[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 211

06. KITAB HAJI – 6.04. BAB IHRAM 03

0674

وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «كُنْت أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ، وَلِحِلِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوفَ بِالْبَيْتِ» . مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ

674. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Saya dahulu memberi wangi-wangian kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berihram sebelum beliau berihram, dan saat ia keluar dari ihram sebelum beliau berthawaf di ka’bah.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1539), dan Muslim (1189).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya memakai wangi-wangian ketika hendak berihram, walaupun pengaruhnya akan tetap ada setelah orang tersebut memasuki ibadah ihramnya, dan sisa yang berupa bau dan warna tidak dipermasalahkan. Yang diharamkan ialah memakainya saat sedang dalam ibadah ihram, dan inilah pendapal jumhur umat Islam dari kalangan sahabat dan tabi’in.

Namun, ada beberapa kelompok yang berpendapat sebaliknya, dan berusaha untuk menjelaskan hadits di atas sesuai dengan pemahaman mereka yang sebenarnya hal itu tidak menambah kuat klaim mereka. Mereka mengatakan bahwa saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mandi setelah menggunakan wangi-wangian sehingga baunya hilang. Di dalam Syarah Muslim setelah menyebutkan masalah di atas, An-Nawawi mengatakan, “Yang benar ialah apa yang dikatakan oleh jumhur ulama, bahwasanya memakai wangi-wangian sebelum berihram hukumnya sunnah, karena disebutkan di dalam hadits di atas, “… untuk berihram…”.

Ada juga di antara mereka yang mengatakan bahwa hal tersebut khusus untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, hanya saja klaim ini tidak akan menjadi kuat jika tidak didukung oleh dalil, dan kenyataannya dalil yang ada menetapkan sebaliknya, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha,

«كُنَّا نَنْضَحُ وُجُوهَنَا بِالْمِسْكِ الْمُطَيَّبِ قَبْلَ أَنْ نُحْرِمَ فَنَعْرَقَ وَيَسِيلُ عَلَى وُجُوهِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَلَا يَنْهَانَا»

“Dahulu kami menyiram muka kami dengan minyak wangi misik, sebelum kami melaksanakan ihram, lalu kami berkeringat sehingga ia mengalir pada muka kami sedangkan saat itu kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak melarang kami.” (HR. Abu Dawud). [Shahih: Abi Dawud (1830).]

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dengan lafazh

«كُنَّا نَخْرُجُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَى مَكَّةَ فَنَنْضَحُ جِبَاهَنَا بِالْمِسْكِ الْمُطَيَّبِ عِنْدَ الْإِحْرَامِ فَإِذَا عَرِقَتْ إحْدَانَا سَالَ عَلَى وَجْهِهَا فَيَرَاهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَلَا يَنْهَانَا»,

“Saat itu kami sedang keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuju Mekah, lalu kami melumuri dahi kami dengan minyak wangi misik saat berihram, dan ketika salah seorang dari kami berkeringat mengalirlah di atas mukanya, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahuinya namun beliau tidak melarangnya.”

Kemudian tidak mungkin dikatakan bahwa izin ini khusus untuk para wanita, karena masalah minyak wangi, baik bagi perempuan maupun laki-laki sama, berdasarkan ijma’ ulama. Dengan begitu, jelas bahwa minyak wangi hukumnya haram setelah seseorang memasuki ibadah ihram dan tidak haram sebelumnya. Jika pengaruhnya tersisa hingga seseorang memasuki ibadah ihram maka hukumnya seperti nikah, seseorang dilarang untuk melaksanakan akad nikah saat menunaikan ibadah ihram, namun seseorang yang telah menikah sebelumnya, maka pernikahan tersebut tidak akan menjadi masalah dalam ihramnya. Demikian pula halnya dengan minyak wangi, karena ia merupakan sebagian dari kebersihan yang mana dimaksudkan dengannya agar menghilangkan bau-bau tidak sedap, sebagaimana tujuan dari membersihkan diri dengan menghilangkan segala kotoran yang terkumpul di rambut dan kuku. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengurangi rambut dan memotong kuku sebelum memasuki ibadah ihram -karena hal tersebut dilarang ketika seseorang telah memasuki ibadah ihram-, walaupun pengaruh kedua perbuatan tersebut terus berlanjut hingga seseorang memasuki ihramnya.

Sedangkan hadits Muslim yang menceritakan tentang:

«الرَّجُلِ الَّذِي جَاءَ يَسْأَلُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَيْفَ يَصْنَعُ فِي عُمْرَتِهِ وَكَانَ الرَّجُلُ قَدْ أَحْرَمَ وَهُوَ مُتَضَمِّخٌ بِالطِّيبِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِي رَجُلٍ أَحْرَمَ بِعُمْرَةٍ فِي جُبَّةٍ بَعْدَهَا تَضَمَّخَ بِالطِّيبِ؟ فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:. أَمَّا الطِّيبُ الَّذِي بِك فَاغْسِلْهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ»

seseorang yang mendatangi Rasulullah dan bertanya tentang tata cara ihram, sedangkan orang tersebut telah memulai ihramnya dengan berlumuran minyak wangi, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang berihram untuk menunaikan umrah, dengan menggunakan jubah setelah menggunakan minyak wangi?” Maka Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya minyak wangi yang ada pada dirimu, maka cucilah tiga kali.” [shahih, Muslim (1180).]

Maka jawaban atas hal ini, bahwa perbincangan tersebut terjadi di Ju’ranah pada bulan Dzul Qa’dah, tahun kedelapan Hijriyah, padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan ibadah haji pada tahun kesepuluh Hijriyah, dan saat itu beliau membiarkan penggunaan minyak wangi. Dan dalam masalah seperti ini, yang diambil sebagai dasar hukum ialah yang lebih akhir karena ia merupakan nasakh -pengganti untuk yang terdahulu-.

Kemudian ungkapan beliau, “…dan saat ia keluar dari ihram sebelum beliau berthawaf di ka’bah.” Maksudnya, saat beliau bertahallul total [sempurna], yang dengannya menjadi halal baginya segala yang haram ketika sedang berihram. Yang dimaksud thawaf ialah thawaf tambahan. Dan terkadang beliau bertahallul setelah melempar jumrah, yang dengannya segala sesuatu menjadi halal kecuali berkumpul -berjima’- dengan wanita. Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa saat itu beliau telah mencukur rambutnya, telah melempar jumrah, dan tinggal melaksanakan thawaf.

0675

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ، وَلَا يُنْكِحُ، وَلَا يَخْطُبُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

675. Dari Utsman, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikah, dinikahkan atau meminang.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1409).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Utsman, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikah (dilakukannya untuk dirinya sendiri) atau menikahkan (menikahkan orang lain) atau meminang (baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain).”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas haramnya akad nikah yang dilaksanakan oleh orang yang sedang berihram, baik ia lakukan untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, begitu pula pinangannya.

Sedangkan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahi Maimunah binti Al-Harits pada saat beliau sedang melaksanakan ihram berdasarkan riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma adalah riwayat yang tertolak karena adanya riwayat dari Abu Rafi’, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahinya saat beliau dalam kondisi halal -diluar ibadah ihram-.”

Hadits ini lebih rajih -kuat-, karena dialah (Abi Rafi’) yang menjadi perantara antara Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Maimunah. Di samping itu, riwayat ini adalah riwayat yang lebih banyak diriwayatkan oleh para sahabat. Al-Qadhi Iyadh Rahimahullahu berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan bahwasanya Nabi menikahinya dalam keadaan berihram kecuali Ibnu Abbas, hingga Said bin Al-Musayyab berkata, “Ibnu Abbas keliru walaupun sebenarnya ia adalah pamannya, Rasulullah tidak menikahinya kecuali setelah beliau selesai dari ihramnya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Ketiga larangan di atas menunjukkan kepada hukum haram, namun ada yang mengatakan bahwa larangan meminang di sini hukumnya makruh saja berdasarkan ijma’ ulama. Menurut saya, jika memang benar ada ijma’ tersebut, namun saya kira tidak benar adanya ijma’ atas hukum tersebut. Karena zhahir larangan tersebut mengisyaratkan kepada keharaman. Ibnu Taimiyah berkata, “Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang semuanya dalam satu larangan dan beliau tidak membedakannya, dan jelas makna larangan adalah keharaman, dan hal ini tidak bertentangan dengan apapun, baik dengan nash maupun logika.”

0676

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي قِصَّةِ صَيْدِهِ الْحِمَارَ الْوَحْشِيَّ، وَهُوَ غَيْرُ مُحْرِمٍ – قَالَ: «فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -؛ لِأَصْحَابِهِ – وَكَانُوا مُحْرِمِينَ – هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ أَمَرَهُ أَوْ أَشَارَ إلَيْهِ بِشَيْءٍ؟ قَالُوا: لَا. قَالَ: فَكُلُوا مَا بَقِيَ مِنْ لَحْمِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

676. Dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu dalam kisah perburuannya mencari keledai liar -semacam zebra-, saat ia tidak dalam keadaan berihram, ia berkata, “Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabatnya -dan saat itu mereka sedang berihram- “Apakah ada di antara kalian yang memerintahkannya atau mengisyaratkan sesuatu kepadanya?” Mereka menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau bersabda, “Maka makanlah apa yang tersisa dari dagingnya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1821) Muslim (1196).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu dalam kisah perburuannya mencari keledai liar semacam zebra-, saat ia tidak dalam keadaan berihram (pada tahun terjadinya perjanjian Hudaibiyah), ia berkata, “Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabatnya -dan saat itu mereka sedang berihram- “Apakah ada di antara kalian yang memerintahkannya atau mengisyaratkan sesuatu kepadanya?” Mereka menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau bersabda, “Maka makanlah apa yang tersisa dari dagingnya.” Muttafaq Alaih. (kemudian ada yang mempermasalahkan, bagaimana bisa terjadi bahwa Abu Qatadah tidak berihram padahal ia telah melewati miqat, maka jawaban atas pertanyaan ini ada beberapa kemungkinan, di antaranya:

1) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memerintahkannya bersama beberapa orang sahabat untuk mencari informasi tentang musuh di daerah pantai.

2) Bahwasanya ia tidak ikut berangkat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetapi ia diutus oleh penduduk Madinah.

3) Pada saat itu, miqat belum ditentukan.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa diperbolehkan bagi seseorang yang sedang berihram untuk memakan hasil buruan darat, jika yang memburunya tidak berihram dan orang tersebut tidak membantu apapun dalam membunuh hewan buruan tersebut. Dan inilah pendapat jumhur ulama, yang diperkuat oleh nash hadits di atas.

Ada juga yang berpendapat bahwa tidak dibolehkan bagi orang yang sedang berihram untuk memakannya walaupun ia tidak mempunyai andil apapun dalam perburuan tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhum, dan inilah pendapat Al-Hadawiyah, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا}

“Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.” (QS. Al-Maidah: 96)

jika yang dimaksud dengan kata-kata ‘buruan’ di dalam ayat tersebut ialah hewan buruan.

Bantahan atas pendapat ini, bahwa yang dimaksud dengan kata-kata ‘buruan’ di dalam ayat di atas ialah proses perburuan, walaupun makna kata-kata ‘buruan’ di dalam ayat tersebut bisa mencakup dua makna -yaitu proses perburuan atau hewan buruan-, namun hadits Abu Qatadah telah menjelaskan dan menentukan maksudnya, lalu hal ini diperkuat oleh hadits Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata,

«صَيْدُ الْبَرِّ لَكُمْ حَلَالٌ مَا لَمْ تَصِيدُوهُ أَوْ يُصَدْ لَكُمْ»

“Hewan buruan daratan halal bagi kalian selama kalian tidak memburunya atau selama ia tidak diburu khusus untuk kalian.” HR. Para perawi kitab As-Sunan, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. [Dhaif: At-Tirmidzi (846).]

Hanya saja sebagian perawinya mendapatkan catatan khusus sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar di dalam At-Talkhis. Dan berdasarkan pemahaman bahwa makna ‘buruan’ di dalam ayat tersebut ialah hewan buruan, maka sesungguhnya keharaman proses perburuan telah disebutkan di dalam ayat-ayat yang lain juga di dalam beberapa hadits. Kemudian penjelasannya disebutkan di dalam hadits Jabir. Hadits ini menjelaskan maksud dari masalah di atas. Di dalam hadits tersebut terdapat tambahan, sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

هَلْ مَعَكُمْ مِنْ لَحْمِهِ شَيْءٌ

“Apakah pada kalian ada sebagian dari dagingnya?”

Dalam lafazh yang lain disebutkan,

«هَلْ مَعَكُمْ مِنْهُ شَيْءٌ قَالُوا: مَعَنَا رِجْلُهُ فَأَخَذَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَكَلَهَا»

“Apakah pada kalian ada sebagian darinya?” Mereka menjawab, “Ada pada kami kakinya.” Lalu Rasulullah mengambilnya dan memakannya.”

Hanya saja Al-Bukhari dan Muslim tidak sepakat dalam meriwayatkan tambahan ini.[1]

Kemudian orang-orang yang mengharamkan memakan daging buruan secara mutlak berargumen dengan hadits berikut ini, -nomor berikut ini-.

_____________

[1] [Yang benar Al-Bukhari dan Muslim satu kata dalam meriwayatkannya, Al-Bukhari (2915) dan Muslim (1196).]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *