[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 212

06. KITAB HAJI – 06.04. BAB IHRAM 04

0677

وَعَنْ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ اللَّيْثِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -. أَنَّهُ «أَهْدَى لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حِمَارًا وَحْشِيًّا. وَهُوَ بِالْأَبْوَاءِ، أَوْ بِوَدَّانَ فَرَدَّهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: إنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْك إلَّا أَنَّا حُرُمٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

677. Dari Ash-Sha’b bin Jatstsamah Al-Laitsi, bahwasanya ia menghadiahkan keledai liar sejenis zebra- kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat beliau berada di Al-Abwa’ atau di Waddan, lalu beliau menolaknya seraya berkata, “Sesungguhnya kami tidak menolaknya darimu, melainkan karena kami sedang berihram.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1825), dan Muslim (1193).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari As-Sha’b bin Jatstsamah Al-Laitsi bahwasanya ia menghadiahkan keledai liar sejenis zebra- (dalam riwayat yang lain disebutkan, “Keledai liar yang masih menetes darahnya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Daging keledai liar.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Daging pinggul keledai liar.” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Tungkai keledai liar.” Semua ini terdapat dalam riwayat Muslim) kepada Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, saat beliau berada di Al-Abwaa atau di Waddaan, lalu beliau menolaknya seraya berkata, “Sesungguhnya kami tidak menolaknya darmu, melainkan karena kami sedang berihram.”

Tafsir Hadits

Mereka berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa daging buruan tidak halal bagi orang yang sedang berihram secara mutlak, karena di dalam hadits ini, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menolaknya, beliau beralasan bahwa beliau sedang berihram, dan beliau tidak bertanya apakah orang tersebut berburu khusus untuk diri beliau atau tidak, sehingga cara ini bisa mengkompromikan hadits ini dengan hadits Abu Qatadah di atas, dan telah diketahui bahwa mengkompromikan hadits-hadits yang ada lebih baik daripada mengabaikan sebagian darinya. Ditambahkan lagi, bahwa hadits Abu Qatadah telah diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad baik -jayyid-,

«إنَّمَا صِدْته لَهُ وَأَنَّهُ أَمَرَ أَصْحَابَهُ يَأْكُلُونَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ حِينَ أَخْبَرْته أَنِّي اصْطَدْته لَهُ»

“Sesungguhnya aku memburunya untuk kamu,” dan bahwasanya saat itu beliau menyuruh para sahabat untuk memakannya dan beliau tidak ikut memakannya saat aku beritahu bahwa aku memburu hewan tersebut untuknya. [Shahih: Ibnu Majah (3150).]

Abu Bakar An-Nisaburi berkata, “Ungkapan, “Saya memburunya untuk kamu.” Dan bahwasanya beliau tidak memakannya.” Saya tidak mendapati seorang pun mengatakannya di dalam hadits ini kecuali Ma’mar.” menurut saya, Ma’mar adalah orang yang tsiqah, jika meriwayatkan sendirian tidak bermasalah, kemudian tambahan lafazh di atas didukung hadits Jabir di atas.

Hadits ini menganjurkan agar hadiah diterima, dan seyogyanya seseorang yang menolak hadiah menjelaskan alasannya. Dan ketahuilah bahwa ada perbedaan lafazh dalam riwayat-riwayat yang ada, sehingga Asy-Syafi’i berkata, “Seandainya pada kejadian sebenarnya Ash-Sha’b menghadiahkan keledai dalam keadaan hidup maka seseorang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menyembelih keledai liar tersebut, dan seandainya ia menghadiahkannya dalam bentuk daging, maka bisa jadi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengetahui bahwa orang tersebut sengaja berburu untuknya.” Sedangkan riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakan sebagian darinya, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi maka hadits ini telah didhaifkan oleh Ibnu Al-Qayyim, lalu ia lebih memilih bahwa riwayat yang kuat, yaitu riwayat yang menyebutkan, “Daging keledai.” Ia berargumen bahwa riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat yang menyebutkan, “Keledai.” Karena kadang-kadang bagian dari sesuatu disebutkan secara mutlak, yang mana hal tersebut sering terjadi dalam ilmu bahasa. Di samping itu, kebanyakan riwayat menyebutkan bahwa yang dihadiahkan adalah sebagian dari keledai. Dan sebenarnya yang diperselisihkan ialah bagian manakan yang dihadiahkan, dan hal itu tidak saling mematahkan, karena bisa jadi bagian yang dihadiahkan ialah sisi bagian pinggul yang terdapat padanya tungkai keledai.

0678

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «خَمْسٌ مِنْ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلّ وَالْحَرَمِ: الْعَقْرَبُ وَالْحِدَأَةُ وَالْغُرَابُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

678. Dari Aisyah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada lima hewan yang semuanya merugikan dan berbahaya (fawasiq), mereka itu dibunuh di tanah haram, yaitu burung gagak, rajawali, kalajengking, tikus dan anjing liar.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1829), dan Muslim (1198).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Di dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan tambahan, “Ular.” Sehingga menjadi enam. Kemudian Abu Uwanah telah meriwayatkan dengan lafazh, “enam.” Kemudian beliau menyebutkan kelima hewan di atas bersama ular, kemudian disebutkan di dalam riwayat Abu Dawud tambahan, “Hewan buas yang menyerang.” Sehingga jumlahnya menjadi tujuh, di dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Al-Mundzir disebutkan tambahan, “Serigala dan harimau.” Sehingga menjadi sembilan, hanya saja diriwayatkan dari Adz-Dzahali bahwasannya mereka berdua menyebutkannya sebagai penjelasan dari lafazh, “Anjing liar.” Dan ungkapan yang menyebutkan serigala diriwayatkan di dalam hadits mursal yang perawi-perawinya tsiqah. Kemudian Ahmad meriwayatkan secara marfu’ adanya perintah untuk membunuh serigala bagi orang yang sedang berihram, namun di dalam sanadnya terdapat perawi dhaif, sehingga semua riwayat ini menunjukkan bahwa angka lima di atas tidak menjadi batasan.

Kata-kata “Dawaab” di atas meliputi juga burung, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala,

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا}

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

{وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا}

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 60)

Ada juga yang mengatakan, bahwa burung keluar dari istilah “Dawaab ” berdasarkan firman Allah berikut,

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ}

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya.” (QS. Al-An’am: 38)

Namun, sebenarnya tidak ada sisi yang menguatkan pendapat di atas, karena penjelasan ayat di atas bisa jadi merupakan bentuk susunan penyertaan sesuatu yang khusus -burung- kepada sesuatu yang lebih umum darinya -dawaab-. Demikianlah, yang kemudian di dalam istilah bahasa kata-kata “dawaab” dipersempit khusus untuk hewan-hewan yang berkaki empat saja.

Kemudian hewan-hewan tersebut disebut hewan fasiq, karena kata-kata fasiq berarti keluar, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala,

{فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ}

“Maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 50)

kemudian orang yang berbuat maksiat disebut fasiq karena ia keluar dari ketaatan kepada Tuhannya. Dan hewan-hewan di atas disebut demikian karena mereka keluar dari hukum asli kebanyakan hewan yang pada dasarnya hukumnya haram untuk dibunuh. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka keluar dari hukum asli hewan, yaitu pada dasarnya mereka halal untuk dimakan, berdasarkan firman Allah,

{أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ}

“Karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al-An’am: 145)

yang mana hewan yang tidak boleh dimakan disebut ‘fisq’, sebagaimana firman Allah,

{وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ}

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka itu keluar dari hukum asli kebanyakan hewan, yang mereka itu mengganggu, menimbulkan kerusakan dan tidak bermanfaat. Demikian inilah alasan-alasan yang karenanya kelima hewan tersebut halal untuk dibunuh.

Yang selanjutnya ketiga alasan ini berbuah perbedaan pendapat maka mereka yang menyampaikan alasan pertama mengatakan bahwa semua hewan yang boleh dibunuh oleh orang yang tidak berihram di daerah halal -selain wilayah haram- maka hukumnya seperti kelima hewan di atas. Kemudian mereka yang mengatakan alasan kedua berpendapat bahwa semua hewan yang tidak boleh dimakan hukumnya seperti kelima hewan tersebut kecuali hewan-hewan yang jelas ada nash yang melarang membunuhnya, pendapat ini ada sisi kesamaannya dengan pendapat pertama. Kemudian mereka yang mengatakan alasan ketiga mengatakan bahwa hewan yang hukumnya seperti kelima hewan di atas ialah khusus hewan yang menimbulkan kerusakan. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Hajar di dalam Fath Al-Bari.

Namun, menurut saya semua alasan yang disampaikan di atas tidak memiliki kekuatan dalil sama sekali, sehingga tidak ada alasan untuk memasukkan hewan lain ke dalam golongan yang telah disebutkan di atas, inilah yang lebih baik. Demikian pula pendapat Al-Hanafiyah, hanya saja mereka memasukkan ular ke dalam golongan di atas karena adanya hadits yang menjelaskannya, juga serigala karena ia memiliki kesamaan dengan anjing, dan ia lebih cenderung termasuk ke dalam golongan di atas karena serigala lebih sering menyerang dan menyakiti dari pada hewan lain.

Ibnu Daqiq Al-‘Iid berkata, “Mengenakan hukum ‘menyerang’ kepada setiap yang biasa menyerang dengan ganas. Ditambahkan lagi adanya penjelasan dari ahli qiyas -analogi-, sesungguhnya pemahaman ini nampak jelas dari sisi isyarat yang termuat dengan kata-kata -fisq- yang berarti keluar dari batas.”

Namun, menurut saya bahwa telah dijelaskan di atas makna fisq yang bisa dipahami dalam tiga makna, sehingga tidak mungkin menentukan salah satu makna kemudian membangun hukum atas satu hal tersebut, sehingga perkataan hukum di atas -pendapat Ibnu Daqiq-, tidak kuat.

Kemudian, jika hewan-hewan di atas boleh dibunuh oleh seseorang yang sedang berihram, maka tentunya lebih boleh lagi jika hewan-hewan tersebut dibunuh oleh seseorang yang tidak sedang berihram. Hal ini telah dijelaskan di dalam satu riwayat,

يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ

“Hewan-hewan itu dibunuh dalam kondisi halal -tidak berihram- atau haram -sedang berihram-.” [shahih, Muslim (1198).]

Dalam lafazh yang lain,

«لَيْسَ عَلَى الْمُحْرِمِ فِي قَتْلِهِنَّ جُنَاحٌ»

“Tidak ada dosa bagi orang yang berihram untuk membunuh hewan-hewan itu.” [ shahih, Al-Bukhari (1826), dan Muslim (1199).]

Hadits ini menunjukkan bolehnya membunuh hewan-hewan tersebut ketika ihram, terlebih lag! pada waktu di luar ihram.

Sabdanya, “Hewan-hewan itu dibunuh” merupakan keterangan tentang bolehnya membunuh mereka. Selain itu, hadits ini juga disebutkan dengan lafazh amr (perintah) dan kata yang menunjukkan tidak ada dosa bagi pembunuhnya.

Dalam riwayat ini lafazh al-ghurab (burung gagak) disebutkan dalam bentuk mutlak [umum], tetapi dalam riwayat Muslim dari hadits Aisyah kata al-ghurab ditaqyid [dibatasi] dengan kata al-abqa’, yaitu burung gagak yang pada punggung atau perutnya ada warna putih. Sehingga, sebagian ahli hadits berpendapat adanya taqyid muthlaq dengan kata ini {al-abqa’), dan itu masuk dalam kaidah ‘hamlu al-muthlaq ‘Ala al-Muqayyad”.

Anggapan bahwa dalam penambahan ini adalah cacat karena adanya syudzudz (kejanggalan) dan tadlis (kesamaran) perawinya adalah tertolak, karena sang perawi mendengar langsung dengan jelas, maka tidak ada tadlis (kesamaran), dan adanya tambahan tersebut berasal dari perawi yang adil, terpercaya, orang yang hafal dan tidak ada kejanggalan.

Penulis berkata, “Para ulama telah bersepakat dikecualikannya (dari hukum tersebut-pent) gagak kecil yang masih makan biji-bijian”, yang dinamakan dengan gagak sawah. Dan mereka berpendapat tentang bolehnya memakan gagak sawah tersebut, kecuali jenis gagak al-abqa’ (gagak yang pada punggung atau perutnya ada warna putih).

Yang dimaksud dengan al-kalbu (anjing) adalah binatang yang kita kenal pada umumnya, dan adanya taqyid kata al-kalbu dengan kata al-aqur (liar) menunjukkan bahwa selain anjing jenis tersebut -anjing liar-dilarang untuk dibunuh.

Dinukil dari Abu Hurairah bahwa tafsir dari kata al-aqur adalah singa. Menurut Zaid bin Aslam yang dimaksud dengan al-aqur adalah ular. Sedangkan menurut Sufyan yang dimaksud dengan al-aqur adalah serigala.

Malik Rahimahullah berkata, “Setiap hewan yang liar kepada manusia, menakutkan dan membahayakan mereka seperti singa, macan, serigala maka disebut al-kalbu al-aqur.

Diriwayatkan dari Sufyan -dan merupakan perkataan jumhur ulama-, ia berdalil dengan sabda Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«اللَّهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبًا مِنْ كِلَابِك، فَقَتَلَهُ الْأَسَدُ»

“Ya Allah, kuasakanlah mereka atas seekor anjing dari anjing-anjingmu”, maka singa pun membunuhnya. Hadits ini hasan, dikeluarkan oleh Al-Hakim. [Al-Baihaqi (5/211).]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *