[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 195

05.01. BAB PUASA SUNNAH DAN HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA 05

0641

وَعَنْ الصَّمَّاءِ بِنْتِ بُسْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إلَّا فِيمَا اُفْتُرِضَ عَلَيْكُمْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إلَّا لِحَاءَ عِنَبٍ أَوْ عُودَ شَجَرَةٍ فَلْيَمْضُغْهَا» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ إلَّا أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ وَقَدْ أَنْكَرَهُ مَالِكٌ وَقَالَ أَبُو دَاوُد: هُوَ مَنْسُوخٌ

641. Dari As-Shamma’ binti Busr, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali pada puasa yang telah diwajibkan atas kalian, maka jika salah seseorang di antara kalian tidak mendapatkan kecuali kulit anggur atau ranting kayu maka hendaklah ia mengunyahnya.” (HR. Al-Khamsah, dan perawi-perawinya tsiqah, hanya saja hadits ini mudhtharib, Malik menganggapnya mungkar, Abu Dawud berkata, “Hadits ini mansukh.”)

[Shahih: Abi Dawud (2421).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

As-Shamma’ binti Busr, namanya ialah Buhaiyyah atau Buhaimah. Ia adalah saudara perempuan Abdullah bin Busr, dan Abdullah bin Busr meriwayatkan hadits darinya.

Penjelasan Kalimat

“Dari As-Shamma’ binti Busr, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali pada puasa yang telah diwajibkan atas kalian, maka jika salah seseorang di antara kalian tidak mendapatkan kecuali kulit anggur atau ranting kayu maka hendaklah ia mengunyahnya (memakannya untuk berbuka, menunjukkan bahwa ia tidak berpuasa). HR. Khamsah, dan perawi-perawinya tsiqah, hanya saja hadits ini mudhtharib, Malik menganggapnya mungkar, Abu Dawud berkata, “Hadits ini mansukh.” (Hadits ini mudhtharib karena Abdullah bin Busr meriwayatkannya dari saudarinya, dan pada kesempatan lain ia tidak menyebutkan saudarinya, kemudian ada yang mengatakan bahwa cacat ini tidak bermasalah karena ia adalah seorang sahabat. Ada juga yang mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Busr dari ayahnya Busr. Ada juga yang mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Busr dari saudarinya As-Shamma’ dari Aisyah. An-Nasa’i berkata, “Hadits ini mudhtharib.” Ibnu Hajar berkata, “Bisa jadi hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah dari ayahnya, dari saudarinya, sedangkan saudarinya meriwayatkan melalui perantara orang lain, dan semua jalur ini adalah shahih.” Abdul Haqq mentarjih jalur pertama, kemudian ia diikuti oleh Ad-Daraquthni, hanya saja banyaknya jalur periwayatan dalam hadits ini, padahal ia melalui satu sanad dan satu jalur membuat riwayat tersebut menjadi lemah dan menunjukkan bahwa adanya kekurangan hafalan (dhabt), kecuali jika hadits ini melalui seorang ulama penghafal yang biasa mengumpulkan berbagai jalur periwayatan -untuk satu hadits- maka ia tidak menunjukkan kekurangan hafalannya. Namun, dalam kasus hadits ini tidak demikian, bahkan perawi pun diperselisihkan, apakah ia dari Abdullah bin Busr.

Sedangkan mungkarnya hadits ini menurut Malik karena Abu Dawud telah meriwayatkan dari Malik, bahwasanya ia berkata, “Ini adalah kebohongan.” Sedangkan perkataan Abu Dawud bahwa hadits ini adalah mansukh, maka bisa jadi yang menasakhnya ialah hadits nomor berikut ini.

0642

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا -، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ أَكْثَرَ مَا يَصُومُ مِنْ الْأَيَّامِ يَوْمَ السَّبْتِ، وَيَوْمَ الْأَحَدِ، وَكَانَ يَقُولُ: إنَّهُمَا يَوْمَا عِيدٍ لِلْمُشْرِكِينَ، وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَهُمْ» أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَهَذَا لَفْظُهُ.

642. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Rasulullah Skallalldhu Alaihi wa Sallam sering sekali berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua hari tersebut hari raya orang-orang musyrik, maka aku ingin menyelisihi mereka.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah menshahihkannya, dan lafazh ini darinya)

//Dho’if, dikeluarkan oleh Ahmad (VI/324), Ibnu Khuzaimah (2167), Ibnu Hibban (941). dan al Hakim (1/436). darinya al-Baihaqi (IV/303) dari jalan ‘Abdulloh bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali ia berkata: telah menceritakan kepada kami; Ayahku dari Kuroib bahwa ia mendengar Ummu Salamah berkata: seterusnya. Berkata al-Hakim, “Isnadnya shohih,” dan disetujui adz Dzahabi.

Al-Albani berkata, “Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali tidak masyhur, dan adz-Dzahabi menyebutkannya dalam al-Miizaan, ia berkara, ‘Aku tidak niengetahui adanya kelemahan. tidak pula melihat adanya pcmbicaraan, ia telah diriwayatkan oleh Ashhabussunan yang empat.’ Kemudian ia menyebutkan hadits miliknya yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i Kemudian ia [al Albani) berkata, “Abul Haqq al-Isybili menyebutkannya dalam Ahkaamul Wusthoo, ia berkata. “Sanadnya dho’if.” Ibnul Qoththon berkata, “Ia sebagaimana yang beliau katakan yaitu dho’if. karena keadaan Muhammad bin ‘Umar tidak diketahui. kemudian ia menyebutkan setelah hadits Kuroib dari Ummi Salamah (aku berkata. ‘Lalu ia menyebutkannya dan berkata), dikeluarkan oleh an Nasa’i.” Ibnul Qoththon berkata, “Aku memandang haditsnya hasan yakni tidak sampai kepada shohih.” Al Albani berkata, “Perkataan Ibnul Qoththon saling bertentangan pada Muhamad bin ‘Umar, terkadang ia menghasankan dan terkadang ia mendho’ifkan. Jadi hadits ini dho’if dan menyelisihi hadits yang shohih: “Janganlah berpuasa pada hari sabtu.’ {Adh-Dho’iifah (1099)). –ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Larangan untuk berpuasa pada hari-hari tersebut [Sabtu dan Ahad] adalah pada masa-masa awal datangnya Islam. Pada mulanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih suka menyamai ahli kitab, kemudian pada masa-masa akhir beliau, ia lebih suka berbeda dari mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tersebut secara jelas. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dilarang ialah jika orang tersebut berpuasa pada hari itu saja dan tidak berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصُومُ مِنْ الشَّهْرِ السَّبْتَ وَالْأَحَدَ وَالِاثْنَيْنِ وَمِنْ الشَّهْرِ الْآخَرِ الثُّلَاثَاءَ وَالْأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa berpuasa pada suatu bulan pada hari Sabtu, Ahad dan Senin, dan pada bulan yang lain beliau berpuasa pada hari Selasa, Rabu dan Kamis.” [Dhaif: At-Tirmidzi (746).]

Hadits nomor ini menjelaskan disunnahkannya berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad untuk menyelisihi ahli kitab. Dan zhahir hadits menunjukkan bolehnya berpuasa, baik pada salah satu dari kedua hari tersebut atau pada kedua-duanya.

_____________

Catatan Pembuat Ebook:

Adapun Syaikh Al-Albani tetap pada pendapatnya yang menyatakan bahwa haramnya berpuasa pada hari sabtu, yang kemudian permasalahannya dijelaskan secara detail oleh muridnya syaikh Ali Hasan dalam risalahnya ‘Zahrur Raudh fii Hukmi Shiyami Yauma Sabtu fi Ghairil Fard’ dan kampungsunnah.org telah merilis ebooknya dalam format chm, dengan judul: Bolehkah Puasa Sunnah di hari Sabtu?

 0643

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ غَيْرُ التِّرْمِذِيِّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَاسْتَنْكَرَهُ الْعُقَيْلِيُّ

643. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang berpuasa -pada hari Arafah di Arafah.” (HR. Al-Khamsah, selain At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim menshahihkannya, sedangkan Al-‘Uqaili menganggapnya hadits mungkar)

[Dhaif: Abi Dawud (2440).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada hari Arafah di Arafah.” HR. Al-Khamsah, selain At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim mensahihkannya, sedangkan Al-‘Uqaili menganggapnya hadits mungkar (karena di dalam sanadnya terdapat Mahdi Al-Hajri yang didhaifkan oleh Al-‘Uqaili, ia berkata, “Riwayat yang berasal darinya tidak perlu diperhatikan, dan perawi yang meriwayatkan darinya diperselisihkan -mendapatkan catatan khusus-.” Menurut catatan saya -Ash-Shan’ani-, di dalam Al-Khulasah, Ibnu Ma’in berkata, “Aku tidak mengenalnya.” Sedangkan Al-Hakim menshahihkan haditsnya, yang kemudian hal ini didukung oleh Adz-Dzahabi di dalam Mukhtashar Al-Mustadrak, dan di dalam Al-Mughni ia tidak dimasukkan di dalam golongan perawi-perawi dhaif. Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya ialah Husyab bin Abdal, di dalam At-Taqrib Ibnu Hajar berkata, “Ia adalah perawi yang tsiqah.”)

Tafsir Hadits

Hadits ini dengan jelas menerangkan haramnya berpuasa Arafah di Arafah, dan inilah pendapat Yahya bin Said Al-Anshari, ia berkata, “Seseorang yang sedang menunaikan haji harus berbuka -tidak berpuasa- pada hari itu.” Dan ada yang mengatakan, bahwa berpuasa arafah di Arafah tidak apa-apa bagi yang mampu, dan puasa tersebut tidak melemahkannya dari berdoa, pendapat ini diriwayatkan dari Asy-Syafi’i yang didukung oleh Al-Khaththabi dan jumhur, hanya saja berbuka pada hari itu lebih baik.

Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika sedang melaksanakan ibadah haji, beliau tidak berpuasa pada hari Arafah saat berada di Arafah, hanya saja hal ini tidak menunjukkan keharaman berpuasa pada hari tersebut. Memang benar, bahwa berbuka pada saat itu lebih baik, karena Rasulullah tidak melakukan amalan, kecuali yang paling utama, hanya saja terkadang beliau melakukan sesuatu yang kurang utama untuk menjelaskan bolehnya sesuatu, sehingga hal tersebut tetap saja paling utama bagi beliau karena posisi beliau sebagai penjelas dan penyampai syariat dengan perbuatan. Hanya saja yang nampak lebih kuat hukumnya adalah haram, karena hukum asal suatu larangan adalah pengharaman.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *