[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 199

05.02. BAB I’TIKAF DAN BERIBADAH PADA MALAM RAMADHAN 09

0651

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ، وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتهَا فِي فَتْحِ الْبَارِي

651. Dari Muawiyah bin Abu Sufyan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam masalah malam lailatul qadar, “Pada malam kedua puluh tujuh.” (HR. Abu Dawud. Yang rajih ia mauquf, dan ada perbedaan pendapat dalam menentukan malam tersebut hingga mencapai 40 pendapat dan telah saya jelaskan di dalam kitab Fath Al-Bari)

[Shahih: Abi Dawud (1386).}

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Muawiyah bin Abu Sufyan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam masalah malam lailatul qadar, “Pada malam kedua puluh tujuh.” HR. Abu Dawud. (secara marfu’) Yang rajih ia mauquf (pada Muawiyah, namun ia dihukumi marfu’), dan ada perbedaan pendapat dalam menentukan malam tersebut hingga mencapai 40 pendapat dan telah saya jelaskan di dalam Fath Al-Bari (Yang mana tidak perlu disebutkan di sini, dan sebagian darinya yang tidak ada kaitan dengannya, seperti pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qadar telah diangkat, atau pendapat yang mengatakan bahwa ia tidak ada sama sekali, hal-hal seperti ini termasuk yang dihitung dari 40 pendapat tersebut. Ada juga pendapat lain yang tidak memiliki dalil sama sekali)

Tafsir Hadits

Dari demikian banyak pendapat, nampaknya yang kuat bahwa lailatul qadar terjadi pada tujuh hari terakhir. Ibnu Hajar menyebutkan di dalam kitab Fath Al-Bari setelah menyebutkan pendapat-pendapat di atas, “Dan pendapat yang paling kuat dari semuanya, bahwa lailatul qadar terjadi pada hari-hari ganjil dari sepuluh hari terakhir, dan ia berpindah-pindah sebagaimana yang bisa dipahami dari hadits bab ini, dan menurut Asy-Syafi’iyah bilangan witr [ganjil] yang paling tepat, yaitu 21, 23 sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abu Said dan hadits Abdullah bin Unais, sedangkan menurut jumhur ulama yang paling mungkin ialah pada tanggal 27.

0652

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، غَيْرَ أَبِي دَاوُد، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ

652. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, jika aku mendapati suatu malam adalah malam lailatul qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni’ – Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan maka ampunilah aku-.” (HR. Al-Khamsah, selain Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Al-Hakim menshahihkannya)

[Shahih: At-Tirmidzi (3513).}

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dikatakan, bahwa tanda-tanda lailatul qadar bagi yang mengetahuinya; ia melihat segala sesuatu bersujud. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut akan melihat cahaya-cahaya yang terang hingga ke tempat-tempat yang gelap. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut akan mendengar salam atau sapaan dari malaikat. Ada juga yang mengatakan bahwa tandanya ialah terkabulnya doa bagi orang yang mendapatinya. Ath-Thabari berkata, “Semua itu tidak bersifat pasti, karena terkadang seseorang itu [mendapati lailatul qadar], namun ia tidak melihat dan tidak pula mendengar apa pun.”

Kemudian para ulama berbeda pendapat, apakah pahalanya akan didapatkan oleh orang yang bertepatan [mendapati] lailatul qadar namun ia tidak mengetahui tanda apa pun ataukah hal itu tergantung kepada pengetahuannya -kasyafnya-? Ath-Thabari, Ibnu Al-Arabi dan yang lainnya berpendapat bahwa orang tersebut akan mendapatkan pahala. Dan kebanyakan ulama berpendapat bahwa pahala hanya diraih oleh mereka yang mengetahuinya, berdasarkan hadits Muslim dari Abu Hurairah dengan lafadz,

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا

“Bagi yang mendirikan -ibadah- pada malam lailatul qadar dan bertepatan dengannya.” [shahih, Muslim (760).]

An-Nawawi menerangkan, maknanya; ia mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar. Dan bisa juga dipahami, bahwa maksudnya bertepatan dengan ibadahnya walaupun orang tersebut tidak mengetahuinya, dan makna inilah yang dianggap kuat oleh Ibnu Hajar, ia berkata, “Dan saya tidak memungkiri kemungkinan mendapatkan pahala yang besar bagi seseorang yang beribadah dalam rangka mendapatkan lailatul qadar walaupun ia tidak bertepatan dengannya -tidak mengetahuinya-, sesungguhnya yang dibicarakan di sini ialah pahala khusus yang telah dijanjikan yaitu ampunan atas dosa yang telah berlalu.

0653

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدُ الْأَقْصَى» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

653. Dari Abu Said Al-Khudri berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah sepatutnya- berniat untuk melakukan ziarah [perjalanan] kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini dan Masjid Al-Aqsha.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1864), dan Muslim (1397).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Said Al-Khudri berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah berniat (susunan kalimatnya adalah kalimat berita, namun maksudnya ialah kalimat larangan) untuk melakukan ziarah [perjalanan] kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini dan Masjid Al-Aqsha.”

Tafsir Hadits

Ketahuilah, bahwa hadits ini dimasukkan ke dalam bab i’tikaf karena ada yang mengatakan bahwa tidak sah melakukan i’tikaf kecuali pada tiga masjid ini. Kemudian bentuk nafi [negatif] dalam kalimat berita dimaksudkan sebagai kiasan sebuah larangan, seakan-akan beliau bersabda, “Tidak benar menurut syariat suatu perjalanan [ziarah] kecuali ke tempat-tempat di atas, karena adanya keistimewaan yang telah Allah berikan kepada ketiga tempat tersebut.”

Yang dimaksud dengan Masjidil Haram ialah semua wilayah haram, berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud At-Thayalisi dari ‘Atha:

«أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: هَذَا الْفَضْلُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحْدَهُ أَمْ فِي الْحَرَمِ؟ قَالَ: بَلْ فِي الْحَرَمِ كُلِّهِ»

“Bahwasanya dikatakan kepadanya, “Keutamaan ini hanya terdapat di Masjidil Haram atau di seluruh wilayah haram?” Beliau menjawab, “Bahkan di semua wilayah haram.” [Musnad At-Thayalisi (1/195).]

Dan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin membatasi dengan masjid saja beliau mengungkapkannya dalam ungkapan, “Masjidku ini.”

Yang dimaksud Masjid Al-Aqsha ialah Baitul Maqdis, dinamakan demikian karena tidak ada masjid di belakangnya kecuali masjid ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Az-Zamakhsyari.

Hadits ini menunjukkan keutamaan ketiga masjid ini. Hadits dengan ungkapan yang bersifat membatasi ini, menjelaskan haramnya sebuah perjalanan khusus kecuali kepada ketiga masjid tersebut. Seperti berziarah kepada orang-orang shalih, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga seperti perjalanan menuju tempat-tempat yang memiliki keutamaan dalam rangka mencari berkah dan mendirikan shalat di tempat tersebut. Dan inilah pendapat syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini yang didukung oleh Qadhi ‘Iyadh dan beberapa kelompok, pendapat ini berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh para perawi kitab As-Sunan yang isinya ialah bahwa Abu Bashrah Al-Ghifari mengingkari kepergian Abu Hurairah ke At-Thur, dan ia berkata, “Seandainya aku bisa mendapatkanmu sebelum kamu berangkat pasti kamu tidak akan berangkat.” [Shahih: An-Nasa’i (1429).]

Mereka berargumen dengan hadits ini dan disepakati oleh Abu Hurairah.

Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa hal itu tidak haram, mereka berargumen dengan dalil yang tidak memperkuat pendapat mereka sama sekali, dan mentakwil hadits nomor ini dengan takwil yang lemah, dan tentunya tidak perlu mentakwil suatu hadits kecuali jika ada dalil kuat yang bertentangan dengannya.

Hadits ini menjelaskan urutan keutamaan ketiga masjid di atas, yang paling utama ialah Masjidil Haram, karena penyebutannya pada urutan pertama menunjukkan keutamaan yang disebutkan, kemudian masjid Madinah lalu Masjid Al-Aqsha. Hal ini diperkuat apa yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan beliau menghasankannya, yaitu hadits marfu’ dari Abu Darda’,

«الصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ، وَالصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِي بِأَلْفِ صَلَاةٍ وَالصَّلَاةُ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِخَمْسِمِائَةِ صَلَاةٍ»

“Shalat di Masjidil Haram seperti shalat seratus ribu kali, dan shalat di masjidku seperti shalat seribu kali dan shalat di Baitul Maqdis seperti shalat lima ratus kali.” [dhaif, Dhaif Al-Jami’ (3509).]

Dan masih ada beberapa hadits lain yang semakna dengan itu.

Kemudian para ulama berbeda pendapat, apakah yang dimaksud shalat di dalam masjid-masjid tersebut mencakup shalat wajib dan shalat sunnah, atau khusus shalat wajib saja? Ath-Thahawi dan yang lainnya berkata, “Khusus untuk shalat wajib saja, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَفْضَلُ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إلَّا الْمَكْتُوبَةَ»

“Shalat yang paling utama dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat wajib.” [shahih, Al-Bukhari (731) Muslim (781).]

Namun, jelas bahwa penggunaan lam ta’’rif yang dikenal sebagai lam jins dalam kata shalat di dalam hadits di atas bermakna umum -dalam tata bahasa Arab- sehingga ia mencakup shalat sunnah, kecuali jika dipahami bahwa kata-kata shalat bila diucapkan secara mutlak, maka ia tidak bermakna, kecuali shalat wajib saja.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *