[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 208

06. KITAB HAJI – 06.03 BAB IBADAH YANG BERKAITAN DENGAN IHRAM

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ، وَأَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالْحَجِّ فَأَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ فَحَلَّ عِنْدَ قُدُومِهِ، وَأَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ، أَوْ جَمَعَ بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَلَمْ يَحِلُّوا حَتَّى كَانَ يَوْمُ النَّحْرِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

669. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahun haji wada’, kemudian ada di antara kami yang membaca talbiyah -setelah memakai ihram- untuk menunaikan umrah, dan ada yang membaca talbiyah -setelah memakai ihram- untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca talbiyah -setelah memakai ihram- untuk menunaikan ibadah haji, orang-orang yang memakai ihramnya untuk umrah maka mereka bertahallul pada hari kedatangan mereka, sedangkan mereka yang berihram untuk haji, maupun untuk haji dan umrah maka mereka tidak bertahallul hingga hari raya kurban.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1783), dan Muslim (1211).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Kami keluar (mereka berangkat dari Madinah, saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar pada hari Sabtu ketika bulan Dzul Hijjah tinggal enam hari, setelah beliau menunaikan shalat Zhuhur sebanyak empat rakaat di Madinah dan berkhutbah menjelaskan kepada mereka tentang ihram baik berkenaan dengan hal-hal yang wajib dan yang sunnah) bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahun haji wada’ (pada tahun kesepuluh dari hijrah, dinamakan haji wada’ -perpisahan- karena Rasulullah menyampaikan salam perpisahan kepada manusia pada saat itu, dan setelah hijrah, Rasulullah tidak menunaikan haji kecuali ibadah haji ini), kemudian ada di antara kami yang membaca talbiyah -setelah memakai ihram- untuk menunaikan umrah, dan ada yang membaca talbiyah setelah memakai ihram- untuk menunaikan ibadah haji dan umrah (haji qiran), sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca talbiyah setelah memakai ihram- untuk menunaikan ibadah haji (haji ifrad), orang-orang yang memakai ihramnya untuk umrah maka mereka bertahallul pada hari kedatangan mereka (di Mekah, setelah mereka menyempurnakan ibadah umrahnya), sedangkan mereka yang berihram untuk haji, maupun untuk haji dan umrah maka mereka tidak bertahallul hingga hari raya kurban.”

Al-Ihlal artinya meninggikan suara. Menurut para ulama, yang dimaksud dengan al-ihlal adalah membaca talbiyah dengan suara tinggi ketika mereka telah memakai ihram.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa hal itu -berihram- dilakukan oleh para rombongan berkendaraan yang saat itu menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan berbagai macam ibadah yang akan ditunaikan. Dan telah diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha beberapa riwayat yang berbeda-beda, yang kesemuanya dikompromikan dalam hadits di atas, kemudian ihram Aisyah Radhiyallahu Anha menjadi bahan pembicaraan ulama, untuk apakah saat itu beliau berihram, karena adanya beberapa riwayat yang saling berbeda.

Hadits ini menunjukkan bahwa saat itu rombongan tersebut berihram dengan tiga macam ibadah yang telah disebutkan, yaitu mereka yang berihram untuk haji maka merekalah yang hendak menunaikan haji ifrad, sedangkan mereka yang berihram untuk umrah maka merekalah yang hendak menunaikan haji tamattu’ dan mereka yang berihram untuk haji dan umrah maka merekalah yang hendak menunaikan ibadah haji qiran.

Hadits ini menunjukkan bahwa mereka yang menunaikan ibadah haji ifrad maka mereka tidak bertahallul kecuali setelah tiba hari raya kurban, hal ini bertentangan dengan hadits yang telah diriwayatkan dari empat belas orang sahabat Rasulullah di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan pada kitab-kitab yang lainnya, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka yang tidak membawa hewan kurban untuk mengubah hajinya menjadi umrah.” [Shahih Al-Bukhari (319) Shahih Muslim (1211).]

Ada juga yang mengatakan, “Maka hadits Aisyah Radhiyallahu Anha khusus untuk mereka yang membawa hewan kurban dan menunaikan haji ifrad, maka hukumnya seperti orang yang membawa hewan kurban dan menunaikan ibadah haji dan umrah bersamaan.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, apakah perintah untuk mengubah hajinya menjadi umrah tersebut khusus untuk mereka yang menyertai Rasulullah saat itu atau tidak, dan Ibnul Qayyim telah membahas masalah tersebut di dalam Zad Al-Ma’ad, dan kami telah membahasnya di dalam satu makalah kami, yang tidak tepat untuk kami sertakan ke dalam pembahasan ini.

Kemudian mereka juga berbeda pendapat, untuk apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berihram saat itu? Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa Rasulullah saat itu berihram untuk haji dan umrah, yaitu menunaikan haji qiran, sedangkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha di atas mengisyaratkan bahwa saat itu beliau menunaikan haji ifrad, tetapi hadits-hadits yang menjelaskan bahwa beliau saat itu menunaikan haji qiran sangatlah banyak sekali.

Para ulama juga berbeda pendapat, apakah yang paling utama dari sekian cara menunaikan ibadah haji? Banyak hadits yang menunjukkan bahwa yang paling utama ialah haji qiran, yang mana dalil-dalil atas hal tersebut telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *