[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 19

01.06. BAB HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU 02

0065

65 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا، فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ، أَمْ لَا؟ فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

65. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan sesuatu dalam perutnya, lalu membuatnya ragu, apakah telah keluar sesuatu darinya ataukah tidak? Maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid hingga ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 362]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Mendengar suara dan mencium bau bukanlah syarat dalam hal tersebut, akan tetapi yang dimaksudkan adalah adanya keyakinan.

Hadits yang mulia ini adalah salah satu kaidah ushul dan kaidah fikih yang sangat mulia, yang menunjukkan bahwa segala sesuatu dihukumi atas tetapnya pada hukum asalnya hingga terjadi keyakinan yang menyelisihinya, dan bahwa tidak ada pengaruh keraguan yang mencampurinya. Barangsiapa yang ragu atau mengira bahwa ia berhadats, sementara ia yakin bahwa ia masih suci, maka hal itu tidak merusak shalatnya hingga ia yakin, sebagaimana yang ditegaskan sabda beliau, ‘hingga ia mendengar suara atau mencium bau.’ Karena sesungguhnya beliau mengaitkannya dengan terjadinya yang dapat diindera. Menyebutkan keduanya hanyalah sebagai misal, jika tidak maka demikianlah semua hal-hal yang membatalkan wudhu, seperti madzi dan wadi, dan akan datang hadits Ibnu Abbas: “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang kamu pada pantatnya, lalu ia mengkhayalkan kepadanya bahwa ia telah berhadats padahal ia tidak berhadats, maka janganlah ia berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapatkan bau.”

Hadits tersebut umum, baik bagi yang sedang shalat maupun yang tidak, ini adalah pendapat jumhur, sedang Al Malikiyah memiliki rincian dan perbedaan antara orang-orang yang sedang shalat dengan yang di luar shalat, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

0066

66 – وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ رَجُلٌ مَسِسْت ذَكَرِي، أَوْ قَالَ: الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ، أَعَلَيْهِ الْوُضُوءُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا، إنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْك» أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَقَالَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ

66. Dari Thalq bin Ali Ra, ia berkata, “Seorang laki-laki berkata, ‘Aku menyentuh kemaluanku’, atau ia berkata, ‘Seorang yang menyentuh kemaluannya dalam shalat, apakah ia wajib berwudhu?” maka Nabi SAW menjawab, “Tidak, ia hanyalah bagian dari anggota badanmu.” (HR. imam yang lima, dan dishahihkan Ibnu Hibban, dan Ibnu Al Madini berkata, Hadits ini lebih kuat dari hadits Busrah)

[Shahih: At Tirmidzi 85]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Al Madini dinisbatkan kepada kakeknya, jika tidak berarti dia adalah Ibnu Ali bin Abdullah. Adz Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Hafizh pada masanya, teladan dalam bidang ini. namanya adalah Abu Al Hasan Ali bin Abdullah dan memiliki berbagai karya ilmiah. Lahir tahun 161 dan di antara murid-muridnya adalah Al Bukhari dan Abu Daud.”

Ibnu Mahdi berkata, “Ali bin al Madini adalah orang yang paling tahu mengenai hadits Rasulullah SAW.” An Nasa’i berkata, “seolah-olah Ali al Madini memang diciptakan untuk ilmu ini.’ An Nawawi berkata, “Ali Al Madini memiliki sekitar 100 karya ilmiah.”

Penjelasan Kalimat

Aku menyentuh kemaluanku’, atau ia berkata, ‘Seorang yang menyentuh kemaluannya dalam shalat, apakah ia wajib berwudhu?” maka Nabi SAW menjawab, “Tidak, (artinya tidak wajib berwudhu) ia hanyalah (yaitu kemaluan tersebut) bagian dari anggota badanmu.”(yaitu sama dengan tangan, kaki dan yang lainnya, dan telah diketahui bahwa tidak perlu berwudhu lagi, bagi yang menyentuh anggota badannya).

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ad Daruquthni. Ath Thahawi berkata, “Isnadnya lurus dan tidak goncang” dan dishahihkan oleh At Thabrani dan Ibnu Hazm, tetapi didha’ifkan oleh Asy-Syafi’i, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Al Bazzar, Ad Daruquthni, Al Baihaqi dan Ibnu Al Jauzi.

Hadits tersebut adalah dalil bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu, pendapat ini diriwayatkan oleh Ali RA, Al Hadawiyah, dan Al Hanafiyah. Sekelompok shahabat dan tabiin berpendapat bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu, dan dari kalangan imam mazhab adalah imam Ahmad dan imam Asy-Syafi’i, berdasarkan hadits berikut:

0067

67 – وَعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ» أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: هُوَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ

67. Dari Busrah binti Shafwan RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Imam yang lima, dishahihkan At Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Al Bukhari berkata, “Hadits tersebut paling shahih dalam bab ini)

[Shahih: Abu Daud 181 dan At Tirmidzi 82]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Busrah, adalah putri Shafwan bin Naufal Al Quraisyiah al Asadiyah. Termasuk di antara yang berbaian kepada Rasulullah SAW.

Tafsir Hadits

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Asy-Syafi’i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan Ibnu Jarud. Ad Daruquthni berkata, “Shahih dan tsabit.”, dan dishahihkan oleh Yahya bin Ma’in, Al Baihaqi dan Al Hazimi.

Cacat yang ada padanya adalah bahwa ia diriwayatkan oleh Urwah dari Marwan dan dari seorang laki-laki yang tidak diketahui identitasnya, hal ini tidak benar karena telah ditegaskan bahwa Urwah telah mendengarnya dari Busrah tanpa perantara, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya dari para imam hadits. Demikian pula cacat yang terdapat padanya bahwa Hisyam bin Urwah perawi hadits tersebut dari ayahnya tidak mendengarnya dari ayahnya. Ini pun tidak benar, karena telah ditegaskan bahwa ia mendengar dari ayahnya, maka celaan tersebut dapat terbantahkan dan hadits tersebut shahih.

Hadits tersebut dijadikan dalil oleh sekelompok shahabat dan tabiin, Imam Ahmad dan Imam Asy-Syafi’i bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Maksudnya adalah menyentuh tanpa penghalang karena diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah:

«إذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إلَى فَرْجِهِ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ وَلَا سِتْرٌ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ»

“Apabila salah seorang dari kalian menyentuhkan tangannya kepada kemaluannya, yang tidak terdapat penghalang dan penutup di antaranya, maka wajib baginya wudhu.” [1]

Dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Abdil Barr. Ibnu As Sakan berkata, hadits ini paling baik yang diriwayatkan dalam bab ini.

Asy-Syafi’iyah berdalil bahwa yang dimaksud dengan ifdha adalah dengan menyentuhkan telapak tangan bagian dalam, dan tidak batal jika menyentuh kemaluan dengan bagian luar telapak tangan. Para peneliti menjawabnya bahwa ifdha menurut bahasa adalah sampai, lebih umum daripada hanya bagian luar atau bagian dalam telapak tangan. Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dalil atas apa yang mereka katakan, baik dari Al Qur’an, Sunnah, ijma, perkataan shahabat dan qiyas, bahkan tidak ada pendapat yang shahih.”

Hadits Busrah diperkuat oleh hadits-hadits lainnya dari 17 orang shahabat, yang disebutkan dalam buku-buku hadits, di antara adalah Thalq bin Ali perawi yang meriwayatkan hadits bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu. Juga diriwayatkan darinya bahwa hal itu membatalkan wudhu. Bagi yang menyebutkan hadits bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu memahami bahwa hadits itu datang lebih dulu. Karena ia datang pada awal hijrah sebelum Rasulullah SAW memakmurkan masjidnya, maka haditsnya mansukh dengan hadits Busrah, karena ia masuk Islam belakangan.

Yang lebih baik dari naskh adalah pendapat mengenai tarjih, karena hadits Busrah lebih kuat, lantaran banyaknya para imam yang menshahihkannya dan banyaknya syahidnya. Dan karena Busrah menceritakannya di negeri kaum Muhajirin dan Anshar yang jumlah mereka cukup banyak dan tidak ada seorang pun yang membantahnya. Bahkan kami mengetahui bahwa sebagian mereka cenderung kepadanya, dan ini yang dipegang oleh Urwah dalam riwayatnya, sebab ia kembali kepada pendapat tersebut, walaupun sebelumnya ia membantahnya. Ibnu Umar juga meriwayatkan darinya serta ia senantiasa berwudhu jika menyentuh kemaluannya, hingga meninggal dunia.

Al Baihaqi berkata, “Hadits Busrah menjadi lebih kuat dari hadits Thalq bin Ali karena kedua penulis kitab shahih tidak meriwayatkan hadits Thalq, dan keduanya tidak berhujjah dengan seorang pun perawinya. Sebaliknya, keduanya berhujjah dengan para perawi hadits Busrah, kemudian hadits Thalq termasuk di antara riwayat Qias bin Thalq. Asy-Syafi’i berkata “Kami telah bertanya tentang Qias bin Thalq, dan tidak ada seorang pun yang mengenalnya, sehingga kami tidak menerima khabar yang disampaikannya.” Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata, “Qais bin Thalq tidak termasuk yang dapat dijadikan hujjah, keduanya menganggapnya lemah.”

Adapun Malik, karena menurutnya kedua hadits tersebut bertentangan, maka ia berpendapat bahwa menyentuh kemaluan harus berwudhu, hukumnya sunnah bukan wajib.

______________

[1] [Shahih Ibnu Hibban 1118, Ta’liq Al-Albani: Shahih: Al Mawarid 210, Ash Shahihah 1235 –ebook editor]

0068

68 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ، أَوْ قَلْسٌ، أَوْ مَذْيٌ فَلْيَتَوَضَّأْ، ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ، وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ» . أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ.

68. Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa muntah, atau keluar sesuatu dari hidungnya (mimisan), atau keluar dari leher, atau keluar madzi, maka hendaklah ia berwudhu kemudian meneruskan shalatnya, jika dalam keadaaan tersebut dia tidak berbicara.” (HR. Ibnu Majah dan didha’ifkan Ahmad dan yang lainnya)

[Dhaif: Dhaif Al Jami 5426]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Barangsiapa muntah, atau keluar sesuatu dari hidungnya (mimisan), atau keluar dari leher, atau keluar madzi, (yaitu siapa yang mengalami hal-hal tersebut dalam shalatnya maka hendaklah ia berpaling darinya) maka hendaklah ia berwudhu kemudian meneruskan shalatnya, jika dalam keadaaan tersebut (yaitu ketika dalam keadaan berpaling dan berwudhu tersebut) dia tidak berbicara.”

Tafsir Hadits

Hadits ini mursal bukan marfu sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad dan Al Baihaqi, dan orang yang mengatakan bahwa hadits mursal dapat dijadikan hujjah akan berpendapat bahwa yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk hal-hal yang membatalkan wudhu.

Al Hadawiyah dan Al Hanafiyah berpendapat bahwa wudhu batal disebabkan karena muntah. Al Hadawiyah mensyaratkan bahwa muntah tersebut dari lambung, sebab tidak dinamai muntah kalau tidak dari lambung, dan sekali muntah sepenuh mulut, lantaran ada riwayat yang membatasi apa yang disebutkan secara mutlak di sini, yaitu: “muntah yang memenuhi mulut”, sebagaimana hadits Ammar, meskipun ada yang mendha’ifkannya.

Menurut Zaid bin Ali, muntah membatalkan wudhu secara mutlak, berdasarkan kemutlakan hadits tersebut, dan sepertinya menurut dia hadits Ammar tidak kuat.

Sekelompok Ahlul Bait dan Asy-Syafi’i serta Malik berpendapat bahwa muntah tidak membatalkan wudhu, karena hadits Aisyah RA ini tidak benar kalau hadits marfu, pada dasarnya tidak membatalkan, dan tidak boleh keluar darinya melainkan dengan dalil yang kuat.

Adapun mengenai mimisan, para ulama berbeda pendapat; apakah membatalkan wudhu juga. Bagi yang berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudhu, mereka berhujjah dengan hadits ini, dan yang berpendapat tidak membatalkan berdasarkan kepada hukum asalnya, dan tidak marfunya hadits ini.

Adapun darah yang keluar dari badan selain dari kedua lubang, maka akan datang komentarnya pada hadits Anas, bahwa Rasulullah SAW berbekam lalu shalat dan tidak berwudhu.

Adapun al Qalas yaitu sesuatu yang keluar dari leher memenuhi mulut atau yang lainnya tetapi bukan muntah, maka jika keluar kembali maka itu berarti muntah, sehingga mayoritas berpendapat bahwa ua tidak termasuk hal yang membatalkan wudhu, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut, maka tidak boleh keluar dari asalnya.

Adapun madzi dapat membatalkan wudhu menurut ijma ulama.

Mengenai kandungan hadits tersebut, yang membolehkan seseorang meneruskan shalatnya setelah selesai munta atau lainnya, dan mengulangi kembali wudhunya tanpa sedikit pun berbicara, maka ulama berbeda pendapat:

pertama; pendapat Zaid bin Ali, Al Hanafiyah, Malik dan pendapat lama (qaul qadim) Asy-Syafi’i bahwa ia meneruskan shalat, dan shalatnya tidak batal, dengan syarat ia tidak melakukan hal yang membatalkan shalat, sebagaimana disyaratkan hadits tersebut dengan sabdanya, ‘tidak berbicara’.

kedua; pendapat Al Hadawiyah dan An Nashir serta Asy-Syafi’i dalam pendapat terakhirnya, bahwa sesungguhnya hadits itu membatalkan shalat, berdasarkan hadits yang akan disebutkan pada hadits Thalq bin Ali, “Jika salah seorang di antara kalian kentut dalam shalat, hendaklah ia berpaling dan berwudhu, serta mengulangi shalatnya.” (HR. Abu Daud) akan datang penjelasannya.

0069

69 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ؟ قَالَ: إنْ شِئْت قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ؟ قَالَ: نَعَمْ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

69. Dari Jabir bin Samurah RA bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah saya harus berwudhu dari daging kambing?” Beliau menjawab, “Terserah Anda”, ia bertanya lagi, “Apakah saya wajib berwudhu dari daging unta?” beliau menjawab, “Ya.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 360]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Jabir bin Samurah Ra, adalah Abu Abdullah dan Abu Khalid Jabir bin Samurah Al Amiri. Tinggal di Kufah dan meninggal di sana pada tahun 74 Hari, ada yang mengatakan tahun 66 H.

Penjelasan Kalimat

Apakah saya harus berwudhu dari daging kambing?” (karena memakannya?) Beliau menjawab, “Terserah Anda”, ia bertanya lagi, “Apakah saya wajib berwudhu dari daging unta?” beliau menjawab, “Ya.”

Tafsir Hadits

Hadits yang semakna diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya dari hadits Barra’ bin Azib, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

«تَوَضَّئُوا مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ وَلَا تَوَضَّئُوا مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ»

“Berwudhulah kalian dari (memakan) daging unta dan janganlah berwudhu dari daging kambing.” [Shahih: At Tirmidzi 81]

Ibnu Khuzaimah berkata, “Saya tidak melihat perbedaan di antara para ulama, bahwa khabar ini shahih dari segi periwayatan, lantaran ketsiqahan perawinya.”

Kedua hadits tersebut adalah dalil bahwa daging unta membatalkan wudhu, dan bagi siapa yang memakannya maka wudhunya batal. Pendapat serupa dikemukakan oleh Ahmad, Ishaq bin Al Mundzir dan Ibnu Khuzaimah, serta dipilih oleh Al Baihaqi, dan ia menceritakannya dari pada perawi hadits secara mutlak, dan diceritakan dari Asy-Syafi’i bahwa ia berkata, “Jika hadits mengenai daging unta derajatnya shahih, maka saya akan mengatakannya.” Al Baihaqi berkata, “Sesungguhnya hadits Jabir dan hadits Al Barra’ keduanya shahih dalam masalah ini.”

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh sejumlah shahabat, tabiin dan Al Hadawiyah, dan diriwayatkan dari Asy-Syafi’i dan Abu Hanifah. Mereka berkata, kedua hadits tersebut dinasakh dengan hadits:

«إنَّهُ كَانَ آخِرُ الْأَمْرَيْنِ مِنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَدَمَ الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتْ النَّارُ»

“Dua perkara yang terakhir dari Rasulullah SAW adalah tidak berwudhu (karena makan sesuatu) yang dipanaskan oleh api (dimasak).” Dikeluarkan oleh Imam yang empat dan Ibnu Hibban dari hadits Jabir. [shahih: Abu Daud 192]

An Nawawi berkata, “klaim nasakh adalah batil, karena yang terakhir umum dan yang pertama khusus, sedang yang khusus lebih didahulukan daripada yang umum.”

Ucapannya ini berdasarkan kaidah yang mendahulukan perkara khusus dari yang umum secara mutlak, baik yang umum itu terlebih dahulu maupun ketika datang kemudian, ini adalah masalah khilafiyah di kalangan para ulama ushul fikih. Atau yang dimaksud dengan berwudhu adalah bersuci, yaitu mencuci tangan lantaran berbau busuk, sebagaimana yang disebutkan mengenai wajibnya wudhu karena menyentuh susu, “karena ia memiliki lemak.” Hadits yang diriwayatkan mengenai susu adalah berkumur-kumur setelah meminumnya.

Sebagian berpendapat, bahwa hadits mengenai berwudhu setelah makan daging unta adalah perintah sunnah dan bukan wajib, tetapi ini bertentangan dengan zhahirnya perintah tersebut.

Az Zarkasyi berkata, “Perintah berwudhu setelah makan daging unta disebabkan kami ia diciptakan dari jin. Oleh karena itu, diperintahkan mengucapkan basmalah ketika mengendarainya, begitupula diperintahkan berwudhu karena memakannya, sebagaimana diperintahkan wudhu ketika marah, agar kemarahan dapat hilang.”

Saya katakan, “Tidak diriwayatkan bahwa unta diciptakan dari setan, dan bahwa di atas punuk setiap unta terdapat setan.”

Adapun daging kambing, tidak wajib berwudhu setelah memakannya menurut kesepakatan para ulama. Akan tetapi disebutkan dalam Syarh As Sunnah wajibnya berwudhu (karena makan sesuatu) yang telah dipanaskan api (dimasak), dari Umar bin Abdul Aziz, karena ia berwudhu dari makan yang memabukkan.”

Saya katakan lagi, bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil tentang memperbaharui wudhu, sebab makan daging kambing hukumnya tidak membatalkan wudhu, tetapi boleh berwudhu lagi, dan ini adalah memperbaharui wudhu.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *