[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 198

05.02. BAB I’TIKAF DAN BERIBADAH PADA MALAM RAMADHAN 08

0648

وَعَنْهَا قَالَتْ: «السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشْهَدَ جِنَازَةً وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إلَّا لِمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ وَلَا اعْتِكَافَ إلَّا بِصَوْمٍ، وَلَا اعْتِكَافَ إلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَلَا بَأْسَ بِرِجَالِهِ إلَّا أَنَّ الرَّاجِحَ وَقْفُ آخِرِهِ

648. Darinya Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Sunnah atas orang yang sedang beri’tikaf agar tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak menjima’ istrinya dan tidak keluar kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ia hindari, dan tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa, dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (HR. Abu Dawud, perawi-perawinya tidak dipermasalahkan, hanya saja menurut pendapat yang rajih hadits ini mauquf di akhirnya)

[hasan shahih, Abi Dawud (2473).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Sunnah atas orang yang sedang beri’tikaf agar tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak menjima’ istrinya dan tidak keluar kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ia hindari (seperti yang telah disebutkan di atas dan yang sejenisnya), dan tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa, dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.” HR. Abu Dawud, perawi-perawinya tidak dipermasalahkan, hanya saja yang rajih hadits ini mauquf di akhirnya. (maksud akhirnya ialah mulai dari perkataan beliau, “dan tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa,” Ibnu Hajar berkata, “Ad-Daraquthni menegaskan bahwa hadits Aisyah hanya sampai pada perkataan, “dan tidak keluar kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ia hindari,” sedangkan selain itu adalah perkataan orang lain. Demikian disebutkan di dalam Fath Al-Bari, oleh karena itu disebutkan di sini, akhirnya mauquf).

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa seseorang yang sedang beri’tikaf tidak melakukan hal-hal yang telah disebutkan di dalam hadits di atas. Ia juga tidak menghadiri shalat Jumat. Jika ia melakukan hal-hal di atas, maka i’tikafnya akan batal. Walaupun sebenarnya dalam masalah ini terdapat banyak pendapat, namun dalil-dalil yang kuat mendukung apa yang telah saya sebutkan.

Apakah i’tikaf harus disertai dengan puasa? Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat, namun hadits mauquf di atas menunjukkan kepada hal tersebut. Di samping hadits di atas, ada hadits-hadits lain yang menguatkannya dan ada pula yang membantahnya, yang mana masing-masing tidak bisa digunakan sebagai dasar hukum. Hanya kemudian syarat ini bisa disimpulkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang beliau tidak pernah beri’tikaf kecuali disertai dengan puasa. Kemudian kenyataan bahwa beliau pernah beri’tikaf sepuluh hari pertama dari bulan Syawal, nampaknya beliau melakukannya sambil berpuasa dan beliau memulainya dari hari kedua, karena pada hari pertama [hari Id] beliau sibuk dengan shalat Id, berkhutbah dan keluar menuju kuburan. Hanya saja, sekadar perbuatan tidak bisa menjadi dalil atas disyaratkannya puasa dalam i’tikaf.

Syarat apakah i’tikaf berada di masjid atau tidak, kebanyakan ulama mensyaratkan agar i’tikaf dilaksanakan di masjid, kecuali beberapa pendapat yang diriwayatkan beberapa ulama. Yang dimaksud masjid jami’ ialah masjid yang dilaksanakan di dalamnya shalat [Jum’at. Ed], dan inilah pendapat Ahmad dan Abu Hanifah. Jumhur ulama mengatakan boleh beri’tikaf di sembarang masjid kecuali bagi mereka yang harus melaksanakan kewajiban shalat Jumat, maka ia lebih menganjurkan -mustahab- di masjid jami’.

Di antara hadits yang tidak mensyaratkan puasa dalam beri’tikaf, hadits nomor berikut ini.

0649

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَيْسَ عَلَى الْمُعْتَكِفِ صِيَامٌ إلَّا أَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى نَفْسِهِ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ، وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ أَيْضًا

649. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang yang sedang beri’tikaf tidak wajib berpuasa kecuali bagi yang mewajibkannya atas dirinya.” (HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim, dan yang rajih hadits ini mauquf juga)

[dhaif, Dhaif Al-Jami’ (4896).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini mauquf pada Ibnu Abbas. Al-Baihaqi berkata, “Yang benar hadits ini mauquf, dan menganggapnya sebagai hadits marfu’ adalah keliru, sehingga ijtihad dalam masalah ini terbuka, maka hadits ini tidak bisa menjadi dasar hukum atas tidak disyaratkannya berpuasa untuk beri’tikaf.”

Dan maksud, “…kecuali bagi yang mewajibkannya atas dirinya,” ialah orang yang nadzar berpuasa.

0650

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -، «أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ، فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أُرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

650. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya seseorang dari sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bermimpi melihat lailatul qadar dalam tidurnya, yaitu pada tujuh hari terakhir, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku melihat bahwa mimpi kalian telah bertepatan dengan tujuh hari terakhir, maka barangsiapa bersungguh-sungguh ingin mendapatkannya hendaklah ia mencarinya pada tujuh hari terakhir.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2015), dan Muslim (1165).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya seseorang dari sahabat (Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia tidak mendapatkan nama orang tersebut) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dia bermimpi melihat lailatul qadar dalam tidurnya (dikatakan kepada mereka di dalam tidur), yaitu pada tujuh hari terakhir, maka Nabi Shallallaahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Diperlihatkan kepada saya (saya tahu) bahwa mimpi kalian telah bertepatan dengan tujuh hari terakhir, maka barangsiapa bersungguh-sungguh ingin mendapatkannya hendaklah ia mencarinya pada tujuh hari terakhir.”

Tafsir Hadits

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar secara marfu’,

«الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي»

“Carilah pada sepuluh hari terakhir, jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, maka hendaklah ia tidak melewatkan tujuh hari yang tersisa.” [shahih, Muslim (1165).]

Ahmad meriwayatkan,

«رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ كَذَا فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْبَوَاقِي فِي الْوِتْرِ مِنْهَا»

“Seseorang melihat bahwa lailatul qadar pada malam keduapuluh tujuh atau yang seperti itu, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Carilah pada sepuluh hari yang tersisa pada hari-hari ganjilnya.” [Al-Musnad (2/8).]

Dan Ahmad meriwayatkan dari hadits Ali secara marfu’,

«إنْ غُلِبْتُمْ فَلَا تُغْلَبُوا عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي»

“Jika kalian lemah, maka jangan -paksakan- untuk mencari [lailatul aadar] pada tujuh hari terakhir.” [Al-Musnad (1/133).]

Kompromi dari demikian banyak riwayat ialah bahwa angka sepuluh sebagai persiapan -ihthiyat-, begitu juga angka tujuh maupun sembilan, karena saat itulah yang diperkirakan saatnya, dan hanya itulah yang mampu untuk diketahui.

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya sebuah mimpi dan diperbolehkannya untuk bersandar kepada mimpi tersebut dalam hal-hal yang riil, dengan syarat hal tersebut tidak menyimpang dari kaidah-kaidah syariat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *