[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 191

05.01. BAB PUASA SUNNAH DAN HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA 01

0629

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ، فَقَالَ: ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْت فِيهِ، وَبُعِثْت فِيهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

629. Dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya mengenai puasa pada hari Arafah, maka beliau bersabda, “Menghapus -dosa- tahun yang telah lalu dan yang akan datang.” Kemudian beliau ditanya mengenai puasa pada hari Asyura, beliau bersabda, “Menghapus -dosa- tahun lalu.” Kemudian beliau ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau bersabda, “Pada hari itu aku dilahirkan, aku diutus, dan diturunkan wahyu padaku.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1162).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin menghapus dosa yang belum terjadi, yakni dosa pada tahun mendatang? Jawaban atas pertanyaan ini, bahwa Allah akan membimbingnya untuk tidak terjerumus ke dalam dosa-dosa, kemudian disebut ‘menghapus’ untuk menyesuaikan susunan kata-kata dengan ungkapan ‘tahun yang telah lalu’, dan jika pada tahun mendatang orang tersebut melakukan dosa, maka ia akan dibimbing untuk melakukan sesuatu yang bisa menghapusnya.

Menurut jumhur ulama, puasa hari Asyura yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram, maka sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadhan hukumnya wajib, dan setelah puasa bulan Ramadhan disyariatkan, maka hukumnya menjadi mustahab (disunnahkan).

Zhahir hadits di atas mengisyaratkan bahwa puasa Arafah lebih utama daripada puasa Asyura. Adapun alasan puasa pada hari Senin, karena beliau dilahirkan pada hari itu atau karena beliau diutus pada hari itu, atau karena beliau menerima wahyu pertama pada hari itu, sepertinya hal ini diakibatkan oleh keraguan perawi. Namun demikian, para ulama telah sepakat bahwa beliau dilahirkan dan diutus pada hari Senin.

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya mengagungkan hari, ketika Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, baik dengan berpuasa pada hari itu atau melakukan amal baik yang lain.

Alasan beliau berpuasa pada hari Senin dan hari Kamis telah disebutkan di dalam hadits Usamah, bahwasanya pada hari itu amal perbuatan dinampakkan dan beliau lebih menyukai jika amal perbuatannya dinampakkan pada saat beliau sedang berpuasa, dan tidak ada pertentangan antara kedua alasan di atas.

0630

وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

630. Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1164).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil dianjurkannya berpuasa enam hari di bulan Syawal dan inilah pendapat beberapa golongan dari al-Aal, Ahmad dan Asy-Syafi’i. Sedangkan Malik berpendapat bahwa hukumnya makruh, ia berkata, “Karena saya tidak melihat seorang pun dari ahli ilmu yang melakukannya dan agar puasa tersebut tidak dianggap wajib.” Bantahan atas pendapat ini, bahwa setelah jelas adanya dalil atas puasa tersebut maka semua alasan di atas tidak berguna lagi. Dan alangkah indahnya komentar Ibnu Abdil Barr, “Hadits ini -hadits riwayat Muslim di atas- belum sampai kepada Malik.”

Ketahuilah, bahwa pahala puasa tersebut akan diterima oleh orang yang melakukannya, baik ia melakukanya secara terpisah maupun secara berurutan, baik ia melakukannya langsung setelah hari raya [yakni, mulai tanggal 2 Syawal], maupun ia lakukan pada pertengahan bulan. Di dalam Sunan At-Tirmidzi disebutkan, diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak bahwa ia lebih menyukai agar puasa tersebut dilakukan pada awal Syawal. Dan telah diriwayatkan darinya bahwa ia berkata, “Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal secara terpisah, maka hukumnya mubah.”

Menurut saya, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa puasa tersebut hanya pada awal Syawal saja, karena apabila seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, kapan pun waktunya maka ia telah mengikuti puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Kemudian, puasa ini disamakan dengan puasa setahun karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Maka puasa Ramadhan dihitung sepuluh bulan, sedangkan enam hari di bulan Syawal dihitung dua bulan, namun demikian hadits tersebut tidak menunjukkan adanya syariat puasa sepanjang tahun, penjelasannya akan dibahas pada akhir bab ini.

At-Taqi As-Subki berkata, “Sungguh orang-orang yang tidak memahaminya telah mencacat hadits ini, karena salah memahami perkataan At-Tirmidzi, “Bahwasanya hadits ini adalah hadits hasan.” Yang ia maksud ialah hadits riwayat Sa’d bin Said Al-Anshari, saudara Yahya bin Said. Menurut saya, kesalahpahaman ini terjadi karena At-Tirmidzi tidak menshahihkan ini, namun menyebutnya sebagai hadits hasan, kelihatannya ini hanya dalam salah satu nuskhah [tulisan]nya. Sedangkan yang kami dapatkan di dalam Sunan At-Tirmidzi setelah menyebutkan hadits ini disebutkan, “Berkata Abu Isa, “Hadits Abu Ayyub hadits hasan shahih.”, kemudian ia berkata, “Sa’d bin Said ialah saudara Yahya bin Said Al-Anshari, dan para ulama telah banyak berkomentar tentang hafalan Sa’d bin Said.”

Komentar saya, “Ibnu Duhyah berkata, “Ahmad bin Hambal berkata, “Sa’d bin Said haditsnya dhaif.” An-Nasa’i berkata, “Ia tidak kuat.” Abu Hatim berkata, “Tidak boleh menyibukkan diri dengan hadits Sa’d bin Said.”

Ibnu As-Subki berkata, “Guru kami, Abu Muhammad Ad-Dimyathi, telah bersungguh-sungguh mengumpulkan seluruh jalur periwayatan hadits ini, dan beliau menyandarkan hadits ini kepada lebih dari dua puluh orang yang kesemuanya meriwayatkan dari Sa’d bin Said, yang kebanyakan dari mereka adalah para huffadz -penghafal- yang tsiqah, di antara mereka adalah dua orang yang namanya masing-masing Sufyan. Kemudian saudaranya yaitu Yahya bin Said mengikuti saudaranya dalam meriwayatkan hadits ini, juga diikuti oleh Abdu Rabbih, Shafwan bin Sulaim dan yang lainnya. Tsauban, Abu Hurairah, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Barra’ bin ‘Azib dan Aisyah juga meriwayatkannya, lafazh Tsauban ialah,

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرُهُ بِعَشَرَةٍ وَمَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ»

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan maka sebulan tersebut dihitung sepuluh bulan, dan barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul fitri maka itulah puasa sepanjang satu tahun.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i) [shahih, Shahih Al-Jami’ (3851).]

0631

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ سَبْعِينَ خَرِيفًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

631. Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari fi sabilillah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya -dengan puasa tersebut- dari neraka sejauh tujuh puluh musim gugur -tahun-.” (Muttafaq Alaih, dengan lafazh dari Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (2840), dan Muslim (1153).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari fi sabilillah (dalam keadaan berjihad), kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya -dengan puasa tersebut- dari neraka sejauh tujuh puluh musim gugur -tahun-.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan keutamaan berpuasa dalam keadaan berjihad [berperang], asalkan puasa tersebut tidak membuatnya lemah untuk memerangi musuh. Seakan-akan keutamaan tersebut karena ia telah melakukan dua jihad bersamaan, berjihad melawan musuh dan jihad melawan hawa nafsunya dari makan, minum dan syahwatnya, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengibaratkan, “… Allah akan menjauhkan wajahnya -dengan puasa tersebut- dari neraka sejauh tujuh puluh musim gugur -tahun-,” untuk menjelaskan bahwa orang tersebut akan selamat dari neraka.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *