[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 202

06.01. BAB KEUTAMAAN HAJI DAN SIAPA YANG WAJIB MELAKSANAKANNYA 03

0659

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَقَى رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: مَنْ الْقَوْمُ؟ فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: رَسُولُ اللَّهِ فَرَفَعَتْ إلَيْهِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَلَك أَجْرٌ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

659. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bertemu dengan serombongan orang berkendaraan di Rauha”, lalu beliau bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka balik bertanya, “Siapa kamu?” Maka beliau menjawab, “Rasulullah.” Lalu ada seseorang perempuan yang menunjukkan anak kecil kepada beliau seraya bertanya, “Apakah ada kewajiban berhaji untuk anak ini?” Beliau menjawab, “Ya, dan engkau akan mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1336).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bertemu dengan serombongan orang berkendaraan (bisa jadi beliau bertemu dengan mereka pada malam hari sehingga mereka tidak mengenali beliau, atau bertemunya siang hari namun mereka belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya) di Rauha’ (nama sebuah tempat di dekat Madinah), lalu beliau bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka (orang-orang muslim tersebut) balik bertanya, “Siapa kamu?” maka beliau menjawab, “Beliau menjawab, “Rasulullah.” Lalu ada seseorang perempuan yang menunjukkan anak kecil seraya bertanya, “Apakah ada kewajiban berhaji untuk anak ini?” Beliau menjawab, “Ya, dan engkau akan mendapatkan pahalanya (karena ia telah membawanya dan menghajikannya atau karena ia telah menanyakan hal tersebut, atau bisa jadi karena keduanya).”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil sahnya ibadah haji bagi anak kecil, baik anak tersebut telah mumayyiz -bisa membedakan baik dan buruk- atau belum, jika walinya telah menghajikannya sebagaimana hajinya orang dewasa, dan inilah pendapat jumhur ulama. Namun ia tidak bisa mewakili haji yang wajib dalam agama Islam, berdasarkan hadits Ibnu Abbas,

«أَيُّمَا غُلَامٍ حَجَّ بِهِ أَهْلُهُ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةٌ أُخْرَى»

“Seorang anak kecil yang telah dihajikan oleh keluarganya, jika telah baligh ia harus menunaikan ibadah haji lagi.” (HR. Al-Khatib dan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dengan beberapa tambahan)

Al-Qadhi berkata, “Mereka telah berijma’ bahwa haji tersebut tidak bisa mewakili ibadah haji wajib, kecuali sekelompok orang, berdasarkan sabda beliau, “Ya.” Karena zhahir lafazh menunjukkan bahwa yang dimaksud ialah haji, sebab jika dikatakan haji maka makna yang segera ditangkap ialah haji wajib.” Tetapi, kebanyakan ulama berbeda dengan pendapat ini.

An-Nawawi berkata, “Jika anak tersebut belum sampai umur tamyiz, maka wali yang menunaikan ibadah [haji] atas nama anak tersebut ialah wali yang mengurusi harta anak tersebut, seperti bapaknya, kakeknya, orang yang diwasiati atau petugas yang ditunjuk oleh pemerintah. Sedangkan seorang ibu, maka ia tidak boleh menunaikan ibadah [haji] atas nama anak tersebut kecuali jika ia telah mendapatkan wasiat atau ia diperintahkan oleh pihak pemerintah. Ada juga yang berpendapat hal itu diperbolehkan, bahkan kerabat pun diperbolehkan jika anak tersebut tidak memiliki wali yang mengurusi hartanya.

Cara seorang wali mengihramkan anak tersebut dengan berniat di dalam hatinya, “Saya mengihramkannya.”

0660

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ. فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إلَيْهَا وَتَنْظُرُ إلَيْهِ. وَجَعَلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إلَى الشِّقِّ الْآخَرِ. فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لَا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

660. Dann darinya berkata, “Saat itu Al-Fadhl bin Abbas diboncengkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu datanglah seorang wanita dari Khats’am, sehingga Al-Fadhl melihat orang tersebut dan ia pun melihat kepadanya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah yang lain. Maka wanita tersebut bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah yaitu haji telah sampai kepada ayahku yang telah tua renta yang tidak bisa duduk di atas kendaraan, apakah aku menunaikan haji atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Dan itu terjadi pada haji wada’.” (Muttafaq Alaih, lafadz ini dari Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1513), dan Muslim (1334).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (Ibnu Abbas) berkata, “Saat itu Al-Fadhl bin Abbas diboncengkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (pada saat menunaikan haji wada’ ketika sedang berada di Mina), lalu datanglah seorang wanita dari Khats’am (nama sebuah kabilah), sehingga Al-Fadhl melihat orang tersebut dan ia pun melihat kepadanya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah yang lain. Maka wanita tersebut bertanya, “‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah yaitu haji telah sampai kepada ayahku yang telah tua renta yang tidak bisa duduk di atas kendaraan (di dalam riwayat lain disebutkan, “Aku mengkhawatirkannya jika harus mengikatnya di atas kendaraan.”), apakah aku menunaikan haji atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya (“Tunaikanlah haji atas namanya”).” Dan itu terjadi pada haji wada’.” Muttafaq Alaih, dengan lafadz Al-Bukhari (terdapat banyak riwayat dalam masalah ini, dan ada yang meriwayatkan bahwa yang bertanya ialah seorang laki-laki dan ia hendak menghajikan ibunya, dan bisa jadi dalam masalah ini terdapat banyak kisah).

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil diperbolehkannya menunaikan haji atas nama seorang mukallaf yang tidak bisa diharapkan lagi menunaikan haji sendiri, seperti seseorang yang telah tua renta. Sedangkan apabila halangan tersebut dikarenakan sakit atau gangguan jiwa yang diharapkan bisa sembuh, maka tidak diperbolehkan. Zhahir hadits mengisyaratkan bahwa orang yang akan diwakili tersebut tidak bisa duduk di atas kendaraan dan jika ia harus diikat kondisinya akan mengkhawatirkan. Dan jika orang tersebut masih bisa diikat di atas kendaraan, maka ia tidak boleh diwakili. Hanya saja di dalam Al-Bahr disebutkan bahwa para ulama telah berijma’ atas diperbolehkannya mewakili haji orang tersebut. Jika benar para ulama telah berijma’, maka itulah yang selayaknya, namun jika tidak ada ijma’, maka memang seperti itulah yang telah diisyaratkan di dalam hadits di atas.

Ada yang mengatakan bahwa jika seseorang hendak berbuat baik dengan cara menunaikan haji atas nama seseorang, maka ia harus melakukannya, walaupun sebenarnya ibadah tersebut tidak wajib atas orang yang ia hendak diwakili tersebut. Alasannya, bahwa wanita di dalam hadits tersebut tidak menyebutkan apakah ayahnya memiliki bekal dan kendaraan, lalu Rasulullah pun tidak menanyakan hal tersebut. Pendapat ini dibantah, bahwa hadits di atas sama sekali tidak menjelaskan bahwa hal tersebut wajib, ia hanya menjelaskan bahwa hal tersebut hukumnya diperbolehkan, atau bisa jadi wanita tersebut telah mengetahui bahwa ayahnya wajib menunaikan ibadah haji, sebagaimana yang diisyaratkan dalam ungkapannya, “Sesungguhnya kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah yaitu haji telah sampai kepada ayahku yang telah tua renta…” ungkapan ini merupakan argumen kuat bahwa wanita tersebut telah memahami bahwa syarat wajibnya haji ialah mampu -telah dijelaskan di atas maksud mampu di sini-.

Orang-orang yang mengatakan bahwa seseorang diperbolehkan untuk mewakili ibadah haji wajib untuk seseorang (ibadah haji wajib adalah ibadah haji yang wajib untuk dilaksanakan oleh seorang muslim, sekali dalam seumur hidup, Edt.), mereka sepakat bahwa hal itu diperbolehkan jika orang yang diwakili berhalangan karena telah meninggal atau tidak mampu karena lemah atau yang sejenisnya, hal ini berbeda jika orang tersebut mewakilinya untuk menunaikan ibadah haji sunnah -setelah haji pertama dan yang sejenisnya-. Sedangkan Ahmad dan Abu Hanifah berpendapat bahwa perwakilan tersebut diperbolehkan secara mutlak -tanpa syarat apa pun-, berdasarkan kenyataan bahwa hal tersebut diperbolehkan pada haji sunnah. Ada juga yang berpendapat bahwa mewakili haji wajib tidak diperbolehkan, dan hukum yang ada dalam hadits di atas hanya khusus wanita dalam kisah tersebut, walaupun sebenarnya pengkhususan ini bertentangan dengan hukum asal -semua syariat untuk semua umat-, namun mereka berargumen dengan tambahan dalam hadits di atas dalam satu riwayat,

«حُجِّي عَنْهُ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ بَعْدَك»

“Tunaikanlah haji untuknya dan tidak untuk seorangpun setelah kamu.”

Kemudian riwayat ini dibantah bahwa tambahan ini diriwayatkan dengan sanad dhaif.

Ada juga yang mengkhususkan anak -yang diperbolehkan mewakili hanya anaknya-, bantahan atas pendapat ini, bahwa selain anak diqiyaskan kepadanya dan qiyas merupakan dalil, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyebutkan alasan diperbolehkannya, yaitu sabda beliau, “Maka hutang Allah lebih layak untuk dibayar.” Beliau menyamakannya dengan hutang, yang para ulama telah bersepakat bahwa siapa pun diperbolehkan melunasi hutang orang lain, juga berdasarkan hadits Syubrumah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *