[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 213

06. KITAB HAJI – 06.04. BAB IHRAM 05

0679

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

679. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam ketika beliau sedang berihram. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5701), Muslim (1202).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam ketika beliau sedang berihram (hal ini terjadi pada waktu haji wada’ di suatu tempat antara Mekah dan Madinah yang dikenal dengan ‘Luha Jamal’)

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bolehnya berbekam bagi orang yang sedang melakukan ihram. Menurut ijma ulama, boleh melakukan bekam di bagian kepala ataupun bagian yang lainnya jika memang diperlukan. Jika ada rambut yang terpotong, maka wajib membayar fidyah, namun jika tidak ada yang terpotong maka tidak wajib membayar fidyah. Akan tetapi, jika melakukan bekam bukan karena adanya udzur -melakukan bekam saat itu sangat diperlukan- di bagian kepala, lalu ada beberapa helai rambut yang terpotong maka hukumnya haram, hal ini didasarkan pada haramnya memotong rambut. Namun, jika pada bagian lain yang tidak tumbuh rambut, maka hukumnya boleh menurut jumhur ulama tanpa harus membayar fidyah meskipun ada sebagian ulama yang menghukumi makruh. Dan ada juga yang mewajibkan untuk membayar fidyah.

Hadits ini menunjukkan kepada kaedah syar’i bahwa hal-hal yang diharamkan dalam ihram seperti mencukur rambut, berburu dan sebagainya diperbolehkan bagi orang yang melakukan ibadah haji dengan membayar fidyah. Begitu juga bagi yang perlu untuk mencukur rambut atau memakai pakaian karena hawa panas atau dingin, maka hal itu diperbolehkan baginya dengan syarat membayar fidyah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ}

“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur).” (QS. Al-Baqarah: 196)

Adapun mengenahi ukuran fidyah akan dijelaskan pada hadits berikut:

0680

«وَعَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: حُمِلْت إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالْقَمْلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجْهِي، فَقَالَ: مَا كُنْت أُرَى الْوَجَعَ بَلَغَ بِك مَا أَرَى، أَتَجِدُ شَاةً؟ قُلْت: لَا. قَالَ: فَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ، لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفُ صَاعٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

680. Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku dihadapkan kepada Rasulullah dan kutu-kutu bertaburan di mukaku. Lalu beliau bersabda, “Aku tidak mengira penyakitmu separah seperti yang aku lihat, apakah engkau mampu (berkorban) seekor kambing? Aku menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Puasalah tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin masing-masing setengah sha’.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1814), Muslim (1201).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ka’ab adalah seorang shahabat yang agung. Ia adalah salah seorang pendukung setia shahabat Anshar. Tinggal di Kufah dan meninggal di Madinah pada tahun 51 Hijriyah.

Penjelasan Kalimat

“Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku dihadapkan kepada Rasulullah dan kutu-kutu bertaburan di mukaku. Lalu beliau bersabda, “Aku tidak mengira (sangka) penyakitmu separah seperti yang aku lihat, apakah engkau mampu (berkorban) seekor kambing? Aku menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Puasalah tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin masing-masing setengah sha’.”

Tafsir Hadits

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, bahwa Rasulullah melewatiku di Hudaibiyah dan di kepalaku bertaburan kutu-kutu maka beliau bersabda, “Apakah serangga [yang ada di kepalamu itu menyakitkanmu?” Saya jawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Cukurlah rambutmu ” (Al-hadits). Dan di dalam hadits tersebut disebutkan, beliau bersabda, “Turun kepadaku ayat ini, “Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur).” (QS. Al-Baqarah: 196)

Hadits ini diriwayatkan dengan beberapa lafazh yang berbeda, dan secara zhahir menunjukkan bahwa wajib mendahulukan kurban atas dua hal yang akhir [puasa dan memberi makan orang miskin] jika mampu. Zhahir ayat dan juga semua riwayat hadits menunjukkan bahwa ia (Ka’ab) diberikan pilihan dengan tiga hal. Oleh karena itu, Bukhari mengatakan pada awal bab Al-Kaffarat, “Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam memberikan pilihan kepada Ka’ab untuk memilih fidyah.”

Dan Abu Dawud meriwayatkan dari jalur Asy-Sya’bi, dari Ibnu Abi Laila,

«عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: إنْ شِئْت فَانْسُكْ نَسِيكَةً وَإِنْ شِئْت فَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَإِنْ شِئْت فَأَطْعِمْ»

dari Ka’ab bin Ujrah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Sallam bersabda, “Jika kamu mau, hendaklah kamu melaksanakan kurban atau kamu berpuasa tiga hari, atau memberi makan kepada fakir miskin. [Shahih: Abi Dawud (1857).]

Hadits ini menunjukkan adanya pilihan, sebagaimana ijma’ ulama.

Dan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “setengah sha’ dijadikan dalil oleh jumhur ulama dengan mengambil zhahir hadits kecuali apa yang diriwayatkan dari Abu Hanifah dan Ats-Tsauri bahwa setengah sha’ dari gandum atau satu sha’ dari yang lainnya.

0681

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «لَمَّا فَتَحَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى رَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَكَّةَ، قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي النَّاسِ. فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: إنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، إنَّهَا لَمْ تَحِلَّ؛ لِأَحَدٍ كَانَ قَبْلِي، وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَأَنَّهَا لَنْ تَحِلَّ؛ لِأَحَدٍ بَعْدِي، فَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا، وَلَا يُخْتَلَى شَوْكُهَا، وَلَا تَحِلُّ سَاقِطَتُهَا إلَّا لِمُنْشِدٍ، وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ فَقَالَ الْعَبَّاسُ: إلَّا الْإِذْخِرَ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّا نَجْعَلُهُ فِي قُبُورِنَا وَبُيُوتِنَا، فَقَالَ: إلَّا الْإِذْخِرَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

681. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika Allah menundukkan kota Mekah untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Mekah dari pasukan gajah dan menguasakannya kepada rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorangpun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya, dan barangsiapa yang terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua pilihan (denda atau qishas).” Lalu Abbas berkata, “Kecuali tumbuhan idzkhir, wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda, “Kecuali tumbuhan idzkhir.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2434), Muslim (1355).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika Allah menundukkan kota Mekah (Penaklukan kota Mekah) untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berdiri di tengah orang-orang (yakni berkhutbah pada hari kedua dari Penaklukan Mekah tersebut), lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Mekah dari pasukan gajah (sebagai pemberitahuan kepada mereka atas nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, kisah ini sudah makruf dan disebutkan di dalam Al-Qur’an) dan menguasakannya kepada rasul-Nya dan orang-orang yang beriman (mereka menaklukkannya dengan cara paksa). Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang (yakni waktu masuk ke dalamnya saja), dan tidak dihalalkan bagi seorangpun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar (tidak boleh dilakukan oleh siapapun), duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya, dan barangsiapa yang terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua pilihan (denda atau qishas).” Lalu Abbas berkata, “Kecuali tumbuhan idzkhir, wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda, “Kecuali tumbuhan idzkhir.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa penaklukan kota Mekah dilakukan dengan cara paksa, berdasarkan sabda Rasulullah, “tidak halal”, dan inilah pendapat jumhur ulama. Menurut Asy-Syafi’i bahwa penaklukan itu dilakukan dengan perdamaian berdasarkan riwayat, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membagikan ghanimah sebagaimana yang dilakukan pada perang Khaibar. Hal ini dijawab, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikannya kepada penduduk Mekah dan menjadikannya sebagai pemberian untuk menjaga mereka dari peperangan, para wanita dari tawanan, anak keturunan dan pengambilan harta lebih diprioritaskan atas keluarga dan kerabatnya.

Dan hadits ini juga menunjukkan, bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang pun melakukan peperangan di Mekah setelah masa Rasulullah. Al-Mawardi berkata, “Di antara kekhususan tanah haram, bahwa tidak akan diperangi penduduknya meskipun mereka melakukan kezhaliman kepada penduduk yang benar. Tapi ada sebagian kelompok yang berpendapat diperbolehkannya memerangi penduduk tanah haram, namun dalam hal ini diperselisihkan. Dan pengharaman peperangan adalah sesuai dengan zhahir hadits.

Al-Qurthubi berkata, “Zhahir hadits menunjukkan pengkhususan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan peperangan karena adanya udzur yang membolehkan beliau melakukannya, padahal penduduk Mekah pada saat itu berhak untuk melakukan perang sebagai pembelaan mereka terhadap Masjidil Haram dan keluarnya orang-orang kafir dan kekafiran mereka dari tanah haram, hal ini juga dikatakan oleh kelompok yang lain. Ibnu Daqiq Al-Id berkata, “Kuat sekali pendapat yang mengatakan keharaman hal ini, karena hadits menunjukan bahwa izin itu diberikan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak diizinkan kepada yang lainnya, sebagaimana dikuatkan dalam sabdanya,

«فَإِنْ تَرَخَّصَ أَحَدٌ لِقِتَالِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقُولُوا: إنَّ اللَّهَ أَذِنَ لِرَسُولِهِ وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُمْ»

“Jika ada seseorang yang ingin memusuhi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka katakanlah kepadanya, “Sesungguhnya Allah mengizinkan kepada Rasul-Nya dan tidak mengizinkan kepada kalian.” [shahih, Al-Bukhari (104), Muslim (1354).]

Hadits ini menunjukkan bahwa kebolehan perang di dalam hadits ini merupakan kekhususan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa larangan mengejar burung menunjukkan bahwa lebih diharamkan membunuhnya, dan pengharaman memotong duri pohon yang tumbuh di dalamnya, menunjukkan bahwa pengharaman memotong apa yang tidak menyakitkan itu lebih utama.

Dan yang aneh, bahwa Asy-Syafi’i berpendapat bolehnya memotong duri dari cabang pohon sebagaimana yang dinukil oleh Abu Tsaur, dan juga dibolehkan oleh ulama lainnya seperti Al-Hadawiyah, mereka beralasan bahwa hal itu menyakitkan sehingga menyerupai fawasiq (sesuatu yang jahat dan membahayakan). Saya katakan, “Ini merupakan sikap mendahulukan qiyas dari pada nash, maka hukumnya batil. Dan kamu mengetahui, sesungguhnya tidaklah merupakan dalil yang sah (sempurna) bahwa illat membunuh fawasiq adalah membunuh sesuatu yang menyakitkan.”

Para ulama bersepakat atas pengharaman memotong pohon-pohon yang tidak ditanam oleh umat manusia pada umumnya, dan juga pengharaman memotong rumputnya yakni rumput yang masih basah, dan mereka berbeda pendapat jika tanaman itu adalah pepohonan yang ditaman oleh manusia. Al-Qurthubi berkata, “Menurut jumhur diperbolehkan.”

Hadits ini juga menunjukkan, bahwa tidak boleh mengambil barang hilang (temuan) kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya selamanya atau tidak bermaksud untuk memilikinya. Hal ini sifatnya khusus barang temuan yang ada di Mekah. Adapun jika barang temuan di luar Mekah boleh menjadikan hak miliknya setelah mengumumkannya selama satu tahun, dan akan dibahas adanya perselisihan masalah ini dalam bab luqathah.

Dan sabdanya, “Dan barangsiapa yang terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishas)” menunjukkan bahwa pilihan diberikan kepada wali, perbedaan pendapat tentang hal ini terdapat dalam kitab Al-Jinayah.

Dan ucapan, “Sesungguhnya kami menggunakannya di kuburan.” Yakni, kami menyisipkannya di sela-sela kayu yang digunakan pada tiang lahat. Dan kami juga menggunakannya di dalam rumah-rumah kami, yakni menyisipkannya di antara kayu-kayu pada atap rumah. Perkataan Al-Abbas mengandung kemungkinan, bahwa itu merupakan syafaat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya. Atau, ini merupakan ijtihad darinya atas apa yang ia ketahui, bahwa sesuatu yang umum itu dikalahkan oleh sesuatu yang khusus. Seakan-akan ia mengatakan, “Inilah sesuatu yang dibutuhkan.” Sesungguhnya karakteristik syariat Islam adalah menolak adanya kesukaran [kesulitan], maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun menetapkan perkataannya, dan mengecualikannya, entah dengan wahyu atau dari ijtihad Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *