[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 204

06.01. BAB KEUTAMAAN HAJI DAN SIAPA YANG WAJIB MELAKSANAKANNYA 05

0663

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَخْطُبُ يَقُولُ: «لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وَإِنِّي اُكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، فَقَالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِك» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

663. Darinya Radhiyallahu Anhu berkata, “Saya mendengarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berkhutbah, beliau bersabda, “Hendaklah seorang laki-laki tidak berduaan dengan seorang wanita kecuali jika ada mahramnya, dan hendaklah seorang wanita tidak bepergian kecuali bersama mahramnya.” Lalu seorang laki-laki berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku sedang dalam perjalanan untuk menunaikan haji, sedangkan aku diikutkan wajib militer dalam peperangan ini dan itu.” Maka beliau bersabda, “Pergilah, dan tunaikanlah haji bersama istrimu.” (Muttafaq Alaih, dan lafazh ini dari Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (5233), dan Muslim (1341).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (Ibnu Abbas) Radhiyallahu Anhu berkata, “Saya mendengarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berkutbah, beliau bersabda, “Hendaklah seorang laki-laki tidak berduaan dengan seorang wanita kecuali jika ada mahramnya, dan hendaklah seorang wanita tidak bepergian kecuali bersama mahramnya.” Lalu seorang laki-laki (Ibnu Hajar mengatakan bahwa beliau tidak menemukan namanya) berdiri lalu berkata, “‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya istirku sedang dalam perjalanan untuk menunaikan haji, sedangkan aku diikutkan wajib militer dalam peperangan ini dan itu.” Maka beliau bersabda, “Pergilah, dan tunaikanlah haji bersama istrimu.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan haramnya khalwah (berduaan) antara dua insan lain jenis yang bukan mahram, dan ini adalah ijma’ ulama. Dan telah dijelaskan di dalam hadits,

فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Maka sesungguhnya yang ketiganya ialah setan.” [Al-Musnad (3/339).]

Kemudian timbul pertanyaan, apakah selain mahram bisa mewakili mahram untuk menghilangkan istilah khalwah (berduaan) tersebut? Secara zhahir hukumnya boleh, karena makna yang dipahami dari larangan di atas agar setan tidak menimbulkan fitnah antara keduanya. Sedangkan Al-Qaffal berkata, “Harus seorang mahram, berdasarkan hadits di atas.”

Hadits ini juga menjelaskan haramnya seorang wanita melakukan safar, kecuali jika ditemani oleh seorang mahram. Larangan ini bersifat mutlak, baik untuk safar yang jaraknya dekat maupun jauh. Namun hal ini dibatasi oleh satu hadits yang lafazhnya diperselisihkan oleh para ulama, yaitu hadits berikut,

«لَا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ مَسِيرَةَ لَيْلَةٍ إلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ»

“Hendaklah seorang wanita tidak melakukan safar sejauh [perjalanan] semalam kecuali jika bersama dengan mahram.” [shahih, Muslim (1339).]

Ada lafadz lain yang menyebutkan,

فَوْقَ ثَلَاثٍ

” …lebih dari tiga [hari].” [shahih, Muslim (827).]

مَسِيرَةَ يَوْمَيْنِ

“…selama dua hari.” [shahih, Al-Bukhari (1864), dan Muslim (827).]

ثَلَاثَةَ أَمْيَالٍ

“…sejauh tiga mil.” [At-Thabrani di dalam Al-Kabir (12/121).]

بَرِيدًا

“…barid.” [Dhaif: Abi Dawud (1725).]

ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ

“… tiga hari.” [shahih, Al-Bukhari (1086).]

Kemudian An-Nawawi berkata, “Kelihatannya yang dimaksud di sini bukanlah batasannya, namun semua yang disebut safar tidak boleh dilakukan oleh seorang wanita kecuali jika ditemani oleh mahramnya. Karena batasan-batasan di atas mengisahkan suatu kejadian, maka tidak bisa diambil satu batasan secara langsung.”

Dalam masalah ini terdapat banyak pendapat dari para ulama, mereka mengatakan, “Diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengadakan perjalanan -safar-, dari wilayah sulit -perang-, saat ia mengkhawatirkan dirinya, untuk membayar hutang, mengembalikan titipan, kembali setelah nusyuz -durhaka kepada suami-, yang mana kondisi-kondisi ini merupakan ijma’ ulama.”

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam masalah perjalanan seorang wanita untuk menunaikan ibadah haji wajib. Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang wanita muda tidak diperbolehkan, kecuali jika bersama mahram. Al-Karabisi meriwayatkan satu pendapat dari Asy-Syafi’i bahwasanya wanita tersebut diperbolehkan untuk melakukan perjalanan sendirian jika jalannya aman, namun pendapat ini tidak didukung dalil yang kuat. Ibnu Daqiq Al-Id berkata, “Firman Allah Ta’ala, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah.” (QS. Ali Imran: 97) meliputi laki-laki dan wanita, sedangkan sabda beliau, “…hendaklah seorang wanita tidak bepergian kecuali bersama mahramnya,” bersifat umum untuk semua jenis perjalanan, sehingga kedua dalil yang bersifat umum ini saling bertentangan. Jawaban atas hal ini adalah, hadits-hadits yang menyebutkan bahwa hendaklah seorang wanita tidak mengadakan perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, kecuali jika bersama mahram, mengkhususkan keumuman ayat di atas.

Hadits di atas meliputi wanita muda maupun tua, kemudian ada beberapa imam yang berpendapat, “Untuk seorang wanita tua diperbolehkan untuk mengadakan perjalanan sendirian.” Kemungkinan, mereka memandang kepada makna hadits di atas lalu mereka mengkhususkan keumuman tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa keumuman tersebut tidak bisa dikhususkan, sehingga wanita tua pun hukumnya seperti wanita muda.”

Apakah rombongan wanita yang bisa dipercaya bisa menggantikan mahram? Sebagian ulama memperbolehkannya, berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat, namun hal ini tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum, karena hal itu bukan ijma’. Ada juga yang mengatakan bahwa diperbolehkan bagi wanita tersebut untuk mengadakan perjalanan jika ia memiliki rasa malu, dan pendapat inipun tidak didukung oleh dalil apa pun.

Kemudian dari perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada laki-laki di dalam kisah di atas untuk menunaikan haji bersama istrinya, Ahmad menyimpulkan bahwa wajib bagi seorang laki-laki untuk menunaikan ibadah haji bersama istrinya jika ia tidak ditemani oleh siapa pun. Sedangkan ulama lain tidak mewajibkannya, namun menganggapnya sunnah. Mereka mengatakan bahwa perintah ini tidak dipahami sebagai perintah sunnah, kecuali karena adanya qarinah [indikasi] yang menunjukkan kepada makna sunnah. Qarinah tersebut telah diketahui dari kaidah-kaidah agama, bahwa seseorang tidak wajib mengeluarkan manfaat pribadinya -berupa harta benda dan lain sebagainya- untuk membantu orang lain melaksanakan kewajibannya.

Disimpulkan pula dari hadits ini, bahwa seorang laki-laki tidak diperbolehkan melarang istrinya untuk melaksanakan haji wajib, karena ia adalah ibadah. Ibadah tersebut merupakan kewajiban atas wanita tersebut ditambahkan lagi adanya kaidah yang mengatakan bahwa tiada ketaatan untuk makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq -Allah-, baik kewajiban tersebut harus segera dilaksanakan atau tidak. Jika kewajiban tersebut harus segera dilaksanakan maka cukup jelas alasannya. Dikatakan juga, bahwa untuk kewajiban yang tidak disegerakan pun demikian, karena tidak ada yang boleh menghalanginya untuk melepaskan dirinya dari tanggung jawab kewajiban tersebut. Sebagai contoh, jika telah tiba saatnya maka tidak ada seorangpun yang diperbolehkan menghalanginya untuk melaksanakan shalat pada awal waktu. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dari Ibnu Umar secara marfu’ tentang seorang wanita yang sudah bersuami, yang mana wanita tersebut memiliki harta namun suaminya tidak mengizinkannya untuk melaksanakan haji,

لَيْسَ لَهَا أَنْ تَنْطَلِقَ إلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا

“Tidak layak bagi wanita tersebut untuk melaksanakan haji tanpa izin suaminya, ” [Ad-Daraquthni (2/223).]

Maka hadits ini dipahami sebagai hadits yang berkenaan dengan haji sunnah. Dengan cara inilah, kedua hadits di atas dikompromikan, yang mana hadits nomor ini tidak mengisyaratkan bahwa wanita tersebut mengadakan perjalanan dengan izin suaminya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Ibadah haji wanita yang dilakukan tanpa disertai mahramnya maupun ibadah haji orang yang tidak mampu, hukumnya sah. Intinya seseorang yang belum terbebani kewajiban ibadah haji karena tidak mampu seperti orang sakit, fakir, orang yang jalannya terputus, wanita tanpa mahram dan lain sebagainya, jika mereka memaksakan diri untuk mendatangi tempat-tempat haji -menunaikan haji- maka hajinya sah, kemudian di antara mereka ada yang melakukannya dengan baik seperti orang yang menunaikan haji dengan berjalan kaki, dan ada pula yang melakukannya dengan buruk seperti orang yang menunaikan ibadah haji dengan meminta-minta, dan wanita yang menunaikan ibadah haji tanpa mahram hukumnya sah, karena semua hal yang diperlukan untuk menunaikan haji telah sempurna sehingga jika terjadi kemaksiatan, maka kemaksiatan tersebut terjadi pada wasilah, bukan substansi dari ibadahnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *