[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 192

05.01. BAB PUASA SUNNAH DAN HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA 02

0632

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، وَمَا رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْته فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

632. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa hingga kami mengatakan, “Beliau tidak berbuka.” Dan beliau berbuka -tidak berpuasa- hingga kami mengatakan, “Beliau tidak berpuasa.” Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak melihat bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban,” (Muttafaq Alaih, dengan lafazh Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (1970), dan Muslim (1156).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak bisa ditentukan pada suatu bulan, terkadang beliau terus menerus berpuasa dan terkadang berbuka terus-menerus. Mungkin hal itu tergantung kepada situasi dan kondisi saat itu. Ketika beliau tidak memiliki kesibukan yang berat, beliau bisa berpuasa terus menerus, dan terkadang sebaliknya yang mengharuskan beliau untuk terus menerus berbuka.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa beliau mengkhususkan bulan Sya’ban untuk memperbanyak puasa, dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Aisyah telah menyebutkan alasan mengapa Rasulullah melakukan hal itu, sebagaimana yang tersebut dalam riwayat At-Thabrani,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فِي كُلِّ شَهْرٍ فَرُبَّمَا أَخَّرَ ذَلِكَ فَيَجْتَمِعُ صَوْمُ السَّنَةِ فَيَصُومُ شَعْبَانَ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa tiga hari setiap bulan, dan kadang beliau mengakhirkan puasa tersebut hingga akhirnya puasa untuk satu tahun terakumulasi dan beliau berpuasa -melakukannya- pada bulan Sya’ban.” [dhaif, At-Thabrani di dalam Al-Ausath (2/320).]

Di dalam jalur periwayatan hadits ini terdapat Ibnu Abi Laila yaitu perawi dhaif. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau berpuasa pada bulan itu karena mengagungkan bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas dan yang lainnya,

«أَنَّهُ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ فَقَالَ: شَعْبَانُ تَعْظِيمًا لِرَمَضَانَ»

“Bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang puasa bulan apakah yang paling utama? Maka beliau menjawab, “Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” [Dhaif: At-Tirmidzi (663).]

At-Tirmidzi berkata, “Di dalam jalur periwayatan hadits ini terdapat Shadaqah bin Musa, di kalangan ahli hadits ia bukan orang yang kuat.

Ada juga yang mengatakan bahwa beliau berpuasa pada bulan tersebut karena bulan itu banyak dilupakan oleh orang, karena berada di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, ia berkata,

«قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَك تَصُومُ فِي شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ فِي شَعْبَانَ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ فِيهِ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

“Aku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana engkau puasa pada bulan Sya’ban?” Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia, ia berada di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, dan ia adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin amal perbuatanku diangkat saat aku sedang berpuasa.” [Shahih: Abi Dawud (2436).]

Menurut saya, bisa jadi beliau berpuasa pada bulan tersebut karena alasan-alasan di atas. Sedangkan hadits yang berbunyi,

«إنَّ صَوْمَ شَعْبَانَ أَفْضَلُ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ»

“Sesungguhnya puasa bulan Sya’ban adalah puasa paling utama setelah puasa Ramadhan.” //Dhaif: Dhaif Al Jami’ 1023. Ebook editor//

Bertentangan dengan hadits marfu’ dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah,

«أَفْضَلُ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ صَوْمُ الْمُحَرَّمِ»

“Puasa paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.” [shahih, Muslim (1163).]

Namun, ada yang melontarkan pertanyaan, jika puasa Muharram adalah yang paling utama tentulah beliau akan berusaha untuk memperbanyak puasa padanya. Kemudian hadits Aisyah di atas mengisyaratkan bahwa puasa yang paling banyak beliau lakukan adalah pada bulan Sya’ban. Jawaban atas pertanyaan ini, bahwa keutamaan bulan Muharram ini bila dibandingkan dengan bulan-bulan haram lainnya, sedangkan keutamaan bulan Sya’ban adalah keutamaan secara umum, sedangkan alasan beliau tidak memperbanyak puasa pada bulan Muharram sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi, “Sesungguhnya beliau mengetahui hal tersebut pada akhir hayatnya.”

0633

وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنْ نَصُومَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ» رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

633. Dari Abu Dzarr Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk berpuasa tiga hari pada setiap bulan, yakni tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR. An-Nasa’i, At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[hasan shahih, At-Tirmidzi (761).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan, dari Abu Hurairah dengan lafazh,

«فَإِنْ كُنْت صَائِمًا فَصُمْ الْغُرَّ أَيْ الْبِيضَ»

“Jika kalian berpuasa maka herpuasalah pada hari-hari bidh -terang atau purnama-.” HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban. [Dhaif: An-Nasa’i (2420).]

Dalam lafazh lain diriwayatkan oleh An-Nasa’i,

«فَإِنْ كُنْت صَائِمًا فَصُمْ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ»

“Jika kalian berpuasa, maka berpuasalah pada hari-hari bidh yaitu [pada tanggal] tiga belas, empat belas dan lima belas.” [Hasan: An-Nasa’i (2421).]

Perawi-perawi kitab As-Sunan meriwayatkan dari Abu Qatadah,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ، وَقَالَ: هِيَ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ»

“Bahwasanya Rasulullah memerintahkan kami untuk berpuasa bidh yaitu: -tanggal- tiga belas, empat belas dan lima belas, lalu beliau bersabda, “[Puasa pada hari itu] bagaikan berpuasa setahun.” [Shahih: Abi Dawud (2449).]

An-Nasa’i meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Jarir,

«صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ثَلَاثِ الْأَيَّامِ الْبِيضِ»

“Puasa tiga hari dari tiap bulan bagaikan puasa sepanjang masa, yaitu puasa hari-hari bidh.” Dan sanadnya shahih. [Hasan: An-Nasa’i (2419).]

Ada juga hadits-hadits yang menyebutkan puasa tiga hari dari tiap bulan, namun tidak ditentukan harinya, ataupun ditentukan harinya namun bukan tiga yang telah dijelaskan di atas.

Para perawi kitab Sunan telah meriwayatkan hadits yang dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dari hadits Ibnu Mas’ud,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَصُومُ عِدَّةَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ»

“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa tiga hari dari tiap bulan.” [hasan: At-Tirmidzi (742).]

Muslim meriwayatkan dari Aisyah,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَا يُبَالِي فِي أَيِّ الشَّهْرِ صَامَ»

“Bahwasanya Rasulullah berpuasa pada tiap bulan tiga hari, beliau tidak peduli pada bulan apa beliau berpuasa.” [shahih, Muslim (1160).]

Sedangkan puasa-puasa tertentu namun bukan tiga hari di atas, ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Hafshah,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصُومُ فِي كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ وَالِاثْنَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa tiga hari dari tiap bulan: hari Senin, hari Kamis, dan hari Senin dari minggu berikutnya.” [Hasan: Abi Dawud (2451).]

Dan tidak ada pertentangan antara hadits-hadits di atas, karena semuanya menunjukkan dianjurkannya puasa pada tiap-tiap hari tersebut. Dan setiap perawi meriwayatkan apa yang ia lihat. Namun demikian, apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perintahkan, anjurkan atau wasiatkan lebih utama dari pada yang lainnya. Sedangkan apa yang telah dilakukan Rasulullah, mungkin sangat berkaitan erat dengan kesibukan beliau. Kemudian syariat telah menentukan hari-hari bidh tersebut, namun ada sepuluh pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, yang telah dijelaskan di dalam As-Syarh.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *