[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 205

06.01. BAB KEUTAMAAN HAJI DAN SIAPA YANG WAJIB MELAKSANAKANNYA 06

0664

وَعَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: مَنْ شُبْرُمَةَ؟ قَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَرِيبٌ لِي، فَقَالَ: حَجَجْت عَنْ نَفْسِك؟ قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِك ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَالرَّاجِحُ عِنْدَ أَحْمَدَ وَقْفُهُ

664. Darinya Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mendengar seseorang berkata, “Labbaika ‘an Syubrumah -Aku jawab panggilan-Mu atas nama Syubrumah-.” Beliau bersabda, “Siapakah Syubrumah itu?” Ia berkata, “Saudaraku atau kerabatku.” Beliau bersabda, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Tunaikanlah haji untuk dirimu sendiri lalu tunaikanlah haji atas nama Syubrumah.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, sedangkan yang lebih rajih (kuat) menurut Ahmad adalah mauquf)

[shahih, Shahih Abi Dawud (1811).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (Ibnu Abbas) Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mendengar seseorang berkata, “Labbaika ‘an Syubrumah -Aku jawab panggilan-Mu atas nama Syubrumah-.” Beliau bersabda, “Siapakah Syubrumah itu?” Ia berkata, “Saudaraku atau kerabatku (keraguan ini berasal dari perawi).” Beliau bersabda, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Tunaikanlah haji untuk dirimu sendiri lalu tunaikanlah haji atas nama Syubrumah.” HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, sedangkan yang lebih rajih (kuat) menurut Ahmad adalah mauquf. (Al-Baihaqi mengatakan, “Sanadnya shahih, dan dalam masalah ini tidak ada hadits yang lebih shahih darinya.” Ahmad bin Hambal berkata, “Menganggap hadits ini sebagai hadits yang marfu’ adalah pendapat yang salah.” Ibnu Al-Mundzir berkata, “Tidak ada ketetapan untuk menganggapnya marfu’.” Ad-Daraquthni berkata, “Yang lebih benar hadits ini ialah hadits mursal.” Ibnu Hajar berkata, “Ya, seperti apa yang ia katakan.” Namun, ia lebih cenderung menganggapnya marfu’, karena ia tidak berasal dari perawi-perawinya. Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Ahmad telah menganggap hadits yang diriwayatkan oleh anaknya -Shalih-, darinya, bahwasanya hadits tersebut adalah marfu’, maka tentulah ia telah melihat orang yang bisa dipercaya yang memarfu’kannya, ia berkata, “Hadits ini telah dimarfu’kan oleh beberapa orang, dengan alasan walaupun hadits ini mauquf namun tidak ada yang menentang -hadits- Ibnu Abbas.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan bahwa seseorang tidak diperbolehkan untuk menunaikan haji atas nama orang lain jika ia belum menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri. Jika orang tersebut memulai berihram atas nama orang lain, maka otomatis ihram tersebut akan menjadi ihram untuk dirinya sendiri. Karena dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya menunaikan haji untuk dirinya sendiri padahal orang tersebut telah bertalbiah -artinya ia telah memulai ihram dan telah memasuki ibadah haji- atas nama Syubrumah. Sehingga jelas bahwa niat tersebut tidak dianggap atas nama orang lain, jika tidak tentulah orang tersebut harus menyelesaikan ibadahnya atas nama orang tersebut.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa ihram tetap diakui, baik ia dilakukan dengan benar maupun tidak, ia tetap diakui walaupun dilakukan secara mutlak, majhul atau tergantung kepada sesuatu. Bisa saja ia diniatkan untuk orang lain namun secara otomatis ia akan menjadi ihram untuk dirinya sendiri. Kesimpulan ini ditarik dari kenyataan kisah tersebut bahwa ihram yang dilakukan untuk orang lain tersebut hukumnya batal karena adanya larangan, dan larangan itu berkonotasi rusak -dalam pandangan syariat-.

Namun, dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa rusaknya beberapa sifat ihram tidak membatalkan ibadah ihram secara keseluruhan. Demikianlah pendapat kebanyakan umat. Menurut mereka, tidak sah bagi seseorang yang belum menunaikan ibadah haji untuk dirinya, ia menunaikan ibadah haji atas nama orang lain, baik orang tersebut mampu maupun tidak. Karena ketiadaan penjelasan maupun pembedaan -antara yang mampu dan tidak- menunjukkan bahwa hal tersebut bersifat umum. Di samping itu, kewajiban menunaikan ibadah menjadi beban seseorang pada awal tahun ia mampu melaksanakannya, sehingga pada tahun pertama jika ia mampu menunaikannya maka ia harus menunaikannya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk orang lain.

Karena menunaikannya untuk diri sendiri hukumnya wajib, sedangkan menunaikannya atas nama orang lain hukumnya sunnah. Sebagaimana seseorang yang menanggung hutang jika ia memiliki beberapa dirham untuk membayar hutang tersebut. Maka, tidak diperbolehkan baginya untuk membayar hutang orang lain, demikian halnya dengan segala sesuatu yang ia perlukan untuk melaksanakan satu kewajiban, maka tidak diperbolehkan baginya mengeluarkannya untuk selain kewajiban di atas. Hukum ini berkenaan untuk mereka yang telah mampu melaksanakannya.

Oleh karena itu, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya yang diperintahkan untuk menunaikan haji [untuk dirinya sendiri] ialah orang-orang yang telah mampu melaksanakannya, sedangkan orang yang belum mampu, maka tiada kewajiban untuk menunaikan ibadah haji, dan diperbolehkan baginya untuk menunaikan haji atas nama orang lain, hanya saja mengamaikan zhahir hadits ini tetap lebih utama.

0665

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: «إنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمْ الْحَجَّ فَقَامَ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كُلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لَوْ قُلْتهَا لَوَجَبَتْ، الْحَجُّ مَرَّةً، فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ غَيْرَ التِّرْمِذِيِّ. وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ

665. Darinya Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah untuk kami seraya bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian.” Kemudian Al-Aqra’ bin Habis bertanya, ” Apakah -pada setiap tahun wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika aku katakan [Ya] pastilah ia akan menjadi wajib -tiap tahun-, haji adalah sekali dan selebihnya ialah sunnah.” (HR. Al-Khamsah selain At-Tirmidzi, Dan aslinya terdapat di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah)

[Shahih: Abi Dawud (1721).]

[shahih, Muslim (1337).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (Ibnu Abbas) Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah untuk kami seraya bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian.” Kemudian Al-Aqra’ bin Habis bertanya, “Apakah pada setiap tahun wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika aku katakan [Ya] pastilah ia akan menjadi wajib -tiap tahun-, haji adalah sekali dan selebihnya ialah sunnah.” HR. Al-Khamsah selain At-Tirmidzi. Dan aslinya terdapat di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah (di dalam satu riwayat disebutkan tambahan setelah sabda beliau,

لَوَجَبَتْ

“pastilah ia akan menjadi wajib…”

«وَلَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَقُومُوا بِهَا وَلَوْ لَمْ تَقُومُوا بِهَا لَعُذِّبْتُمْ»

dan jika ia diwajibkan, pasti kalian tidak akan menunaikannya, dan jika kalian tidak menunaikannya, maka kalian pati akan disiksa.”)

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menjelaskan bahwa ibadah haji hanya wajib sekali dalam seumur hidup bagi orang yang telah mencapai umur mukallaf dan mampu.

Kemudian ungkapan beliau, “Jika aku katakan [Ya] pastilah ia akan menjadi wajib…” menunjukkan bahwa Allah menyerahkan beberapa hukum syariat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang mana pembahasan masalah ini lebih detail di dalam ilmu ushul fiqh. Masalah ini tetap menjadi sumber perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan pensyarah kitab ini telah menyampaikan beberapa isyarat atas hal tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *