[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 209

06. KITAB HAJI – 06.04. BAB IHRAM 01

Makna ihram ialah memasuki salah satu dari dua ibadah serta menyibukkan diri dengan kegiatan kedua ibadah tersebut dengan disertai niat.

0670

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «مَا أَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَّا مِنْ عِنْدِ الْمَسْجِدِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

670. Dari Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memulai talbiyah -setelah memakai ihram- kecuali dari masjid.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1541), dan Muslim (1186).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memulai talbiyah -setelah memakai ihram- kecuali dari masjid (yakni masjid Dzul Hulaifah).”

Ini adalah pernyataan Ibnu Umar sebagai bantahan kepada mereka yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memulai talbiyah dari Al-Baida’ Beliau berkata,

«بَيْدَاؤُكُمْ هَذِهِ الَّتِي تَكْذِبُونَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ أَهَلَّ مِنْهَا مَا أَهَلَّ»

“Al-Baida’ ialah tempat yang kalian dustakan atas nama Rasulullah, sesungguhnya beliau tidak memulai talbiyah darinya.” (Hadits).

Dalam riwayat lain disebutkan,

«أَنَّهُ أَهَلَّ مِنْ عِنْدِ الشَّجَرَةِ حِينَ قَامَ بِهِ بَعِيرُهُ»

“Bahwa beliau memulai talbiyah dari satu pohon saat untanya beranjak pergi membawanya.” [shahih, Muslim (1186).]

Dan pohon tersebut berada di masjid tersebut. Di dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ بِذِي الْحُلَيْفَةِ ثُمَّ إذَا اسْتَوَتْ بِهِ النَّاقَةُ قَائِمَةً عِنْدَ مَسْجِدِ ذِي الْحُلَيْفَةِ أَهَلَّ»

“Bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan shalat dua rakaat di Dzul Hulaifah, kemudian ketika untanya telah berdiri tegak di sisi masjid Dzul Hulaifah beliau memulai talbiyah.” [shahih, Muslim (1184).]

Tafsir Hadits

Dari dua hadits yang saling berlawanan; ada riwayat yang mengatakan bahwa beliau memulai talbiyah dari Al-Baida’ dan riwayat yang lain mengatakan bahwa beliau memulainya dari Dzul Hulaifah, hal ini dapat dikompromikan bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memulai talbiyah dari kedua tempat tersebut, dan masing-masing perawi meriwayatkannya berdasarkan apa yang didengar dari Rasulullah.

Abu Dawud dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا صَلَّى فِي مَسْجِدِ ذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ أَهَلَّ بِالْحَجِّ حِينَ فَرَغَ مِنْهُمَا»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika selesai menunaikan shalat dua rakaat di masjid Dzul Hulaifah beliau memulai talbiyah untuk menunaikan haji.” [Dhaif: Abi Dawud (1770).]

Maka ada sekelompok orang yang mendengarkannya lalu mereka menghafalkannya. Ketika kendaraannya telah membawanya, beliau memulai talbiyah. Pada saat ini, ada sekelompok orang yang melihatnya, tetapi tidak menyaksikan kejadian sebelumnya, lalu mereka mendengarkan talbiyah beliau saat itu, lalu mereka berkata, “Sesungguhnya beliau memulai talbiyah saat unta (kendaraan)nya membawanya.” Lalu beliau berjalan, dan ketika telah mencapai Al-Baida’ ada sekelompok orang lain yang melihatnya, namun mereka tidak mengetahui kejadian sebelum itu, lalu setiap orang meriwayatkan apa yang mereka ketahui dari kejadian tersebut.

Hadits ini menunjukkan bahwa yang lebih utama hendaklah seseorang memulai ihramnya dari miqat, dan tidak dari sebelum miqat. Namun, jika orang tersebut memulai ihram sebelum tiba di miqatnya, maka Ibnu Al-Mundzir berkata, “Seluruh ulama telah sepakat bahwa seseorang yang memulai ihramnya sebelum tiba di miqat maka ihramnya sah. Namun, apakah hal tersebut hukumnya makruh? Ada yang mengatakan, “Ya, makruh. Karena ungkapan para sahabat yang menyebutkan bahwa beliau telah menjadikan Dzul Hulaifah sebagai miqat untuk penduduk Madinah, mengharuskan dimulainya ihram dari miqat-miqat ini, yang tidak boleh dikurangi maupun dilebihkan, dan jika melebihkannya -memakai ihram sebelum sampai miqat- maka tidak diharamkan, tapi paling tidak ia telah meninggalkan perbuatan yang lebih utama. Begitu pula seandainya tidak ada ijma’ ulama yang menyebutkan bahwa ihramnya adalah sah, pastilah akan kami katakan bahwa hukumnya ialah haram berdasarkan hadits-hadits yang menjelaskan penentuan miqat di atas. Alasan lain, karena telah menambah sesuatu yang telah ditentukan ukurannya secara syariat, seperti halnya menambahkan hitungan shalat atau jumlah lemparan jumrah, yang mana hal tersebut tidak disyariatkan, begitu juga dengan menguranginya. Hanya saja, kami tidak berkata tegas dengan mengharamkannya dikarenakan adanya ijma’ di atas, dan adanya beberapa riwayat dari para sahabat bahwa mereka berihram sebelum tiba di miqatnya, seperti Ibnu Umar yang berihram dari Baitul Maqdis, Anas dari Al-‘Aqiq, Ibnu Abbas dari Syam, Imran bin Hashin dari Bashrah dan Ibnu Mas’ud dari Al-Qadisiyah.

Ada tafsir lain yang menjelaskan ayat haji tersebut, dalam lafazh, “Sesungguhnya kesempurnaan haji dan umrah itu hendaknya kalian memulai ihram dari rumah keluargamu.” Ini diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. Namun ada yang mentakwil riwayat ini, bahwa yang dimaksud agar orang tersebut memulai perjalanannya dari rumahnya, karena ada satu atsar yang diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu dengan lafazh, “Kesempurnaan umrah ialah engkau memulainya dari negerimu atau agar engkau melakukan satu perjalanan khusus dari negerimu, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memulai perjalanan umrahnya dari Hudaibiyah yang sebenarnya beliau telah memulainya dari negerinya.” Takwil ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Ali tidak pernah melakukannya -tidak pernah memulai ihram dari rumahnya-, dan tidak pula seorang-pun dari Khulafa’ ar-Rasyidun, mereka tidak pernah memulai ihram baik untuk haji maupun umrah kecuali dari miqat, bahkan Rasulullah pun tidak pernah melakukannya, maka bagaimana mungkin hal tersebut menjadi kesempurnaan dari ibadah haji maupun umrah. Rasulullah tidak pernah melakukannya, para Khulafa’ Ar-Rasyidun tidak pernah melakukannya begitu pula para sahabat tidak pernah melakukannya.

Ya, khusus untuk ihram dari Baitul Maqdis disebutkan secara khusus dalam hadits Ummu Salamah,

” سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «مَنْ أَهَلَّ مِنْ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى بِعُمْرَةٍ أَوْ بِحَجَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memulai talbiyah -memulai ihram- dari Masjid Al-Aqsha untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad) [dhaif, Dhaif Al-Jami’ (5493).]

Dalam lafazh yang lain disebutkan,

«مَنْ أَهَلَّ بِحَجَّةٍ أَوْ عُمْرَةٍ مِنْ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى إلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ أَوْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»

“Barangsiapa memulai talbiyah -memulai ihram- untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah dari Masjid Al-Aqsha menuju ke Masjidil Haram maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosa yang akan datang, atau ia akan mendapatkan surga.” [Dhaif: Abi Dawud (1741).]

Perawinya ragu-ragu.

Ibnu Majah meriwayatkan dengan lafazh,

«مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ مِنْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ»

“Barangsiapa memulai talbiyah -memulai ihram- untuk menunaikan ibadah umrah dari Baitul Maqdis, maka ia akan menjadi kafarat -penghapus- apa yang telah terjadi dari berbagai dosa.” [Dhaif: Ibni Majah (3056).]

Maka hal ini hanya khusus untuk ihram dari Baitul Maqdis, sehingga khusus untuk memulai ihram darinya lebih utama daripada ihram dari semua miqat, hal ini diperkuat oleh tindakan Ibnu Umar yang memulai ihram darinya, dan beliau tidak memulainya dari Madinah, hanya saja di antara mereka ada yang mendhaifkan hadits ini, dan ada sekelompok lain yang mentakwil hadits tersebut sehingga maksudnya ialah memulai perjalanan untuk ibadah haji maupun umrah dari sana.

0671

وَعَنْ خَلَّادِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَتَانِي جِبْرِيلُ، فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالْإِهْلَالِ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ

671. Dari Khallad bin As-Sa’ib dari bapaknya, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jibril telah mendatangiku, lalu memerintahkanku agar menyuruh sahabat-sahabatku untuk meninggikan suaranya saat membaca talbiyah.” (HR. Al-Khamsah, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

[Shahih: At-Tirmidzi (1829).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Khallad bin As-Sa’ib dari bapaknya, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jibril telah mendatangiku, lalu memerintahkanku agar menyuruh sahabat-sahabatku untuk meninggikan suaranya saat membaca talbiyah.” HR. Al-Khamsah, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban (Ibnu Majah meriwayatkan,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَأَلَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ: الْعَجُّ وَالثَّجُّ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya, “Amal perbuatan apa yang paling utama? Beliau menjawab, “Meninggikan suara dan menyembelih hewan kurban.” [Shahih: Ibni Majah (2977).]

Dari As-Sa’ib dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam riwayat yang lain disebutkan,

«أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: كُنْ عَجَّاجًا ثَجَّاجًا»

“Jibril telah mendatangiku, lalu ia berkata, “Jadilah orang yang meninggikan suaranya dan orang yang menyembelih hewan kurban,”) [dhaif, Dhaif Al-Jami’ (77).]

Tafsir Hadits

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa meninggikan suara ketika membaca talbiyah hukumnya mustahab [dianjurkan], walaupun zhahir perintah tersebut mengisyaratkan bahwa hukumnya wajib. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, “Bahwasanya para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggikan suaranya saat membaca talbiyah hingga habis suara mereka.” [Al-Mushannaf (3/373).]

Dan inilah pendapat jumhur ulama.

Namun diriwayatkan dari Malik bahwasanya saat membaca talbiyah suara tidak ditinggikan, kecuali di Masjid Al-Haram dan di Masjid Mina.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *