[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 217

06. KITAB HAJI – 06.05. BAB CARA HAJI DAN MEMASUKI KOTA MEKAH 03

0690

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «أَمَرَهُمْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنْ يَرْمُلُوا ثَلَاثَةَ أَشْوَاطٍ وَيَمْشُوا أَرْبَعًا، مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

690. Dan darinya, ia berkata, “Mereka diperintahkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran antara dua rukun (hajar aswad dan rukun yamani).” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1602), Muslim (1266).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (Ibnu Abbas), ia berkata, “Mereka (para shahabat yang datang ke Mekah pada waktu umrah al-Qadhiyyah) diperintahkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar berlari-lari kecil tiga kali putaran (di dalam thawaf) dan berjalan biasa empat kali putaran antara dua rukun [hajar aswad dan rukun yamani].”

_______________

«وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -، أَنَّهُ كَانَ إذَا طَافَ بِالْبَيْتِ الطَّوَافَ الْأَوَّلَ خَبَّ ثَلَاثًا، وَمَشَى أَرْبَعًا وَفِي رِوَايَةٍ: رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا طَافَ فِي الْحَجِّ أَوْ الْعُمْرَةِ أَوَّلُ مَا يَقْدَمُ فَإِنَّهُ يَسْعَى ثَلَاثَةَ أَطْوَافٍ بِالْبَيْتِ وَيَمْشِي أَرْبَعَةً» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Dari Ibnu Umar Radhiyallah Anhu, bahwa apabila ia melakukan thawaf di baitullah pada thawaf pertama, ia berjalan cepat tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran.

[shahih, Al-Bukhari (1644), Muslim (1261).]

Dalam suatu riwayat: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila melakukan thawaf dalam haji atau umrah pada kedatangan pertama, beliau berjalan cepat tiga kali keliling dan berjalan biasa empat kali keliling.” (Muttafaq Alaihima)

[shahih, Al-Bukhari (1616), Muslim (1227).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

PenjeIasan Kalimat

Asal dan hikmah hadits ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ia berkata,

«قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَصْحَابُهُ مَكَّةَ فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ: إنَّهُ يَقْدُمُ عَلَيْكُمْ وَفْدٌ قَدْ وَهَنَتْهُمْ حُمَّى يَثْرِبَ فَأَمَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَصْحَابَهُ أَنْ يَرْمُلُوا الْأَشْوَاطَ الثَّلَاثَةَ وَأَنْ يَمْشُوا مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ وَلَمْ يَمْنَعْهُ أَنْ يَرْمُلُوا الْأَشْوَاطَ كُلَّهَا إلَّا الْإِبْقَاءُ عَلَيْهِمْ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan shahabatnya datang ke Mekah, maka orang-orang musyrik berkata, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian utusan, dan telah melemahkan mereka demam Yatsrib, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada shahabatnya untuk berlari-lari kecil tiga kali putaran, dan berjalan antara dua rukun, dan tidak melarang mereka berlari-lari kecil dalam semua putaran tergantung kepada mereka. (Dikeluarkan oleh Asy-Syaikhan) [shahih, Al-Bukhari (1602), Muslim (1266).]

Dan dalam Lafazh Muslim:

«أَنَّ الْمُشْرِكِينَ جَلَسُوا مِمَّا يَلِي الْحَجَرَ وَإِنَّهُمْ حِينَ رَأَوْهُمْ يَرْمُلُونَ قَالُوا: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّ الْحُمَّى وَهَنَتْهُمْ أَنَّهُمْ لَأَجْلَدَ مِنْ كَذَا وَكَذَا»

“Sesungguhnya orang-orang musyrik mereka duduk di dekat batu, dan tatkala mereka melihat kaum muslimin berlari-lari kecil, mereka mengatakan, “Itulah orang-orang yang kamu kira bahwa demam telah melemahkan mereka, sesungguhnya mereka akan aku cambuk dari sini dan sini.”

Dan dalam Lafazh yang lain,

إنْ هُمْ إلَّا كَالْغِزْلَانِ

“Sesungguhnya mereka tidak lain seperti perempuan [banci].” [Shahih: Abu Dawud (1889).]

Inilah asal mula berlari-lari kecil, dan sebabnya adalah memancing kemarahan orang musyrik dan menolak perkataan mereka. Ini terjadi pada umrah al-qadhiyyah kemudian menjadi amalan sunnah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya pada waktu haji wada’ meski tidak ada sebabnya dan Islamnya orang yang berada di Mekah. Akan tetapi mereka tidaklah berlari-lari di antara dua rukun karena orang-orang musyrik berada di sisi batu, maka mereka tidak melihat orang yang berada di antara dua rukun.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa, diperbolehkannya memancing kemarahan musuh dengan melakukan ibadah, hal ini tidak menafikan keikhlasan amal, bahkan merupakan tambahan ketaatan kepada ketaatan yang lain. Allah Ta’ala berfirman,

{وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ}

“Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh.” (QS. At-Taubah: 120)

0691

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «لَمْ أَرَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْتَلِمُ مِنْ الْبَيْتِ غَيْرَ الرُّكْنَيْنِ الْيَمَانِيَّيْنِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

691. Dan darinya, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyentuh bagian Ka’bah kecuali dua rukun yamani.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1269), dan perkataan, “min al-bait” tidak terdapat dalam Ash-Shahih.]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (Ibnu Abbas), ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyentuh bagian ka’bah kecuali dua rukun yamani.” (ketahuilah, sesungguhnya Ka’bah itu mempunyai empat rukun: rukun aswad, rukun yamani [yamaniyan], dan dua rukun terakhir yang disebut dengan syamiyan)

Pada rukun aswad ada dua fadhilah, yang terletak di qawaid Ibrahim Alaihissalam dan yang kedua di hajar. Adapun Al-Yamani terdiri dari dua fadhilah, yang terletak di qawaid Ibrahim sedangkan pada Asy-Syamiyan tidak mempunyai apa-apa dari kedua fadhilah tersebut. Oleh karena itu dikhususkan bagi rukun aswad (hajar aswad) dengan disunnahkan untuk menciumnya dan menyentuh kedua fadhilahnya. Adapun Al-Yamani disentuh orang yang berthawaf, dan tidak dicium, karena di dalamnya hanya satu fadhilah.

Umat Islam sepakat atas disunnahkannya memegang dua rukun Al-Yamani. Menurut jumhur ulama orang yang melakukan thawaf tidak memegang dua rukun yang lain. Al-Qadhi berkata, “Tentang masalah menyentuh dua rukun terjadi perbedaan pendapat di antara shahabat dan tabi’in, lalu dikompromikan bahwa keduanya tidak disentuh dan hal ini ditunjukkan oleh hadits tentang hal ini.

0692

«وَعَنْ عُمَرَ أَنَّهُ قَبَّلَ الْحَجَرَ وَقَالَ: إنِّي أَعْلَمُ إنَّك حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُقَبِّلُك مَا قَبَّلْتُك» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

692. Dari Umar, bahwa ia mencium hajar aswad dan berkata, “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1597), Muslim (1270).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Umar, bahwa ia mencium hajar aswad dan berkata, “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak mernberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.” Muttafaq Alaih (dan dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Suwaid bin Ghaflah ia berkata, “Saya melihat Umar mencium hajar aswad dan memegangnya dan ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan seperti ini terhadapmu [mencium dan memegangnya].” [shahih, Muslim (1271).]

Dan Al-Bukhari mengeluarkan hadits, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang masalah menyentuh hajar aswad, maka ia berkata, “Aku melihat Rasulullah menyentuh dan menciumnya.” Ia berkata, “Bagaimana jika aku kalah [salah]? Maka ia berkata, “Biarkan, tidakkah kamu tahu tentang sumpah aku melihat Rasulullah memegang dan menciumnya.” [shahih, Al-Bukhari (1611).]

Dan Al-Azraqi meriwayatkan dari hadits Umar dengan tambahan, “Bahwa Ali Radhiyallahu Anhu telah berkata kepadanya, “Tentu, wahai Amirul Mukminin, ia dapat mendatangkan bahaya dan manfaat.” Ia berkata, “Di mana kamu tahu tentang hal ini?” Ia berkata, “Di dalam kitab Allah.” Ia berkata, “Tepatnya di mana?” Ia menjawab, “Dalam firman Allah, “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (QS. Al-A’raf: 172) Ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia memegang punggungnya lalu mengeluarkan anak keturunannya dari tulang rusuknya, lalu menetapkan kepada mereka bahwa Dia adalah Tuhan mereka, dan meraka adalah hamba, lalu Allah menuliskan perjanjian di dalam kertas putih. Oleh karena itu, batu ini memiliki dua mata dan lisan lalu dikatakan kepadanya, “Bukalah mulutmu,” lalu ia menelan kertas putih tersebut dan menjadikannya di tempat ini, dan Allah berfirman, “Persaksikanlah orang yang menemuimu dengan iman pada hari kiamat.” Perawi berkata, “Maka Umar berkata, “Aku berlindung kepada Allah jika harus hidup dalam suatu komunitas kaum di mana kamu tidak ada di dalamnya, wahai Abu Al-Hasan.” [dhaif, Lihat An-Nasb Ar-Rayah (3/38).]

Ath-Thabari berkata, “Umar mengatakan hal itu karena manusia saat itu sudah terbiasa dengan menyembah berhala, maka Umar takut bahwa mencium hajar aswad ini dianggap sebagai salah satu bentuk pengagungan kepada batu seperti orang Arab di masa jahiliyah, dan Umar ingin mengajarkan kepada manusia bahwa ia memegang hajar aswad karena semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah, bukan karena batu itu dapat mendatangkan bahaya atau manfaat dengan sendirinya sebagaimana yang diyakini oleh Arab jahiliyah terhadap berhala-berhala yang mereka sembah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *