[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 193

05.01. BAB PUASA SUNNAH DAN HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA 03

0634

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إلَّا بِإِذْنِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ، زَادَ أَبُو دَاوُد ” غَيْرَ رَمَضَانَ ”

634. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ‘Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada bersamanya kecuali mendapat izin dari suaminya.” (Muttafaq Alaih, dengan lafazh dari Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5195), dan Muslim (1026).]

Abu Dawud menambahkan, “Selain pada bulan Ramadhan.”

[Shahih: Abi Dawud (2458).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa memenuhi hak suami lebih utama bagi seorang istri daripada melaksanakan ibadah sunnah berupa puasa. Sedangkan puasa Ramadhan, merupakan kewajiban atas istri walaupun suaminya tidak menyukainya, hal ini dianalogikan juga dengan puasa qadha’ [mengganti puasa wajib yang ditinggalkan]. Apabila wanita tersebut memaksakan diri untuk berpuasa sunnah tanpa izin dari suaminya, maka ia telah melakukan perbuatan haram.

0635

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

635. Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang puasa pada dua hari -raya- yaitu pada hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.”(Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1991), dan Muslim (827).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil haramnya berpuasa pada kedua hari raya tersebut, karena menurut kaidah hukum syariat, larangan itu menunjukkan pengharaman, inilah pendapat jumhur ulama. Jika seseorang bernadzar untuk berpuasa pada kedua hari raya tersebut, menurut pendapat yang kuat nadzarnya tidak sah, karena ia bernadzar untuk melakukan satu kemaksiatan. Namun, ada yang mengatakan, bahwa orang tersebut harus berpuasa dua hari [selain hari raya] untuk menggantikan nadzar tersebut.

0636

وَعَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ، وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

636. Dari Nubaisyah Al-Hudzali Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Hari-hari tasyriq ialah hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1141).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Nama lengkap Nubaisyah adalah Nubaisyah Al-Khair bin Amr, atau ada juga yang mengatakan bin Abdullah Al-Hudzali.

Penjelasan Kalimat

“Dari Nubaisyah Al-Hudzali Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Hari-hari tasyriq (yakni, tiga hari setelah hari raya kurban, ada juga yang mengatakan dua hari setelahnya) ialah hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Kemudian ada hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ka’ab bin Malik, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah, An-Nasa’i dari Basyar bin Sahim, para perawi As-Sunan dari Uqbah bin Amir, Al-Bazzar dari Ibnu Umar,

«أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَصَلَاةٍ فَلَا يَصُومُهَا أَحَدٌ»

“Hari-hari tasyriq ialah hari makan, minum dan shalat, maka janganlah salah seorang dari kalian berpuasa padanya.” [shahih, Muslim (1142)]

Abu Dawud meriwayatkan dari Umar di dalam kisahnya,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَأْمُرُهُمْ بِإِفْطَارِهَا وَيَنْهَاهُمْ عَنْ صِيَامِهَا»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk berbuka pada hari tersebut, dan beliau melarang berpuasa padanya,” yakni hari-hari tasyriq.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Hadzafah As-Sahmi,

«أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَبِعَالٍ»

“Hari tasyriq ialah hari makan, minum dan berjima’.” [dhaif, Ad-Daraquthni (2/187).]

Tafsir Hadits

Hadits ini serta hadits-hadits lain yang telah kami sebutkan menerangkan larangan berpuasa pada hari tasyriq, namun kemudian timbul perbedaan pendapat apakah larangan ini berarti haram atau hanya anjuran untuk meninggalkannya? Beberapa ulama salaf, Asy-Syafi’i dalam pendapatnya yang lebih masyhur dan beberapa orang yang lainnya, berpendapat bahwa larangan tersebut berarti pengharaman yang bersifat mutlak, mereka mengatakan bahwa hari tersebut tidak diperbolehkan berpuasa, baik orang tersebut sedang melaksanakan haji tamattu’ maupun tidak, hadits ini mengkhususkan -membatasi- keumuman ayat,

{ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ}

“Berpuasa tiga hari dalam (musim) haji.” (QS. Al-Baqarah: 196)

karena ayat tersebut bersifat umum meliputi hari-hari sebelum maupun sesudah hari raya kurban, sedangkan hadits ini bersifat khusus berbicara masalah hari-hari tasyriq saja, walaupun jika dilihat dari sisi lain, yakni sabda ini ditujukan kepada orang-orang yang melaksanakan haji maupun tidak, namun sifat khususnya yang mengkhususkan hari-hari tasyriq lebih diutamakan karena sisi itulah yang ingin ditekankan dalam dalil tersebut, yakni pada hari itu bukan saatnya untuk berpuasa, dan seakan-akan hari-hari tersebut jika dilihat dari peruntukannya -fungsinya- melarang adanya puasa saat itu.

Sedangkan Al-Hadawiyah berpendapat bahwa orang yang sedang melaksanakan haji tamattu’ yang tidak memiliki hewan kurban diperbolehkan untuk berpuasa saat itu, berdasarkan ayat di atas dan adanya riwayat bahwa Ali Radhiyallahu Anhu pernah melakukannya.

Namun untuk orang-orang yang melaksanakan haji qiran maupun haji ifrad tidak boleh berpuasa jika mereka tidak memiliki hewan kurban.

Dan ada orang-orang lain yang berpendapat bahwa mereka yang melaksanakan haji tamattu’, qiran maupun ifrad diperbolehkan untuk berpuasa berdasarkan keumuman ayat di atas, dan berdasarkan hadits berikut ini.

0637

وَعَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – قَالَا: لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

637. Dari Aisyah dan Ibmi Umar, mereka berkata, “Tidak diberikan keringanan -rukhsah- pada hari-hari tasyriq untuk berpuasa kecuali bagi mereka yang tidak memiliki hewan kurban.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1998).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tasyriq diperbolehkan bagi mereka yang tidak memiliki hewan kurban, baik orang tersebut melaksanakan ibadah haji tamattu’, qiran atau ifrad berdasarkan keumuman hadits ini, karena yang memberikan keringanan ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan hadits ini derajatnya marfu’.

Dalam masalah tersebut terdapat tiga pendapat. Pendapat ketiga dari pendapat- tersebut menyatakan bahwa jika peristiwa di atas terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam maka ia bisa menjadi argumen, dan jika tidak maka ia tidak bisa menjadi argumen.

Kemudian ada hadits lain yang menjelaskan siapa yang memberi keringanan tersebut, yang diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan At-Thahawi, hanya saja hadits tersebut dhaif,

«رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِلْمُتَمَتِّعِ إذَا لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ أَنْ يَصُومَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ»

“Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan rukhsah kepada orang yang melaksanakan haji tamattu’ dan tidak mendapatkan hewan kurban untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq.” [dhaif, Ad-Daraquthni (2/168).]

Dan hadits ini khusus untuk mereka yang melaksanakan haji tamattu’, maka hadits tersebut tidak bisa menjadi dalil bagi pendapat di atas. Al-Bukhari telah meriwayatkan hal tersebut dari perbuatan Aisyah, Abu Bakar dan fatwa dari Ali Radhiyallahu Anhum.

Kemudian ada sekelompok orang yang berpendapat bahwa larangan tersebut bersifat anjuran yang mana diperbolehkan berpuasa bagi siapa saja saat itu, hanya saja pendapat ini tidak didukung sama sekali oleh dalil.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *