[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 194

05.01. BAB PUASA SUNNAH DAN HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA 04

0638

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

638. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Janganlah kalian mengistimewakan malam Jumat atas malam-malam yang lainnya dengan shalat malam -qiyam lail-, dan janganlah kalian mengistimewakan hari Jumat atas hari-hari yang lainnya dengan puasa, kecuali jika ia bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh seseorang di antara kalian.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1144).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil tentang haramnya mengistimewakan malam Jumat atas malam-malam yang lainnya dengan melakukan suatu ibadah, baik berupa shalat atau membaca Al-Qur’an yang tidak biasa dilakukan -pada malam-malam yang lainnya-. Kecuali beberapa ibadah yang memang dijelaskan di dalam hadits, seperti membaca surat Al-Kahfi yang telah dijelaskan di dalam satu hadits, maupun [membaca] beberapa surat lainnya yang rata-rata haditsnya mendapat komentar dari para ulama.

Hadits ini secara umum juga menjadi dalil disyariatkannya shalat Ragha’ib yang biasa dilakukan pada permulaan malam Jumat pada bulan Rajab, namun seandainya hadits yang menjelaskan shalat tersebut adalah hadits yang benar, akan menjadi pengecualian dari hadits nomor ini yang mengharamkan hal tersebut, hanya saja hadits yang menjadi dalil atas shalat Ragha’ib tersebut banyak dibicarakan oleh para ulama yang kemudian mereka memutuskan bahwa hadits tersebut palsu.

Hadits ini juga menjelaskan haramnya mengistimewakan berpuasa nafilah pada hari Jumat. Ibnu Al-Mundzir berkata, “Larangan atas puasa pada hari Jumat telah menjadi suatu ketetapan, sebagaimana larangan berpuasa pada hari raya.” Abu Ja’far Ath-Thabari berkata, “Perbedaan antara larangan puasa pada hari raya dan puasa pada hari Jumat, bahwa para ulama telah berijma’ atas haramnya berpuasa pada hari raya walaupun orang tersebut berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.”

Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan berpuasa pada hari Jumat bersifat anjuran, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَقَلَّمَا كَانَ يُفْطِرُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa tiga dari setiap bulan dan beliau jarang berbuka pada hari jumat.” HR. Tirmidzi dan beliau menghasankannya. [hasan, At-Tirmidzi (742).]

Apa yang dilakukan Rasulullah di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut tidak bermakna pengharaman.

Namun, pendapat ini dibantah, bahwasanya bisa jadi saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya, dan dengan adanya kemungkinan ini maka hadits tersebut tidak bisa menjadi dalil lagi.

Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan hikmah di balik larangan berpuasa pada hari tersebut, dan pendapat yang paling kuat, mereka mengatakan bahwa hari Jumat ialah hari raya sebagaimana dijelaskan dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,

«يَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمُ عِيدِكُمْ»

“Hari Jumat ialah hari raya kalian.” [dhaif, Dhaif Al-Jami’ (2031).]

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Ali Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Barangsiapa di antara kalian ingin berpuasa sunnah, hendaklah ia berpuasa pada hari Kamis dan tidak berpuasa pada hari Jumat, karena hari tersebut ialah hari makan-makan, minum-minun dan dzikir.”

Riwayat ini juga menjadi dalil haramnya berpuasa pada hari tersebut, namun tidak mesti sama persis seperti haramnya puasa pada hari raya dari semua sisinya, karena keharaman puasa pada hari Jumat akan menjadi hilang dengan berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits nomor berikut ini.

0639

وَعَنْهُ أَيْضًا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ، أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

639. Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika ia berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1985), dan Muslim (1144).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan hilangnya hukum keharaman tersebut, atas dasar hikmah yang kita belum mengetahuinya. Dan apabila ada seseorang yang berpuasa hanya pada hari Jum’at saja maka ia harus berbuka atau membatalkannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Ahmad, dan Abu Dawud dari Juwairiyah,

أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – دَخَلَ عَلَيْهَا فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ لَهَا: أَصُمْت أَمْسِ قَالَتْ: لَا. قَالَ: تَصُومِينَ غَدًا قَالَتْ: لَا. قَالَ: فَأَفْطِرِي

“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya pada hari Jumat, pada saat ia sedang berpuasa, maka Rasulullah berkata kepadanya, “Apakah kemarin kamu berpuasa?” Ia menjawab, “Tidak.” Lalu beliau berkata lagi, “Apakah besok kamu hendak berpuasa?” Ia menjawab, “Tidak.” Maka beliau bersabda, “Maka batalkanlah.” [shahih, Al-Bukhari (1986).]

Dan hukum asal dari sebuah perintah itu berarti wajib.

0640

وَعَنْهُ أَيْضًا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ. وَاسْتَنْكَرَهُ أَحْمَدُ.

640. Dan darinya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika telah tiba pertengahan Sya’ban maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Al-Khamsah, Ahmad menganggapnya hadits mungkar)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (397).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (Abu Hurairah) bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika telah tiba pertengahan Sya’ban maka janganlah kalian berpuasa.” HR. Al-Khamsah. Ahmad menganggapnya hadits mungkar (Ibnu Hibban dan yang lainnya menshahihkannya, sedangkan Ahmad menganggapnya mungkar karena hadits tersebut melalui riwayat Al-‘Alla’ bin Abdurrahman. Menurut saya orang ini termasuk salah seorang perawi yang meriwayatkan hadits-hadits Muslim, Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib berkata, “Ia adalah perawi shaduuq, bisa saja ia keliru.”)

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan tentang larangan berpuasa jika pertengahan Sya’ban telah tiba, namun hadits ini dibatasi dengan hadits lain yaitu, “Kecuali jika ia bertepatan dengan puasa yang biasa ia lakukan.” Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu.

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, kebanyakan ulama Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwa puasa tersebut hukumnya adalah haram berdasarkan larangan ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hukumnya ialah makruh, kecuali pada sehari atau dua hari sebelum Ramadhan, maka hukumnya adalah haram. Ada juga yang mengatakan bahwa hukumnya tidak rnakruh. Ada juga yang mengatakan bahwa hukumnya mandub -sunnah-, karena hadits ini khusus untuk orang yang tidak mampu berpuasa, sepertinya mereka ini berargumen dengan hadits,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadhan.” [Shahih: At-Tirmidzi (736).]

Dan telah dipahami bahwa jika perkataan Rasulullah berbeda dengan perbuatan, maka perkataannya lebih diutamakan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *