[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 189

05. KITAB PUASA 09

0624

وَعَنْ «حَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي أَجِدُ فِي قُوَّةً عَلَى الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ. فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: هِيَ رُخْصَةٌ مِنْ اللَّهِ، فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَأَصْلُهُ فِي الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو سَأَلَ

624. Dari Hamzah bin Amr Al-Aslami, bahwasanya ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa kuat untuk berpuasa selama dalam perjalanan, apakah aku berdosa?” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya ia [berbuka dalam perjalanan] adalah keringanan dari Allah, maka barangsiapa mengambilnya itu baik baginya, dan barangsiapa ingin berpuasa maka tidak ada dosa baginya.” (HR. Muslim, dan aslinya di dalam Muttafaq Alaih, dari hadits Aisyah dari Hamzah bin Amr bertanya)

[shahih, Al-Bukhari (1943) Muslim (1121).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hamzah bin Amr Al-Aslami, Abu Shalih atau Muhammad, terhitung sebagai penduduk Hijaz, anaknya dan Aisyah meriwayatkan darinya, wafat pada tahun 61 H. pada usia 80 tahun.

Penjelasan Kalimat

Di dalam riwayat Muslim disebutkan,

«إنِّي رَجُلٌ أَسْرُدُ الصَّوْمَ أَفَأَصُومُ فِي السَّفَرِ: قَالَ: صُمْ إنْ شِئْت وَأَفْطِرْ إنْ شِئْت»

“Sesungguhnya aku adalah laki-laki yang terus menerus berpuasa, bolehkah aku berpuasa dalam perjalanan?” Beliau bersabda, “Berpuasalah jika engkau mau dan berbukalah jika engkau mau.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa keduanya sama saja, sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu.

Tafsir Hadits

Orang-orang yang memperbolehkan shaum dahr -puasa sepanjang tahun- berargumen dengan hadits ini, dimana dalam kisah ini orang tersebut menyebutkan bahwa puasa terus menerus dan Rasulullah tidak melarangnya, padahal orang tersebut sedang dalam perjalanan, tentu dalam keadaan mukim lebih mungkin diperbolehkan. Dengan syarat puasa tersebut tidak membuatnya lemah untuk melaksanakan ibadah wajib dan tidak menghalanginya dari hak-hak yang harus ia dapatkan, serta orang tersebut harus berbuka pada hari raya ied dan hari tasyriq. Sedangkan kisah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyukai puasa dahr yang dilakukan Ibnu Umar tidak bertentangan dengan hadits ini, karena Rasulullah melihat bahwa puasa tersebut akan membuatnya lemah, dan ternyata hal itu benar-benar terjadi, Ibnu Umar merasa lemah pada akhir-akhir kehidupannya, hingga berkata, “Mungkin lebih baik, seandainya saat itu aku mengambil keringanan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih menyukai amal yang terus menerus walaupun sedikit, dan menyeru manusia untuk melakukan cara ini.

0625

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: «رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ

625. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Telah diberikan keringanan -rukhsah- kepada orang tua renta untuk tidak berpuasa dan sebagai gantinya- setiap hari ia memberi makan satu orang miskin, dan tiada kewajiban qadha atas dirinya.” (HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim, keduanya menshahihkannya)

[Ad-Daraquthni (2/205), dan Al-Hakim (1/606).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ketahuilah, bahwa orang-orang berbeda pendapat mengenai ayat,

{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ}

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

menurut pendapat yang masyhur bahwa ayat ini telah dimansukh, ayat ini menjelaskan hukum puasa pada awal diwajibkannya, yang intinya saat itu diperbolehkan bagi seseorang untuk berbuka -tidak berpuasa- dan sebagai gantinya ia memberi makan satu orang miskin dan boleh juga ia berpuasa, lalu hukum ini dimansukh dengan ayat,

{وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ}

“Dan berpuasa lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 184),

ada juga yang mengatakan bahwa yang menasakh adalah ayat,

{فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ}

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ada juga yang berpendapat bahwa ayat tersebut tidak dimansukh, di antara mereka adalah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, sebagaimana yang tersirat di dalam hadits di atas, beliau membaca ayat ini,

{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ}

“Dan bagi orang-orang yang tidak mampu…”, beliau mengatakan bahwa ayat ini tidak dinasakh -diganti-, ayat ini untuk orang-orang tua renta dan wanita yang lemah, dan inilah yang diriwayatkan dari beliau yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar.

Diriwayatkan di dalam Sunan Ad-Daraquthni dari Ibnu Abbas, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin…” (yakni satu orang) “Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan…” (menambahkan satu orang miskin lain) “…maka itulah yang lebih baik untuknya…” ia berkata, “Ayat ini tidak dinasakh, hanya saja ia memberikan keringanan kepada orang tua renta yang tidak mampu berpuasa lagi.”

Sanad hadits ini shahih dan kuat, disebutkan juga, “Tidak mendapatkan keringanan dalam masalah ini kecuali orang tua yang tidak mampu berpuasa atau seseorang yang sakit dan tidak akan sembuh.”

Ia berkata, “Hadits ini shahih.” Dan dalam satu riwayat, beliau menjelaskan jumlah yang harus diberikan yaitu sebanyak setengah sha’ berupa tepung gandum.

Beliau juga meriwayatkan, “Dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, dalam masalah wanita yang sedang hamil atau menyusui, mereka ini berbuka -tidak berpuasa- dan tidak wajib mengqadha’.

Beliau juga meriwayatkan dari beberapa orang sahabat Rasulullah, “Bahwasanya kedua orang tersebut memberi makan setiap hari satu orang miskin.”

Beliau juga meriwayatkan, “Dari Anas bin Malik, bahwasanya pernah satu tahun beliau tidak mampu berpuasa, maka beliau membuat satu nampan besar tsarid -makanan-, lalu beliau mengundang tiga puluh orang miskin dan [makanan itu] mengenyangkan mereka.”

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama salaf, menurut jumhur ulama, orang yang tidak mampu berpuasa karena tua maka ia wajib memberikan makan, dan yang lainnya telah dinasakh. Menurut beberapa ulama, kewajiban memberi makan telah dinasakh, sehingga seseorang yang sudah tua renta tidak mampu berpuasa tidak wajib memberi makan. Menurut Malik, memberi makan hukumnya mustahab, dan masih ada pendapat yang lain.

Namun yang kelihatan kuat ialah pendapat Ibnu Abbas, dan yang dimaksud dengan orang tua di sini ialah orang yang tidak mampu berpuasa. Zhahir hadits di atas mauquf, namun ada kemungkinan bahwa yang ia maksud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi keringanan, lalu susunannya beliau ubah karena hal tersebut telah menjadi maklum, karena memberikan rukhsah bersifat tauqifi -berasal dari wahyu-, dan bisa jadi masalah di atas adalah pemahaman Ibnu Abbas dari ayat tersebut, dan inilah nampaknya yang terjadi di sini.

0626

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: هَلَكْت يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: وَمَا أَهْلَكَك؟ قَالَ: وَقَعْت عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ. فَقَالَ: هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟ قَالَ: لَا، ثُمَّ جَلَسَ، فَأُتِيَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ. فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهَذَا فَقَالَ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إلَيْهِ مِنَّا، فَضَحِكَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ. ثُمَّ قَالَ: اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ» رَوَاهُ السَّبْعَةُ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

626. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu berkata, “Celaka diriku wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu celaka?” Ia menjawab, “Aku telah berjima’ dengan istriku pada -siang- Ramadhan.” Maka beliau bersabda, “Apakah engkau bisa membebaskan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?” Ia menjawab, “Tidak.” Lalu orang itu duduk. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya sekeranjang kurma, seraya bersabda, “Bersedekahlah dengan kurma ini.” Ia berkata, “Apakah [diberikan] kepada orang yang lebih fakir dariku? Sesungguhnya di antara dua tanah hitam ini tidak ada orang yang lebih membutuhkan kurma tersebut dari pada aku.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum hingga nampak gigi taringnya, lalu bersabda, “Pergilah dan berilah makan keluargamu dengannya.” (HR. As-Sab’ah dengan lafadz dari Muslim).

[Shahih: Al-Bukhari (1936), dan Muslim (1111).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Seseorang (Salamah atau Salmar bin Shakhr Al-Bayadhi) datang kepada Nabi Shallallaahu Alaihi wa Sallam, lalu berkata, “Celaka diriku wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu celaka?” Ia menjawab, “Aku telah berjima’ dengan istriku pada -siang- Ramadhan.” Maka beliau bersabda, “Apakah engkau bisa membebaskan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Apakah. engkau memiliki sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin? (menurut jumhur, setiap orang mendapatkan satu mud, yaitu seperempat sha’)” Ia menjawab, “Tidak.” Lalu orang itu duduk. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya sekeranjang kurma (dalam riwayat lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan, “Di dalamnya terdapat lima belas sha'”, dan riwayat lain menyebutkan dua puluh sha’), seraya bersabda, “Bersedekahlah dengan kurma ini.” Ia berkata, “Apakah [diberikan] kepada orang yang lebih fakir dariku? Sesungguhnya di antara dua tanah hitam ini tidak ada orang yang lebih membutuhkan kurma tersebut dari pada aku.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum hingga nampak gigi taringnya, lalu bersabda, “Pergilah dan berilah makan keluargamu dengannya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya kafarat bagi orang yang berjima’ dengan sengaja pada siang hari di bulan Ramadhan. An-Nawawi mengatakan bahwa hukum ini adalah ijma’ ulama, baik orang tersebut kaya atau miskin. Salah satu pendapat Asy-Syafi’i mengatakan, bahwa jika orang tersebut dalam keadaan miskin maka kewajiban tersebut berada di dalam tanggungannya -hingga ia mampu-, sedangkan pendapat keduanya ialah bahwa kewajiban tersebut lepas dari tanggungjawabnya, karena dalam kisah tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menjelaskan kalau orang tersebut masih menanggung kafarat.

Kemudian ada perbedaan pendapat dalam masalah budak tersebut, apakah harus beragama Islam atau tidak? Jumhur ulama membatasi, budak tersebut harus beragama Islam, dengan membawa dalil umum ini kepada dalil khusus dalam masalah kafarat pembunuhan, mereka mengatakan, “Karena kalam Allah Ta’ala di dalam satu masalah maka konsekuensinya hukum yang umum di dalam masalah tersebut dibatasi dengan hukum khusus.”

Al-Hanafiyah berkata, “Hukum umum di sini tidak dibatasi dengan hukum khusus, sehingga budak nonmuslim pun diperbolehkan.”

Dan ada yang mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperinci, yaitu dalil mutlak dibatasi dengan dalil muqayyad jika memang analogi mengharuskannya, sehingga masalahnya menjadi pembatasan dalil dengan analogi, sebagaimana pengkhususan dalil dengan analogi, dan inilah madzhab jumhur. Sedangkan sisi yang mengikat antara dua sisi analogi tersebut; bahwa kedua masalah berbicara mengenai kafarat yang diakibatkan oleh suatu dosa, dan untuk lebih jelasnya masalah ini dibahas secara mendetail di dalam ilmu Ushul Fiqh.

Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa kafarat tersebut dipilih secara berurutan, maka tidak diperbolehkan memilih nomor kedua jika mampu melakukan nomor pertama, dan tidak boleh memilih nomor ketiga jika mampu melaksanakan nomor kedua, karena kafarat ini disebutkan berurutan di dalam riwayat Ash-Shahihain. Az-Zuhri telah meriwayatkan urutan ini dari tiga puluh orang atau lebih, lalu riwayat-riwayat lain yang menyebutkan bolehnya memilih sekehendak hati dianggap lemah dengan alasan adanya riwayat shahih yang menyebutkan urutannya di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Aturan berurutan ini diperkuat oleh hukum kafarat zhihar, yang mana kafarat ini serupa dengannya.

Sabda beliau, “…enam puluh orang miskin…” zhahirnya menunjukkan bahwa kafarat tersebut tidak sah kecuali jika jumlahnya sebagaimana yang disebutkan. Namun, kemudian Al-Hanafiyah mengatakan bahwa diperbolehkan meiyerahkan kafarat tersebut kepada satu orang, di dalam salah satu kitab mereka, Al-Qaduri disebutkan, “Jika orang tersebut telah memberikan makan ke satu orang miskin selama enam puluh hari, maka hukumnya sah menurut kami, namun jika ia berikan -semua- secara langsung dalam sehari maka ia dihitung sehari saja.”

Sabda beliau, “Pergilah dan berilah makan keluargamu dengannya.” Dalam memahami masalah ini ada dua pendapat di kalangan para ulama:

1. Ini adalah kafaratnya, dan sebenarnya di dalam kaidah kafarat hendaklah kafarat tersebut tidak digunakan untuk kepentingannya sendiri. Namun di dalam masalah ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengecualikannya, dan asal hukumnya tidak ada pengkhususan.

2. Kewajiban kafarah tersebut telah batal karena orang tersebut miskin, hal ini berdasarkan hadits Ali,

«كُلْهُ أَنْتَ وَعِيَالُك فَقَدْ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْك»

“Makanlah olehmu dan keluargamu, sesungguhnya Allah telah membayarkan kafaratmu.” [Ad-Daraquthni (2/208)].

Hanya saja hadits ini dhaif, atau juga kafarat tersebut masih berada di dalam tanggungannya, sedangkan yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat itu ialah sedekah untuk orang tersebut dan untuk keluarganya, karena beliau mengetahui kesulitan keluarga itu.

Bahkan Al-Hadawiyah dan beberapa golongan berpendapat bahwa sebenarnya kafarah tersebut tidak wajib sama sekali, baik bagi orang yang mampu ataupun yang tidak mampu, berdasarkan kenyataan bahwa saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperbolehkan orang tersebut untuk memakannya, jika memang hukumnya wajib, mana mungkin Rasulullah mengizinkan untuk memakannya. Namun argumen ini adalah argumen yang lemah, karena perintah tersebut jelas menegaskan kewajibannya, sedangkan izin beliau untuk memakannya tidak menunjukkan bahwa kurma tersebut dimakan sebagai kafarah, namun dalam hal ini banyak kemungkinan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Mengenai masalah ini, dalam Al-Bahr Al-Mahdi berargumen atas pendapat mereka bahwa kafarat tidak wajib, dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang telah berjima’,

اسْتَغْفِرْ اللَّهَ وَصُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ

“Minta ampunlah kepada Allah, dan puasalah sehari sebagai ganti untuk hari tersebut.” [Mawarid Ad-Dzam’an (1/2236).]

Dan beliau tidak menyebutkan kafarat tersebut.

Bantahan atas argumen ini, bahwa perintah kafarat jelas dimuat di dalam riwayat As-Sab’ah yang terdapat dalam hadits tersebut di atas.

Dan ketahuilah bahwa di dalam riwayat ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkan untuk mengqadha’ puasa yang batal saat orang itu berjima’, hanya ada riwayat lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah dengan lafazh,

«كُلْهُ أَنْتَ وَأَهْلُ بَيْتِك وَصُمْ يَوْمًا وَاسْتَغْفِرْ اللَّهَ»

“Makanlah untukmu dan keluargamu, lalu berpuasalah sehari dan minta ampunlah kepada Allah.” [Shahih: Abi Dawud (2393)]

Al-Hadawiyah dan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa mengqadha’ puasa hukumnya wajib, berdasarkan keumuman firman Allah, “…Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184), namun dalam pendapat yang lain Asy-Syafi’i tidak mewajibkan qadha’, karena saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkan kepada orang tersebut kecuali untuk membayar kafarat saja, bantahan atas pendapat ini ialah karena perintah di dalam ayat tersebut sudah cukup mewakili.

Demikian ini adalah hukum yang berkaitan dengan pihak suami, sedangkan pihak Istri yang telah dijima’, berdasarkan hadits di atas tidak wajib atasnya kafarat, karena dari peristiwa tersebut hanya wajib satu kafarah yang tidak wajib atas istri, inilah pendapat yang shahih dari dua pendapat Asy-Syafi’i dan didukung oleh Al-Auza’i.

Jumhur ulama berpendapat bahwa kafarat tersebut wajib atas istri juga, mereka mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyebutkannya karena ia tidak ikut memberikan pengakuan, dan pengakuan suami tidak bisa menjatuhkan hukuman kepada istrinya, atau bisa jadi istri tersebut dalam keadaan tidak puasa karena mungkin ia baru saja suci dari haid setelah terbit fajar, atau karena keterangan hukum untuk suami sudah cukup mewakili sebagai keterangan hukum untuk istri berdasarkan kebiasaan yang diketahui dalam penyamarataan hukum, yang mana kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui kesulitan istri tersebut melalui kondisi suaminya.

Ketahuilah bahwa hadits ini sangat agung dan mengandung banyak faedah, di dalam Fath Al-Bari Ibnu Hajar menyebutkan, “Sesungguhnya beberapa orang belakangan ini yang mengenal guru-guru kami, telah memberikan perhatian khusus terhadap hadits ini, lalu mereka memberikan komentar yang dibukukan dalam dua jilid yang memuat beribu-ribu faedah.” Sedangkan apa yang telah kami sebutkan hanya cukup membahas masalah hukum, dan penulis telah menjelaskannya dengan panjang lebar melalui nukilan dari Fath Al-Bari.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *