[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 201

06.01. BAB KEUTAMAAN HAJI DAN SIAPA YANG WAJIB MELAKSANAKANNYA 02

0657

عَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَرْفُوعًا «الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ»

657. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu secara marfu-, “Haji dan umrah ialah dua -ibadah- yang diwajibkan.”

[dhaif, Dhaif Al-Jami’ (2764).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Seandainya hadits ini kuat, maka tentulah cukup menjadi dasar wajibnya umrah, akan tetapi Ibnu Hajar tidak menyebutkan perawinya dan tidak menyebutkan komentar atas hadits ini. Namun disebutkan di dalam At-Talkhis bahwasanya hadits ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Al-Baihaqi dari Ibnu Luhai’ah dari Atha’ dari Jabir, hanya saja Ibnu Luhai’ah adalah perawi dhaif. Ibnu Adi berkata, “Ia tidak diketahui meriwayatkan dari Atha’.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dari Zaid bin Tsabit dari Ibnu Sirin secara mauquf, dengan tambahan lafazh,

لَا يَضُرُّك بِأَيِّهِمَا بَدَأْت

“Dan tidak ada salahnya dengan yang manapun engkau memulainya.” [Ad-Daraquthni (2/284).]

Dan dalam satu jalur periwayatannya dhaif dan yang lainnya munqathi’. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dari Zaid bin Tsabit dari Ibnu Sirin secara mauquf, sanadnya paling shahih dan dishahihkan oleh Al-Hakim.

Dikarenakan adanya perbedaan dalil yang menjelaskan wajib atau tidaknya umrah, maka para ulama, baik ulama salaf maupun khalaf, berbeda pendapat, Ibnu Umar berpendapat bahwa hukumnya ialah wajib, hal ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq, pendapat ini didukung oleh Ibnu Khuzaimah dan Ad-Daraquthni, hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas secara mu’allaq karena adanya penjelasan di dalam Al-Qur’an,

{وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ}

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 296),

sedangkan Asy-Syafi’i meriwayatkan hadits ini secara marfu’ melalui Ibnu Abbas. Al-Bukhari menegaskan tentang wajibnya umrah, seraya membuat bab khusus yang beliau namakan -Bab Kewajiban Umrah dan Keutamaannya-kemudian beliau menyebutkan hadits Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Ada juga pendapat yang mewajibkan umrah dengan berargumenkan hadits,

«حُجَّ عَنْ أَبِيك وَاعْتَمِرْ»

“Berhaji dan berumrahlah untuk mewakili ayahmu.” [Shahih: At-Tirmidzi (930).]

Hadits ini shahih, hingga Asy-Syafi’i mengatakan, “Saya tidak mendapatkan dalil yang lebih baik dari ini dalam mewajibkan umrah.”

Al-Hanafiyah juga termasuk mereka yang mewajibkannya, berdasarkan argumen-argumen di atas.

Argumen dengan firman Allah, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 296) dibantah dengan jawaban bahwa ayat tersebut tidak menyebutkan kecuali kewajiban untuk menyempurnakannya, dan hal tersebut telah disepakati oleh seluruh ulama. Bahwa apabila seseorang telah memakai pakaian ihram untuk menunaikan ibadah umrah, maka ia wajib menyempurnakannya, walaupun ia melakukannya secara sukarela.

Pendapat yang masyhur dari madzhab Asy-Syafi’iyah, bahwa hukum umrah ialah fardhu. Namun sebenarnya tidak ada dalil kuat yang menjelaskan kewajiban ibadah umrah, karena hukum asalnya tidak wajib.

0658

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا السَّبِيلُ؟ قَالَ: الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَالرَّاجِحُ إرْسَالُهُ – وَأَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ. وَفِي إسْنَادِهِ ضَعْفٌ

658. Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud as-sabil [ada jalan]?” Beliau bersabda, “Bekal dan kendaraan.” (HR. Ad-Daraquthni dan dishahihkan oleh Al-Hakim, dan yang benar hadits ini ialah mursal. Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Umar namun sanadnya dhaif )

[dhaif, Ad-Daraquthni (2/216), lihat Dhaif Al-Jami’ (3335).]

[dhaif sekali, At-Tirmidzi (813).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud as-sabil [ada jalan] (yang disebutkan di dalam ayat tentang haji)?” Beliau bersabda, “Bekal dan kendaraan.” HR. Ad-Daraquthni dan dishahihkan oleh Al-Hakim (juga dishahihkan oleh Al-Baihaqi dari Said bin Abu Urubah dari Qatadah dari Anas dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam), dan yang benar hadits ini ialah mursal (karena Al-Baihaqi mengatakan, “Yang benar hadits ini diriwayatkan dari Qatadah dari Al-Hasan secara mursal.” Ibnu Hajar berkata, “Yang beliau maksud ialah hadits yang diriwayatkan Ad-Daraquthni, yang mana sanadnya antara shahih dan hasan, menurut saya hadits ini tidak maushul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Umar (sebagaimana diriwayatkan dari Anas) namun sanadnya dhaif (walaupun At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, karena ada perawi yang matruk).

Tafsir Hadits

Hadits ini telah diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Aisyah dan yang lainnya, namun semua jalur tersebut dhaif. Abdul Haq berkata, “Semua jalurnya dhaif.” Ibnu Al-Mundzir berkata, “Dalam masalah ini tidak ada hadits yang bisa jadi sandaran.” Dan yang shahih ialah riwayat melalui jalur Al-Hasan yang mursal tersebut.

Kebanyakan umat memakai tafsir ini, yakni bahwa bekal merupakan syarat mutlak, sedangkan kendaraan merupakan syarat bagi mereka yang rumahnya jauh. Setelah menyebutkan hadits-hadits di atas, Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits-hadits ini bisa menjadi sandaran, karena ia diriwayatkan melalui jalur-jalur hasan, mursal dan mauquf, yang menunjukkan kewajiban bekal dan kendaraan, padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui bahwa saat orang-orang bisa berjalan kaki ke sana, kemudian Allah juga berfirman dalam masalah ibadah haji,

{مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا}

“Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

kata “jalan” dalam ayat tersebut bisa bermakna kemampuan secara umum yang biasa diperlukan dalam setiap ibadah, yakni hanya sekadar kemampuan untuk melakukan saja, atau ada hal lain yang dimaksudkan, jika yang dimaksud ialah yang pertama maka tidak perlu penjelasan ini, sebagaimana tidak perlunya penjelasan -makna kemampuan- dalam ibadah puasa maupun shalat, dengan demikian bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud adalah makna kedua, yang tidak lain kecuali harta, selain itu ibadah haji ialah ibadah yang harus menempuh suatu perjalanan, maka untuk menunaikannya harus ada bekal dan kendaraan seperti jihad, sebagaimana tersebut dalam firman Allah, ”

{وَلا عَلَى الَّذِينَ لا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ}

dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan” (QS. At-Taubah: 91) dan juga,

{وَلا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ}

“dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan.” (QS. At-Taubah: 92)

Ibnu Az-Zubair dan beberapa tabi’in berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kemampuan ialah kesehatan, bukan yang lainnya. Berdasarkan firman Allah,

{وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى}

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

ia menjelaskan makna bekal ialah ketakwaan.

Bantahan atas pendapat ini, bahwa makna tersebut bukan dimaksud -dengan kata bekal dalam ibadah haji- berdasarkan sebab turunnya ayat ini. Kemudian hadits bab ini dengan jelas menyebutkan bahwa yang dimaksud kata ‘bekal’ ialah bekal dalam arti sesungguhnya. Walaupun hadits ini jalur-jalur periwayatannya dhaif namun jumlahnya yang banyak tersebut saling menguatkan. Dan yang dimaksud dengan bekal ialah kelebihan harta dari harta yang dipersiapkan untuk keperluan keluarganya dari ia berangkat hingga kembali, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«كَفَى بِالْمَرْءِ إثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُولُ»

“Dan seseorang akan berdosa jika ia menelantarkan keluarganya.” [hasan: Abi Dawud (1692).]

Dan haji dianggap sah walaupun dilaksanakan dengan menggunakan harta haram, walaupun menurut kebanyakan ulama ia berdosa. Sedangkan menurut Ahmad, haji tersebut tidak sah.

0659

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَقَى رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: مَنْ الْقَوْمُ؟ فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: رَسُولُ اللَّهِ فَرَفَعَتْ إلَيْهِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَلَك أَجْرٌ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

659. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bertemu dengan serombongan orang berkendaraan di Rauha”, lalu beliau bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka balik bertanya, “Siapa kamu?” Maka beliau menjawab, “Rasulullah.” Lalu ada seseorang perempuan yang menunjukkan anak kecil kepada beliau seraya bertanya, “Apakah ada kewajiban berhaji untuk anak ini?” Beliau menjawab, “Ya, dan engkau akan mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1336).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bertemu dengan serombongan orang berkendaraan (bisa jadi beliau bertemu dengan mereka pada malam hari sehingga mereka tidak mengenali beliau, atau bertemunya siang hari namun mereka belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya) di Rauha’ (nama sebuah tempat di dekat Madinah), lalu beliau bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka (orang-orang muslim tersebut) balik bertanya, “Siapa kamu?” maka beliau menjawab, “Beliau menjawab, “Rasulullah.” Lalu ada seseorang perempuan yang menunjukkan anak kecil seraya bertanya, “Apakah ada kewajiban berhaji untuk anak ini?” Beliau menjawab, “Ya, dan engkau akan mendapatkan pahalanya (karena ia telah membawanya dan menghajikannya atau karena ia telah menanyakan hal tersebut, atau bisa jadi karena keduanya).”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil sahnya ibadah haji bagi anak kecil, baik anak tersebut telah mumayyiz -bisa membedakan baik dan buruk- atau belum, jika walinya telah menghajikannya sebagaimana hajinya orang dewasa, dan inilah pendapat jumhur ulama. Namun ia tidak bisa mewakili haji yang wajib dalam agama Islam, berdasarkan hadits Ibnu Abbas,

«أَيُّمَا غُلَامٍ حَجَّ بِهِ أَهْلُهُ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةٌ أُخْرَى»

“Seorang anak kecil yang telah dihajikan oleh keluarganya, jika telah baligh ia harus menunaikan ibadah haji lagi.” (HR. Al-Khatib dan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dengan beberapa tambahan)

Al-Qadhi berkata, “Mereka telah berijma’ bahwa haji tersebut tidak bisa mewakili ibadah haji wajib, kecuali sekelompok orang, berdasarkan sabda beliau, “Ya.” Karena zhahir lafazh menunjukkan bahwa yang dimaksud ialah haji, sebab jika dikatakan haji maka makna yang segera ditangkap ialah haji wajib.” Tetapi, kebanyakan ulama berbeda dengan pendapat ini.

An-Nawawi berkata, “Jika anak tersebut belum sampai umur tamyiz, maka wali yang menunaikan ibadah [haji] atas nama anak tersebut ialah wali yang mengurusi harta anak tersebut, seperti bapaknya, kakeknya, orang yang diwasiati atau petugas yang ditunjuk oleh pemerintah. Sedangkan seorang ibu, maka ia tidak boleh menunaikan ibadah [haji] atas nama anak tersebut kecuali jika ia telah mendapatkan wasiat atau ia diperintahkan oleh pihak pemerintah. Ada juga yang berpendapat hal itu diperbolehkan, bahkan kerabat pun diperbolehkan jika anak tersebut tidak memiliki wali yang mengurusi hartanya.

Cara seorang wali mengihramkan anak tersebut dengan berniat di dalam hatinya, “Saya mengihramkannya.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *