Abi Dawud (1942).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bolehnya melempar jumrah sebelum fajar, karena secara zhahir hadits, Rasulullah mengetahuinya dan beliau tidak melarangnya. Hadits ini bertentangan dengan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu. Lalu keduanya dikompromikan dengan bolehnya melempar jumrah sebelum fajar bagi orang yang berhalangan. Dan Ibnu Abbas pada saat itu tidak berhalangan. Adapun menurut Al-Hadawiyah mereka mengatakan, tidak boleh melempar jumrah bagi orang yang kuasa melakukannya kecuali setelah terbit fajar, dan diperbolehkan bagi yang lainnya setelah lewat pertengahan malam, tetapi mereka membolehkan bagi yang berkuasa melempar jumrah sebelum terbitnya matahari.

Menurut Asy-Syafi’i boleh melempar jumrah setelah lewat pertengahan malam baik bagi orang yang bisa melakukan maupun berhalangan. Ada juga yang mengatakan, melempar jumrah setelah tebitnya matahari bagi orang yang mampu melakukannya, dan inilah yang ditunjukkan oleh perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sabda beliau dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang sebentar lagi akan dibahas. Dan sekiranya hadits ini ada inqitha’ maka perbuatan Rasulullah ini telah dikuatkan dalam sabdanya, “Ambillah dariku [sebagai contoh] manasik haji kalian.”

Hadits ini telah disebutkan sebelumnya dengan perbedaan pendapat ulama tentangnya.

0700

وَعَنْ عُرْوَةَ بْنِ مُضَرِّسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ شَهِدَ صَلَاتَنَا هَذِهِ – يَعْنِي بِالْمُزْدَلِفَةِ – فَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ، وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلًا أَوْ نَهَارًا، فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

700. Dari Urwah bin Mudharris berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengikuti shalat kami -yakni di Muzdalifah- lalu benar telah wukuf di Arafah malam atau siang maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya.” (HR. Al-Khamsah. Hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: At-Tirmidzi (891).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Urwah bin Mudharris berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengikuti shalat kami (shalat fajar) -yakni di Muzdalifah- lalu benar telah wukuf di Arafah malam atau siang maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya.” HR. Al-Khamsah. Hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa tidaklah sempurna ibadah haji kecuali dengan menyaksikan shalat fajar di Muzdalifah dan wukuf di sana hingga imam pergi dan telah melakukan wukuf di Arafah sebelumnya pada malam dan siang hari. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya wukuf di Arafah pada siang hari pada hari Arafah, jika setelah tergelincirnya matahari atau pada malam Idul Adha dan ia melakukan itu maka telah sempurna manasik hajinya. Ada yang mengatakan setelah memotong rambut. Dan pemahaman tentang syarat bahwa orang yang belum melakukan hal itu sempurna hajinya. Adapun wukuf di Arafah, maka itu merupakan hal yang sudah disepakati oleh ulama.

Adapun wukuf di Muzdalifah, menurut jumhur bahwa sah hajinya jika tidak melakukannya, dan juga wukufnya di Arafah dan shalat fajar di sana, dan ia wajib membayar dam. Ibnu Abbas dan sebagian ulama salaf berpendapat itu merupakan rukun haji seperti Arafah, dan pemahaman ini menunjukan penguatan terhadap riwayat An-Nasai, “Barangsiapa yang tidak menjumpai wukuf maka tidak sah hajinya.” Dan firman Allah Ta’ala, “Berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram.” (QS. Al-Baqarah: 198) dan juga perbuatan Rasulullah dan sabdanya, “Ambillah dariku (sebagai contoh) manasik haji kalian.”

Maka jumhur ulama menjawab, bahwa yang dimaksud dengan hadits Urwah, barang siapa melaksanakan semua apa yang telah disebutkan maka sempurnalah hajinya, dan datang dengan haji yang sempurna.

Hal ini diperkuat oleh hadits yang dikeluarkan Ahmad dan para penulis As-Sunan, Al-Hakim, Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi,

«أَنَّهُ أَتَاهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَاتٍ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ فَقَالُوا: كَيْف الْحَجُّ؟ فَقَالَ: الْحَجُّ عَرَفَةَ مَنْ جَاءَ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ»

“Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang kepadanya, dan ia sedang wukuf di Arafah dan beberapa orang dari Nejed, maka mereka berkata, “Bagaimana haji itu? Maka Nabi menjawab, “Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang sebelum shalat fajar dari menginap di Muzdalifah maka sempurnalah hajinya.” [Shahih: At-Tirmidzi (889).]

Dan dalam riwayat Abu Dawud,

«مَنْ أَدْرَكَ عَرَفَةَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ»

“Barangsiapa yang menjumpai Arafah sebelum fajar terbit maka ia telah menemui hajinya.”

Dan dari riwayat Ad-Daraquthni,

«الْحَجُّ عَرَفَةَ الْحَجُّ عَرَفَةَ»

“Haji itu Arafah, haji itu Arafah.”

Maka mereka berkata, “Ini adalah jelas maksudnya, dan mereka menjawab dengan tambahan,

«وَمَنْ لَمْ يُدْرِكْ جَمْعًا فَلَا حَجَّ لَهُ»

“Dan Barangsiapa yang tidak menginap di Muzdalifah maka tiada haji baginya.” [Shahih: An-Nasai (3040).]

Hal ini memungkinkan adanya takwil: maka tidak butuh sempurnanya keutamaan, bahwa riwayat ini diingkari oleh Abu Ja’far Al-Uqaili, dan ia menulis atas pengingkarannya sebuah bab tersendiri dalam kitabnya. Dan ayat ini tidak menunjukkan kecuali kepada perintah untuk mengingat (berdzikir) di Masy’aril Haram, tidak menunjukan itu sebagai rukun, dan bahwa perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai penjelasan atas kewajiban penyempurna bagi keutamaan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *