[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 200

06. KITAB HAJI
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Menurut kesepakatan para ulama, haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Ibadah ini pertama kali diwajibkan pada tahun keenam Hijriyah, demikianlah menurut jumhur ulama. Sedangkan di dalam Al-Huda, Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ibadah haji diwajibkan pada tahun kesembilan atau kesepuluh Hijriyah, namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.

06.01. BAB KEUTAMAAN HAJI DAN SIAPA YANG WAJIB MELAKSANAKANNYA 01

0654

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْعُمْرَةُ إلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلَّا الْجَنَّةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

654. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi penebus -dosa- antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1773) Muslim (1349).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi penebus -dosa- antara keduanya, dan haji yang mabrur (yakni ibadah haji yang tidak tercampuri oleh perbuatan dosa, demikian pendapat yang dipilih oleh Imam Nawawi. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan haji mabrur adalah haji yang maqbul [diterima]. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan haji mabrur adalah ibadah haji yang pengaruhnya terlihat bagi pelakunya, sehingga perilakunya berubah menjadi lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Ahmad dan Al-Hakim meriwayatkan dari Jabir,

«قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا بِرُّ الْحَجِّ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»

“Ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kebajikan ibadah haji itu?” Beliau menjawab, “Yaitu memberikan makanan dan menyebarkan salam.” [hasan, Shahih Al-Jami’ (2819).]

Di dalam sanadnya ada yang dhaif, seandainya hadits ini kuat maka hadits di atas harus ditafsirkan dengan hadits ini) tidak ada balasan baginya kecuali surga.”

Secara bahasa, umrah berarti ziarah atau menyengaja [keinginan]. Sedangkan dalam terminologi syariat, yang dimaksud dengan umrah adalah rangkaian ibadah yang terdiri dari ihram, sa’i, tawaf dan mencukur habis rambut atau memotong sebagian rambut. Dinamakan umrah karena pelakunya berziarah dan sengaja mengunjungi ka’bah.

Tafsir Hadits

Sabda beliau, “Satu umrah ke umrah yang lainnya…” menunjukkan bahwa ibadah umrah boleh dilakukan berulang-ulang, tanpa diikuti oleh hukum makruh dan tidak dibatasi dengan waktu tertentu.

Sedangkan Al-Malikiyah berpendapat bahwa melakukan umrah lebih dari sekali dalam satu tahun hukumnya makruh. Hal ini didasarkan kepada perilaku Rasulullah, bahwa beliau tidak pernah melakukan umrah, kecuali hanya sekali dalam satu tahun. Dan menurut mereka perbuatan Rasulullah berimplikasi kepada hukum wajib atau sunnah.

Pendapat ini dibantah, bahwa terkadang Rasulullah meninggalkan sesuatu yang dianjurkan karena ingin meringankan beban umatnya, lalu beliau memerintahkannya pada kesempatan lain dengan sabda beliau.

Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa ibadah umrah disyariatkan pada sembarang waktu, dan inilah pendapat jumhur ulama. Namun, ada yang mengecualikan bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji. Ada yang mengecualikan hari-hari tasyriq. Ada yang mengecualikan hari Arafah. Dan ada juga yang mengecualikan bulan-bulan haji bagi selain mereka yang sedang menunaikan ibadah haji secara tamattu’ atau qiran.

Namun yang lebih kuat, bahwa ibadah tersebut disyariatkan secara mutlak -kapan pun-. Kemudian umrah yang telah dilakukan oleh Rasulullah pada bulan-bulan haji membantah pendapat yang memakruhkan ibadah umrah pada saat tersebut. Karena empat kali ibadah umrah yang telah dilakukan oleh Rasulullah, semuanya beliau lakukan pada bulan-bulan haji. Dan umrah keempat, beliau laksanakan saat beliau menunaikan ibadah haji, karena saat itu Rasulullah menunaikan haji qiran, sebagaimana yang dijelaskan oleh berbagai dalil, dan itulah pendapat para ulama yang agung.

0655

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: الْحَجُّ، وَالْعُمْرَةُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، وَأَصْلُهُ فِي الصَّحِيحِ

655. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “‘Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Adakah kewajiban berjihad bagi seorang wanita? Beliau menjawab, “Ya, kewajiban atas mereka ialah jihad yang tidak ada peperangan padanya, yaitu ibadah haji dan umrah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, lafazh hadits ini darinya, sanadnya shahih, dan aslinya terdapat di dalam kitab Ash-Shahih)

[Shahih: Ibnu Majah (2954).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Adakah kewajiban berjihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Ya, kewajiban atas mereka ialah jihad yang tidak ada peperangan padanya (seakan-akan Aisyah bertanya, “Apakah jihad tersebut?”) yaitu ibadah haji dan umrah (keduanya [haji dan umrah] disamakan dengan jihad karena pada keduanya terdapat beban berat).” HR. Ahmad dan Ibnu Majah, hadits ini adalah lafazhnya (Ibnu Majah), sanadnya shahih, dan aslinya terdapat di dalam kitab Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Hal ini menunjukkan bahwa jika Ibnu Hajar menyebutkan kata-kata kitab Ash-Shahih maka yang dimaksud ialah Shahih Al-Bukhari. Yang dimaksud ialah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah binti Thalhah dari Aisyah Ummul Mukminin, “Bahwasanya ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amal paling utama, bukankah sebaiknya kami juga berjihad?” Beliau bersabda, “Tidak, akan tetapi seutama-utama jihad ialah haji mabrur.”

Tafsir Hadits

Hadits ini membatasi pengertian haji di dalam hadits Ahmad di atas. Juga menjelaskan bahwa ibadah haji dan umrah bisa menggantikan jihad bagi para wanita. Kemudian, zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa ibadah umrah hukumnya wajib. Hanya saja hadits berikut ini menjelaskan hal yang berbeda.

0656

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ الْعُمْرَةِ، أَوَاجِبَةٌ هِيَ؟ فَقَالَ: ” لَا. وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَك ” رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ. وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ

656. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahu aku tentang -hukum- umrah, apakah hukumnya wajib?” Beliau menjawab, “Tidak, namun jika engkau melaksanakan ibadah umrah maka hal itu lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, namun yang benar hadits ini adalah mauquf, Ibnu Adi meriwayatkan dari jalur lain, namun dhaif)

[Dhaif: At-Ttrmidzi (931).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Seorang Arab Badui (mereka ialah orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman, yang selalu mengikuti turunnya hujan dan tumbuhnya rerumputan, baik ia seorang orang Arab asli atau budak-budak mereka) mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahu aku tentang -hukum- umrah apakah hukumnya wajib?” Beliau menjawab, “Tidak (wajib), namun jika engkau melaksanakan ibadah umrah maka hal itu lebih baik bagimu (dari pada tidak melakukannya, kemudian penjelasan beliau bahwa ‘lebih baik melakukan’ menunjukkan hukumnya ialah sunnah, dan menjelaskan antara mengerjakannya dan tidak mengerjakannya tidak sama, sehingga ungkapan ini menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi, jika tidak dijelaskan seperti di atas, maka hukumnya akan berkisar antara sunnah atau mubah, yang kemudian akan dikembalikan kepada hukum asal bahwa ia adalah mubah).” HR. Ahmad dan At-Tirmidzi (secara marfu’), namun yang benar hadits ini adalah mauquf, Ibnu Adi meriwayatkan dari jalur lain (yang mana beliau meriwayatkan dari Abu Ishmah dari Ibnu Al-Munkadir dari Jabir, hanya saja Abu Ishmah mereka anggap pendusta), namun ia dhaif (karena keberadaan Abu Ishmah tersebut, sedangkan pada riwayat Ahmad terdapat Al-Hajjaj bin Arthaah dan ia adalah dhaif).

Ibnu Adi dan Al-Baihaqi meriwayatkan hadits tersebut dari Atha’ dari Jabir,

«الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ»

“Haji dan umrah adalah dua kewajiban,” [dhaif, Dhaif Al-Jami’ (2764).]

akan disebutkan mendatang.

Ungkapan yang menyatakan bahwa hadits Jabir di atas telah dishahihkan oleh At-Tirmidzi, telah dibantah di dalam Al-lmam, bahwa At-Tirmidzi tidak mengomentari apa pun kecuali dengan ucapannya bahwa hadits itu hasan, dalam semua riwayat yang menyebutkan hadits tersebut.

Kemudian Ibnu Hazm agak berlebihan ketika beliau mengomentarinya, “Ia adalah kabar bohong dan batil.” Di dalam masalah ini masih terdapat hadits-hadits lain, namun semua itu tidak bisa dijadikan landasan hukum.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Asy-Syafi’i, bahwasanya beliau berkata, “Dalam masalah umrah tidak ada dasar yang kuat, ia adalah tathawwu’ (ibadah tambahan), sedangkan untuk mengatakan wajib terdapat hadits-hadits yang tidak bisa digunakan sebagai landasan seperti hadits di atas dan hadits berikut ini. Baik hadits Aisyah di atas maupun hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *