[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 197

05.02. BAB I’TIKAF DAN BERIBADAH PADA MALAM RAMADHAN 07
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

I’tikaf secara bahasa berarti melazimkan sesuatu dan menahan diri kepada hal tersebut. Secara istilah, i’tikaf adalah berdiam di masjid yang dilakukan oleh seseorang [tertentu] dengan aturan tertentu. Sedangkan yang dimaksud beribadah pada Ramadhan ialah melakukan ibadah pada malam-malam Ramadhan, baik dengan mendirikan shalat maupun membaca Al-Qur’an.

An-Nawawi berkata, “Qiyam -beribadah pada malam- Ramadhan dengan cara mendirikan shalat tarawih.” Hal ini menunjukkan bahwa dalam beribadah pada malam Ramadhan tidak harus menghabiskan seluruh waktu malam dengan shalat sunnah, dan akan kami jelaskan apa yang dikatakan oleh An-Nawawi.

0646

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

646. Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa beribadah pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni semua kesalahannya yang telah lalu.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (37) Muslim (759).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa beribadah pada bulan Ramadhan karena iman (percaya dengan semua janji Allah berupa pahala) dan mengharap pahala (keridhaan dan pahala dari Allah), maka akan diampuni semua kesalahannya yang telah lalu.”

Tafsir Hadits

Hadits ini bisa dipahami, bahwa yang dimaksud ialah seseorang yang menghabiskan seluruh waktu malamnya, sedangkan orang yang hanya mengisi sebagian dari waktu malamnya, maka ia tidak akan mendapatkan janji berupa ampunan, inilah zhahir hadits tersebut. Kemudian kata-kata dosa di dalam hadits tersebut bersifat mutlak, sehingga mencakup semua dosa besar maupun dosa kecil, kemudian An-Nawawi berkata, “Yang biasa dipahami hanya berkenaan dengan dosa kecil.”

Dan inilah yang ditegaskan oleh Imam Al-Haramain, kemudian Iyadh menisbahkan pemahaman ini kepada ahlus sunnah, hal ini berdasarkan kepada pemahaman bahwa dosa-dosa besar tidak akan diampuni kecuali dengan taubat.

An-Nasa’i telah menambahkan di dalam riwayatnya,

” مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ ”

“Kesalahan yang telah lalu dan yang akan datang.”

Lafazh ini juga diriwayatkan oleh Ahmad. Ia juga diriwayatkan dari jalur Malik, dan kami telah jelaskan maksud dosa yang akan datang.

Hadits ini menunjukkan keutamaan beribadah pada bulan Ramadhan. Hal ini bisa diraih dengan mendirikan shalat witir sebanyak sebelas rakaat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada bulan Ramadhan dan yang lainnya, dan telah dijelaskan di dalam hadits Aisyah.

Sedangkan shalat tarawih sebagaimana yang biasa dilakukan sekarang, maka hal itu belum terjadi pada masa Rasulullah, hanya saja hal itu diadakan oleh Umar pada masa kekhalifahannya. Beliau memerintahkan Ubay unruk mengumpulkan orang-orang, kemudian diperselisihkan oleh para ulama, berapa rakaatkah pada saat itu Ubay mendirikan shalat. Ada yang mengatakan bahwa saat itu ia mendirikan shalat sebanyak sebelas rakaat, ada yang meriwayatkan dua puluh satu rakaat, ada yang meriwayatkan dua puluh rakaat, ada yang meriwayatkan dua puluh tiga rakaat, dan masih ada riwayat yang lainnya. Yang mana masalah ini telah kami bahas terdahulu.

0647

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا دَخَلَ الْعَشْرُ – أَيْ الْعَشْرُ الْأَخِيرَةُ مِنْ رَمَضَانَ – شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

647. Dari Aisyah berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memasuki sepuluh hari -sepuluh hari terakhir dari Ramadhan- beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2024), dan Muslim (1174).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memasuki sepuluh hari -sepuluh hari terakhir dari Ramadhan- (ungkapan ini tambahan dari perawi) beliau mengencangkan kainnya (menjauhi istri-istrinya), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

Tafsir Hadits

Ada yang memahami bahwa maksud dari mengencangkan kainnya ialah menyinsingkan lengan untuk beribadah. Ada juga yang mengatakan, bisa jadi yang dimaksud dari ungkapan tersebut bahwa Rasulullah memang benar-benar mengencangkan kainnya dan tidak melepasnya, lalu beliau menjauhi istri-istrinya, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Hanya makna ini -menjauhi istri-istrinya- agak melemah dengan adanya hadits dari Ali Radhiyallahu Anhu,

فَشَدَّ مِئْزَرَهُ وَاعْتَزَلَ النِّسَاءَ

“Maka beliau mengencangkan kainnya dan menjauhi istri-istrinya.” [Al-Baihaqi di dalam Al-Kubra (4/314).]

Karena adanya penyebutan kedua hal bersamaan di sini mengharuskan bahwa keduanya adalah sesuatu yang berbeda.

Sabda beliau, ‘menghidupkan malam harinya’ merupakan bentuk kiasan, karena malam merupakan waktu -wahana- yang digunakan untuk menghidupkannya, dan yang dimaksud ialah begadang -tidak tidur-.

Sabda beliau, ‘dan membangunkan keluarganya’ ialah untuk mendirikan shalat atau melakukan ibadah yang lain. Rasulullah mengistimewakan akhir bulan Ramadhan, karena masa itu adalah saat yang paling dekat kepada penghabisan bulan Ramadhan sehingga beliau bersungguh-sungguh [dalam beribadah]. Karena semua amal dan perbuatan itu dilihat dari penutupan (akhir)nya.

______________

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah itu.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2026), dan Muslim (1172).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu melaksanakannya, kemudian istri-istri beliau melanjutkan kebiasaan tersebut. Abu Dawud meriwayatkan dari Ahmad bahwa beliau berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan di antara ulama tentang hukum i’tikaf, yaitu sunnah.”

Yang dimaksud dengan i’tikaf ialah berkonsentrasi untuk khusyu’ beribadah kepada Allah dengan cara menyendiri, dalam keadaan perut kosong, bermunajat kepada-Nya, merasakan nikmat dengan berdzikir kepada-Nya, dan berusaha berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.

————————-

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hendak beri’tikaf beliau menunaikan shalat Subuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Muslim (1173).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan bahwa permulaan waktu i’tikaf ialah setelah shalat Subuh. Dengan demikian, orang yang mengatakan bahwa bila seseorang ingin beri’tikaf pada siang hari maka ia harus memasuki masjid sebelum terbit fajar dan orang yang ingin beri’tikaf pada malam hari maka ia harus memasuki masjid sebelum terbenamnya matahari telah menyelisihi hadits di atas. Mereka mentakwil hadits di atas dan mengatakan bahwa saat itu Rasulullah telah berada di masjid sebelum terbit fajar, dan setelah shalat fajar beliau menempati tempat yang telah disiapkan untuk beri’tikaf.

Menurut saya, sudah diketahui bersama bahwa sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau tidak keluar dari rumahnya, kecuali setelah iqamat dikumandangkan.

______________

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «إنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيُدْخِلَ عَلَيَّ رَأْسَهُ – وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ – فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إلَّا لِحَاجَةٍ، إذَا كَانَ مُعْتَكِفًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memasukkan kepalanya kepadaku sedangkan beliau berada di masjid, kemudian aku menyisir rambutnya, dan beliau tidak memasuki rumahnya kecuali untuk suatu keperluan, jika beliau sedang beri’tikaf.” (Muttafaq Alaih, dengan lafazh dari Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2029).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini menjelaskan, bahwa seseorang yang sedang beri’tikaf tidak mengeluarkan seluruh badannya dari dalam masjid, sedangkan keluarnya sebagian anggota tubuh diperbolehkan. Hadits ini juga menjelaskan, bahwa seyogyanya seseorang yang sedang beri’tikaf menjaga kebersihan, mandi, mencukur, dan berhias. Juga menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan kecil yang berkenaan dengan urusan pribadi boleh dilakukan di masjid, dan seseorang diperbolehkan meminta bantuan istrinya untuk itu.

Sabda beliau, “kecuali untuk satu keperluan” menunjukkan bahwa seseorang yang sedang beri’tikaf tidak diperkenankan keluar dari masjid kecuali untuk urusan yang sangat penting. Kemudian Az-Zuhri menerangkan bahwa yang dimaksud dengan keperluan di sini ialah buang air kecil maupun buang air besar. Para ulama telah bersepakat atas kedua hal ini, namun mereka berbeda pendapat dalam masalah-masalah lainnya, seperti makan dan minum. Kemudian ada juga yang menyamakan berobat dengan kop maupun berbekam dan yang sejenisnya dengan buang air besar maupun kecil.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *