[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 207

06. KITAB HAJI – 06.02. BAB MIQAT 02

0667

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَّتَ؛ لِأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَأَصْلُهُ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، إلَّا أَنَّ رَاوِيهِ شَكَّ فِي رَفْعِهِ. وَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ أَنَّ عُمَرَ هُوَ الَّذِي وَقَّتَ ذَاتَ عِرْقٍ

667. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Dzatu ‘Irq sebagai miqat untuk penduduk Irak.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i. Dan aslinya berada di dalam Shahih Muslim, dari hadits Jabir, hanya saja perawinya ragu-ragu apakah hadits tersebut marfu’. Sedangkan di dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Umarlah yang menentukan miqat Dzatu ‘Irq tersebut)

[shahih, Shahih Abi Dawud (1739).]

[shahih, Muslim (1183).]

[shahih, Al-Bukhari (1531).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Dzatu ‘Irq (suatu tempat yang berjarak dua marhalah dari Mekah, dinamakan demikian karena pada tempat tersebut terdapat al-‘irq yakni gunung kecil) sebagai miqat untuk penduduk Iraq.” HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i. Dan aslinya berada di dalam Shahih Muslim, dari hadits Jabir, hanya saja perawinya ragu-ragu apakah hadits tersebut marfu’ (karena disebutkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Az-Zubair bahwasanya ia telah mendengar Jabir bin Abdullah ditanya mengenai Al-Muhill -hadits yang berkenaan dengan permulaan ihram- ia menjawab, “Saya mendengar kira-kira ia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.” Terlihat dalam kisah ini bahwa ia tidak yakin apakah hadits ini marfu’ atau tidak) Sedangkan di dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Umarlah yang menentukan miqat Dzatu ‘Irq tersebut (yaitu ketika negeri Bashrah dan Kufah telah takluk, mereka meminta kepada Umar agar menentukan miqat untuk mereka, lalu beliau menjadikan Dzatu ‘Irq sebagai miqat mereka, dan kaum muslimin menyepakatinya).

Tafsir Hadits

Di dalam Al-Muntaqa, Ibnu Taimiyah berkata, “Nash yang menegaskan bahwa Dzatu ‘Irq adalah miqat orang-orang Iraq tidak sekuat dalil-dalil yang lainnya, jika ia benar maka hal itu tidaklah termasuk dalam bid’ah, karena ia adalah ijtihad Umar atas dasar pemikirannya, yang biasanya ia selalu mendapatkan taufiq untuk mendapatkan kebenaran. Sepertinya Umar belum mengetahui adanya hadits -yang berkenaan dengan miqat-, lalu ia berijtihad berdasarkan nash yang ada, lalu hal ini menjadi ijma’ ulama. Dan hadits ini tanpa keraguan telah diriwayatkan secara marfu’ melalui Abu Az-Zubair dari Jabir oleh Ibnu Majah. Kemudian Ahmad meriwayatkan secara marfu’ dari Jabir bin Abdullah dan Ibnu Umar. Di dalam sanadnya terdapat Al-Hajjaj bin Arthah. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Daraquthni dan yang lainnya dari Aisyah,

“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Dzatu ‘Irq sebagai miqat untuk penduduk Irak.” [Shahih: Abi Dawud (1738).]

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَّتَ لِأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ»

Dengan sanad jayyid -baik-.

Abdullah bin Ahmad meriwayatkan hadits tersebut juga dari Aisyah. Hadits ini juga telah diriwayatkan secara mursal dari Makhul dan ‘Atha. kemudian Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits-hadits marfu’ ini yang baik dan bagus harus diamalkan – dipakai sebagai dasar hukum- yang ia diriwayatkan dalam jumlah yang banyak, baik dalam kondisi musnad maupun mursal dari berbagai jalur.” Sedangkan hadits,[1] -nomor berikut-.

_____________

[1] Demikianlah, dan kelengkapannya terdapat di dalam Syarh Al-Umdah (2/309) (Sedangkan hadits Umar, maka sesungguhnya penentuan miqat Dzat ‘Irq terjadi belakangan…)

0668

وَعِنْدَ أَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَّتَ لِأَهْلِ الْمَشْرِقِ الْعَقِيقَ»

668. Di dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Al-Aqiq sebagai miqat -penduduk masyriq -timur-.”

[Dhaif: Abi Dawud (1740).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Walaupun At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hadits ini hasan.” Namun sebenarnya pokok masalah ialah pada Yazid bin Abu Ziyad, ia telah banyak dibicarakan oleh para ulama.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa jika seorang penduduk Iraq berihram dari Dzatu Irq, maka ia telah memulai ihramnya dari miqat.” Demikianlah, walaupun sebenarnya Al-Aqiq lebih jauh daripada Dzat Irq.

Ada juga yang mengatakan, “Jika hadits Ibnu Abbas ini mempunyai asal -dasar-, maka sesungguhnya hadits ini telah diganti -dinasakh-, karena penentuan miqat Dzatu ‘Irq terjadi pada haji wada’ saat Allah telah menyempurnakan agama Islam, sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Al-Harits bin Amr As-Sahmi, berkata,

«أَتَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ بِمِنًى أَوْ عَرَفَاتٍ وَقَدْ أَطَافَ بِهِ النَّاسُ قَالَ: فَتَجِيءُ الْأَعْرَابُ فَإِذَا رَأَوْا وَجْهَهُ قَالُوا: هَذَا وَجْهٌ مُبَارَكٌ قَالَ: وَوَقَّتَ ذَاتَ عِرْقٍ لِأَهْلِ الْعِرَاقِ»

“Aku mendatangi Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam saat beliau berada di Mina atau Arafah yang mana saat itu beliau telah dikelilingi oleh orang banyak, lalu ia berkata, “Maka datanglah orang-orang Arab Badui, dan saat mereka melihat beliau, mereka berkata, “Inilah wajah yang berkah, lalu berkata, “Lalu beliau menjadikan Dzatu Irq sebagai miqat untuk penduduk Irak.” (HR. Abu Dawud dan Ad-Daraquthni) [hasan, Abi Dawud (1742).]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *