[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 203

06.01. BAB KEUTAMAAN HAJI DAN SIAPA YANG WAJIB MELAKSANAKANNYA 04

0661

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -، «أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَتْ: إنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ، فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْت لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ، أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاَللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

661. Darinya, “Bahwasanya seorang wanita dari kabilah Juhainah mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berkata, “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, namun ia belum menunaikannya hingga meninggal, apakah aku harus menunaikan haji atas namanya?” Beliau bersabda, “Ya, tunaikanlah haji atas namanya, seandainya ibumu berhutang, apakah engkau akan membayarnya? Tunaikanlah untuk Allah. Maka sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditepati -hak-Nya-.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (7315).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (Ibnu Abbas), “Bahwasanya seorang wanita (Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia tidak menemukan namanya) dari kabilah juhainah mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berkata, “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, namun ia belum menunaikannya hingga meninggal, apakah aku harus menunaikan haji atas namanya?” Beliau bersabda, “Ya, tunaikanlah haji atas namanya, seandainya ibumu berhutang, apakah engkau akan membayarnya? Tunaikanlah untuk Allah. Maka sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditepati -hak-Nya-.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan bahwa apabila seseorang bernadzar untuk menunaikan haji namun ia belum menunaikannya, maka diperbolehkan bagi anaknya untuk mewakilinya menunaikan haji, walaupun anak tersebut belum menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri, karena dalam kisah [hadits] di atas disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menanyakan apakan wanita tersebut telah menunaikan haji untuk dirinya sendiri atau belum? Juga analogi Rasulullah, bahwa beliau menyamakan haji dengan hutang, yang diperbolehkan bagi seseorang untuk melunasi hutang orang lain walaupun ia belum melunasi hutangnya.

Penjelasan ini dibantah, sesungguhnya hadits Subrumah menjelaskan bahwa tidak diperbolehkan mewakili ibadah haji orang lain bagi seseorang yang belum menunaikan haji untuk dirinya sendiri, sedangkan orang yang sedang menanggung hutang maka ia tidak diperbolehkan untuk melunasi hutang orang lain sebelum melunasi hutangnya sendiri.

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya qiyas -analogi-, lalu beliau juga memberikan contoh agar lebih mantap -penjelasannya- dan diterima oleh pendengarnya. Beliau menyamakan sesuatu yang belum diketahui hukumnya dengan sesuatu yang telah diketahui, karena aturan berhutang telah diketahui oleh pendengar, dengan demikian beliau telah menjelaskan dengan baik.

Hadits ini juga menjelaskan wajibnya menunaikan haji atas nama orang yang telah meninggal, baik orang tersebut telah berwasiat atau tidak, karena bagaimanapun hutang harus dibayar, begitu juga dengan semua jenis tanggungan keuangan seperti kafarat atau sejenisnya. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah dan As-Syafi’i. Dan upah -jika orang yang meninggal tersebut mempunyai tunggakan upah untuk pekerjanya- dikeluarkan dari modal awal, dan zhahirnya menunjukkan bahwa upah tersebut lebih diutamakan dari pada hutang, dan hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah,

{وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى}

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

karena ayat ini bersifat umum lalu dikhususkan oleh hadits ini. Selain itu, karena ayat ini berkenaan dengan orang kafir, lalu disebutkan bahwa huruf “Lii” [untuk] yang bermakna “Alaa” [atas], maksudnya “…tidak ada atas mereka kecuali apa yang telah mereka lakukan…”, sebagaimana firman Allah,

{وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ}

“dan bagi merekalah laknat.” (QS. Ghafir: 52)

dan masalah ini telah kami jelaskan di dalam Hawasyi Dhau An-Nahar.

0662

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ، ثُمَّ بَلَغَ الْحِنْثَ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ حَجَّةً أُخْرَى، وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ، ثُمَّ أَعْتَقَ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ حَجَّةً أُخْرَى» رَوَاهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالْبَيْهَقِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ، إلَّا أَنَّهُ اُخْتُلِفَ فِي رَفْعِهِ، وَالْمَحْفُوظُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ

662. Darinya Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika seorang anak kecil telah menunaikan haji, maka ketika ia telah mencapai masa berdosa [baligh] hendaklah ia menunaikan ibadah haji lagi.” (HR. Ibnu Syaibah dan Al-Baihaqi, perawi-perawinya tsiqah, hanya saja diperselisihkan apakah hadits ini marfu’, namun yang lebih mungkin adalah mauquf)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (2729).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan kalimat

“Darinya (Ibnu Abbas) Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika seorang anak kecil telah menunaikan haji, maka ketika ia telah mencapai masa berdosa [baligh] (yaitu masa dosa-dosanya dicatat, yakni masa baligh) hendaklah ia menunaikan ibadah haji lagi.” HR. Ibnu Syaibah dan Al-Baihaqi, perawi-perawinya tsiqah, hanya saja diperselisihkan apakah hadits ini marfu’, namun yang lebih mungkin adalah mauquf. (Ibnu Khuzaimah berkata, “Yang benar, hadits ini adalah mauquf.” Dan para ahli hadits memiliki banyak pendapat dalam menanggapi hadits ini).

Tafsir Hadits

Muhammad bin Ka’ab Al-Qaradhi berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنِّي أُرِيدُ أَنْ أُجَدِّدَ فِي صُدُورِ الْمُؤْمِنِينَ أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ بِهِ أَهْلُهُ فَمَاتَ أَجْزَأَتْ فَإِنْ أَدْرَكَ فَعَلَيْهِ الْحَجُّ»

“Sesungguhnya aku ingin memperbaharui dada kaum mukminin, bahwa jika ada seorang anak kecil telah ditunaikan hajinya oleh keluarganya lalu anak itu meninggal maka ibadah haji itu telah sah, namun jika anak itu mencapai masanya [baligh] maka hendaklah ia menunaikan haji.” Begitu pula dijelaskan dalam masalah budak.” (HR. Said bin Manshur, dan Abu Dawud di dalam Al-Marasil, hadits ini dijadikan dalil bagi Ahmad, dan Asy-Syafi’i meriwayatkan hadits Ibnu Abbas).

Ibnu Taimiyah berkata, “Apabila hadits mursal diamalkan oleh para sahabat, menurut kesepakatan ulama hadits tersebut menjadi hujjah [dasar hukum].” Ia juga berkata, “Ini adalah ijma’ ulama, dan karena hal tersebut berasal dari para ahli ibadah, maka hajinya sah baginya, namun tidak bisa mewakilinya -anak kecil tersebut- karena haji tersebut dilakukan sebelum anak tersebut mendapatkan perintah untuk menunaikan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *