[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 196

05.01. BAB PUASA SUNNAH DAN HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA 06

0644

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

644. Dari Abdullah bin Amr berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiada -puasa bagi orang yang berpuasa selamanya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1977), dan Muslim (1159).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami maksudnya, Pensyarah kitab Al-Mashabih berkata; “Hal ini ditafsirkan dari dua sisi, yang pertama, yakni ungkapan di atas bermakna doa buruk atas orang tersebut sebagai peringatan atas perbuatannya. Dan yang kedua bermaksud sebagai pemberitahuan. Maknanya, bahwasanya orang tersebut telah melawan lilitan rasa lapar dan cekikan rasa haus karena ia sering berpuasa hingga kedua hal tersebut serasa ringan baginya, sehingga ia tidak memerlukan kesabaran -untuk berpuasa- padahal di situlah sebenarnya tergantung pahala puasa, sehingga walaupun orang tersebut berpuasa, maka seakan-akan ia tidak berpuasa karena ia tidak mendapatkan keutamaan puasa, penjelasan bahwa hadits di atas bermakna pemberitahuan didukung hadits berikut ini.”

 0645

وَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ بِلَفْظِ: ” لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ ”

645. Dalam rhvayat Muslim dari Abu Qatadah, “Orang tersebut tidak berpuasa dan tidak berbuka.”

//Shahih: Muslim 1162. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Hadits ini didukung oleh hadits At-Tirmidzi dengan lafazh,

” لَمْ يَصُمْ وَلَمْ يُفْطِرْ ”

“Orang tersebut belum berpuasa dan belum berbuka.” [Shahih: At-Tirmidzi (767).]

Ibnu Al-Arabi berkata, “Jika hadits tersebut adalah sebuah doa, maka alangkah celakanya orang yang didoakan -buruk- oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan jika maknanya adalah pemberitahuan maka alangkah celakanya orang yang diberitahu oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya ia belum berpuasa. Dan jika secara syariat ia tidak dianggap berpuasa, maka bagaimana ia akan mendapatkan pahala?”

Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan hukum puasa setahun, ada yang berpendapat bahwa hukumnya haram, inilah pendapat beberapa golongan termasuk Ibnu Khuzaimah berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits yang semakna. Sedangkan golongan yang lain membolehkannya, dan inilah pendapat Ibnu Al-Mundzir, mereka mentakwil hadits-hadits yang melarangnya, bahwa maksud yang dilarang ialah jika orang tersebut berpuasa juga pada hari-hari yang diharamkan berpuasa, seperti pada had raya dan hari-hari tasyriq. Hanya saja takwil ini takwil yang tertolak, karena adanya larangan Rasulullah kepada Ibnu Amr melakukan puasa setahun-, yang mana beliau menjelaskan alasannya bahwa tubuhnya memiliki hak, keluarganya memiliki hak, dan tamunya memiliki hak atas dirinya, dan juga berdasarkan sabda beliau,

«أَمَّا أَنَا فَأَصُومُ وَأُفْطِرُ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»

“Sedangkan aku, maka aku berpuasa dan berbuka, maka barangsiapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan bagian dariku.” [shahih, Al-Bukhari (5063), dan Muslim (1401).]

Dengan demikian haramnya perbuatan tersebut lebih nampak kuat.

Di antara dalil yang mengharamkan ialah hadits Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari Abu Musa secara marfu’,

«مَنْ صَامَ الدَّهْرَ ضُيِّقَتْ عَلَيْهِ جَهَنَّمُ وَعُقِدَ بِيَدِهِ»

“Barangsiapa berpuasa setahun, maka neraka jahanam akan disempitkan atasnya. Dan ia menangkupkan kedua tangannya. //Shahih: Ash Shahihah 3202. Ebook editor//

Jumhur ulama berpendapat bahwa puasa setahun hukumnya mustahab bagi mereka yang mana puasa tersebut tidak membuatnya lemah untuk melakukan kewajiban yang lain, mereka mentakwil hadits yang mengharamkan, dengan takwil yang tidak kuat. Mereka juga berargumen bahwasanya Rasulullah telah menyerupakan puasa enam hari pada bulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan dan juga puasa tiga hari tiap bulan seperti puasa setahun. Seandainya seseorang yang melakukan puasa setahun tidak berhak untuk mendapatkan pahala, tentunya Rasulullah tidak akan menyerupakan puasa-puasa di atas dengannya.

Bantahan atas pendapat ini, bahwa hal tersebut hanya sebuah pengandaian jika seandainya puasa dahr (puasa setahun) itu disyariatkan, sebagaimana shalat lima kali setiap hari bisa mewakili shalat lima puluh kali setiap hari yang pada mulanya diperintahkan, hanya saja sekarang jika ada seseorang yang melakukannya dengan anggapan sebagai kewajiban, maka orang tersebut tidak berhak untuk mendapatkan pahala, namun ia berhak untuk mendapatkan siksa. Memang betul, Ibnu As-Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’,

«مَنْ صَامَ الدَّهْرَ فَقَدْ وَهَبَ نَفْسَهُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Barangsiapa berpuasa setahun, maka sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya Allah Azza wa Jalla.”

Hanya saja kami tidak mengetahui sejauh mana keshahihan hadits ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *