[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 210

06. KITAB HAJI – 06.04. BAB IHRAM 02

0672

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَجَرَّدَ لِإِهْلَالِهِ وَاغْتَسَلَ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

672. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melepaskan semua pakaiannya lalu beliau mandi [lalu memakai kain dan selendang] untuk ihram.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

[Shahih: At-Tirmidzi (830).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Al-‘Uqaili menganggapnya hadits gharib dan dhaif. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi dan At-Thabrani.

Al-Hakim dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ya’qub bin ‘Atha’ dari bapaknya dari Ibnu Abbas,

«اغْتَسَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ لَبِسَ ثِيَابَهُ فَلَمَّا أَتَى ذَا الْحُلَيْفَةِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَعَدَ عَلَى بَعِيرِهِ فَلَمَّا اسْتَوَى بِهِ عَلَى الْبَيْدَاءِ أَحْرَمَ بِالْحَجِّ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mandi, kemudian beliau memakai pakaiannya, dan ketika telah tiba di Dzul Hulaifah beliau menunaikan shalat dua rakaat, kemudian beliau duduk di atas untanya, dan ketika sampai di Al-Baida’ beliau berihram untuk haji.” [Al-Hakim (1/615), dan Al-Baihaqi (5/33).]

Namun Ya’qub bin ‘Atha bin Abi Rabah adalah perawi dhaif.

Dan dari Ibnu Umar berkata, “Termasuk perkara yang disunnahkan ialah mandi ketika hendak berihram, dan ketika hendak memasuki Mekah.” [Al-Hakim (1/615).]

Disunnahkan memakai wangi-wangian sebelum berihram, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha,

كُنْت أُطَيِّبُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِأَطْيَبِ مَا أَجِدُ

“Dahulu aku memberi wangi-wangian kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan barang [wewangian] yang paling wangi yang aku dapatkan.”

Dan di dalam riwayat lain,

«كُنْت أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِأَطْيَبِ مَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ ثُمَّ يُحْرِمُ»

“Dahulu aku memberi wangi-wangian kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sesuatu yang paling wangi, sebelum berihram lalu setelah itu beliau berihram.” (Muttafaq Alaih).

Dan akan kami bahas masalah tersebut dalam kesempatan mendatang.

0673

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَأَلَ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنْ الثِّيَابِ. قَالَ: لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ، وَلَا الْعَمَائِمَ، وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ، وَلَا الْبَرَانِسَ، وَلَا الْخِفَافِ، إلَّا أَحَدٌ لَا يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ، وَلَا تَلْبَسُوا شَيْئًا مِنْ الثِّيَابِ مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَلَا الْوَرْسُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

673. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya mengenai pakaian yang dipakai oleh seseorang yang sedang berihram, beliau menjawab, “Ia tidak boleh memakai gamis, tidak juga sorban, tidak juga celana, tidak juga baranis -pakaian yang mempunyai tutup kepala- tidak juga sepatu boot [khuf] kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal maka diperbolehkan baginya untuk memakai sepatu boot, dan hendaklah ia memotongnya hingga di bawah mata kaki, dan tidak memakai suatu pakaian yang diberi za’faran dan tidak juga diberi wars -pewarna dari tumbuhan berwarna merah-.” (Muttafaq Alaih dan lafazh hadits ini dari Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (1542) Muslim (1177).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya mengenai pakaian yang dipakai oleh seseorang yang sedang berihram, beliau menjawab, “Ia tidak boleh memakai gamis, tidak juga sorban, tidak juga celana, tidak juga baranis -pakaian yang mempunyai tutup kepala- tidak juga sepatu boot [khuf] kecuali seseorang yang tidak mendapatkan (karena tidak ada yang menjualnya, atau ada yang menjualnya tetapi ia tidak bisa membelinya karena uangnya tidak akan cukup untuk bekal menunaikan haji jika ia membelinya) sandal maka diperbolehkan baginya untuk memakai sepatu boot, dan hendaklah ia memotongnya hingga di bawah mata kaki, dan tidak memakai suatu pakaian yang diberi za’faran dan tidak juga diberi wars -pewarna dari tumbuhan berwarna merah-.”

Tafsir Hadits

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu,

«سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَخْطُبُ بِعَرَفَاتٍ مَنْ لَمْ يَجِدْ إزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ»

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah di Arafah, “Barangsiapa tidak mendapatkan kain, maka hendaklah ia memakai celana dan barangsiapa tidak mendapatkan sandal maka hendaklah ia memakai sepatu boot [khuf].” [shahih, Al-Bukhari (1841) Muslim (1178).]

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ahmad, zhahir hadits ini menasakh -menghapus- hadits Ibnu Umar di atas yang memerintahkan untuk memotong sepatu boot, karena hadits Ibnu Abbas ini disampaikan di Arafah, saat orang-orang sangat memerlukan penjelasan di atas, sedangkan hadits Ibnu Umar disampaikan di Madinah, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah di dalam Al-Muntaqa.

Para ulama telah bersepakat bahwa hukum ini hanya berkenaan dengan laki-laki dan tidak berkaitan dengan perempuan.

Ketahuilah, dari berbagai dalil di atas dapat disimpulkan bahwa diharamkan atas laki-laki yang sedang melaksanakan ihram untuk mencukur kepalanya, memakai gamis, memakai sorban, memakai baranis, memakai celana, memakai kain yang diberi wars -pewarna merah- atau za’faran, memakai sepatu boot, kecuali bagi yang tidak mendapatkan apapun selain sepatu boot, maka ia akan kesulitan -jika tidak memakai apa-apa- lalu ia memakainya, memakai wangi-wangian dan berjima’ (bersetubuh).

Yang dimaksud dengan gamis (qhamish) ialah jenis pakaian yang dibuat dengan cara diukur [sesuai dengan potongan dan mode], lalu kain itu dipotong sesuai dengan ukurannya dan dijahit. Sedangkan yang dimaksud dengan sorban ialah jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup kepala. Al-Khaththabi berkata, “Disebutkan jenis pakaian baranis dan sorban secara bersamaan untuk menunjukkan bahwa menutupi kepala dengan sesuatu yang biasa dipakai untuk menutup kepala seperti sorban, atau dengan sesuatu yang tidak biasa dipakai seperti pakaian baranis yaitu jenis pakaian yang ada tutup kepalanya dan menyatu dengan pakain itu, baik berupa jubah, rompi atau yang lainnya, tidak diperbolehkan.”

Ketahuilah, bahwa Ibnu Hajar belum menyebutkan apa saja yang diharamkan atas wanita yang sedang melaksanakan ihram. Hal-hal yang diharamkan atas wanita tersebut ialah memakai niqab (cadar). Sebagaimana diharamkan atas laki-laki memakai gamis dan sepatu boot maka diharamkan atas wanita memakai niqab maupun burqu’ (berguk, jenis cadar yang menutupi semua muka tanpa ada lubang mata untuk melihat), karena itulah yang telah disebutkan di dalam nash.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa diharamkan bagi laki-laki memakai gamis dan disepakati oleh para ulama bahwa diperbolehkan bagi laki-laki untuk memakai apapun selainnya, maka bagi seorang wanita diperbolehkan untuk menutupi wajahnya dengan sesuatu selain kedua yang telah disebutkan, seperti kerudung maupun pakaian panjang.

Sedangkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa muka wanita hukumnya seperti kepala laki-laki, yang tidak boleh ditutupi dengan apapun, maka pendapat ini tidak mempunyai dalil.

Juga diharamkan atas wanita untuk memakai sarung tangan, memakai pakaian yang diberi pewarna dari wars atau diberi za’faran. Dan diperbolehkan baginya untuk memakai apapun yang ia sukai selain hal-hal di atas baik berupa perhiasan maupun yang lainnya. Sedangkan berburu dan memakai wangi-wangian, mencukur kepala, maka nampaknya bahwa dalam hal ini wanita hukumnya seperti laki-laki, wallahu a’lam.

Sedangkan memasukkan kepala ke dalam air, membawa barang di atas kepala secara langsung, menutupi kepala dengan telapak tangan atau meletakkan kepala di atas bantal saat tidur, semua itu tidak dipermasalahkan, karena semua itu tidak dinamakan memakai.

Yang dimaksud dengan sepatu boot [khuf] di sini ialah jenis sepatu yang tingginya mencapai pertengahan betis. Begitu juga dengan masalah kaos kaki, yang dimaksud di sini adalah jenis kaos kaki yang panjangnya melebihi lutut. Pakaian ini boleh dipakai bagi orang yang tidak mendapatkan sandal, dengan syarat dipotong terlebih dahulu. Namun sebagaimana yang telah Anda ketahui, bahwa perintah untuk memotong kaos kaki ini telah dinasakh, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Muntaqa. Yang mana pendapat ini dianggap lebih kuat di dalam As-Syarh setelah dijelaskan adanya perbedaan pendapat dalam masalah tersebut. Dan orang yang memakainya karena tidak mendapatkan sandal ia tidak wajib membayar denda. Namun Al-Hanafiyah berbeda pendapat dalam masalah ini, ia berpendapat bahwa orang tersebut harus membayar denda.

Hadits di atas juga menjelaskan haramnya memakai sesuatu yang diberi za’faran atau wars -pewarna berwarna merah-, kemudian para ulama berbeda pendapat dalam menentukan sebab larangan tersebut, apakah karena hal tersebut merupakan hiasan atau karena adanya bau? Jumhur ulama berpendapat bahwa alasannya adalah adanya bau, sehingga bila pakaian tersebut terkena air lalu baunya hilang, maka pakaian tersebut boleh dipakai untuk berihram. Dan telah disebutkan di dalam satu riwayat,

إلَّا أَنْ يَكُونَ غَسِيلًا

“Kecuali jika pakaian tersebut telah dicuci.” [Mushannaf lbnu Abi Syaibah (3/142,169).]

Walaupun hadits ini mendapatkan berbagai komentar.

Dan memakai pakaian yang telah diberi pewarna ‘ushfur -pewarna berwarna merah berasal dari tumbuhan- atau pewarna wars hukumnya haram bagi laki-laki yang tidak melakukan ihram sebagaimana haramnya dipakai saat ia berihram.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *