[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 218

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 04

0693

وَعَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ قَالَ: «رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَيَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ مَعَهُ، وَيُقَبِّلُ الْمِحْجَنَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٍ.

693. Dan dari Abu Ath-Thufail Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah berthawaf di Ka’bah, beliau menyentuh hajar aswad dengan tongkat yang dibawanya dan mencium tongkat tersebut.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1275).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Ath-Thufail, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah berthawaf di Ka’bah, beliau menyentuh hajar aswad dengan tongkat yang dibawanya dan mencium tongkat tersebut.” HR. Muslim (dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan juga lainnya dan ia dihasankan dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«يَأْتِي هَذَا الْحَجَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ وَيَشْهَدُ لِمَنْ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ»

“Batu ini akan datang pada hari kiamat nanti dengan mempunyai dua mata yang dapat melihat, dan lisan yang dapat berbicara untuk mempersaksikan siapa yang benar-benar telah menyentuhnya.” [Shahih: At-Tirmidzi (961).]

Dan diriwayatkan oleh Al-Azraqi dengan isnad yang shahih dari hadits Ibnu Abbas, ia berkata, “Sesungguhnya rukun ini merupakan tangan kanan Allah untuk menyalami [bersalaman] dengan makhluk-Nya, seperti seseorang yang bersalaman dengan saudaranya.” [AkhbaruMakkah (1/89).]

Dan dikeluarkan oleh Ahmad darinya, “Sesungguhnya rukun adalah tangan kanan Allah di bumi untuk menyalami hamba-Nya, demi Dzat yang jiwa Ibnu Abbas ada di tangan-Nya, tidaklah seorang muslim yang memohon kepada Allah atas sesuatu kepada-Nya kecuali Allah akan mengabulkan permohonannya.”) [Lihat Kasyfu Al-Khafa (1/417).]

Tafsir Hadits

Hadits Ibnu Ath-Thufail ini menunjukkan bahwa dibolehkan menyentuhnya dengan tangan dan juga dengan alat, dan juga menciumnya dengan alat seperti mihjan dan tongkat, begitu juga jika memegang dengan tangannya dan menciumnya dengan tangannya.

Imam Asy-Syafi’i meriwayatkan, “Ibnu Juraij berkata kepada Atha’, “Apakah kamu melihat seseorang dari sahabat Rasulullah jika mereka menyentuh [hajar aswad] mereka mencium tangan mereka? Ia berkata, “Ya, saya melihat Jabir bin Abdullah, Ibnu Umar, dan juga Abu Said dan Abu Hurairah, jika mereka menyentuh hajar aswad mereka mencium tangan mereka.” [Musnad Asy-Syafi’i (hal. 126).]

Jika tidak bisa menyentuhnya karena sesak, maka berdiri dan mengangkat tangannya bertakbir, sebagaimana diriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata,

يَا عُمَرُ إنَّك رَجُلٌ قَوِيٌّ لَا تُزَاحِمُ عَلَى الْحَجَرِ فَتُؤْذِي الضُّعَفَاءَ إنْ وَجَدَتْ خَلْوَةً فَاسْتَلِمْهُ وَإِلَّا فَاسْتَقْبِلْهُ وَهَلِّلْ وَكَبِّرْ

“Wahai Umar, sesungguhnya kamu adalah lelaki yang kuat, janganlah kamu berdesak-desakan sehingga menyakiti orang-orang yang lemah, jika kamu mendapatkan kesempatan [sepi] maka sentuhlah, dan jika tidak, maka menghadaplah kepadanya, kemudian bertakbir dan ucapkan tahlil atau tasbih.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Arzaqi. [Lihat Ad-Dirayah (2/13) dan Nashb Ar-Rayah (3/39).]

Dan jika mengisyaratkan dengan tangannya, maka tidak usah menciumnya, karena apa yang dicium atau dipegang itu tidak lain, kecuali batu.

0694

وَعَنْ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ: «طَافَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُضْطَبِعًا بِبُرْدٍ أَخْضَرَ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ.

694. Ya’la bin Umayyah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berthawaf dengan berselendangkan kain hijau.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

[hasan, At-Tirmidzi (759).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Ya’la bin Umayyah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berthawaf dengan berselendangkan kain hijau.” HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi (Al-Idhthiba’ artinya anggota, disebut juga dengan At-Ta’abbuth karena dijadikan tengah selendangnya di bawah ketiak dan nampak lengan atas [ketiak]nya yang kanan. Ada juga yang mengatakan terlihat kedua ketiaknya. Di dalam An-Nihayah, disebutkan, At-Ta’abbuth adalah mengambil kain dan menjadikannya di bawah ketiak yang kanan dan menaruh kedua ujungnya di pundaknya yang kiri dari arah dada dan punggungnya.)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas,

اضْطَبَعَ فَكَبَّرَ وَاسْتَلَمَ وَكَبَّرَ ثُمَّ رَمَلَ ثَلَاثَةَ أَطَوَافً كَانُوا إذَا بَلَغُوا الرُّكْنَ الْيَمَانِيَّ وَتَغَيَّبُوا مِنْ قُرَيْشٍ مَشَوْا ثُمَّ يَطْلُعُونَ عَلَيْهِمْ يَرْمُلُونَ تَقُولُ قُرَيْشُ كَأَنَّهُمْ الْغِزْلَانُ

“Beliau memakai selendang lalu bertakbir, lalu menyentuh hajar aswad dan bertakbir, lalu berlari-lari kecil mengelilingi ka’bah tiga kali putaran. Dan jika mereka sampai di rukun yamani mereka menghilang dari orang Quraisy lalu pergi, dan datang kepada mereka lalu berlari-lari kecil mengelilingi ka’bah. Orang Quraisy berkata, “Mereka seperti ghazlan.” [Shahih: Abi Dawud (1889).]

Maka Ibnu Abbas berkata, “Ini adalah sunnah, dan hal ini dilakukan mereka pertama kali pada waktu umrah qadha’ untuk membantu mereka dalam melakukan lari-lari kecil agar orang musyrik mengetahui kekuatan mereka, lalu menjadi sunnah, dan beliau memakai selendang dalam tujuh putaran thawafnya, jika sudah selesai mengembalikan [menyamakan] pakaiannya dan tidak memakai pakaiannya sebagai selendang pada shalat dua rakaat thawaf. Dan dikatakan, pada tiga putaran yang pertama tidak yang lain.

0695

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: كَانَ يُهِلُّ مِنَّا الْمُهِلُّ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ مِنَّا الْمُكَبِّرُ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

695. Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Di antara kami ada yang membaca talbiyah dan tidak ada yang melarangnya, dan ada juga yang membaca takbir dan tidak ada yang melarangnya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1659), Muslim (1285).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa barang siapa yang bertakbir pada tempat talbiyah maka kami tidak mengingkarinya, bahkan hukumnya sunnah, karena mereka melakukan hal itu dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada bersama mereka, serta menetapkan semua yang beliau katakan, akan tetapi hadits ini berkenaan dengan sifat kepergian mereka dari Mina ke Arafah. Dan dalam hadits ini, juga ada bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa membaca talbiyah lagi setelah Subuh pada hari Arafah.

0696

«وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: بَعَثَنِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الثَّقَلِ، أَوْ قَالَ فِي الضَّعَفَةِ مِنْ جَمْعٍ بِلَيْلٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

696. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Nabi mengiitusku untuk membawa barang-barang berat, (atau ia berkata) untuk menyertai perempuan-perempuan yang lemah dari Muzdalifah pada waktu malam.” (MuttafaqAlaih)

[shahih, Al-Bukhari (1856), Muslim (1293).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Nabi mengutusku untuk membawa barang-barang berat (yakni, bekal bagi seorang musafir, sebagaimana tersebut dalam An-Nihayah) (atau ia berkata) untuk menyertai perempuan-perempuan yang lemah (karena adanya keraguan dari perawi) dari Muzdalifah (kata jam ‘u dalam hadits merupakan nama lain dari Muzdalifah, dinamakan demikian karena pada waktu Adam dan Hawa’ diturunkan ke bumi dari surga dipertemukan di tempat ini, sebagaimana dalam An-Nihayah) pada waktu malam.”

Tafsir Hadits

Telah diketahui dalam As-Sunnah, bahwa wajib menginap di Muzdalifah, dan tidaklah orang yang menginap di sana kecuali setelah shalat fajar, kemudian berhenti di masyaril haram, dan tidak beranjak darinya kecuali setelah jelas-jelas fajar menguning dan pergi sebelum terbitnya matahari. Orang-orang pada jaman Jahiliyah tidak beranjak dari Muzdalifah hingga terbit matahari, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyelisihi mereka, akan tetapi hadits Ibnu Abbas ini dan juga hadits yang lain menunjukkan adanya keringanan bagi perempuan-perempuan yang lemah dengan tidak menyempurnakan menginapnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *