[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 206

06. KITAB HAJI – 06.02. BAB MIQAT 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Miqat ialah saat atau tempat yang telah ditentukan oleh syariat untuk melaksanakan suatu ibadah, dan yang dimaksud -dalam bab ini-ialah tempat yang telah ditentukan oleh syariat untuk memulai ihram.

0666

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَّتَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ: ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ، هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ أَوْ الْعُمْرَةَ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

666. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Dzul Hulaifah sebagai miqat penduduk Madinah, sedangkan untuk penduduk Syam Juhfah, untuk penduduk Najd Qarnul Manazil, untuk penduduk Yaman Yalamlam, setiap tempat tersebut ialah untuk penduduknya dan untuk mereka yang melaluinya dari selain penduduknya yang hendak menunaikan ibadah haji maupun umrah, sedangkan mereka yang -tinggal- setelah tempat-tempat tersebut maka -hendaklah ia berihram- dari tempatnya hingga penduduk Mekah -memulai ihram- dari Mekah.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1524) Muslim (1181).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Dzul Hulaifah (Hulaifah dari kata Halfah yang berarti nama satu tanaman yang hidup di air, ia adalah nama sebuah tempat yang berjarak sepuluh marhalah -satu marhalah jaraknya sejauh perjalanan satu hari- dari Mekah atau satu farsakh dari Madinah, dari tempat inilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memulai ihramnya, dan di tempat tersebut terdapat satu mata air -sumur- yang sekarang di kenal dengan nama Bi’r Ali, miqat ini ialah miqat terjauh dari Mekah) sebagai miqat penduduk Madinah, sedangkan untuk penduduk Syam Juhfah (tempat ini dinamakan Juhfah karena pernah terjadi banjir yang memaksa penduduknya untuk mengungsi ke atas bukit, ia berjarak tiga marhalah dari Mekah, dahulu namanya Muhai’ah, ia adalah satu kampung kuno yang telah rusak, oleh karena itu mereka yang ingin menunaikan haji atau umrah memulai ihram dari suatu tempat yang dinamakan Rabigh, satu marhalah sebelum Juhfah, karena di tempat tersebut terdapat air untuk mandi sebelum memakai ihram) untuk penduduk Najd Qarnul Manazil (kadang disebut juga dengan nama Qarnu Ats-Tsa’alib, berjarak dua marhalah dari Mekah), untuk penduduk Yaman Yalamlam (berjarak dua marhalah dari Mekah), setiap tempat tersebut untuk penduduknya dan untuk mereka yang melaluinya dari selain penduduknya yang hendak menunaikan ibadah haji maupun umrah, sedangkan mereka yang -tinggal- setelah tempat-tempat tersebut maka -hendaklah ia berihram- dari tempatnya, hingga penduduk Mekah -memulai ihram- dari Mekah.”

Tafsir Hadits

Inilah miqat-miqat yang telah ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk masing-masing daerah yang telah disebutkan, begitu juga untuk mereka yang melewati daerah tersebut bagi yang ingin menuju Mekah untuk menunaikan salah satu dari dua ibadah tersebut, dari sinilah mereka memulai ihramnya, sebagai contoh jika seseorang dari penduduk Syam melalui Dzul Hulaifah maka ia harus memulai ihramnya dari tempat tersebut dan tidak menunggu hingga ia tiba di Juhfah, jika orang tersebut memaksa untuk memulainya dari Juhfah maka orang tersebut telah melakukan kesalahan dan harus membayar dam [denda], demikianlah pendapat jumhur ulama. Sedangkan Al-Malikiyah berpendapat bahwa diperbolehkan bagi orang tersebut untuk mengakhirkan ihramnya hingga tiba di Juhfah, namun yang lebih utama ialah menyegerakannya.

Hadits nomor ini memungkinkan kedua pendapat ini, karena sabda beliau, “…setiap tempat tersebut ialah untuk penduduknya…” zhahirnya bisa dipahami bahwa setiap miqat tersebut diperuntukkan untuk penduduk masing-masing wilayah, baik orang tersebut mendatangi miqat khusus wilayahnya atau tidak, dengan demikian untuk orang dari Syam yang tengah melewati Dzul Hulaifah tadi diperbolehkan untuk memulai ihramnya dari Juhfah.

Sedangkan sabda beliau, “…dan untuk mereka yang melaluinya dari selain penduduknya…” menunjukkan bahwa seyogyanya orang dari penduduk Syam tersebut harus memulai ihramnya dari Dzul Hulaifah karena ia bukan penduduk wilayah miqat Dzul Hulaifah namun ia telah mendatanginya. Ibnu Daqiq Al-Id berkata, “Sabda beliau, “…sedangkan untuk penduduk Syam Juhfah,…” meliputi orang-orang dari penduduk Syam yang melalui Juhfah maupun tidak, sedangkan sabda beliau, “…dan untuk mereka yang melaluinya dari selain penduduknya…” meliputi penduduk Syam yang melewati Dzul Hulaifah maupun selain penduduk Syam, sehingga dalam masalah ini terjadi dua nash yang bersifat umum saling bertentangan.” Ibnu Hajar berkata, “Untuk mengurai pertentangan di atas mungkin dilakukan hal berikut ini, yaitu bahwa sabda beliau, “…setiap tempat tersebut ialah untuk penduduknya…” menjelaskan sabda beliau, seperti ungkapan, “…Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjadikan Dzul Hulaifah sebagai miqat penduduk Madinah,…” dan yang dimaksud dengan penduduk Madinah ialah mereka yang tinggal di sana maupun orang yang melewatinya jalur miqat penduduk Madinah.”

Menurut saya, jika benar apa yang diriwayatkan dari hadits Urwah, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan Dzul Hulaifah sebagai miqat untuk penduduk Madinah dan untuk mereka yang melewatinya.” Akan menjadi jelas bahwa Juhfah adalah miqat penduduk Syam jika ia tidak melewati Madinah. Selain itu, miqat-miqat tersebut mengitari Ka’bah sebagaimana Masjid Al-Haram mengitarinya. Maka barangsiapa melewati salah satu sisi dari sisi-sisi Masjid Al-Haram harus menghormati ke-haramannya, walaupun sisi yang satu dan yang lainnya tidak sama jaraknya dari Ka’bah.

Sabda beliau, “sedangkan mereka yang -tinggal- setelah tempat-tempat tersebut maka -hendaklah ia berihram- dari tempatnya…” menunjukkan bahwa orang yang tinggal di antara miqat dan Mekah, maka miqatnya dari manapun ia memulai ihram, baik dari keluarganya, kampungnya atau dari manapun. Kemudian sabda beliau, “…hingga penduduk Mekah -memulai ihram- dari Mekah.” Menunjukkan bahwa penduduk Mekah memulainya dari Mekah, baik orang tersebut penduduk asli Mekah, atau orang yang bertetangga dengan Mekah atau orang tersebut adalah pendatang, sama halnya orang tersebut berihram untuk menunaikan ibadah haji maupun ibadah umrah.

Sabda beliau, “…yang hendak menunaikan ibadah haji maupun umrah,…” menunjukkan bahwa kewajiban untuk berihram ini hanya berkenaan dengan mereka yang memasuki Mekah untuk menunaikan salah satu dari dua ibadah tersebut, sedangkan mereka yang mendatanginya tidak untuk menunaikan salah satu dari kedua ibadah tersebut maka diperbolehkan untuk tidak berihram, dan Ibnu Umar pernah memasuki Mekah tanpa ihram, karena telah disepakati oleh para ulama bahwa ibadah haji dan umrah -bagi yang mewajibkannya-hanya wajib sekali seumur hidup, oleh karena itu jika katakan bahwa setiap orang yang memasukinya harus menunaikan ibadah haji dan umrah maka konsekwensinya kedua ibadah tersebut akan menjadi wajib berkali-kali.

Sedangkan orang yang mengatakan bahwa tidak boleh melewati miqat-miqat di atas kecuali dengan berihram, yang diperbolehkan melewatinya tanpa ihram hanya orang-orang yang memiliki keperluan seperti pencari kayu bakar dan yang sejenisnya, maka sesungguhnya mereka berdalil dengan beberapa riwayat dari ulama salaf, namun hal itu tidak bisa digunakan sebagai dasar hukum.

Kemudian orang yang hendak menuju Mekah bukan untuk salah satu dari kedua ibadah di atas, lalu ia melewati miqat tanpa ihram, namun setelah itu muncul niat untuk menunaikan salah satu dari kedua ibadah di atas, maka hendaklah ia memakai ihram dari tempatnya dan tidak perlu kembali ke miqat.

Kemudian ketahuilah bahwa sabda beliau, “…hingga penduduk Mekah -memulai ihram- dari Mekah,” menunjukkan bahwa miqat umrah penduduk Mekah ialah Mekah, seperti miqat haji mereka. Begitu pula orang Mekah yang hendak menunaikan ibadah haji secara qiran, maka miqatnya ialah Mekah juga.

Ath-Thabari mengatakan bahwa ia tidak mengetahui seorang pun menjadikan Mekah sebagai miqat untuk umrah. Bantahan atas pendapat ini, bahwa dalam hadits nomor ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjadikan Mekah sebagai miqat untuk umrah. Sedangkan ungkapan yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya beliau berkata, “Wahai penduduk Mekah, barang siapa di antara kalian hendak menunaikan ibadah umrah maka hendaklah ia menjadikan antara dirinya dan Mekah daerah Bathna Muhassir.” Ia juga berkata, “Barang siapa dari penduduk Mekah hendak menunaikan umrah, ia keluar ke Tan’im dan keluar dari wilayah haram.” Maka ungkapan -ungkapan ini ialah atsar mauquf yang tidak bisa mematahkan penjelasan hadits marfu’.

Sedangkan hadits yang mengisahkan bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Aisyah Radhiyallahu Anha untuk keluar ke Tan’im untuk memakai ihram untuk umrah maka sesungguhnya beliau tidak memerintahkannya, kecuali hanya untuk menyenangkan hati Aisyah dengan kembali memasuki Mekah untuk menunaikan umrah seperti teman-temannya, karena saat itu sebenarnya Aisyah telah memulai ihram bersama Rasulullah lalu ia haidh, maka ia memasuki Mekah dan tidak berthawaf di Ka’bah sebagaimana teman-temannya berthawaf, hal ini dijelaskan dalam perkataan Aisyah Radhiyallahu Anha, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang datang dengan dua ibadah sedangkan aku datang hanya dengan satu ibadah, beliau bersabda, “Tunggulah, kemudian keluarlah kamu menuju ke Tan’im, kemudian mulailah membaca talbiyah (setelah ihram) dari sana.”

Hadits ini bisa dipahami bahwa sesungguhnya ia ingin seperti orang-orang yang masuk dari wilayah halal (di luar wilayah tanah haram) ke dalam wilayah Mekah untuk menunaikan umrah, dan itu tidak menunjukkan bahwa umrah seorang penduduk Mekah tidak sah kecuali jika ia keluar ke wilayah halal, dengan adanya kemungkinan ini maka hadits ini tidak bisa dibandingkan dengan hadits nomor ini.

Thawus telah berkata, “Aku tidak tahu apakah orang-orang yang menunaikan umrah dari Tan’im, apakah mereka akan mendapat pahala atau akan disiksa.” Ada yang mengatakan kepadanya, “Kenapa mereka disiksa?” Ia menjawab, “Karena orang tersebut telah meninggalkan Ka’bah dan thawaf, lalu ia keluar sejauh 4 mil, lalu kembali dalam 4 mil, -jika dihitung- ia telah menunaikan thawaf sebanyak 200 kali thawaf, dan tiap kali ia berthawaf maka itu akan lebih besar pahalanya daripada harus berjalan untuk hal yang sia-sia.” Hanya saja ungkapan beliau ini atas asumsi bahwa thawaf lebih utama dari pada umrah.

Ahmad berkata, “Menunaikan umrah dari Mekah lebih disukai oleh beberapa orang dari pada melakukan thawaf, dan ada di antara mereka yang lebih suka untuk tetap berada di Mekah sambil melakukan thawaf,” Dan menurut pengikut [madzhab] Ahmad bahwa seorang penduduk Mekah jika ia memulai ihramnya untuk menunaikan ibadah umrah dari Mekah maka umrahnya sah. Namun, mereka mengatakan bahwa orang tersebut harus membayar dam [denda] karena ia tidak memulai ihramnya dari miqat.

Saya katakan kepada mereka, “Akan saya hadirkan argumen yang menunjukkan bahwa keharusan membayar dam dalam masalah tersebut tidak didukung oleh dalil.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *