[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 190

05. KITAB PUASA 10

0627

وَعَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَزَادَ مُسْلِمٌ فِي حَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ: وَلَا يَقْضِي

627. Dari Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu Anhuma, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada suatu pagi pemah dalam keadaan junub karena berjima’, kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (Muttafaq Alaih)

Di dalam hadits Ummu Salamah, Muslim menambahkan, “Dan beliau tidak mengqadha’”

[shahih, Al-Bukhari (1931) Muslim (1109).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan sahnya puasa seseorang yang bangun pagi dalam keadaan junub karena telah melakukan jima’ -di malam hari-, inilah pendapat jumhur, dan An-Nawawi berkata, “Hal itu adalah ijma’.”

Hadits ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ – صَلَاةِ الصُّبْحِ – وَأَحَدُكُمْ جُنُبٌ فَلَا يَصُمْ يَوْمَهُ»

“Jika telah diseru untuk shalat -shalat Subuh-, sedangkan salah seorang dari kalian dalam keadaan junub maka hendaklah orang tersebut tidak berpuasa hari itu.” [Musnad Ahmad (2/314).]

Jumhur ulama mengomentari hadits ini, bahwa hadits ini telah dimansukh, dan Abu Hurairah meninggalkan hadits tersebut saat disebutkan kepadanya hadits Aisyah dan Ummu Salamah di atas, lalu ia berfatwa berdasarkan hadits ini.

Dalil yang menunjukkan bahwa hadits tersebut mansukh ialah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dari Aisyah,

«أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْتَفْتِيهِ وَهِيَ تَسْمَعُ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ تُدْرِكنِي الصَّلَاةُ أَيْ صَلَاةُ الصُّبْحِ وَأَنَا جُنُبٌ فَقَالَ النَّبِيُّ: وَأَنَا تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ فَأَصُومُ. قَالَ: لَسْت مِثْلَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَك مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِك وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ: وَاَللَّهِ إنِّي لَأَرْجُوَ أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي»

“Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta fatwa darinya, saat itu ia -Aisyah- mendengarkannya dari balik tirai, orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, shalat -Subuh- telah tiba sedangkan aku dalam keadaan junub?” Maka Rasulullah bersabda, “Aku juga, shalat Subuh telah tiba, sedangkan aku dalam keadaan junub, lalu aku berpuasa.” Orang itu berkata, “Engkau tidak seperti kami, wahai Rasulullah, Allah telah mengampuni kesalahanmu baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Maka beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah, dan berharap menjadi orang yang paling tahu bagaimana aku menjaga diri.” [shahih, Muslim (1110).]

Pendapat yang mengatakan bahwa hadits di atas telah dinasakh, didukung oleh Ibnu Al-Mundzir, Al-Khaththabi dan yang lainnya. Hadits ini sekaligus membantah pendapat yang mengatakan bahwa hukum tersebut khusus untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Al-Bukhari menolak hadits Abu Hurairah dan mengatakan bahwa hadits Aisyah lebih kuat dari sisi sanad, sampai-sampai Ibnu Abdil Barr berkata, “Hadits tersebut shahih dan mencapai derajat mutawatir, sedangkan hadits Abu Hurairah, kebanyakan riwayat menyebutkan bahwa ia -Abu Hurairah- berfatwa seperti itu -yakni hadits tersebut adalah fatwa Abu Hurairah- dan hanya sedikit riwayat yang menjelaskan bahwa hadits tersebut dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam -marfu’-. Dan jika terjadi pertentangan -antara dua hadits-maka yang lebih kuat jalurnya dimenangkan.

0628

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

628. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa, maka walinya -mewakilinya- berpuasa untuknya.” (MuttafaqAlaih)

[shahih, Al-Bukhari (1952) Muslim (1147).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa jika seseorang meninggal dan ia memiliki tanggungan puasa maka diperbolehkan bagi walinya untuk mengganti puasanya, dan ungkapan ini walaupun berbentuk berita namun maknanya adalah perintah, yakni “Hendaklah walinya berpuasa untuknya.”

Dasar hukum bab ini ialah wajib, namun ada yang mengklaim, para ulama berijma’ bahwa hukum masalah tersebut ialah sunnah. Kemudian yang dimaksud dengan wali di sini ialah semua kerabat. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah ahli waris saja, dan ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah ashabahnya.

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, para ahli hadits, Abu Tsaur dan beberapa golongan berpendapat bahwa puasa seorang kerabat bisa menggantikan puasa seseorang yang telah meninggal berdasarkan hadits ini. Beberapa golongan dari Al-Aal, Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa puasa orang yang telah meninggal tidak bisa diwakili, yang wajib dilakukan ia membayar kafarat, berdasarkan hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Umar,

«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ أُطْعِمَ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ»

“Barangsiapa meninggal dan memiliki tanggungan puasa, maka hendaklah -kerabatnya- memberi makan atas nama orang tersebut kepada satu orang miskin untuk setiap satu hari [puasa yang ditinggalkannya].” [Dhaif: At-Tirmidzi (718).]

Namun setelah meriwayatkan hadits ini, beliau berkata, “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.” Yang benar, hadits ini mauquf pada Ibnu Umar. Kemudian mereka berkata, “Pendapat tersebut berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas dan Aisyah yang berfatwa untuk memberikan makanan -kafarat-, lalu cara itulah yang lebih sering dipakai dalam ibadah-ibadah yang lain, dan seorang mukallaf tidak bisa mewakili mukallaf yang lain kecuali khusus pada ibadah haji.

Bantahan atas pendapat ini, bahwa atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Aisyah tidak bisa menandingi hadits shahih di atas, sedangkan hukum diperbolehkannya seorang mukallaf mewakili mukallaf yang lain ada pada ibadah haji, maka hendaklah ia juga ditetapkan pada ibadah puasa, sedangkan alasan Al-Malikiyah yang mengatakan bahwa penduduk Madinah tidak pernah melakukan cara tersebut -mewakili puasa-, itu hanyalah berdasarkan keyakinannya bahwa ketiadaan amalan tersebut di Madinah merupakan dalil, maka seharusnya tidak begitu -karena amalan penduduk Madinah bukan dalil- berdasarkan kaidah-kaidah ushul fiqh. Sedangkan alasan Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa perawi hadits memberikan fatwa yang berbeda dengan apa yang ia riwayat adalah dalil, maka argumen ini tidak bisa diterima, karena apa yang ia riwayat bukanlah pendapatnya, sebagaimana yang telah kita ketahui.

Kemudian golongan yang memperbolehkan perwakilan puasa berbeda pendapat, apakah hal tersebut khusus pada walinya -kerabatnya- atau tidak? Ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak dikhususkan untuk kerabatnya saja, bahkan jika ada orang lain yang berpuasa mewakilinya berdasarkan perintahnya juga sah sebagaimana halnya di dalam ibadah haji, sedangkan disebutkannya kata-kata wali di dalam hadits tersebut hanya berdasarkan kebiasaan saja. Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu bisa dilakukan oleh orang lain walaupun tanpa perintah darinya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyamakannya dengan hutang, yang beliau bersabda,

«فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى»

“Maka hutang Allah lebih berhak untuk dibayar.” [shahih, Al-Bukhari (1953), dan Muslim (1148).]

Sebagaimana pembayaran hutang tidak dikhususkan untuk kerabat maka demikian pula dalam masalah puasa, sedangkan kerabat mereka mempunyai hak untuk minta diwakili.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *